Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak bersama Anna Surti di Seminar Parenting SGM Eksplor Bandung

Setelah terpesona dengan pemaparan Psikolog Anna Surti Ariani dalam seminar How to Protect Your Child without Being Overprotected di Hilton Hotel Bandung November 2015, akhirnya saya dapat kesempatan lagi untuk bertemu dengan psikolog keren ini. Pada 6 Mei 2017, Psikolog Anak dan Keluarga yang biasa dipanggil Mbak Nina ini berbagi ilmu mengenai Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Generasi Maju. Bertempat di Harris Hotel & Conventions, Festival Citylink Jl. Peta 241 Bandung, selama 3 jam para peserta mendapatkan edukasi untuk menghasilkan anak generasi maju.

Flyer Seminar Parenting #SGMEksplor Bandung 2017
Flyer Seminar Parenting #SGMEksplor Bandung 2017

Pukul 9.30 pagi, MC Cici Panda menyapa para peserta yang didominasi ibu-ibu berbusana merah terang. Maklum acara ini disponsori oleh SGM Eksplor. Walau yang mensponsori acara adalah sebuah produk susu, namun tidak ada waktu yang dihabiskan untuk iklan produk susu. Soft selling yang keren!

 

Kenapa anak perlu keterampilan sosial?

Tapi kenapa anak perlu diajarkan keterampilan sosial? Bukankah banyak keterampilan yang sepertinya jauh lebih penting untuk diajarkan kepada anak? Masa sih bersosialisasi perlu repot-repot diajarkan? Bukannya bisa dengan sendirinya? #EmakBanyakNanya

Keterampilan sosial sebenarnya sama pentingnya dengan keterampilan yang lain. Saya jadi teringat ilmu dari Rumahinspirasi.com mengenai 10 Keterampilan Dasar.

10 Keterampilan Dasar Anak dari rumahinspirasi.com
10 Keterampilan Dasar Anak dari rumahinspirasi.com

 

Menurut Anna Surti, sebagai orang Indonesia keterampilan sosial mutlak dibutuhkan dalam budaya orang Indonesia. Keterampilan sosial itu Indonesia banget lah. “Jika kita egois dan hanya mementingkan diri sendiri, kita tidak akan bisa membagi pengalaman dan ilmu kita untuk orang lain. Dengan bisa mengembangkan kemampuan sosial anak, mereka tidak hanya bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang di sekitarnya,” terang ibu 2 anak ini.

 

Untuk bisa bersosialisasi dengan baik anak membutuhkan syarat sebagai berikut:

  • Tubuh sehat dengan nutrisi yang cukup. Kalau anak sakit-sakitan, akan sulit baginya mengembangkan keterampilan sosialnya.
  • Cerdas yang ditandai dengan kemampuan berimajinasi sehingga bisa kreatif dalam menemukan solusi sebuah masalah.
  • Memiliki emosi yang baik dan mandiri.

 

Sejak kapan keterampilan sosial perlu dilatih?

Keterampilan sosial anak bisa dikembangkan sejak dini. Jadi jangan dikira keterampilan sosial itu baru akan dikembangkan anak di usia sekolah saja. Ternyata sejak usia 1 tahun sudah bisa loh!

Psikolog lulusan UI ini mengajak para peserta untuk menebak sejumlah kemampuan sosial emosi anak yang sesuai dengan usia 1-3 tahun atau usia 4-6 tahun.

Tipikal perilaku sosial anak usia 1-3 tahun adalah:

  • Bermain bersebelahan dengan temannya. Tidak berinteraksi, tapi sekedar sebelahan.
  • Tidak banyak bicara dengan teman di sebelahnya. Jadi ini bukan tanda keterampilan sosial yang tidak baik. Wajar di usia ini.
  • Kadang saling meniru dengan teman, tetapi tidak main bersama.
  • Mungkin memukul ketika marah, tanpa sadar akibatnya.
  • Kadang takut dengan orang yang jarang ditemui. Misalnya masih kesulitan untuk bertemu dengan nenek yang jarang dijumpai. Triknya bisa sebelum ketemu anak diceritakan dulu tentang orang yang akan ditemui, diperlihatkan fotonya, atau diajak melihat videonya.

 

Sedangkan untuk anak usia 4-6 Tahun, mereka cenderung untuk:

  • Lebih suka bermain bersama teman daripada orang tua. Banyak Mama yang sedih anak-anaknya mulai asyik main sama temannya di usia ini. Padahal ini wajar saja.
  • Lebih bisa mengontrol diri dan tidak meledak-ledak. Tidak wajar anak usia di atas 6 tahun anak masih tantrum. Jika masih belum bisa mengontrol diri, ada baiknya untuk dikonsultasikan tumbuh kembangnya.
  • Bisa bergiliran dan bekerja sama.
  • Senang humor dan imajinasi.
  • Berusaha menyenangkan orang lain dan takut dihukum.
Anna Surti Ariani di Seminar Parenting #SGMEksplor Harris Hotel Bandung
Anna Surti Ariani di Seminar Parenting #SGMEksplor Harris Hotel Bandung

Hal yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan sosial anak

Seperti disampaikan di atas, bahwa keterampilan sosial anak perlu dikembangkan sejak dini. Untuk tahap awal, ada 3 hal yang bisa dilakukan orang tua dalam rangka mengembangkan keterampilan sosial anak.

 

#1 Kedekatan dengan orang tua

Pastikan ada ikatan kasih sayang antara anak dengan ayah bundanya. Kedekatan ini membuat si kecil merasa aman, percaya diri sehingga dapat bergaul dengan sehat (bukan bergaul yang takut lepas dan nempel terus kaya prangko dengan teman-temannya), berkurangnya gangguan psikologis.

Perlu diketahui bahwa kedekatan atau attachment berbeda dengan bonding. Bonding itu sifatnya lebih satu arah, hanya satu pihak yang merasa dekat. Sedangkan attachment kedekatan 2 arah antara orang tua dan anak. Anak dan orang tua sama-sama merasa dekat.

Jadi bagaimana caranya agar kedekatan ini bisa terbangun?

  • Orang tua harus peka dengan kebutuhan anak. Kenali apa kebutuhan anak, apakah mereka lapar, mengantuk, sedih, dan sebagainya.
  • Biasakanmenatap mata anak dengan lembut, saling memeluk. Sekarang ini banyak orang kesulitan menatap mata dalam waktu yang lama. Tahu kenapa? Distraksi gadget! Jadi coba ya Mam, itu smartphone di simpen dulu kalau lagi berhadapan dengan anak. Nyindir saya banget nih…
  • Beri kesempatan dan jarak pada anak untuk bisa bermain sendiri. Sejak anak usia 1 tahun, mulailah kasih jarak anak sekitar beberapa meter dengan kita untuk bisa asyik bermain sendiri dan tidak perlu nempel kaya perangko sama Mamanya.
  • Tidak membohongi anak karena mereka butuh rasa percaya kepada orang tuanya. Hindari mengancam anak jika tidak makan akan disuntik dokter atau kalau tidak tidur akan ada hantu Kecuali kalau ancaman itu benar-benar akan dilaksanakan. Siapkan dokternya atau hantunya, jika mereka makannya tidak habis atau tidak tidur. “Jangan berbohong dan katakan apa yang sebenarnya akan terjadi,” jelas Anna Surti.
Latihan tatap mata
Latihan tatap mata antara seorang peserta dengan MC Cici Panda yang mengaku pemegang rekor MURI tukang melotot terlama. “Suami saya aja takut kalau saya pelototi,” katanya. (Foto: FB Aku Anak SGM)
  • Tetap sabar terhadap perilaku anak. “Saat kesabaran mulai menipis, bukan berarti Bunda yang gagal jadi orang tua, mungkin mereka saja yang berhasil jadi anak.”

 

#2 Menanamkan rasa percaya pada orang tua (trust)

Jangan pernah membohongi, menakut-nakuti atau mengancam anak. Anak perlu untuk percaya pada orang tuanya.

Tips membangun rasa percaya pada anak:

  • Jangan biarkan si kecil menangis terlalu lama. Segeralah menggendong, mengayun dan memberinya ucapan yang menenangkan.
  • Beri aturan sebelum aktivitas dilakukan. Misalnya aturan mandi pukul 5 sore, harus disampaikan dulu dengan jelas kepada anak. Jangan lupa, pastikan anak mengenal jarum jam. Jadi jangan tiba-tiba di jam 5 sore, teriak marah-marah untuk memaksa anak mandi.
  • Tepati janji yang sudah disampaikan kepada anak.
  • Dengar celotehan anak dengan seksama dan tatapan yang hangat. Nggak pake sebentar-sebentar cek notifikasi sosmed ya! Jadi pengen tutup muka…

 

#3 Kemandirian

Ternyata sangat tidak tepat kalau kita berpikir bahwa mandiri itu baru akan diajarkan pada anak usia 5 tahun ke atas.  Anak 1 hingga 2 tahun sebenarnya kemandirian sudah bisa dilatih loh. Anna Surti kembali mengajak peserta untuk menembak kemandirian seperti apa yang seharusnya sudah bisa dipelajari anak usia tersebut. Ternyata banyak ibu-ibu yang masih salah loh.

Berikut kemandirian anak usia 1 tahun:

  • Sudah mampu menyebut nama sendiri
  • Makan sendiri makanan yang dipegang dengan jarinya
  • Memilih mainan sendiri

 

Sedangkan pada usia 2 tahun, anak sudah bisa:

  • Mengatakan ingin buang air.
  • Makan sendiri dengan sendok, walau belum rapi. Jadi jangan disuapi terus.
  • Mulai bisa membereskan mainannya sendiri. Bukan usia 5 tahun!

 

Wah anakku belum mandiri nih? Jadi bagaimana caranya mendukung mereka untuk bisa lebih mandiri? Berikut yang bisa dilakukan para orang tua:

  • Berikan anak kesempatan untuk mencoba. Bagaimana mereka bisa mandiri jika selalu dibantu dan dilindungi.
  • Tidak memburu-buru anak ketika sedang mencoba.
  • Memberikan pujian, dukungan dan ekspresi yang menyenangkan jika anak berhasil melakukan sesuatu kegiatan yang menunjukkan kemandirian. Dengan dukungan, anak cenderung lebih mau mengulang perilaku baiknya.

 

Setelah menguasai 3 tahap di atas, selanjutnya, kuasailah 5 tahap lanjutan berikut:

#4 Mengenal emosi

Selama ini jika disebut kata emosi biasanya kita hanya tahu marah dan sedih saja. Padahal sebenarnya menurut Robert Plutchik – Psikolog Amerika yang meneliti mengenai emosi, spektrum emosi itu banyak banget. Emosi dasarnya saja ada 8, yaitu anger/marah, fear/takut, sadness/sedih, disgust/jijik, surprise/kaget, anticipation, trust/percaya, dan joy/senang. Jadi ingat film Inside Out ya.

Plutchik Wheel of Emotions
Plutchik Wheel of Emotions

Emosi itu sebenarnya netral. Ada yang positif dan ada yang negatif. Anak harus mengenali semua emosi agar bisa mengendalikan emosinya.

 

Cara mengenalkan emosi pada anak:

  • Sebut emosi anak ketika ia sedang mengalami. “Wah kamu lagi SENANG ya?”
  • Sebut emosi yang dirasakan mama. “Mama KESAL melihat tumpukan piring kotor. Mama cuci dulu ya.”
  • Ajak anak memperhatikan emosi orang lain. “Ayah sepertinya sedang SEDIH, jangan di ganggu dulu ya.”
  • Main boneka bersama si kecil dan sebut emosinya. “Si Kucing sepertinya TAKUT mendengar suara geluduk.”
  • Ajak anak menebak emosi yang ada pada gambar atau foto.

 

#5 Menjaga diri sendiri

 

#6 Memiliki kemampuan komunikasi

Perkembangan komunikasi anak usia 1-2 tahun: paham intruksi tunggal (“Tolong ambilkan buku” atau “Sudah waktunya mandi”) dan menyebut kata-kata. Anak usia 18 bulan sewajarnya sudah bisa berkata-kata.

Perkembangan komunikasi anak usia 2-3 tahun: paham intruksi majemuk dan mengucapkan kalimat 2 kata (“Ma maem”).

Perkembangan komunikasi anak usia 3-4 tahun: paham “siapa”, “apa” dan “dimana”, dan bisa mengucapkan kalimat 3-5 kata.

Perkembangan komunikasi anak usia 5-6 tahun: paham cerita dan bisa bercerita singkat.

 

Kita mungkin pernah mendengar bahwa sering mengajak anak bicara adalah salah satu cara untuk mengajarkan kemampuan berkomunikasi anak. Tapi ini sebenarnya hanya untuk tahap anak awal hingga anak usia 2 tahun saja. Dalam tahap awal memang anak memerlukan banyak mendengar untuk menambah kosakata baru. Ajak anak bicara, bercerita dan bernyanyi.

Setelah itu, masuklah pada tahap lanjutan untuk usia 2 tahun ke atas dengan lebih banyak bertanya dan mendengar cerita anak. Jadi untuk usia ini, jangan Mamanya lagi yang kelewat cerewet.

 

#7 Kemampuan fokus/konsentrasi dan berimajinasi,

Pada anak 1-3 tahun yang dimaksud dengan konsentrasi itu bukan bisa duduk manis. Tapi bisa memainkan sesuatu dalam jangka waktu yang agak panjang (sekitar 5 – 10 menit saja kok!).

Agar si kecil memiliki konsentrasi:

  • Kurangi gangguan TV, radio, hp dan kurangi omelan.
  • Bujuk si kecil menyelesaikan kegiatan sebelum memulai yang lain. Jangan kebanyakan mainan dikeluarkan dalam 1 waktu. Anak bisa jadi bingung.
  • Pastikan si kecil cukup melakukan aktivitas fisik di luar ruangan. Banyak anak tidak bisa konsentrasi karena tubuhnya harus bergerak. Jadi berikan waktu untuk anak bergerak dan mengeluarkan energinya dulu.

 

Untuk meningkatkan imajinasi:

  • Ajak si kecil membuat cerita dari gambar atau boneka.
  • Bermain pura-pura seperti pura-pura bertamu. Cocok untuk anak usia 3 tahun ke atas.
  • Ketika mendongeng ajak si kecil dongeng sesuka dia.

Dalam kesempatan ini, Anna Surti juga berbagi pengalamannya meningkatkan imajinasi dengan anak-anak. Ketika bosan di perjalanan, si Mama bisa membuat kalimat dan meminta anak-anak secara bergiliran untuk meneruskan ceritanya. Nanti bisa sama-sama ketawa dengan kelanjutan cerita tersebut.

Lucu juga nih buat di coba…

 

#8 Empati.

Mungkin kita ada yang sering salah mengartikan Empati. Empati itu adalah kemampuan memahami perasaan orang lain tanpa terlarut di dalamnya, bisa menempatkan diri pada posisi orang lain, dan melakukan sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Empati bisa dilatih dengan mengajak anak menengok teman yang sakitnya tidak menular atau berbagi makanan dengan orang yang membutuhkan. Bisa juga dengan mengajak anak untuk menyortir pakaiannya yang masih bagus namun tidak dipakai lagi untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Blogger Bandung di Seminar Parenting #SGMEksplor
Blogger Bandung di Seminar Parenting #SGMEksplor. Acara seperti ini sekaligus waktu buat cipika cipiki dengan teman-teman blogger di Bandung yang kece-kece. Sayang ada yang nggak sempat berfoto bersama.

Mitos atau Fakta seputar Keterampilan Sosial

Sekali lagi Anna Surti mengajak para peserta untuk interaktif menentukan mana yang mitos dan fakta dari sejumlah kondisi. Ternyata masih banyak orang tua yang salah menilai beberapa hal berikut.

Apakah anak yang cerewet adalah anak yang pintar bergaul?

MITOS. Belum tentu. Banyak orang yang cerewet malah menyebalkan bagi orang di sekitarnya.

 

Jika keterampilan sosial anak buruk, anak akan menjadi introvert (bentuk kepribadian yang tidak suka cerita tentang dirinya kepada orang lain)?

MITOS. Introvert atau ekstrovert adalah bentuk kepribadian yang muncul dari dalam diri. Sedangkan keterampilan sosial yang sesuatu yang bisa dilatih dan dikembangkan. Ada orang memang tidak suka menceritakan kesedihan atau kesenangannya, namun mereka tetap bisa berbagi, berteman dan bersosialisasi dengan baik dengan orang lain. Sebaliknya ada orang keterampilan sosialnya buruk tapi  ektrovert (begitu terbuka dengan orang lain). Keberadaan mereka malah tidak disukai karena dianggap mengganggu.

 

Orang yang keterampilan sosialnya buruk pasti menyebalkan.

MITOS. Belum tentu orang yang keterampilan sosialnya buruk menyebalkan. Bisa saja karena keterampilan sosialnya buruk ia menjadi begitu pemalu dan menarik diri dari pergaulan. Ia jadi tidak ada masalah dengan orang lain dan di anggap orang yang baik-baik saja.

 

Sukses lebih mudah diraih jika memiliki keterampilan sosial yang baik.

Ini sih jelas FAKTA.

Mamanya Alika, MC Cici Panda lagi beraksi di Seminar Parenting #SGMEksplor
Mamanya Alika,  Cici Panda lagi beraksi di Seminar Parenting #SGMEksplor

 

8 Keterampilan sosial yang perlu dikuasai

Setelah mengetahui apa yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan sosial anak, berikut aplikasi 8 keterampilan sosial yang perlu dikuasai seorang anak agar bisa diterima dalam masyarakat:

#1 berteman dan bekerja sama

  • Sering ajak si kecil berkumpul dengan orang lain
  • Perlihatkan keakraban Mama dengan orang lain
  • Jangan memaksakan anak untuk berteman. Ia akan berteman jika merasa nyaman.
  • Jangan meninggalkan anak secara diam-diam

 

#2 Berkompetisi sehat

Jangan tergoda untuk mengajari anak berbuat curang dalam meraih kemenangan.

 

#3 Sabar menunggu (mengantri)

Jadi jangan mengajarkan anak untuk menyelip dalam antrian, apalagi mencontohkan cara menyerobot antrian. Its a big no!

 

#4 Sopan santun

 

#5 Selesaikan/damaikan pertengkaran

  • Ajari mengenai hak milik
  • Buat aturan yang jelas
  • Ajari anak menyampaikan apa yang ia pikirkan
  • Tunjukkan dalam keseharian
  • Untuk anak yang lebih besar, bisa diajak untuk membicarakan solusi dari masalah.

 

#6 Marah tanpa mengganggu orang lain

Anak boleh marah. Yang tidak boleh ketika ekspresi marah anak mengganggu orang lain.

  • Pahami mengapa anak marah (mainan direbut, giliran dilewati, atau ketidakadilan lain)
  • Tenangkan anak diajak pindah keruangan lain, dipeluk atau dibelai. Bundanya juga harus tenang saat menenangkan anak, jangan sama paniknya.
  • Akui dan terima kemarahannya
  • Tidak memberikan apa yang diminta dengan cara marah

 

#7 Ikut aturan

  • Tentukan aturan apa saja yang akan diberikan
  • Jelaskan batasannya
  • Jelaskan alasannya
  • Konsisten
  • Sabar

 

#8 Peduli terhadap yang sakit/kekurangan

 

4 Bentuk disiplin Orang tua

Sebagai penutup, Psikolog yang memiliki 2 anak usia remaja ini menyampaikan 4 bentuk disiplin yang umum dilakukan para orang tua.

#1 Tipe orang tua otoriter. Ini bagai orang tua yang memberikan pagar besi dalam bentuk aturan yang kaku.

#2 Tipe orang tua permisif. Orang tua seperti membangun pagar tapi dari karet yang gampang melar-melar tergantung suasana. Satu saat, bukan tidak mungkin pagarnya bisa putus.

#3 Tipe orang tua cuek. Bagaikan pagarnya bolong-bolong. Kadang dilarang, kadang bisa lepas.

#4 Tipe orang tua moderat. Nah ini yang dinilai paling baik, karena orang tua dan anak menetapkan aturan yang disepakati bersama. Bagaikan pagar yang diberikan bemper busa yang sangat tebal. Ada batasan, namun tidak terlalu sakit.

Seminar Parenting #SGMEksplore Bandung
Enaknya jadi blogger ketika dapat ekstra time buat ngobrol spesial dengan pembicara di Seminar Parenting #SGMEksplore Bandung (Sumber Foto: FB Aku Anak SGM)

 

Pertanyaan dan Diskusi

Pertanyaan #1 mengenai anak usia TK yang tidak mau ditinggal orang tua saat berada di kelas.

Jawaban:

Setiap sekolah memiliki aturan tertentu mengenai masalah ini. Biasanya hanya boleh ditemani orang tua 2 – 4 minggu saja. Karena selain tidak melatih kemandirian anak, hal ini juga bisa mengganggu siswa yang lain.

Anna Surti menyampaikan untuk mencoba metode kalender. Kenalkan anak pada konsep waktu dan tanggal. Setelah anak mengenal konsep waktu, persiapkan anak untuk berjarak di sekolah. “Nanti tanggal 1, 2 minggu dari sekarang Mama akan menunggu di luar kelas ya.” Diingatkan setiap hari dan kemudian dilaksanakan secara bertahap. Awalnya mungkin di depan kelas, di luar pagar sekolah, baru kemudian dilepas.

Orang tua harus bisa menegarkan hati dalam hal ini, karena kemdirian ini sangat penting bagi perkembangan seorang anak.

 

Pertanyaan #2 mengenai anak yang suka ngintil orang tua (ngekor dan nempel kaya perangko).

Jawaban:

Berikan anak apresiasi terhadap sekecil apapun hal positif yang sudah ia lakukan berkaitan dengan kemandiriannya. Ajak anak untuk mengenal orang lain yang sebaya dengannya. Orang tua bisa membantu dengan menyediakan mainan atau cemilan yang mendukung kegiatan mereka. Tapi tetap usahakan mengambil jarak.

Peserta seminar parenting #SGMEksplore di Harris Hotel Bandung
Peserta seminar parenting #SGMEksplore di Harris Hotel Bandung. (Sumber Foto: FB Aku Anak SGM)

 

Rangkaian Seminar Parenting SGM Eksplor

Gimana? Seru banget kan ilmu mengenai Keterampilan Sosial ini. Acara padat ilmu yang seru dan bikin ngantuk. Maklum MCnya Cici Panda yang bisa menghidupkan suasana. Cici Panda gitu loh…

Pengen ikutan? Tenang aja, menurut Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor, Seminar Parenting seperti ini akan dilaksanakan di 7 kota besar. Setelah seminar pertama diadakan di Padang pada 29 April 2017, 5 kota beruntung yang lain adalah: Jakarta (29 Juli), Semarang (2 September), Surabaya (30 September), Samarinda (28 Oktober) dan Makasar (4 November). Catat tanggalnya kalau kebetulan kotamu kebagian giliran. Infonya bisa diikuti di Page FB Aku Anak SGM.

Jangan khawatir, boleh bawa anak kok. Karena ada area bermain seru yang tersedia di bagian belakang ruang seminar. Ada juga stand kue-kue cantik yang pasti anak-anak suka. Seru deh pokoknya. Anak anteng dan Mama senang dapat ilmu dan berkumpul dengan ibu-ibu keren yang sama-sama ingin menjadikan anaknya generasi maju.

 

 

Snack booth SGM Eksplor
Kue-kue cantik di snack booth yang boleh diambil anak-anak. Emaknya juga pengen…

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

12 thoughts on “Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak bersama Anna Surti di Seminar Parenting SGM Eksplor Bandung

  • May 11, 2017 at 8:25 am
    Permalink

    Waah lengkap banget teh Shanty, seneng ya ikut seminar parenting kaya gini. Upgrade ilmu

    Reply
    • May 11, 2017 at 8:42 am
      Permalink

      Sebenarnya belum semua. Cuma malu sudah 2500 kata saja. Mau dipotong jadi 2 kok kagok. Jadi ya sudahlah, seadanya saja.

      Reply
  • May 11, 2017 at 8:28 am
    Permalink

    Luar biasa teh Shanty, saya suka banget ulasan dan penyampaian materi secara keseluruhan tentang keterampilan sosial anak ini. Ilmu parenting memang ngga ada habisnya. Makasih sharingnya ilmunya ya, teh.

    Reply
  • May 11, 2017 at 8:49 am
    Permalink

    Asyeek nih ilmunya. Yuk ah kita kembangkan anak-anak indonesia jadi mandiri dan pandai bersosialisasi. Hidup emaks

    Reply
  • May 11, 2017 at 9:22 am
    Permalink

    uihiii selalu luengkaap..

    kalau di kita lebih akrabnya akhlak; adab bergaul ya teh..

    makanya ya yang penting itu bukan hanya pinter, cerdas atau kinerja yang hebat, tapi juga punya keterampilan sosial yang hebat juga. sepakat dooonk.. ; )

    Reply
    • May 11, 2017 at 9:50 am
      Permalink

      Ternyata keterampilan sosial itu tidak given atau otomatis bisa ya. Banyak yang nggak tahu etika bersosialisasi yang baik.

      Reply
  • May 11, 2017 at 4:31 pm
    Permalink

    Lengkap banget, makasih sharingnya… Saya yg ga bisa dtg jd bisa dapet ilmunya jg 🙂

    Reply
  • May 11, 2017 at 9:59 pm
    Permalink

    Untuk yang bagian mengenal emosi ke 4, saya ijin save ya gambarnya karena cukup bagus untuk di share. thanks

    Reply
  • Pingback: Waktunya Bunda Baca – Bunda Azkadia

Leave a Reply

%d bloggers like this: