About Shanty

Shanty as Writer

Saya memulai karir menulis sejak mengikuti Pelatihan menulis di Akademi Menulis 5 Menara yang di gagas Pak Guru Ahmad Fuadi di tahun 2014. Bersama teman-teman di sana, sedikit demi sedikit saya dapat menyisihkan sedikit waktu untuk belajar mencurahkan isi kepala yang menumpuk ke dalam bentuk tulisan.

Tulisan-tulisan saya pada awalnya saya letakkan di rumah lama di blog Shanty Belajar Menulis. Sejumlah pengalaman belajar menulis di AM5M dan Oleh-oleh resume acara parenting bisa dilihat di sana.

Di awal tahun 2016, bersama teman-teman di Institut Ibu Profesional Bandung, kami menggagas sebuah program #ODOPfor99days. Sebuah program yang memungkinkan kami berlatih menulis bersama setiap hari. Karena berdasarkan pengalaman, kalau berlatih sendiri, banyakan malasnya daripada rajinnya.

Shanty as a Mother of 2

Setelah menikah di usia 30 tahun pada tahun 1996, karir profesional saya sebagai Arsitek berhenti. Saya lahir di Mataram, pada 1 September 1975 kalau kamu malas ambil kalkulator. Pengalaman selama sekitar 7 tahun di konsultan arsitektur di Bandung saya putuskan untuk disimpan saja di laci sejak anak pertama saya lahir. Kenapa?

Alasannya sederhana saja: capek, nggak mood, gaji terlalu kecil. Lebih asyik main sama bayi saya yang montok dan rupawan.  Kalau mau tahu tentang ini, baca saja cerita saya di sini ya.

So, saya menghabiskan waktu bersama anak ganteng Muhammad Raka Arkananta yang lahir tahun 2007 dan Siti Raisya Arkananta yang lahir tahun 2010. Memberikan mereka ASI hingga 2 tahun penuh, menyaksikan mereka tumbuh dan berkembang adalah segalanya. Sebuah pengalaman yang tidak akan terbayarkan oleh apa pun.

Shanty as herself

Kalau menurut teorinya Florence Littauer, Personality Plus (Binarupa Aksara, 1996) saya memiliki skor tinggi untuk kepribadian Phlegmatis. Intinya, orang yang rendah hati, baik dan tidak sombong. Itu kata teori.

Saya suka membaca segala macam buku yang bagus-bagus. Juga suka sekali menulis apa-apa yang saya lihat dan saya rasakan. Sekedar untuk mencatat supaya tidak lupa. Maklum, memori saya agak terbatas. Andai kebiasaan ini saya terapkan sejak kuliah di Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, tentunya saya bisa lulus dari sana dengan predikat yang lebih dari sekedar A (Alhamdulillah bisa lulus).

Walau demikian saya beruntung bisa dapat kesempatan seru untuk mengikuti IATSS Forum di Suzuka Jepang pada tahun 2003. Lumayan lah dapat pengalaman naik shinkansen, jalan-jalan ke Tokyo Tower atau Tokyo Disneyland gratisan. Ssstttt, saya memang selalu suka hal-hal gratisan yang berkualitas.

Leave a Reply