Mendidik Anak di Era Digital bersama Bunda Evie Dewi Susantiany

Pada Sabtu, 8 April 2017 lalu, kembali Fotus (Forum Orang Tua Siswa) Has Darul Ilmu kedatangan tamu sholehah yang bersedia berbagi ilmu mengenai Mendidik Anak di Era Digital. Acara yang diprakarsai oleh Fotus kelas 1 mengundang Bunda Evie Dewi Susantiany AS, seorang Konselor Pendidikan anak di Galenia Preschool, BioFarma Daycare, Almalia Preschool, dan TKQu Preschool Pondok Quran.

Sejak pukul 9 pagi, sekitar 40-an ibu-ibu orang tua murid Has Darul Ilmi dari TK hingga SD telah duduk manis di Aula Has Darul Ilmi untuk menyimak pemaparan ibu dari 2 putri dan 1 putra ini.

Flyer acara Fotus Has Darul Ilmi
Flyer acara Fotus Has Darul Ilmi

 

Selamatkan Generasi Emas Indonesia Semai 2045

Bunda Ev membuka acara dengan menampilkan video Selamatkan Generasi Emas Indonesia dari Semai 2045. Harapannya dalam 1 abad Indonesia Merdeka pada tahun 2045 Indonesia memiliki generasi emas yang siap memimpin Indonesia. Namun kita terpaksa menerima fakta sejumlah kenyataan pahit saat ini bahwa:

  • 93 dari 100 anak SD pernah mengakses pornografi
  • 21 dari 100 remaja melakukan aborsi
  • 135 anak menjadi korban kekerasan setiap bulan
  • 5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual
  • 63 dari 100 remaja berhubungan seks di luar nikah.

Ngeri kali ya?

Mengapa hal itu terjadi?

Terjadi pergeseran nilai, kurangnya komunikasi orang tua dan anak, kecanduan gadget, beban kurikulum yang berat, konten tanpa filter, pornografi, hingga tekanan teman sebaya dicurigai sebagai penyebab rusaknya anak-anak kita saat ini.

Kondisi anak-anak yang BLAST memberikan pengaruh besar terhadap rusaknya mental anak-anak kita.

B – Bored (merasa bosan)

L – Lonely (merasa sendirian tanpa teman)

A – Angry/Affraid (merasa marah dan takut)

S – Stress (merasa tertekan oleh lingkungan baik sekolah maupun rumah)

T – Tired (merasa lelah)

Adalah tugas kita para orang tua untuk membawa anak-anak ini keluar dari kondisi BLAST menuju kondisi BEST.

B – Behave (berperilaku baik)

E – Empatic (bisa memposisikan diri pada posisi orang lain)

S – Smart (cerdas)

T – Tough (tangguh menghadapi setiap tantangan)

PR besar nih buat para orang tua yang telah diamanahi tugas sebagai babysitternya Allah.

“Asuh anak kita dengan benar, karena menyelamatkan 1 anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan,” kata Bunda yang juga memiliki gelar sertifikasi hipnotis CH (Certified Hypnotist) dan CHt (Certifified Hyponoterapist).

 

 

Anak masa kini di era digital

Apa sih yang dimaksud era digital itu? Digital yang berasal dari bahasa Yunani, Digitus yang berarti jari jemari, sederhananya adalah apa yang kita pijit-pijit itu lah. Berbeda dengan para orang tuanya, anak-anak kita sekarang begitu familiar dengan perangkat seperti smartphone, tablet, dan komputer.

Sekarang biasa kita temukan di tempat makan bagaimana setelah memesan makanan, setiap anggota keluarga mengeluarkan smartphonenya. Setelah makanan datang, makanan di foto dan update status dulu di sosial media. Sampai lupa kalau makan diluar untuk tujuan kebersamaan dengan anggota keluarga. Kalau sudah begitu apa gunanya makan diluar yang harganya mahal?

Perangkat teknologi bisa menjadi bermanfaat untuk kebersamaan jika dipakai bersama. Satu gadget ramai-ramai, bukan masing-masing sibuk sendiri.

Bunda Ev menyampaikan keprihatinannya melihat anak-anak sudah dibekali gadget ke sekolah dengan alasan pembelajaran. Di sekolah itu seharusnya menjadi tempat tatap muka murid dengan guru. Bukan waktunya guru menyuruh anak didiknya bertanya pada Mbah Google. Penggunaan gadget di rumah sebagai bagian dari tugas masih bisa diterima.

Saat ini pornografi di internet begitu mudah diakses. Baiknya penggunaan internet diawasi oleh orang tua di rumah. Orang tua perlu melihat history apa yang dilihat anak-anaknya di internet.

 

PFC yang rusak karena pornografi

Dalam kesempatan ini Bunda Ev menceritakan bagaimana bagian otak depan bernama Pre Frontal Contex (PFC) yang rusak karena terpapar pornografi. PFC ini mengatur:

  • Konsentrasi
  • Memahami benar dan salah
  • Mengendalikan diri
  • Menunda kepuasan
  • Berpikir kritis
  • Merencanakan masa depan

Intinya PFC ini membentuk kepribadian dan perilaku sosial yang membedakan manusia dengan binatang. PFC menjadi pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan. Saat terpapar pornografi, otak menjadi kebanjiran hormon dopamin (hormon yang membuat rasa senang dan ketagihan) yang membuat rusaknya PFC.

Rusaknya otak karena narkoba terletak di 3 bagian, sementara otak yang rusak karena pornografi terletak di 5 bagian. Repotnya kalau narkoba, ada barang buktinya. Sedangkan kalau pornografi tidak ada barangnya.

Anak-anak yang BLAST menjadi konsumen pornografi yang diincar para pebisnis pornografi. Bayangkan saja, ada 4000 situs porno muncul setiap minggunya!

Bagaimana itu cara bisa memblokirnya?

Saya jadi teringat perkataan Kang Mumu pendiri Kakatu dalam sebuah kesempatan di depan para guru Has Darul Ilmi beberapa waktu lalu. Bahwa ada anak-anak sekarang yang tahu caranya membuka website yang sudah di blokir Keminfo. Canggih!

Masalah cepatnya muncul website pornografi sebenarnya juga merupakan masalah dunia. Bagaimana situs pornografi ditutup satu besoknya muncul dalam jumlah yang lebih besar. Bisnis ini memang sangat menggiurkan banyak orang. Tinggal kita sebagai orang tua yang perlu menyingsingkan lengan baju dan pasang ikat kepala untuk menjaga anak-anak kita dari kondisi BLAST dan menjadi makanan empuk pebisnis pornografi di luar sana.

Serius menyimak pemaparan Bunda Evi di Aula Has Darul Ilmi
Serius menyimak pemaparan Bunda Evi di Aula Has Darul Ilmi

 

Tips mendidik anak di era digital

#1 Orang tua harus melek teknologi

Jangan jadi orang tua yang terlalu gaptek alias gagap teknologi. Belajar lah untuk melihat history anak di internet. Cari tahu apa saja yang mereka buka dan mainkan. Gunakanlah gadget bersama-sama.

 

#2 Ajak anak beraktifitas di luar ruangan

Dengan beraktifitas di luar ruangan anak bisa mengurangi radiasi gadget ke otak mereka yang masih muda, menumbuhkan kemampuan sosial, mengurangi sifat temperamental, mengurangi obesitas karena anak bisa lebih banyak menggerakkan fisiknya.

 

#3 Pahami pengaruh yang ditimbulkan teknologi

Seperti disampaikan Mumu Kakatu dalam berbagai pertemuan, teknologi itu netral. Ia bisa memberi dampak positif atau pun negatif tergantung bagaimana menggunakannya. Dengan mengenali kemajuan teknologi, kita bisa memanfaatkannya ke arah yang positif. Misalnya menggunakan smartphone untuk memperkuat nilai spiritual.

 

#4 Mendorong anak dan orang tua untuk tidak terpengaruh pada gadget

Lakukanlah diit gadget. Beri contoh anak menggunaan gadget yang sehat. Tidak bisa juga anaknya di larang main handphone, ibunya WA-an melulu.

 

#5 Berhenti menekan anak

Berdamailah dengan kekurangan anak. Anak jangan terlalu banyak di les kan ini itu. Bunda Ev menyarankan untuk anak SD, kalau mau les, les lah yang sesuai passionnya. Les sesuatu yang anak kita minati dan ia senang melakukannya. 12 tahun kebawah adalah waktunya anak-anak bahagia. Bukan tertekan dengan pelajaran yang tidak mereka sukai dan tidak bisa.

Anak-anak itu di sekolah bisa jadi sudah di bully oleh teman-temannya dan gurunya. E…di rumah ibunya ikut-ikutan membully.

Ah masa iya sih si ibu tega membully? Bunda Ev memberikan beberapa contoh bagaimana tanpa sadar para ibu membully anaknya. Misalnya saat memarahi anak ketika menunjukkan nilainya yang jelek, lelet saat bangun pagi, atau saat sulit makan.

Celingak…celinguk lihat kiri kanan, ada yang merasa membully anaknya nggak? Ternyata menurut Bunda Ev, anak-anak menerima bullying 45% di dalam rumah. Bukan di luar rumah.

Orang tua tidak perlu tertekan kalau anaknya tidak bisa pelajaran. Tapi tertekanlah kalau anak tidak empati. “Nilai Matematika, bukan standar masuk surga,” kata Bunda Ev.

 

Baca juga postingan Tips ber-internet sehat buat anak.

 

Mengenali passion anak

Anak itu diciptakan Allah sudah sempurna. Tinggal sebagai orang tua kita perlu menggali kekuatan mereka. Bantu anak untuk mengenali passion mereka.

Semua anak dikaruniai passion tertentu. Bunda Ev juga bercerita mengenai anak  Down Syndrome bisa diberi passion begitu sayangnya ia pada binatang. Suatu saat nanti, ia bisa menjadi asisten dokter hewan misalnya.

Seorang pakar pendidikan dan psikolog dari Harvard University, Howard Gardner menyebutkan mengenai 8 tipe kecerdasan. Setiap anak tidak mungkin cerdas dalam semua bidang, namun biasanya mereka akan dominan dalam salah satu bidang.

Multiple Intelligence Howard Gardner
Multiple Intelligence Howard Gardner

Dengan melihat passion anak, kita bisa membantu memetakan kecerdasan anak. Berikut 8 tipe kecerdasan yang disampaikan Gardner dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligences tahun 1983:

 

#1 Kecerdasan Bahasa

Berkaitan dengan kemampuan berbahasa dengan baik dalam bentuk tulisan maupun bicara.

Ciri: suka membaca, cepat bisa mengeja kata, suka bicara dan bercerita, suka menulis.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: memberikan buku cerita, mainan yang berkaitan dengan huruf, kertas untuk menulis, mengajak bercerita, membaca bersama, mendongeng, atau melakukan dialog dengan anak.

 

#2 Kecerdasan logika (matematis)

Ciri: tertarik dengan angka, menyukai matematika, menyukai hal-hal yang berbau science dan logika.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: memberikan alat berhitung yang menarik, mengajak anak menghitung benda-benda, bermain puzzle, monopoli, atau mengunjungi museum science.

 

#3 Kecerdasan intrapersonal (diri sendiri)

Ciri: lebih suka bermain sendiri, bisa mengatur emosi dengan baik, memiliki ambisi dan sudah tahu mau jadi apa saat besar, memiliki percaya diri yang tinggi, dan bisa mengkomunikasikan perasaannya dengan baik.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: beri tempat yang nyaman untuk bermain sendiri, beri mainan boneka atau alat peraga lain, ajak anak bicara mengenai perasaan dan pendapat mereka tentang berbagai hal, mengajak melakukan kegiatan yang reflektif seperti Yoga.

 

#4 Kecerdasan Interpersonal (cerdas memahami orang lain)

Ciri: suka bermain dengan banyak orang, memiliki rasa empati terhadap perasaan orang lain, cenderung menonjol dan suka memimpin saat bermain.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: diajak bermain di luar rumah, diajak bersosialisasi dengan keluarga besar.

 

#5 Kecerdasan Musikal

Ciri: suka bernyanyi, menggoyangkan badan saat mendengar musik, suka mendengar musik, mudah mengingat lagu, suka memukul-mukul seperti bermain drum.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: berikan mainan alat musik, ajak bernyanyi bersama, mendengarkan musik atau mengajaknya mendatangi pertunjukan musik anak-anak.

 

#6 Kecerdasan spasial

Ciri: suka menggambar, mencorat-coret kertas, mewarnai, berimajinasi, bermain dengan balok.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: memberikan kertas gambar dan alat mewarnai, memberi kamera, mainan balok-balokan, melakukan kegiatan menggambar bersama, atau mengunjungi museum seni.

 

#7 Kecerdasan Kinestetik

Ciri: suka olahraga, menarik, bergerak, menyentuh sesuatu dengan tangannya.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: bermain lompat tali, diajak berolahraga bersama, membuat prakarya, menonton teater.

 

#8 Kecerdasan Naturalis

Ciri: suka dengan alam, binatang, tanaman, dan peduli terhadap lingkungan.

Stimulus yang bisa diberikan orang tua: beri anak binatang peliharaan, akuarium, teropong untuk melihat burung, taman untuk bertanam, berjalan ke alam bebas, kebun binatang, atau meneliti serangga.

 

Setelah mengenal ke-8 kecerdasan diatas, kita juga perlu mengenali tahapan stimulasi minat dan bakat anak:

Masa Pra sekolah: Stimulasi semua kecerdasan

Masa SD: Fokus pada kemampuan, berdamailah dengan ketidakmampuan anak

Masa SMP: kembangkan kemampuan anak dalam bentuk karya nyata

Masa SMA: Optimalkan bakat dan minat anak

Masa Universitas: Kembangkan bakatnya menjadi karir

Insya Allah dengan tahapan di atas, tidak ada lagi anak-anak yang merasa tersesat antara minat, jurusan kuliah dan karirnya.

Akhir kata, sebagai orang tua yang bisa jadi sempat tersesat di jalan yang benar, mari kita siapkan anak-anak kita untuk menjadi generasi emas di 1 abad Indonesia merdeka 2045. Insya Allah kita bisa melakukannya bersama-sama.

Para orang tua Fotus Has Darul Ilmi yang hadir dalam kesempatan ini.
Para orang tua Fotus Has Darul Ilmi yang hadir dalam kesempatan ini.

 

Sumber tambahan:

http://lifestyle.kompas.com/read/2015/10/03/174041923/8.Jenis.Kecerdasan.Anak.dan.Cara.Mengembangkannya

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

5 thoughts on “Mendidik Anak di Era Digital bersama Bunda Evie Dewi Susantiany

  • April 16, 2017 at 8:19 pm
    Permalink

    Flyernya teh Shanty yang bikin yaa…?
    *manis.

    Seminar-seminar yang bikin saya melek.
    Serem dan makin takut melihat anak-anak terlalu sering di rumah ((bermain gadget)) tapi sekaligus waspada kalau membiarkan mereka bermain di luar.

    Karena di luar, banyak predator yang mengincar.

    Heuu..
    Hanya Allah sebaik-baik pelindung untuk keluarga ini.

    Reply
  • April 17, 2017 at 5:35 am
    Permalink

    Waaah keren. Seru. Asyeeekkk. Nyam nyam nyam hehehe…. Mbak shanty saya minta izin isi tulisan ini, saya masukkkan utk melengkapi data dan memperkuat opini. Saat ini saya lg nyusun buku ttg belajar dg medsos. Pas bgt isi tulisannya dg buku itu. Boleh yah ? Maksa nanti saya cantumkan link ini di daftar pustaka

    Reply
    • April 17, 2017 at 8:48 am
      Permalink

      Mangga Yayu. Ini bukan murni buah pikiran saya. Hanya menyampaikan materi dari Bunda Evie dan dilengkapi dengan sejumlah sumber lain untuk lebih membantu pemahaman.

      Reply
  • May 3, 2017 at 4:21 am
    Permalink

    Teh Shanty, pas setor tantangan gaya belajar anak, nemu artikel ini. Alhamdulillah. Nuhun teh Shanty oleh2nya. Jadi ikutan belajar banyak 😀

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: