Mama, tolong taruh HP-nya dan lihat aku! Sebuah pengalaman mengatasi tantangan pengasuhan di era digital

Sebagai mama 2 anak – Raka 10 tahun dan Raisya 7 tahun – saya juga punya hobi berselancar di dunia maya. Tidak bisa dipungkiri, saya memerlukan sosial media. Sebagai blogger, sosial media adalah kantor kami. Di sosial media lah kami berbagi informasi, berdiskusi, dan saling mendukung.

Niatnya sih cek notifikasi facebook yang tidak sampai 5 menit. Eh ternyata ada 5 like dan 2 comment baru. Terus balas comment dulu. Tidak sengaja jari menggeser sedikit ke bawah. Eh ada info acara blogger yang keren. Daftar dulu ya. Tapi cek dulu ah tentang penyelenggaranya. Tanya si Mbah Google dulu. Sama si mbah ditunjukin info lengkap tentang si penyelenggara. Dari satu portal, ke portal yang lain. Belum lagi jika melintas berita-berita yang memancing rasa ingin tahu. Tidak terasa waktu pun berlalu berjam-jam. Padahal niatnya cuma 5 menit cek notifikasi doang!

I do really feel guilty.

Kalau sudah begitu, bagaimana caranya mau marahin anak-anak untuk tidak boleh lama-lama di depan gawai? Lah Mamanya saja kesulitan mengontrol dirinya. Itu lah yang membuat saya menyimpulkan bahwa tantangan pengasuhan di era digital seperti saat ini adalah memberikan teladan kepada anak-anak. Bagaimana caranya orang tua bisa menjadi contoh perilaku anak-anaknya. Bukan tidak mungkin di kepala sang anak akan muncul pertanyaan, “Kalau orang tua saya saja tidak bisa mentaati peraturan, mengapa saya harus bisa?”

Dalam sebuah seminar, Bunda Elly Risman memaparkan betapa mengerikannya melepas anak di dunia maya. Seperti ketika kita berada di Mall yang ramai. Tidak lah bijak untuk membiarkan anak-anak lepas berlarian tanpa kita tuntun. Ada rambu-rambunya. Tapi bagaimana caranya menanamkan hal itu sementara orang tua sendiri masih kesulitan mentaati rambu tersebut.

Baca: Oleh-oleh Seminar Bunda Elly Risman mengenai Kiat Melindungi Anak dari Kecanduan Game

 

Melatih kemampuan kritis dan menyampaikan pendapat

Kalau saya perhatikan, banyak orang tua merasa kehilangan anaknya saat sang anak usia remaja. Anak-anak menjadi seperti orang lain yang lebih percaya dan terbuka kepada teman-temannya daripada orang tua mereka sendiri. Mengapa hal itu terjadi? Belajar dari pengalaman pribadi, saya melihat salah satu sumber masalahnya adalah dari kemampuan orang tua berkomunikasi dengan anak-anak. Apakah orang tua bergaya otoriter yang merasa paling benar, permisif yang serba boleh, tidak perduli, atau yang demokratis dengan tetap menghargai anak-anak mereka?

Sejak anak-anak berusia 7 tahun, sebagai orang tua kami merasa penting untuk mulai mendengarkan pendapat mereka. Kemampuan anak berpikir kritis dan melatih kemampuan berkomunikasi anak-anak, penting untuk membentuk rasa percaya diri mereka. Ini yang berusaha saya tanamkan pada anak-anak. Saya tidak berharap memiliki anak-anak yang penurut di depan saya, namun ternyata memendam kemarahan dan ketidakpuasan yang siap meledak kapan saja. Untuk setiap larangan, mereka harus menyadari mengapa larangan tersebut disampaikan. Mereka boleh protes kok kalau tidak setuju dan menyampaikan pendapatnya.

Belajar Origami dari PC
Belajar Origami dari PC

Ijinkan anak menjalani konsekuensi pilihannya

Saya tahu bahwa anak-anak sebaiknya tidak boleh terpapar gawai terlalu lama. 30 menit maksimal dalam 1 waktu. Itu aturan yang saya sampaikan kepada Raka yang waktu itu umurnya sekitar 7-8 tahun. Tapi prakteknya sulit sekali untuk bisa konsisten. Raka bisa begitu asyik dengan gadgetnya selama berjam-jam. Saya sampaikan kalau itu berbahaya buat matanya. Bisa jadi karena saya juga tidak punya energi untuk memaksa, maka saya memilih membiarkan mereka menyadari konsekuensinya.

Lambat laun terlihat ada yang salah dengan mata Raka. Ia jadi sering mengedipkan mata. Bahkan terasa tidak normal. Saya sempat curiga ia terkena gangguan syaraf tic yang dikenal sebagai gejala sindrome Tourette. Ketika berkonsultasi ke dokter, baru ketahuan ternyata itu disebabkan karena terlalu lama bermain game. Saat itu Raka mendengar sendiri penjelasan dokter yang memintanya mengurangi waktu bermain game. Akhirnya Raka secara sadar mulai mengurangi waktunya di depan gadget tanpa perlu perang urat syaraf dengan Mamanya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu singkat, masalah mata berkedip itu hilang. Memang ada baiknya anak-anak merasakan sendiri konsekuensi dari pilihannya.

Baca juga: Ketika anak buka YouTube yang tidak pantas

Mereka sekedar ingin tahu

Kasus lain adalah saat Raka merasa ingin memiliki akun Instagram dan YouTube sendiri di usia 9 tahun. Padahal akun Instagram adalah untuk 13 tahun ke atas dan YouTube untuk 18 tahun ke atas. Ia meminta ini karena melihat banyak teman-temannya yang sudah memiliki akun sosial media.

Semua diawali dengan Raka yang hobi melihat YouTuber dan mencoba membuat video sendiri. Dengan gigihnya secara otodidak ia berusaha membuat rekaman video, mengkompresnya menjadi file yang kecil dan menguploadnya di YouTube. Awalnya nebeng channel YouTube saya. Tapi lama-lama kok ya videonya bisa lebih banyak punya Raka daripada punya saya. Akhirnya saya buatkan channel terpisah walau masih atas nama e-mail saya. Kini channel Raka sudah menghasilkan 90 video.

Setelah punya akun YouTube, Raka ingin punya akun IG. Awalnya saya tentu saja tidak mengijinkan. Namun setelah melihat usahanya yang gigih untuk punya akun IG selama berbulan-bulan – ditambah saya baru tahu bahwa seperti juga YouTube, IG memungkinkan mengelola 2 akun berbeda – saya pun meluluskan keinginan itu dengan 1 syarat. Ini kesempatan untuk mengharapkannya melakukan sesuatu.

Raka itu tulisan tangannya tidak terlalu bagus, kalau tidak mau dibilang seperti tulisan anak 2 angkatan dibawahnya. Saya memberi syarat, kalau Raka boleh punya akun IG dengan namanya sendiri (atas nama email akun saya) jika tulisannya bisa rapi. Wow, dia senang sekali. Dengan bekerja sama dengan guru kelasnya di kelas 4, kami memantau kemajuan menulis Raka yang sangat pesat. Ternyata benar saja, kalau ada maunya ia bisa tuh menulis rapi. Dan akhirnya tibalah saat yang sudah dijanjikan, Raka memiliki akun IG dengan namanya sendiri. He is so happy!!!

Namun apa yang terjadi, hanya dalam 2-3 bulan, ia tidak buka akun Instagram lagi. Bosen katanya. Hadeuh… Jadi memang ada kalanya anak-anak itu hanya sekedar mau tahu dan penasaran saja.

Bermain bersama di teras
Bermain bersama di teras

Menawarkan kegiatan alternatif

Untuk TV dan HP sebenarnya kami tidak terlalu bermasalah. Ada masanya anak-anak suka nonton TV atau main game. Tapi kini anak-anak sudah sangat jarang menonton TV dan bermain game. Apakah karena dilarang? Sama sekali tidak! Melainkan karena ada kegiatan lain yang lebih menarik. Apa itu?

#1 Bermain bersama teman-teman di lingkungan perumahan

Serunya di lingkungan perumahan kami banyak anak-anak seumuran. Jadi saat pulang sekolah sekitar pukul 2 siang, mereka akan menghabiskan waktu untuk bermain dan bersosialisasi bersama. Saya sengaja menyediakan teras rumah yang agak lebar untuk memungkinkan mereka berinteraksi di rumah. Kalau main ke dalam rumah tidak boleh, karena rumahnya sempit atau si Mama lagi mau bobo siang. Saya sejujurnya lebih tenang jika anak-anak bermain di rumah bersama teman-temannya. Mendengar suara dan diskusi mereka yang riuh rendah walau mengganggu jam bobo siang saya, terasa begitu menenangkan. Dibanding mereka hilang entah kemana.

 

#2 Ngobrol dan laporan sama Mama

Nah di sini saya merasa beruntung selalu ada di rumah setiap saat. Anak-anak ini tidak bisa ditentukan kapan mereka membutuhkan Mamanya untuk sekedar memperlihatkan serunya sebuah video YouTube terbaru, memaksa mendengarkan ide-ide ajaib, atau sekedar dimintai pendapat tentang sesuatu. Mengalihkan sebentar apa pun yang tengah saya kerjakan, dan melihat binar mata mereka sebenarnya tidaklah membutuhkan waktu yang banyak.

 

#3 Mengerjakan proyek tertentu

Seperti membuat slime, membuat video YouTube, membuat animasi, membaca buku, atau asyik mengulik soal matematika kesukaan Raka. Pokoknya apa saja yang mereka sukai untuk bersenang-senang. Intinya sebagai orang tua, kami akan memfasilitasi minat anak-anak. Dan bukan memaksa mereka melakukan hal-hal yang membebani, apalagi yang tidak mereka sukai.

 

Cukup dengan 3 hal di atas, maka gadget tidak lagi menjadi prioritas.

 

Bermain bebas sambil berimajinasi
Bermain bebas sambil berimajinasi

Raka dan Raisya, adiknya tetap bermain game. Dulu mereka sempat suka main game Minecraft selama beberapa bulan. Kalau sekarang lagi tergila-gila dengan Growtopia. Mereka akan bermain sepuasnya sambil juga bermain yang lain.

Baca: Tips ber-internet Sehat buat anak

 

Ijinkan anak membantu mengatasi masalah

Nah bagaimana dengan si Mama yang kecanduan sosmed? Saya pun akhirnya menyerah dan meminta bantuan anak-anak untuk mengatasinya.

Ketika anak-anak sudah protes, “Mama, tolong taruh HP-nya dan lihat aku!” Maka itu artinya sudah lampu merah. Saya pun akan menyerah dan meminta anak-anak untuk membantu menyimpan HP di tempat yang mereka rahasiakan. Dulu sempat Raka membantu menyimpankan dari magrib sampai pagi. Pernah pas dia pergi sekolah, ia lupa memberikan HP ke saya. Alhasil saya harus puasa tidak lihat HP hingga ia pulang sekolah.

Dengan melibatkan anak-anak membantu saya melepaskan ketergantungan pada gadget, saya berharap anak-anak bisa melihat pengaruh buruk gadget bagi seseorang. Mereka bisa lihat, kalau Mamanya terlalu asyik bermain HP maka efeknya rumah jadi tidak terurus, makanan belum dimasak, pakaian tidak tersetrika, dan lain-lain. Sangat tidak bagus. Jadi, sebenarnya semua orang harus bisa mengontrol diri sendiri untuk menggunakan waktu secara bijak.

 

Akhir kata, seperti sabda Rasulullah SAW: “Didiklah anakmu sesuai jamannya. Karena mereka hidup di jaman mereka, bukan di jamanmu.” Era digital adalah era peluang yang mensyaratkan kita untuk luwes menyikapinya. Tidak bisa terlalu kaku karena nanti patah, sekaligus tidak bisa terlalu pasrah mengikuti arus deras yang bisa saja menyesatkan. Dengan melatih kemampuan kritis dan menyampaikan pendapat, mengijinkan mereka belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya – tentunya dalam batasan tertentu, menawarkan kegiatan alternatif, juga meningkatkan kepercayaan diri mereka dengan mengajak mereka menjadi bagian dari solusi, merupakan beberapa usaha yang saya dan suami coba lakukan. Sebagai orang tua yang ditugaskan menjadi baby sitter-nya Allah untuk anak-anak kita tercinta, kita perlu bergandengan tangan bersama memasuki rimbah belantara dunia digital sebagai keluarga.

Bagaimana dengan teman-teman? Tantangan apa yang paling dirasakan berat dalam mendidik anak di jaman ini? Apa sudah punya solusinya? Jangan ragu berbagi dalam komen di bawah.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

7 thoughts on “Mama, tolong taruh HP-nya dan lihat aku! Sebuah pengalaman mengatasi tantangan pengasuhan di era digital

  • August 26, 2017 at 7:15 am
    Permalink

    Teh shan, baru baca blog teteh. Dan Raysa juga lagi sering protes gitu. Akhirnya aq bikin jam online.

    Jam online sehari cuma cukup buat
    1. Bikin portofolio anak
    2. Komunitas

    Nulis panjang dan mengendapkan rasa gitu ngga kekejar. Sosmed juga jarang banget dibuka, hahaa

    Ada saran manajemen gadget ngga teh buat ibu balita n bayi kayak aku?

    Reply
    • August 26, 2017 at 7:31 am
      Permalink

      Sama aja Mes, saya juga sering seperti itu.

      Kesimpulan saya setelah hampir 42 tahun jadi anak dan 10 tahun jadi orang tua, tips manajemen gadget itu sangat personal.

      You have to know yourself. Kenali karakter diri sendiri. Apakah saya orang yang biasa disiplin atau lemah iman yang gampang tergoda bisikan setan yang terkutuk.

      Kenali karakter anak-anak dan pasangan. Ijinkan mereka mengetahui kelemahan kita dan minta bantuan mereka.

      Kenali kondisi dan batasan kita sendiri. Setiap orang kan sangat unik. Everyone have their own shoes.

      Ditunggu gaya Mesa menaklukkan tantangan manajemen gadget bersama keluarga.

      Ayo Bu Sekretaris, kamu pasti bisa .

      Reply
  • August 27, 2017 at 7:53 pm
    Permalink

    Wah bisa disimpen nih tips nya buat nanti kalo udh punya anak hahaha.. TFS ya teehh 🙂

    Reply
  • August 28, 2017 at 11:20 am
    Permalink

    saya berselancar di dumay hanya pada saat di kantor. Hp saya pun tidak ada aplikasi WA, Line, FB, dan BBMnya, jadi kalo libur full mengasuh.
    justru yang saya keluhkan sikap orangtua saya, khususnya Mama, yang ga bisa lepas dari hape, sementara saya titipkan anak saya kepada Mama & itu sudah plus pengasuh dengan ketentuan mengasuh secara bergilir, tapi yang saya lihat ternyata tidak begitu. Saya kadang juga membutuhkan Mama pada saat bayi rewel (karena ini anak pertama jadi belum banyak pengalaman), tapi Mama tetap cuek dengan hape di tangan. Trims untuk sharingnya ya, Mbak

    Reply
  • September 14, 2017 at 12:33 pm
    Permalink

    makkk, judulnya menohok sekali “Mama, tolong taruh HP-nya dan lihat aku!”.. tapi saya 100% setuju sama tulisan teh Shanty. trs saya seneng banget lihat aktifitas Raka, kayaknya sama nih kayak malika.. suka bermain sambil berimajinasi. Itu ceritanya bikin motor2an diatas guling yaaa?? serius amat sampe helmnya beneran dipake. wahh kerenn deh raka

    Reply
  • November 19, 2017 at 1:57 am
    Permalink

    Makjleb banget yaa ini, emang tantangan tersendiri ya mengasuh anak di era digital ini

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: