Asmaul Husna di Telapak Tangan Kita

Teman-teman pernah merasa sempit? Ya sempit waktu, sempit uang, sempit kesehatan, sempit ilmu. Rasanya tidak enak sekali. Terkadang saya sadar bahwa rasa sempit itu bisa jadi hanya ilusi. Terus terang saya sering heran melihat orang yang faktanya hidupnya lebih sempit, namun hidupnya bisa lebih bermakna buat orang-orang di sekelilingnya. Kok dia bisa, kok saya nggak?

Sampai suatu saat saya mengeluhkan masalah saya ke Mama mertua. Beliau menyarankan untuk rutin membaca Asmaul Husna. 99 nama-nama Allah. Saya ingat saya punya buku menarik tentang Asmaul Husna ini yang sudah bulukan di rak buku. Buku pertama adalah dari Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi – Asma al Husna dalam perspektif Al Quran (Lentera Hati, Desember 1998). Dan buku kedua dari Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotient (Arga, Mei 2001). Kedua buku itu mengajak kita untuk mengenal Allah dari nama-nama-Nya yang indah.

Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. – QS Al A’raf 7:180

Ketika mengikuti pelatihan ESQ – Emotional Spiritual Quotient bersama Ary Ginanjar Agustian, saya sempat terpekur lama ketika disampaikan bahwa ada cetakan 99 nama Allah di telapak tangan kita. Coba buka telapak tangan teman-teman. Di tangan kiri ada garis tangan yang menunjukkan angka 81 dalam bahasa Arab. Sedangkan di tangan kanan garis tangan menunjukkan angka 18. Jika dijumlahkan, hal itu akan selalu mengingatkan kita pada 99 nama Allah dalam diri kita. Terpatri dalam telapak tangan kita. Mengalir sifat-sifat Allah dalam diri seorang hambanya.

Namun sayang, sifat-sifat Allah ini sering tidak kita pahami benar maknanya. Hanya sekedar kita baca atau mungkin hapal tanpa berusaha memahami sifat-sifat mulia tersebut.

Sebuah hadis Rasulullah menyebutkan untuk “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.” Apakah itu mungkin? Bukankah kita kan hanyalah makhluk ciptaan Allah yang lemah?

Dalam buku ESQ, Ary Ginanjar menyebutkan bahwa 99 nama Allah ini merupakan sumber suara hati manusia yang menjadi dasar pijakan kecerdasan spiritual seorang manusia. Dari 99 nama, disederhanakan menjadi 7 nilai utama yang bisa menjadi karakter setiap manusia yang unggul.

#1 Jujur (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Mukmin)

#2 Bertanggung-jawab (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Wakil)

#3 Disiplin (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Matin)

#4 Kerjasama (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Jaami)

#5 Adil (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Adl)

#6 Visioner (wujud pengabdian manusia pada sifat Al Aakhir)

#7 Peduli (wujud pengabdian manusia pada sifat As Samii dan Al Bashir)

Untuk nama-nama yang lain, akan kita bahas besok ya.

 

#RamadhanInspiratif

#Challenge

#Aksara

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Asmaul Husna di Telapak Tangan Kita

Leave a Reply

%d bloggers like this: