Kulwap ke-10 #ODOPfor99days bersama Grace Melia (bagian 2)

Bagian 1 dari Kulwap ini bisa dibaca di sini ya.

Sekarang kita lanjut untuk hampir 3000 kata berikutnya. Tarik napas panjang untuk mengunyah ilmu ini pelan-pelan.

 

#6 pertanyaan Elma Fitria, Bandung 

a. Mbak Gesi, saya sudah follow Mbak dari dulu, dan banyak terinspirasi kisah selama mendampingi Ubii. Tapi salah satu yang paling menginspirasi adalah tulisan Mbak tentang kisah masa lalu Mbak sendiri dan bagaimana Mbak berubah, waktu itu lagi ramai tentang seleb YouTube.

Bagaimana awalnya Mbak bersedia menjadikan tulisan sebagai refleksi diri yang jujur ? Apakah ada kekhawatiran orang-orang yang terkait itu membacanya dan tersinggung ?

(Note: Tulisan Gesi tentang Karin Novilda alias Awkarin bisa dibaca di sini)

Jawaban:

BAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Oke, jujur ya. Awalnya aku terpikir untuk menuliskan pengalaman masa mudaku itu karena aku tergelitik saat baca-baca komen hujatan untuk Karin. Yang ibu-ibu mayoritas menghujat banget kan. Ada yang ‘hanya’ istigfar melihat Karin, tapi ada juga yang pakai kata-kata kasar seolah Karin itu remaja terhina dan tersalah sejagad raya.

Bahwa Karin memposting hal-hal negatif, aku nggak menampik ya. Dan aku juga setuju bahwa konten dia bisa kasih bad influence untuk remaja-remaja Indonesia. Tapi, aku adalah tipe orang yang percaya bahwa bagaimana kita hari ini nggak lepas dari bagaimana kita dibesarkan dalam keluarga.

Aku setuju Karin kasih bad influence. Tapi aku kurang setuju jika para ibu langsung menjudge tanpa tahu latar belakang Karin seperti apa dalam keluarga nya.

Kebetulan aku merasa punya kemiripan. Dulu saat sekolah, aku berprestasi seperti Karin. Tapi perilaku dan pergaulanku nggak baik. Semua itu nggak lepas dari bagaimana mengasuh aku. Aku tumbuh tanpa kedekatan dengan mama dan mama sering seolah hanya menegaskan prestasi akademik di atas segalanya. Beliau sering marah-marah sampai level aku blas nggak betah di rumah dan itu dari kecil. Jadi begitu ada kesempatan ngekos, bebas banget.

Makanya, aku menuliskan pengalamanku itu dengan harapan bisa jadi catatan untuk orangtua. Mengajarkan agama itu penting banget. TAPI, kalau buat aku pribadi, bagaimana supaya bisa jadi sahabat untuk anak sehingga anak betah di rumah dan nggak cari kesenangan kebablasan di luar rumah itu juga nggak kalah penting.

Mama ku selalu baca blog ku kok. Papa juga. No problem karena yang aku tulis memang truth. Papa selalu ngajarin aku untuk bebas mengemukakan pendapat asal siap dengan konsekuensi. Dan aku siap. Dari tulisan itu, banyak yang lantas curhat karena punya pengalaman yang sama sehingga bisa relate. Tapi banyak juga yang hujat bilang aku sok ngaku-ngaku aja biar tenar. Nggak masalah karena aku sudah siap dengan konsekuensi itu.

Setelah Mama baca justru Mama minta maaf ke aku. Sesuatu yang Mama nggak pernah lakukan. Dan akhirnya kami saling minta maaf sudah saling mengecewakan.

Justru dari tulisan itu, Mama jadi tahu apa yang kurasakan, kenapa aku nakal, alasannya apa, dampak pengasuhan Mama padaku seperti apa, dll. Itu adalah sesuatu yang aku nggak pernah bisa utarakan langsung ke Mama. Jadi justru tulisan itu bantu aku dan Mama untuk sama-sama saling memaafkan.

 

b. Bagaimana cara Mbak kolaborasi dengan suami mengelola dua situs yang sama sama aktif dan cover dua sudut pandang pengasuhan?

Jawaban:

Sebenernya nggak ada tantangan berarti karena Adit memang suka nulis. Dulu di kampus (dia kakak angkatanku di kampus, btw), dia jadi kontributor majalah kampus. Dia juga punya blog sendiri di www.adityasu.blogspot.com. Intinya, bisa enteng collab sama Adit karena memang Adit juga suka nulis. Jadi bukan sesuatu yang dipaksakan.

Dari tulisan Adit di Diari Papi Ubii, aku jadi tahu what’s inside his mind karena Adit bukan orang yang pandai mengutarakan pikirannya secara lisan.

 

c. Yang ini pernyataan sih Mbak : Thank you for being you

Tanggapan:

MakaciiyyyY!!!!!!!!

 

#7 Pertanyaan Nani Nurhasanah, Tangerang Selatan

a. Salam kenal Mbak Gesi, blognya menarik dan bikin betah yang baca. Temanya keseharian tetapi tidak membosankan dan menggurui.

Pertanyaan saya, karena ikut ODOP saya berusaha konsisten mengejar target tulisan. Kalau Mbak Gesi sendiri punya targetkah dalam seminggu menulis berapa tulisan?

Jawaban:

Terima kasih, Mba Nani. Iya ada target, dalam seminggu minimal harus ada 3 tulisan di blog.

 

b. Bagaimana cara mengangkat cerita kehidupan sehari-hari seorang ibu dengan anak dan suami agar inspiratif dan menarik, tidak membosankan, tidak terkesan mengeluh/ menggurui dan membuka ‘aib’ rumah tangga?

Jawaban:

Ini pertanyaan yang aku bingung jawabnya. Saat menulis, aku nggak pernah berniat/merumuskan gimana-gimana supaya harus inspiratif. Ya nulis-nulis aja. Kalau ternyata dirasa inspiratif, itu lebih ke pendapat pembaca aja berarti. Bukan karena aku sengaja bikin itu inspiratif.

Biar nggak membosankan dan ringan, mungkin itu karena gaya bahasaku di blog juga ringan dan nggak baku yah.

Supaya lebih bikin betah dibaca, aku pakai bantuan stiker-stiker karakterku. At least, 1 postingan nggak cuman tulisan panjang tapi ada gambarnya.

Kalau belum punya stiker-stiker karakter, nggak perlu kecil hati. Sekarang blogspot ada emoji kan. Manfaatkan lah itu. Bisa juga dengan cari meme atau gif lucu di internet. Karena tulisan panjang tanpa gambar bisa bikin bosan, terutama untuk pembaca yang emang nggak betah baca long story.

Aku kayaknya nggak pernah tidak mengeluh sama sekali deh. Hahaha. Banyak juga kok yang aku ngeluh. Tapi mungkin karena kata-katanya biasa aja, nggak pakai diksi yang sedih-sedih amat jadi nggak tertangkap sedang ngeluh. Padahal aslinya ngeluh. Aku kasih contoh postingan Things I Wanna do with Ubii.

“Belakangan ini saya sedang sering overwhelmed dalam mengasuh Ubii. Overwhelmed nya kenapa? Karena Ubii makin berat, literally. Badan nya makin berat. Ya iya lah kan dikasih makan. LOL.”

Itu kan mengeluh. Aku bilang overwhelmed karena badan Ubii makin berat.

Nggak menggurui mungkin bisa dibantu dengan memakai “Kalau menurut saya / Dari kacamata saya” dll. Jadi kesan yang tertangkap adalah sekedar cerita menurut aku begini, bukan yang mengharuskan semua pembaca untuk ikut begini.

Nggak buka aib itu, kalau aku, prosesnya dimulai dari sebelum nulis postingan. Aku nanya dulu ke Adit misal yang tentang pengalaman masa muda pernah rebel itu tadi yah. Aku nanya, “Aku mau nulis ini, what do you think? Kamu nggak papa? Keberatan nggak?”

Kalau Adit bilang go ahead ya udah tulis. Kalau kami sepakat ini bisa sampai jadi tulisan ya berarti ini bukan sesuatu yang kami anggap aib.

Percayalah, nggak semuanya banget aku ceritain di blog kok.

 

#8 Pertanyaan Rani R Tyas, Kudus 

a. Menurut Mbak Gessi, lebih diutamakan posting di instagram atau di blogspot? Bila jalan kedua-duanya, bagaimana bisa membagi tema di antara keduanya atau boleh sama sih sebetulnya antara tulisan di blog atau instagram? Love it yang post membahas cara memaksimalkan instagram.

Jawaban:

Ini ditanyakan ke diri sendiri dulu ya, blogging dan bersosmed itu untuk apa? Ada tujuan ingin menambah pundi-pundi rupiah, nggak?

Kalau hanya untuk menyalurkan hobi mah ya terserah aja. Kalau emang ada tujuan monetise, tentu harus jalan keduanya karena sekarang campaigns juga mensyaratkan socmed sharing juga. Makanya kadang ada campaigns yang requirement nya followers IG minimal sekian juga, kan?

Bila jalan keduanya, kalau buat aku, lebih gampang kalau tema IG sejalan dengan tema blog. Jadi, IG juga bisa dijadikan sarana untuk share postingan blog, komunikasi dengan pembaca blog, dan menjaring pembaca baru.

Aku niche blog tentang family, IG ku pun demikian.

 

b. Waktu menulis blog, biasanya Mbak Gessi pake riset nggak? Misal ada ide, bisa sekali duduk langsung selesai atau sambung lagi besok lagi besok lagi sampai selesai?

Jawaban:

Tergantung jenis postingannya apa. Kalau hanya menceritakan pengalaman dan perasaan / curhat, tentu tinggal tulis, cari gambar pendukung, lalu selesai (kalau nggak ketiduran hahaha). Kalau aku bikin postingan misal Stimulasi Bayi 6 Bulan, ya aku googling dulu supaya referensi lebih banyak dan aku praktikkan dulu.

 

c. Seberapa pentingkah nilai DA dan tetek bengeknya untuk seorang Mbak Gessi? Karena kalau menurut Annisast dkk itu tidak terlalu penting.

Jawaban:

Menurut aku juga nggak penting-penting amat sih. Hehehe. Blogku DA nya cuman 19 padahal sudah ngeblog rutin dan pageviews bagus. No problemo. Masih banyak job yang nggak mensyaratkan nilai DA kok.

Beberapa teman kadang galau dengan angka DA dan berpikir keras gimana ya supaya bisa naik, lalu gigit jari kalau ada pendaftaran job yang DA blognya nggak sampai. Aku pribadi nggak pernah menjadikan DA sebagai target. Nulis ya nulis aja yang penting konsisten dulu. Kalau membuat target, aku lebih ke diriku sendiri. Misal sebelumnya seminggu cuman 1 postingan, target dinaikkin ah misal jadi 2, dst.

 

d. Menurut Mbak Gessi, tolak ukur blogger yang keren itu seperti siapa contohnya? Dan kayak apa?

Jawaban:

Definisi keren itu subjektif banget yaa. Jadi silakan kalau ada yang juga mau share definisi blogger keren itu yang kayak apa. Kalau buat aku, blogger keren itu yang punya loyal readers.

Loyal readers ini aku artikan sebagai mereka-mereka yang selalu kembali ke blog kita, ngecek ada postingan baru nggak di blog kita, dan selalu baca update an kita/nggak mau ketinggalan sama tulisan kita dengan kemauan mereka sendiri, bukan karena kita minta mereka mampir dan meninggalkan komen.

Blogger yang bisa bikin aku selalu mampir baca setiap tulisannya, bahkan tulisan yang sebenernya aku nggak bikin aku tertarik itu Annisast (www.annisast.com). Aku nggak terlalu demen baca postingan tentang make up. Tapi kalau Annisast yang tulis, aku selalu baca. Jadi menurutku, loyal readers itu kayak gitu.

Aku mention Annisast karena memang aku loyal reader dia yah, bukan karena kami berteman dekat. Blogger lain yang aku temenan deket nggak selalu aku baca semua postingan nya kalau memang aku bukan loyal reader nya.

 

#9 Pertanyaan Anittaqwa Elamien, Surabaya

a. Beberapa pekan lalu saya baca artikel di Detik.com tentang Pentingnya rileks dan me time untuk ortu dengan anak berkebutuhan khusus. Apa tanggapan Mba Gesi tentang artikel tersebut?Kalau Mba Gesi sendiri biasanya “me time” diisi kegiatan apa?

Jawaban:

Setuju banget. Alasan kenapa setuju sudah sering aku jembreng di blog jadi aku kasih link nya aja ya: Ketika Ibu Butuh Me Time, Diari PapiUbii #9: Honey, I’m gonna blow off some steam tonight,  dan Me Time Ibu-ibu ala saya.

Macam-macam. Kalau di rumah: nonton copy-an film di laptop sambil ngemil atau baca komik Miiko. Kalau lagi rajin, ngeblog dan bikin-bikin hiasan DIY. Yang di luar rumah: ngeblog sambil ngopi, nyalon, pijat, atau nonton sama Adit.

 

b. Liat PV blog Mba Gesi tuh bikin saya takjub, lho.Menurut Mba Gesi, medsos apa yang paling efektif untuk memviralkan tulisan kita?Topik apa sih yang paling seksi agar tulisan kita bisa viral?  Kalau tulisan curhat emak baper kayak saya bisa nggak ya dapat PV banyak?

Jawaban:

Itu tergantung dari kita masing-masing ya. Teman/followers kita terbanyak di mana. Kalau aku, medsos yang paling banyak mendatangkan klik ke blog adalah Facebook. Urutan kedua Instagram. Terakhir Twitter. Silakan dicek dengan Google Analytics, teman-teman.

Itu tergantung niche blog kita apa juga yah kayaknya. Yang biasanya mudah viral itu mungkin kalau kita membuat tulisan terkait trending topics yah. Misal dulu tulisanku Catatan Untuk Para Orangtua: Dulu Saya Pernah Menjadi Karin Novilda itu bisa viral banget maybe karena berdekatan dengan booming nya Awkarin.

Kalau sekedar curhatan apakah bisa viral, aku jujur bingung jawabnya karena definisi curhat nya yang seperti apa mungkin bisa beda-beda. Postingan ku yang ini viral juga seperti Ayah Ibu Jangan Sampai Aku Melihat Kalian Berhubungan Badan – aku mengartikan itu curhat. Menurut teman-teman curhat bukan?

Kalau menulis curhatan tapi banyak orang yang bisa merasa relate, ya mungkin saja kok mendatangkan pageviews tinggi.

 

#10 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin, Bandung 

a. Saya terpesona lihat angka-angka di media kit Grace Melia. Pageview sampai 6 digit per month gitu! Jadi pengen tahu, sebesar apa pengaruh liputan  media nasional ke jumlah kunjungan blog Mami Ubii? Kalau boleh tau, sebelum Grace Melia diliput media, seberapa banyak kunjungan ke blog Mami Ubii?

Jawaban:

Pengaruh liputan media nasional ke pageviews cukup besar, tapi aku nggak pernah ngecek sebelum ditulis berapa dan setelah ditulis di media berapa. Pengaruhnya juga nggak bertahan lama. Paling di hari H tulisan di media nasional tersebut dipublish sampai H+3 saja. Abis itu biasa-biasa aja.

Liputan media yang mendatangkan kunjungan ke blogku kayaknya yang kasih direct backlink aja. Media yang nggak kasih backlink ke blog aku sepertinya nggak mendatangkan pengunjung banget. Kalaupun ada yang jadi berkunjung paling nggak banyak.

 

b. Mau tau dong behind the story menjadi endoser merek sebesar Mothercare? Bagaimana suka duka menendorse produk terkenal?

Jawaban:

Sukanya: menjadi blogger endorser Mothercare bisa jadi pemanis media kit ku banget. Hehehe. Duka nya: kadang takut kalau aku nggak bisa memenuhi ekspektasi Mothercare karena sebenarnya target brand Mothercare kurang sesuai dengan profile pembaca blogku. Segmen pasar Mothercare biasanya keluarga dengan SES A-B. Profile pembacaku mayoritas SES B-C.

Cerita di balik aku dipilih jadi blogger endorser Mothercare itu sebenernya rezeki yang mengejutkan. Jadi, dulu tahun 2014 kalau nggak salah, Mothercare buka store di Jogja dan ada media gatheringnya mengundang media dan blogger. Aku ikut hadir dan berkenalan dengan ibu direkturnya dan aku kasih kartu namaku.

 

Setelah itu nggak ada kontak apa-apa lagi. Tiba-tiba 2015 aku dihubungi dan ditawari kerjasama ini.

 

c. Bagaimana cara Mami Ubii menentukan rate untuk kerjasama? Apakah mengikuti aturan baku yang mungkin umum dipakai para blogger? Atau dari klien? Atau suka-suka Mami Ubii?

Jawaban:

Emang ada aturan baku nya, ya? Aku malah belum tahu aturan baku nya seperti apa. Boleh kah dishare kalau emang ada aturan baku nya? Supaya aku juga ikut tambah ilmu.

Aku kadang nanya ke temen blogger yang aku tahu statistiknya 11-12 dengan aku, supaya bisa kira-kira dan punya pembanding. Lalu aku tetapkan sendiri rate cardku dengan mempertimbangkan media sosial juga.

Misalnya, aku tanya ke si A yang statistiknya 11-12 sama aku, rate dia di 3 juta. Tapi followers di IG nya masih di bawah 10K. Jadi aku lebihkan 3 juta sekian karena followers IG ku sudah lebih dari 10K.

Agency atau brand sering kasih penawaran. Aku lihat-lihat dulu. Aku juga punya bottom down. Jadi kalau mereka menawar di bawah rate ku, masih masuk bottom down ku nggak? Kalau lebih rendah daripada bottom down ku tapi misalkan aku suka dengan produk/tema yang ditawarkan atau brand tersebut bagus untuk portfoilio ku, nggak masalah, I’ll still do it. Jadi, buat aku, rate bukan satu-satu nya penentu apakah aku akan mengambil tawaran atau nggak.

 

d. Saya suka banget lihat ilustrasi ekspresi lucu-lucu di setiap postingan blog Mami Ubii. Itu buat sendiri atau ada templatenya? Kalau buat sendiri pakai program apa? Sekaligus jadi pengen tau berapa jam waktu yang dihabiskan untuk 1 postingan?

Stiker lucu mami Ubii. (sumber: Gracemelia.com)
Stiker lucu mami Ubii. (sumber: Gracemelia.com)

Jawaban:

Itu nggak buat sendiri. Aku pesan di Halo Terong. Aku ceritain di Exclusive Stiker: Something to boost my blogging mood yaa.

Tergantung postingan apa. Kalau postingan ringan semacam 5 Cemilan Terenak Versi Mami Ubii  2 jam gitu kali sudah selesai asal nggak sambil buka sosmed atau ngobrol di WA.

 

e. Mami Ubii apa berencana untuk membukukan tulisan di blog Mami Ubii?

Jawaban:

Belum ada rencana itu.

 

f. Saya suka tulisan kolaborasi dengan Papi Ubii dan #GesiWendiTalk. Ada tips nggak untuk bisa sukses menulis bareng dengan orang lain dalam blog?

Jawaban:

Kalau dengan suami itu sebenernya nggak collab-collab amat ya karena yang menulis hanya Adit. Aku kebagian tugas bantu cari ide dan edit aja. Kalau untuk #GesiWindiTalk baru beneran collab nya karena kami berdua sama-sama menulis.

 

Tips agar collab nya enak:

– Harus ada salah satu yang rajin nagih dan rajin nyemangatin. Ada kalanya Windi malas-malasan, jadi aku harus bisa jadi pihak yang nagih-nagih biar nggak bolos. Ada kalanya aku yang mager dan sok sibuk, jadi Windi yang nyemangatin. Kalau sama-sama malas bersamaan, bakalan absen terus nanti.

– Lebih enak kalau partner nya sudah lumayan deket. Jadi kita nggak rikuhan saat nagih-nagih untuk nulis.

– Kalau kepengin mendapat pembaca baru dari collab, maka kalau bisa carilah partner yang loyal readersnya berbeda dengan kita supaya kita bisa dapet new readers dari partner.

– Sebenernya collab begini tujuannya lebih ke rajin dan konsisten posting aja. Kalau menarget PV harus naik banget dari collab, sebenernya naiknya nggak signifikan-signifikan amat.

 

***

 

Alhamdulillah selesai juga tanya-jawab untuk 31 pertanyaan dari 10 orang penanya selama 1 jam.

Puas?

Belum dong… Benar-benar kepo maksimal ibu-ibu ini. Berikut pertanyaan dalam sesi tambahan sambil ngemil penganan-penganan virtual di grup WhatsApp.

 

#11 Pertanyaan Wahyu Mardhatiah, Solo

Ada yang nulis karena lagi ada masalah, trus nyesek, trus nangis pas lagi nulis?

Jawaban:

Aku nggak pernah sampai yang nangis tersedu gimana saat curhat sesuatu yang sedih. Karena nulisnya di blog saat sudah selesai tersedu-sedu. Kalau sedihnya masih banget-banget, aku nggak akan bisa nulis. Maunya tiduran selimutan aja.

 

#12 Pertanyaan Dwi Septiani, Bandar Lampung

Mbak Ges belajar ngeblognya otodidak atau gimana? Ada pelatihan yang paling bikin ngaruh gitu gak mbak?

Jawaban:

Aku belajar otodidak aja. Kadang coba-coba juga. Misalnya, lihat ada temen lain posting cerita ringan macam film favorit. Aku jadi penasaran “Wah kalau aku nulis kaya gitu, seru juga, banyak yang baca ga ya?” Ternyata postingan ringan malah banyak yg baca. Jadi, sama aja aku belajar untuk cari ide.

Belajar google analytics, aku suka japri ke teman yg sudah lebih dulu paham. Aku belum gape banget Google Analytics, tapi ya alhamdulillah kalau sekedar ngecek statistik yang primer-primer, sudah bisa.

Kalau teman-teman di sini tergabung dalam group Kumpulan Emak Blogger, sering ada sharing kan yah. Tiap Senin ada sharing di FB Group. Kadang ada Arisan Ilmu yang ada materinya juga. Itu bisa untuk tambah-tambah ilmu.

Pelatihan yang spesifik baru ikut 1x dulu dengan pembicara mba Ollie tentang menulis viral content, tapi aku nggak terapkan.

Coba teman-teman sesekali cek pinterest. Pakai keyword search: blogging / blogging tips / dll. Biasanya di pinterest suka banyak infografis ttg tips terkait blogging. Jadi baca nya enak karena singkat, padat, jelas dan disertai gambar.

 

#13 Pertanyaan Putri Utami DN, Yogyakarta 

Mba Gessy, ketika tahu ubii lahir dengan kondisi istimewa. Apa perasaan mba Gessy kala itu? Dan apa yang mba Gessy harapkan untuk ubii kedepan? Karena tidak semua manusia bisa begitu dengan ikhlas menerima apa yang Tuhan tetapkan.

Jawaban:

STRESSS LAAHHHHH mau gila. Hampir minggat pengen lari dari kenyataan. Tapi gajadi minggat. Kenapa coba? Ga punya duit mau ke mana. Hahaha. Harapan nya Ubii bisa mandiri dulu aja (berjalan dan mengurus dirinya sendiri). Prognosis dari dokter, mungkin Ubii ngga bisa terjun dalam masyarakat (bekerja, berkarya, dll). Jadi targetku mandiri dulu saja.

***

Setelah extra 1 jam, akhirnya Kulwap ditutup juga dengan say hello live Gesi dari Jogja yang tengah hujan. Tidak lupa Gesi mengundi 2 orang penanya yang berhak mendapatkan buku Letter to Aubrey. Dan 2 penanya yang beruntung adalah Zy Fauziah di Depok dan Elma Fitria di Bandung.

Terima kasih banyak Mami Ubii, semoga terus bisa menebarkan manfaat dan berbagi ilmu dengan banyak orang seperti ini.

Oleh-oleh untuk Grace Melia pulang ke Joja dari #ODOPfor99days
Oleh-oleh untuk Grace Melia pulang ke Joja dari #ODOPfor99days

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: