Renungan Parodi Kompas: Orang Baik-nya Samuel Mulia

Saya adalah pembaca setia kolom Parodi-nya Samuel Mulia di Kompas Minggu. Bukan hanya pembaca, saya bahkan menyimpan potongan tulisan kolumnis lulusan sekolah Kedokteran yang nyasar jadi perancang busana ini. Biasanya tulisan Pak Samuel akan membuat saya merenung seharian memikirkan tema tulisan hari itu. Begitu mengena dan dalam. Namun tulisan 9 April 2017 lalu berjudul Orang Baik, membuat saya merenung selama beberapa hari.

Orang Baik bercerita tentang bagaimana penulis (Samuel Mulia) dianggap bukan orang baik oleh orang yang tidak mengenalnya. Memberinya label sebagai bukan orang yang menyenangkan untuk dijadikan teman, hanya berdasarkan pendapat orang lain.

Saya jadi teringat dengan kutipan “Don’t judge book by its cover.” Begitu mudah kita menilai orang dari luarnya saja. Bahkan bukan sekedar dari covernya – karena kita tidak mengenal mereka mengenal langsung, tapi sekedar dari katanya katanya.

“Kata orang dia bukan orang yang menyenangkan.”

“Kata orang dia bukan orang baik.”

“Teman saya banyak yang bilang dia menjengkelkan.”

Pernah mendengar kata-kata seperti di atas terhadap seseorang yang disampaikan kenalan kita? Lantas apa yang akan kita lakukan? Mempercayai mereka mentah-mentah, atau berusaha mengenal orang tersebut?

Kalau saya sendiri sebagai orang yang suka penasaran, biasanya malah ingin mengenal orang tersebut. Terutama karena ingin benar-benar tahu mengenai dirinya. Malah jadi penasaran, “Masa iya sih ada orang seajaib itu? Ini serius atau ada kemungkinan saya salah menangkap informasi.”

Tapi memang ini kalau ada waktu dan benar-benar memerlukan orang tersebut. Kalau tidak penting-penting amat, ya mungkin saya abaikan dan memilih percaya pada apa yang orang banyak katakan. Bukan apa-apa, sekedar #MalasMikir.

Tapi  jadi kepikiran juga sih. Bagaimana kalau orang lain juga menilai seperti itu tentang saya? Bagaimana kalau orang lain punya penilaian buruk tentang saya? Apakah saya ingin orang lain mengkonfirmasi dulu ke saya mengenai pendapatnya atau langsung menjudge saya sebagai orang yang tidak baik?

Kalau memikirkan ego, saya dengan angkuhnya akan bilang silakan untuk tidak berteman dengan saya. Lagi pula siapa yang butuh dengan situ? Saya pun hanya mau berteman dengan orang-orang yang pikirannya tidak gampang menjudge orang lain hanya karena katanya katanya. Dan menurut saya, kamu yang sangat rugi karena kehilangan kesempatan mengenal saya. Kamu tidak tahu saja, keuntungannya menjadikan saya sebagai teman.

Boleh kan kita berpikir seperti itu? Boleh lah, wong itu pikiranmu sendiri.

Kalau sudah begitu saya jadi mikir juga mau menilai orang lain tanpa dasar yang kuat. Bagaimana kalau saya yang rugi karena tidak mengenal orang tersebut? Jangan-jangan rejeki baik saya ada di tangan orang yang sempat saya dengar kabarnya ia begitu jahat? Bukan tidak mungkin orang yang dinilai banyak orang begitu hina, ternyata memiliki kunci penting keberhasilan orang lain?

Dan saya pun mulai mengoreksi cara berpikir saya.

Never…Ever…Ever judge people by others opinion.

Karena bukan tidak mungkin itu menyesatkan dan merugikan.

Tapi bagaimana jika setelah mengenalnya kita mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa ia memang orang yang tidak menyenangkan? Perlukah kita mempengaruhi orang lain untuk berhati-hati?

Kalau saya sepertinya akan melihat dulu kasusnya. Apakah dia hanya berlaku seperti itu pada orang tertentu atau pada semua orang? Kalau memang urusannya pidana, ya mungkin langsung saja dilaporkan ke pihak yang berwajib. Tidak perlu menyebar rumor yang mungkin saja bisa menjadi fitnah karena kurang informasi. Panjang lagi kan urusannya kalau sudah sampai fitnah. Bukan tidak mungkin loh, kasus tidak menyenangkan hanya terjadi pada segelintir orang yang mungkin memiliki kesalahan tertentu. Tapi sebagian orang lain tidak mengalaminya. Pas lagi naas aja. Kadang-kadang, hal buruk menimpa seseorang dengan maksud tertentu.

Nah lihatkan, sebuah tulisan parodi sederhana bisa membuat saya berpikir berhari-hari. Semoga kita bisa dijauhkan dari prasangka buruk orang lain terhadap diri kita. Dan bertemu dengan orang-orang yang mau bersusah payah mengkonfirmasi suatu berita ke kita dulu sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Kita bisa memulainya dari diri sendiri…

 

***

 

Lebih lanjut mengenai Samuel Mulia bisa di baca di sini:

aergot.wordpress.com: samuel-mulia-on-interview

baltyra.com: exclusive-samuel-mulia-up-close-personal

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Renungan Parodi Kompas: Orang Baik-nya Samuel Mulia

  • June 19, 2017 at 4:56 pm
    Permalink

    Saya juga suka tulisan samuel mulia !! Apa mungkin ada penulis pengganti Samuel mulia u rubik parodi ? Hhe.. saya minat gt maksdnya. Pernah tahu s.mulia ngadain beda tulisan nggam ya ? Pengen euyyy !!!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: