The Power of Positive Feeling: Memulai dari rasa enak

Kenal dengan pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian? Tidak apa-apa sulit dulu dipermulaan, namun selanjutnya akan lebih mudah. Ternyata konsep ini belum berhasil saya terapkan dalam rangka berusaha mengelola waktu. Saya adalah orang yang paling suka mempersulit diri di awal. Bikin target aneh-aneh yang diluar kemampuan. Mimpi yang ketinggian itu memang enak sesaat, namun menjalaninya bikin lelah dan berat. Jadi dalam Ramadhan kali ini, saya memutuskan mencoba cara lain dan berhenti memaksakan diri. Saya ingin memulai dari rasa enak di dalam hati.

Ada buku yang menjadi referensi saya mengenai The Power of Positive Feeling ini. Sebuah buku best seller  yang ditulis Erbe Sentanu berjudul Quantum Ikhlas, The Power of Positive Feeling (Elex Media Komputindo, Mei 2007). Dalam buku tersebut disebutkan bahwa perasaan enak akan mempengaruhi pikiran. Pikiran akan mempengaruhi tindakan. Tindakan mempengaruhi kebiasaan. Kebiasaan mempengaruhi karakter. Dan karakter akan mempengaruhi nasib. Siapa sih yang tidak ingin hidupnya menjadi lebih baik? Semua itu berawal dari perasaan positif. Bukan pikiran positif.

Bisa jadi berpikiran positif ini yang menjadi kesalahan saya selama ini. Ketika terobsesi menjadi lebih baik tanpa sadar saya menekan perasaannya sendiri. Keinginan untuk sukses mendorong untuk mengabaikan rasa tidak nyaman, tidak enak, rasa bersalah, tertekan bahkan rasa ragu. Sebenarnya saya bisa apa nggak sih? Sebenarnya tidak ada yang salah jika pikiran positif selaras dengan perasaan positif.

Setelah mencoba mengurangi sejumlah kegiatan, saya mencoba melatih rasa enak ini. Tidak ada lagi ceklist kegiatan yang terlalu banyak. Sebagai gantinya, saya menulis kegiatan yang berhasil saya lakukan hari ini. Serius ya, rasa enak sekali. Tanpa beban, dan ternyata saya bisa melakukan sejumlah hal yang lebih banyak dari sebelumnya.

Hari ini saya mencoba untuk enak mengerjakan sedikit urusan. Kalau untuk urusan rumah tangga misalnya, rasa enak itu bisa muncul dari tidak menunda pekerjaan. Tidak ada yang lebih menyebalkan dan bikin lelah dengan melihat tumpukan piring atau setrikaan. Padahal jauh lebih enak rasanya ketika kita mencicil pekerjaan tersebut hanya beberapa menit dalam sehari.

Misalnya saja untuk kasus cuci piring. Biasanya dalam sehari saya perlu waktu 45 menit untuk membersihkan sink yang penuh piring kotor. Lihatnya jelek banget. Ini yang bikin perasaan nggak enak. Tapi kalau saya disiplin mencuci piring setiap selesai masak atau makan, ternyata hanya memakan waktu 15 menit saja. Sehari bahkan cukup 30 menit. Untuk kasus lain misalnya rasa enak saat melihat tidak ada tumpukan setrikaan karena sudah rapi cukup dengan meluangkan waktu 30 menit saja setiap hari. Atau rasa enaknya mengaji One Day One Juz dengan membaginya menjadi beberapa bagian yang lebih ringan. Asli, it feel so good! Nah good feeling seperti ini yang perlu saya koleksi.

Di bulan ini saya akan memperbanyak mengumpulkan good feeling ini. Mumpung suasananya cukup mendukung untuk jadi sholeh. Sampai hari ke-3 Ramadhan ini, saya mulai nyaman dengan urusan rumah tangga. Saya bahkan berani memutuskan untuk tidak memakai lagi jasa Asisten Rumah Tangga part time untuk membantu. Karena rasanya sudah tidak banyak yang perlu di bantu. Tinggal mengoptimalkan anggota keluarga lain bisa aktif membantu dan berempati terhadap emaknya ini. Wah rasanya kok ya berdaya sekali!

Semua itu berawal dari perasaan enak di dalam hati saat menjalaninya…

 

#RamadhanInspiratif

#Challenge

#Aksara

#Day3

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: