Kulwap ke-10 #ODOPfor99days bersama Grace Melia (bagian 1)

Sebenarnya sudah lama saya jadi fans peraih Spesial Award Perempuan Pembawa Perubahan Kartini Next Generation 2014 dari Kementrian Komunikasi dan Informatika ini. Cuma apa alasannya mau sok akrab dan nanya-nanya kepo nggak tau diri. Suatu saat Gesi – panggilan sayang Grace Melia, sharing tentang Tips Memaksimalkan Instagram untuk Blogger di blognya Diari Mami Ubii. Tulisan itu pun segera saya share di grup WA #ODOPfor99days. Ternyata banyak teman-teman Odopers lain yang juga nge-fans sama Mami Ubii ini dan pengen nanya-nanya kepo nggak tau diri juga.

Alhamdulillah, Gesinya tidak keberatan untuk ditanya-tanya kepo nggak tau diri dan langsung menyetujui untuk Kulwap bersama teman-teman odopers pada hari Kartini, 21 April 2017.

Flyer Kulwap #ODOPfor99days bersama Grace Melia
Flyer Kulwap #ODOPfor99days bersama Grace Melia

 

Siapa Grace Melia?

Hari gini nggak kenal Grace Melia?

Tahun 2013 lalu Grace Melia dan suaminya Aditya Surya Putra bersama Ubii, sudah pernah tampil di Kick Andy episode Aku Ingin Terus Hidup loh.

Kalau belum kenal juga nggak apa-apa kok, nggak dosa. Teman-teman tetap ibu yang baik walau tidak kenal siapa itu Grace Melia. Tapi dijamin bisa jadi sedikit lebih baik lagi kalau kenalan sama si Mami Ubii ini.

Buat yang belum kenalan, sedikit saya ajak teman-teman untuk mengintip blognya Mami Ubii. Blog ini dibuat Gesi sejak tahun 2010, 2 tahun sebelum Ubii atau Aubrey Naiym Kayacinta lahir. Ubii lahir dengan virus Rubella di dalam tubuhnya sehingga menyebabkannya mengalami sejumlah keterbatasan. Si Mami bukannya menangis sedih merenungi nasib dan menyalahkan keadaan, alih-alih ia malah berbagi pengalamannya dalam mengasuh Ubii yang kemudian menjadi inspirasi buat banyak orang. Sebuah buku telah ditulis Gesi berjudul Letter to Aubrey (Stiletto Book, 2014).

Selain blogger aktif papan atas banget, Gesi juga pendiri Komunitas Rumah Ramah Rubella dan pembicara dalam sejumlah seminar parenting dan kesehatan.

Prestasi Maminya Ubii dan Aiden yang lain silakan dibaca di sini. Tapi hati-hati, jangan minder ya.

 

Kulwap bersama Grace Melia

Setelah kenalan dengan Gesi, sekarang waktunya kita tanya-jawab penuh kekepoan nggak tau diri. Untung Gesinya bisa memahami dengan menjawab panjang kali lebar kali tinggi. Saking panjangnya jawabannya, terpaksa resume Kulwap kali ini di bagi dalam 2 bagian. Kulwap ke-10 ini memang memegang rekor Kulwap dengan pertanyaan terbanyak dan resume terpanjang dalam sejarah #ODOPfor99days.

 

#1 Pertanyaan Evin Fatmawati, Banyumas   

a. Lihat blog MbakGesi keren banget. Pengen deh seperti itu. Kontennya bagus-bagus dan disukai banyak orang. Kasih tips dan trik nya dong.

Jawaban:

Menurut aku, perjalanan ngeblogku untuk punya statistik dan loyal readers seperti sekarang itu nggak singkat. Ada memang beberapa teman yang ngeblog belum lama tapi statistik sudah keren. Aku nggak seperti itu. Aku mulai ngeblog lagi (setelah punya anak) itu 2013. Tahun 2013 ada 22 postingan. 2014 ada 63 postingan. 2015 ada 73 posts. 2016 ada 154 posts. Intinya pelan-pelan berusaha konsisten dan terus menambah kuantitas blogpost.

Konsisten bukan hanya dalam segi kuantitas, tapi juga tema konten. Buat aku, niche itu penting. Aku pilih parenting family and I try to stick to my niche. Awalnya bingung mau nulis apa lagi coba tentang parenting family. Tapi karena berusaha terus nulis, lama-lama jadi lebih gampang cari ide. Kadang memang ngeblank, tapi nggak sesering dulu lah ngeblank nya.

Dengan niche, aku jadi lebih terarah mau menulis apa dan pembaca jadi lebih tahu apa yang mereka bisa temukan di blog Diari Mami Ubii.

Dari segi ngopeni/ngerumat (apa sih Bahasa Indonesia nya hehehe) pembaca, aku lihat di Google Analytics bahwa ternyata mayoritas pembacaku pakai smart phone saat mampir ke blog www.gracemelia.com, artinya aku harus bikin tampilan blog ku enak saat dibaca melalui smart phone. Maka aku bikin template blog responsive. Aku bikin di   Skyandstar.co  barangkali ada yang tertarik juga.

Aku bisa banyak berinteraksi dengan pembaca lewat Facebook dan Instagram. Jadi aku sering share postingan di 2 platform itu. Kadang-kadang juga nanya mereka mau request apa nih, dan kalau ide mereka cocok, ya aku tulis dan di blog aku mention nama si pemberi ide and say thanks. Buatku, itu cara sederhana untuk mengapresiasi pembaca.

Belakangan ini media Instagram sangat digemari, jadi aku juga mulai coba untuk memaksimalkan Instagram. Silakan baca di Tips Memaksimalkan Instagram untuk Blogger aja ya karena aku sudah jelasin di situ.

Tentang job dari blog, aku pertama dapat job itu 2014. Untuk job juga aku pilih-pilih yang sesuai niche blog.

Kalau ditanya pertanyaan ini rasanya jawabanku standard: konsisten posting dan konsisten pada niche blog, karena memang menurutku itu yang utama. Kalau kita memang suka menulis, semestinya itu bukan tantangan besar. Beda dengan kalau kita nggak terlalu suka menulis, nggak menikmati colong-colong waktu untuk bisa nulis, etc, pasti konsistensi akan jadi PR besar. Maka kita perlu menanyakan ini pada diri sendiri: Apakah ngeblog memang passion kita?

Untuk teman-teman yang memonetise blog nya, sama seperti aku, ada sharing lain, yaitu perlakukan blog selayaknya kantor/usaha, artinya butuh dikembangkan dan mungkin butuh modal.

Layaknya orang yang punya bisnis, mereka butuh modal. Ketika mereka sudah dapat penghasilan, ada sekian penghasilan yang diputar lagi untuk mengembangkan usaha. Itu juga aku terapkan di blog.

Selain tentunya untuk kuota internet, aku kembangkan usaha (blog) ku dengan responsive template, header blog, stiker, dan beberapa aplikasi edit foto berbayar. Tujuannya macam-macam. Supaya blog lebih stand out agar lebih dilirik agency/brand, supaya lebih enak dinikmati, supaya ciri khasku makin terbentuk, etc.

Untuk memudahkan komunikasi dengan agency/brand, aku bikin media kit yang berisi profile blog, testimonial pembaca, testimonial agency/brand yang pernah bekerjasama, dll. Jadi ketika ada yang tertarik memakai jasaku, media kit ini berfungsi untuk memberi gambaran pada mereka blog Diari Mami Ubii tuh seperti apa dan punya kekuatan apa sih. Isian media kit dan cara membuatnya pernah aku tulis di blog, silakan mampir ke Contoh Media Kit untuk Blogger yah.

Proses meyakinkan agency/brand dan nego usai, sudah dipercaya untuk terlibat dalam campaign, jangan lupa menyelesaikan tanggung jawab akhir yaitu memberikan report. Report ini berisi statistik postingan sponsored, jumlah shares, dll. Jadi agency/brand tahu apa saja yang sudah kita lakukan untuk menyukseskan campaign. Bukan nggak mungkin kemudian agency/brand tersebut akan kontak kita lagi untuk kerjasama selanjutnya.

 

b. Blog yang menarik perhatianku adalah tentang pola pengasuhan anak.Bagaimana yah agar kita selalu bahagia ketika bersama si kecil?

Jawaban:

Kayaknya kalau selalu bahagia setiap waktu aku juga nggak begitu deh, Mba. Pasti ada kalanya kesel, jengkel, nahan emosi terutama kalau anak nggak mau makan, rewel, dan lain-lain yah. Hehehe. Tapi menurutku itu wajar dan manusiawi, karena kita manusia biasa. Nggak mungkin selalu bahagia. Cara yang kulakukan saat kesel sama anak-anak, aku segera ke belakang, cuci muka guyur pakai air dingin biar seger. Emosi jadi lumayan menguap kena air dingin. Jadi saat kembali ke anak, sudah nggak se-emosi sebelumnya dan minimal nggak jadi marah bentak-bentak.

 

#2 Pertanyaan Hepi Risenasari, Gresik 

a. Apa perasaan mbak Gesi ketika pertama kali menulis tentang Ubii?

Jawaban:

Pertama kali banget? LEGA.

Lega karena akhirnya bisa mengeluarkan unek-unek, kebingungan, kesedihan, dan dll perasaan negatifku saat baru tahu tentang kondisi Ubii. Makanya untuk aku, menulis adalah stress therapy juga selain karena memang hobi dan untuk sarana pendapatan tambahan.

 

b. Lalu apa pengaruh terbesar untuk hidup mbak Gesi setelah aktif menulis tentang Ubii?

Jawaban:

Pengaruh terbesar kayaknya apa yah … campuran perasaan antara puas, lega, dan semakin termotivasi untuk berbagi tentang Ubii. Ini seperti kesempatan buatku untuk memberikan kontribusi sederhana pada masyarakat: berbagi tentang apa itu Congenital Rubella Syndrome, bagaimana mencegahnya agar ibu hamil tidak melahirkan bayi difabel (berkebutuhan khusus), dan tentang disabilitas (supaya masyarakat tidak melulu memberikan stigma negatif pada golongan difabel).

Bicara lebih melankolis, aku menganggap ini cara Gusti untuk membuatku mau memikirkan orang lain, nggak hanya diri sendiri karena dulu aku egois banget. Apa-apa yang kulakukan itu pasti untukku sendiri tanpa mikirin orang lain.

 

#3 pertanyaan Zy Fauziah, Depok 

a. Kapan waktu terbaik mbak Gesi ketika menulis?

Jawaban:

I’m a night person. Paling lancar nulis itu malam-malam saat Ubii dan Aiden (adiknya Ubii) sudah tidur. Sama juga dengan belajar saat aku masih mahasiswa, lebih enak malam.

 

Note: Yang penasaran dengan manajemen Gesi mengatur waktunya bisa ngintip postingan Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga (Terima kasih buat Lendy Kurnia yang sudah menanyakan).

 

b. Lalu apakah pernah merasa lelah untuk menulis? Karena pasti sibuk bersama Ubii sehari-hari.

Jawaban:

Nggak pernah kalau merasa capek untuk menulis karena aku memang suka menulis dan ngeblog seperti stress therapy buatku. Kalau kesel karena kepengin nulis tapi nggak ada ide tema sih sering. Hahaha.

 

c. Bagaimana mengatasinya agar produktif menulis lagi saat lelah?

Jawaban:

Kalau nggak ide banget padahal aku ingin blogku ada update-an postingan, aku biasanya tulis status di Facebook minta ide dari teman-teman FB. Biasanya ada aja yang kasih ide yang bisa aku pakai, meskipun tentu nggak bisa mengakomodasi menjabani semua ide yang dikasih.

 

#4 pertanyaan Wahyu Mardhatillah, Solo 

a. Sebelum ubii lahir apa mbak juga sudah aktif ngeblog?

Jawaban:

Sudah. Ubii lahir 2012. Aku mulai ngeblog 2010. Tapi dulu isinya cuman curhatan putus cinta, puisi-puisi galau karena ditinggal pacar, gitu-gitu deh pokoknya. Aku masih kerja sampai Ubii umur 9 bulanan kayaknya. Lupa kapan resign.

 

b. Saat menulis, kadang emosi kita naik turun, terutama saat menceritakan tentang orang-orang terkasih, anak/suami/ortu, bagaimana mensiasati emosi yang seperti ini saat sedang menulis ?

Jawaban:

Kalau aku justru menikmati momen-momen ada emosi naik-turun karena bikin tulisan (pemilihan kata, suasana, dll) jadi lebih hidup. Atau mungkin bisa dijelaskan lagi contoh emosi naik-turun nya gimana, Mba? I mean, emosiku misal naik-turun pun biasanya nggak sampai mengganggu proses menulis sih. Sama nggak yah definisi emosi naik-turun kita?

 

#5 Pertanyaan Dwi Septiani, Bandar Lampung

a. Mbak Gesi cerita dong awal mulanya terjun di dunia blogger. Apa dari dulu memang udah bercita-cita jadi blogger?

Jawaban:

Nggak yang cita-cita ingin jadi blogger gitu nggak. Dulu cita-citaku jadi pekerja kantoran malah. Aku cuma suka menulis. Dari zaman Friendster, aku suka menulis di Notes nya (apa yah istilah fitur di Friendster yang kita bisa nulis lumayan panjang itu). Lalu sempet nulis di Facebook Notes. Kemudian tahu adanya media blog, ya sudah akhirnya pilih media blog karena lebih enak. Sesimpel itu.

Kalau kemudian jadi keterusan itu ada beberapa alasan, seperti yang sudah aku mention sebelumnya. Menulis/ngeblog jadi media stress release ku, aku memang menikmati nulis, aku menjadikan blogging sebagai sarana me time, dan aku menjadikan blog sebagai sarana mendapatkan penghasilan.

Jadi ada kalanya aku treat blogku as my office (karena aku cari uang dari sini) and as my happy place (karena aku menulis apa yang aku suka dan aku pengin di sini).

 

b. Baca blog nya Mbak Gesi itu bikin betah karena temanya menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.Bagaimana caranya tuh bisa seperti nggak kehabisan ide gitu dan tema yang saya pikir gak seru, ternyata bisa jadi seru kalo yang nulisnya Mami Ubii?

Jawaban:

Makasih udah betah main di blogku ya. Kalau kehabisan ide, percayalah, aku juga sering kok nggak ada ide. Makanya suka minta masukan ide dari status Facebook juga.

Alasan lain kok sepertinya nggak kehabisan ide adalah karena niche blogku parenting family termasuk di dalamnya marriage. Cerita seputar itu kan ada terus tiap hari sebenarnya. Tinggal kita mengolah supaya bisa agak panjang nulisnya supaya bisa jadi postingan blog.

Sama saja seperti ibu-ibu yang suka nulis di status Facebook kan. Kadang ada yang nyetatus cerita abis belanja sayur terus ngobrol apa sama tukang sayur dan obrolannya lucu. Bedanya status pendek, blogpost agak dipanjangin.

Kehidupan sehari-hari yang aku tulis sehingga kelihatannya kayak nggak pernah kehabisan ide itu juga karena pilihan. Aku malas kalau nulis yang berat-berat. Sekali dua kali nulis berat, oke. Tapi kalau rutin, aku yang nggak sanggup. Padahal aku ingin nya blogku rutin ter-update. Maka ya tulis hal keseharian aja.

 

c. Suka dukanya jadi blogger itu gimana? Sampai bisa jadi setenar sekarangterutama di kalangan ibu-ibu macem saya.

Jawaban:

Sukanya banyak! Jadi bisa tambah temen banyak banget. Dari yang awalnya nggak kenal, cuman saling sapa di media sosial, bisa berlanjut kupdaran. Kalau ada pembaca/teman virtual dari luar Jogja yang sedang main ke Jogja dan mencolek aku minta meet up, biasanya aku mau kalau memang jadwalnya nggak bentrok dengan jadwal terapi Ubii/dll. Nggak pernah aku menolak dengan alasan, “Dih, siapa elu minta ketemu?” Aku treat pembaca blog dan medsos ku seperti teman. Nggak ada gap.

Suka yang lain tentu dari segi finansial. Puji syukur sekarang blogku bisa menghasilkan rupiah yang lumayan. Senang dong karena aku jadi punya pegangan sendiri dan sesekali bisa nggaya nraktir suami. Hahaha.

Dukanya juga ada. Dukanya ini imbas dari sukanya tadi. Karena aku ingin dekat dengan pembacaku, pembaca jadi nggak segan untuk nge-DM/email/chat aku untuk curhat. Misal aku abis publish postingan tentang masalah pernikahan yang pernah aku dan Adit alami. Lalu ada yang japri curhat masalah pernikahan mereka. Kadang itu jadi beban buat aku karena aku bukan konselor pernikahan, takut salah ngomong, dan jadi kepikiran banget kalau sudah dicurhatin begitu. Aku tipe orang yang pemikir banget. Jadi kalau ada yang curhat, aku nggak bisa nggak kepikiran.

Dukanya juga karena aku nggak bisa balas semua curhatan/chat yang masuk karena benar-benar banyak banget ada yang nge-WA, email, chat FB, LINE, DM di IG. Kadang ada yang jadi kesel kenapa aku kok nggak balas-balas, apakah aku pilih-pilih, dll. Kadang mereka kayak lupa, aku kan juga nggak pegang gadget 24/7. Saat pegang gadget pun, kadang harus ngurusin kerjaan dulu, dll.

Itu kali yah.

 

d. Tentang pengaturan waktu, biasanya Mbak Gesi nge-blog nya kapan sih? Berapa lama? Soalnya pasti gak mudah juga cari waktu luang diantara kesibukan nganter Ubii terapi dan lain-lainnya.

Jawaban:

Kalau dibilang susah sebenernya nggak sesusah itu karena aku nya sendiri memang prefer blogging malam-malam saat anak-anak sudah bobok. Aku dari kecil memang terbiasa begadang. So not really a problem sebenernya. Jadi pembagian waktunya (di luar urusan anak-anak), malam untuk ngeblog. Siang untuk update media sosial.

 

e. Udah banyak baca sharing-sharing Mbak Gesi tentang Ubii dan Aiden di blog. Pernah terbayang nggak mbak, suatu saat ketika mereka udah ngerti dan bisa baca blog.Apa sih yang paling mbak harapkan saat mereka baca blog diari mami ubii? Hehehehe #sillyquestion ini

Jawaban:

Justru selalu membayangkan dan berharap banget someday mereka baca tulisan-tulisanku di blog. Harapannya saat kelak mereka baca, mereka tahu ibu nya manusia yang bisa bahagia, bisa sedih, dan bisa salah. Harapannya Ubii dan Aiden tahu dulu mereka kecilnya gimana dan gimana perasaan/sikap Mami Papinya. Harapannya mereka kelak juga berani mengemukakan pendapat mereka.

 

f. Menurut mbak apa yang harus dilakukan pemula-pemula macam kami ini supaya lebih konsisten menulis, punya konten yang menarik dan gaya bercerita yang khas sesuai keunikan masing-masing seperti Mami Ubii?

Jawaban:

Menurut aku, satu-satu dulu ya. Konsisten dulu itu the very first step. Karena dengan konsisten, kita akan makin mengenali gaya menulis, kesukaan, keunikan, dan minat kita terhadap konten blog. Itu dulu.

Kalau sudah bisa konsisten, biasanya pelan-pelan akan menemukan kita sukanya apa sehingga kita bisa memilih tema besar untuk blog kita yang kontennya kita kuasai dan kita nggak susah dapat ide/bahan untuk tema besar itu.

Tips untuk konsisten sebenernya nggak bisa dirumuskan, kalau menurut aku ya. Pertanyaannya, apakah kita memang suka menulis di blog? Kalau memang iya suka, pasti dengan sendirinya bisa konsisten karena kangen ngeblog. Kalau ternyata nggak suka-suka amat menulis, ya susah pasti untuk konsisten.

Setelah bisa konsisten, kita akan dapat clue kita tuh paling semangat kalau nulis apa sih? Jadikan itu niche/tema besar blog kita. Tips cari niche blog dari aku: cari yang kita paling gampang nemu ide/bahan. Misal aku, sehari-hari ibu rumah tangga aja dan nggak bisa masak. Jadi yang paling gampang ya pilih niche family. Nggak mungkin aku pilih tema traveling dong karena traveling aja jarang-jarang amat. Nanti blognya kosongan terus. Kalau IRT suka masak, bisa pilih niche berbagi resep makanan anak, etc. Intinya yang paling doable supaya ketika ngeblog pun jadi ringan dan bisa lebih konsisten.

Dan jangan lupa untuk tidak pelit. Sekarang kita pemula, mungkin kelak akan ada lagi yang lebih pemula dari kita. Gantian kita yang sharing untuk mereka. #SharingIsCaring.

 

Berhubung sudah 2500 kata dan para pembaca sudah mulai lelah, kita pindah dulu ke bagian dua ya.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Kulwap ke-10 #ODOPfor99days bersama Grace Melia (bagian 1)

  • April 24, 2017 at 5:59 pm
    Permalink

    Mami Gessi emang teope. Dia selalu total dalam setiap job yg dikerjakan. Terus reviewnya selalu jujur. Keren deh!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: