Sakitnya di Poligami dalam Novel Athirahnya Alberthiene Endah

Berita poligami memang selalu mudah memancing para emak-emak naik darah. Apalagi jika melibatkan ustad atau orang kaya yang terpandang. Mentang-mentang sudah kaya raya eh malah nyari lagi. Duh bawaannya jadi pengen ada yang di ulek saking kesalnya.

Dalam novel Athirah, Alberthiene Endah mengangkat kisah poligami yang terjadi dalam keluarga Wakil Presiden kita saat ini, Jusuf Kalla. Bagaimana suatu hari di tahun 1955, Ibunda Jusuf Kalla – Athirah, mengetahui bahwa suaminya Haji Kalla yang dikenal sebagai pengusaha terpandang seantero Makasar, akan menikah lagi. Suatu guncangan yang teramat dasyat untuk seorang wanita yang tengah hamil anak ke-9 (2 meninggal) dan mengasuh 6 anak yang masih kecil: Nurani (16 tahun), Jusuf Kalla (14 tahun), Zohra (10 tahun), Saman, Ahmad (4 tahun) dan Suhaeli.

Albethiene Endah mengajak pembaca menyelami sakitnya hati seorang wanita yang dipoligami melalui sudut pandang seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki berusia belasan tahun yang begitu mencintai ibunya, namun sangat menghormati ayahnya. Sangat menarik bagaimana kita diajak melalui proses kemarahan, kesedihan, kekecewaan hingga akhirnya tiba ke penerimaan, keikhlasan dan kemenangan seorang perempuan. Semua itu ada prosesnya…

Saya sangat kagum bagaimana luka keluarga ini bisa tetap ‘diplester’ dalam diam. Walau luka, namun Emma – panggilan Jusup Kalla untuk ibunya, tetap menyediakan makanan lengkap setiap hari untuk suaminya. Setiap habis subuh, Bapak akan sarapan di rumah mereka di Andalas, berangkat ke kantor, kembali makan malam di rumah, dan setiap malam pulang ke istri keduanya. Selama masa itu, tidak ada kemarahan yang diumbar.

Athirah tetap menunjukkan penghormatannya kepada suaminya di depan anak-anaknya.

“Jusuf, kau tirulah cara ayahmu berdagang dan bergaul. Di luar sikapnya terhadap perkawinan, ayahmu laki-laki sempurna. Ia menjalankan usaha dagang degnan ketaatan akan ajaran Islam yang teguh dalam berniaga. Dan, kau lihat bagaimana ia bergaul. Ia tiada memiliki keinginan jahat, licik, atau memecah belah. Ayahmu mencintai persaudaraan. Ia selalu berlaku positif agar segala yang ia jejak juga memberikan pantulan yang baik…” (hal 284)

 

Pelajaran bisnis dalam novel Athirah

Haji Kalla, adalah seorang pengusaha yang sukses dari usahanya sendiri. Sudah menjadi yatim saat usianya 3 tahun, membuatnya hidup dalam kesederhananaan bersama ibunya. Pada usia 12 tahun ia mulai mencoba berdagang mandiri dengan berjualan kain, bahan makanan dan lainnya. Dengan modal mempratikkan trik berdagang dan bertutur kata santun, hanya dalam waktu 3 tahun Haji Kalla telah mampu memiliki kios kecil di Pasar Bajoe, Watampone, Kabupaten Bone.

Dalam novel 380 halaman ini, banyak diceritakan bagaimana kepiawaian berdagang keluarga Kalla. Mulai dari Haji Kalla, Athirah dan Jusuf Kalla.

“Bapak tidak akan membisniskan sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Karena taktik mencari keuntungan dari barang-barang dagangan jenis itu, adalah perbuatan tidak baik. Dengan menimbun beras, gula, minyak goreng untuk bisa menjual dengan harga bagus pada saatnya, itu adalah perbuatan yang merugikan orang lain…” (hal 116)

“Bapak melakoni bisnis semata mencari rezeki. Ia sangat memercayai bahwa Allah SWT ikut serta di dalam pertarungannya berdagang. Sejak kecil Bapak telah diajarkan berdagang. Berdagang adalah bakat yang harus dikembangkan untuk sebesar-besarnya memberi manfaat bagi orang banyak. Kepekaan hati diperlukan untuk bisa membaca mana bisnis yang penuh ridha, dan mana yang berpotensi menciptakan ketamakan. (hal 235)

Sekitar 4 tahun kemudian, Emma menyampaikan niatnya untuk mulai berbisnis. “Jusuf, Emma perlu membuang pikiran. Tak baik bila Emma hanya memikirkan Bapak. Emma harus melarikan waktu luang Emma untuk hal-hal yang kreatif,” ujarnya. (hal 130)

Dan Emma memang sukses dalam berbisnis. Bisa jadi apa yang disampaikan Jusup Kalla pada hal 262 ada benarnya: Perempuan tersakiti memiliki berkahnya sendiri bila mampu tabah dan tawakal.

Inside Athirah
Inside Athirah

Walau sebenarnya Haji Kalla telah berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dengan adil, ada juga teman yang memanas-manasi dan berusaha mengobrak-abrik emosi Emma. Emma diminta jangan terlalu lugu dan membiarkan wanita lain mengambil jatahnya dan anak-anaknya. Namun Emma memjawab, “Tak apa, Bu. Kalaupun ada jatah saya yang hilang, Allah pasti akan menggantinya… Saya lebih tahu siapa suami saya. Dan, saya yakin dia juga memilih istri kedua yang baik, yang tidak perlu saya ributkan perbuatannya, hartanya, atau apapun…”

“Istri adalah napas keluarga. Kau yang akan mengatur denyut semangat keluargamu. Kau bisa menjaga emosi dan menciptakan damai di rumahmu. Kau yang akan mengimbangi kesibukan suamimu dengan keindahan-keindahan yang bisa diciptakan perempuan di dalam rumah. Ketika seorang ibu tersenyum, ia menciptakan berjuta sukacita. Jika seorang ibu meledakkan hatinya, keluarga akan ikut meledak…”

Kalau dipikir-pikir, jika tidak dipoligami, mungkin Athirah tidak akan menjadi seorang pengusaha sukses. Anak-anaknya tidak akan tumbuh menjadi anak-anak yang tanggu dan sehebat sekarang. Bisnis mereka tidak akan sebesar saat ini.

 

Athirah dalam film

Athirah diangkat ke layar lebar oleh Miles Film dengan duo maut jaminan mutu Sang Produser Mira Lesmana dan Sutradara Riri Riza. Film yang dirilis pada 26 September 2016 ini, sukses meraih 6 penghargaan Citra dari 10 kategori yang masuk nominasi dalam ajang FFI 2016.

Dalam film ini Athirah diperankan oleh Cut Mini Theo, Puang Haji Kalla oleh Arman Dewarti, Jusuf Kalla remaja oleh Christoffer Nelwan, dan Mufidah Jusuf Kalla remaja oleh Tika Bravari. Juga ada penampilan dari Jajang C Noer yang berperan sebagai Mak Kerra, ibunda Athirah.

 

Tentang Alberthiene Endah

Bagi pencinta buku biografi, Alberthiene Endah pasti bukanlah penulis yang asing. Maklum, ia adalah penulis sejumlah biografi orang terkenal. Bukan hanya 1, 2 atau selusin buku loh. Tapi 46 buku biografi!

Wanita kelahiran 16 September 1970 ini bernama lengkap Rr. Alberthiene Endah Kusumawardhani Sutoyo. Biasa dipanggil pendek saja, AE. Lulusan Sastra Belanda Universitas Indonesia.

Buat saya novel ini masuk kategori wajib punya sendiri. Karena begitu banyak bagian penting yang perlu kita garis bawahi dan membacanya berulang-ulang. Ada banyak pesan-pesan penting dalam kisah memilukan keluarga ini. Betapa keluarga yang begitu sempurna dan berkelimpahan kekayaan, kehormatan dan kesalehan seperti keluarga Haji Kalla, harus mengalami kejadian yang menorehkan luka dalam setiap anggota keluarga. Namun dari sana, mereka semua jadi belajar sesuatu.

 

Data Novel Athirah

Penulis : Alberthiene Endah

Penerbit : Noura Books, cetakan ke-3 November 2016 (cetakan pertama Agustus 2016)

Halaman : 400 hal, 14 x 21 cm

Harga : Rp 79.000,-

Untuk pembelian online bisa di beli di sini.

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: