Kulwap Ketiga bersama Rumbel Literasi IIP Solo Raya

Setelah Kulwap pertama dengan PC (Passiona Club) Menulis IIP Sumut pada Januari 2016  dan Kulwap kedua dengan Rumbel (Rumah Belajar) Menulis IIP Sulawesi Selatan pada Agustus 2016, hari ini saya berangkat ke Solo untuk mengunjungi teman-teman Rumbel Literasi IIP Solo Raya. Luar biasa, penduduknya hampir 100 orang loh!

Tema yang kami angkat dalam Kulwap kali ini adalah “Membuat Tulisan Menarik di Media Sosial.” Sebenarnya ini bukan materi yang disepakati akan dibahas dalam Kulwap kali ini, melainkan “Memulai Menulis di Media Sosial untuk Pemula.” Jauh kan sebenarnya? Cuma karena saya juga penasaran dan tertarik dengan tema Bagaimana caranya membuat tulisan menarik di Media Sosial, ya sudah lah di terima saja flyer yang sudah dibuatkan panitia.

Kulwap Rumbel Literasi IIP Solo Raya bersama Shanty Dewi Arifin
Kulwap Rumbel Literasi IIP Solo Raya bersama Shanty Dewi Arifin

Saya bukan celeb medsos yang bisa membuat tulisan menarik di media sosial. Fans saya di Facebook page shantystory per hari ini cuma ada 370 orang. Orang semua itu, bukan robot loh. Yang salah satunya suami saya.

 

Apa tulisan yang menarik itu?

Dipandu oleh host Wahyu Mardhatilah dan co host Defi Sulityana, pada pukul 10.15 wib obrolan santai di grup WhatsApp dibuka dengan pertanyaan mengenai siapa penulis favorit teman-teman di media sosial dan apa yang membuat tulisan mereka dinilai menarik.

Berikut jawaban-jawabannya:

Aliedha Putri: Penulis favorit Cahyadi T, Ust. Salim A Fillah dan Ust. Felix Siauw, karena tulisan yang mengalir dan saat membacanya ibarat lihat air sungai yang mengalir. Pelan tapi pasti. Diksinya enak, tulisan mengalir tapi sarat makna dan hikmah.

Tri Handayani: Penulis favorit Arham Rasyid dan Ecko Bams Treevisia, karena tulisan renyah dan menyenangkan. Juga Bu Nanik Sudaryati, menggelora.

Defi Sulistyana: Penulis favorit Kiki Barkiah, Salim A Fillah, Septi Peni Wulandani, Mba Vida, Pak Cahyadi Tarakiawan, karena tulisan mereka empuk tapi berbobot, menyampaikan tak seperti menggurui, bahasanya lugas dan mengena, yang nge-joke Ok, serius Ok.

Nafsa: Penulis favorit dr. Raehanul Bahraen, Tere Liye, Kiki Barkiah, karena pesan tersampaikan dengan jelas, bermanfaat, mengena di hati, gaya bahasa enak dibaca, dan runtut.

Fitri Izzati: Penulis favorit KIki Barkiah karena tulisannya mewakili para ibu tapi dengan bahasa yang anggun. Dan Salim A Fillah karena bahasanya mendayu, dan ada selipan keteladanan dalam siroh yang mengena.

Kiki Lestari: Penulis favorit Pak M Cahayadi dan Kiki Barkiah, karena tulisannya bermanfaat bagi orang lain.

Hilma Amalia: Penulis favorit Tere Liye, Dewa Eka Prayoga, Yasmin Mogahed, karena tulisan itu menarik, bahasanya ringan, menginspirasi dan bukan hoax.

Wahyu Mardhatilah: Penulis favorit Salim A Fillah, Septi Peni Wulandani, Dodik Maryanto, Risman Family, karena bisa begitu menyedot perhatian, inspiring, dan enlightening.

Hamsih: Penulis favorit Arham Roshid dan Bunda Elly Risman, karena memiliki humor dan ala komedi tapi sarat makna, readable sehingga pembaca dengan mudah memahami maksud yang disampaikan, juga pemilihan diksi yang tepat, sehingga ada gaya penulisan yang menjadi ciri khas.

Sri Rahayu: Penulis favorit Rhenald Khasali, Tere Liye, Erizeli Bandaro, Felix siauw, HTR karena tulisan mereka bermanfaat dan membuat kita menjadi semangat dalam kebaikan. Bisa membuat tertawa sekaligus menangis.

Pendapat 10 teman-teman di atas rasanya sudah mewakili jawaban bagaimana caranya membuat tulisan menarik di media sosial. Maka buatlah tulisan yang inspiring, mudah dipahami, mengena dengan pembaca, diksinya tepat, bahasa yang mengalir, dan bukan hoax, maka sim salabim tulisan kita akan disukai orang.

Yang paling penting, sebelum membuat tulisan yang menarik, kita harus tahu dulu kriteria menarik versi kita dan gaya tulisan yang suka kita baca. Dan banyaklah berlatih.

Case closed dan kita bubar!

Terus masalah selanjutnya dimana?

 

Diskusi dan pertanyaan

Ee… mau pulang, ternyata masih ada sejumlah pertanyaan:

 

#1 Pertanyaan dr. Nafsa dan Sri Rahayu

Jadi bagaimana caranya membuat tulisan yang menarik perhatian orang untuk membacanya?

Jawaban:

Berhenti maksa pengen buat tulisan menarik. Beban menghasilkan tulisan yang menarik itu bikin tulisan kita makin jauh dari menarik. Percayalah. Karena saya pernah dan sering pada posisi itu. Jadi berhentinya berharap membuat tulisan yang menarik. Dan temukan alasan lain untuk menulis seperti

Quotes mastah Dee Lestari berikut kudu di apalin baik-baik ya. Siapa tahu keluar dalam ujian.

“Berharap bahwa tulisan kita akan langsung keren dan terus keren selama-lamanya adalah ilusi nomor satu yang harus dienyahkan sekarang. It’ll never happen. Jadi berdamailah dengan kenyataan itu.”

Menulis saja rutin apa adanya. Nanti juga akan tiba waktunya tulisan kita menarik saat kita kenal gaya tulisan kita sendiri. Saya juga masih dalam proses ini. Sampai hari ini saya baru sekitar 3 tahun terakhir berusaha konsisten menulis.

 

#2 Pertanyaan Defi Sulistyana

Bagaimana mencari inspirasi kata-kata agar kesannya tidak meniru gaya bahasa orang lain?

Jawaban:

Sabar berlatih dan banyak membaca. Penulis yang keren-keren itu track record menulisnya bisa di atas 10 tahun.

Tidak berusaha memesona dan tampil apa adanya itu menarik banget. Termasuk juga dalam menulis. Berani jujur dalam menulis itu membantu kita menemukan karakter dan gaya tulisan kita. Bukan meniru orang lain atau sibuk berdandan tebal yang menor.

Untuk pemula, kejujuran kita mah biasanya tidak akan membuat kita dilirik orang. Abis biasa saja sih. Tapi proses yang akan membuat kita mengenali gaya menulis kita sendiri. Dan ini hitungannya tahun!

 

#3 Pertanyaan Hamsih dan Defi Sulistyana

Bagaimana untuk menstabilkan mood menulis yang kadang menggebu, kadang nengok aja kagak?

Saya mempush diri untuk konsisten nulis 1 tulisan setiap harinya, eh tapi kadang malesnya gak keturutan. Kalau sudah males nggak ada inspirasi, mogok nggak jadi nulis. Pernah dalam kondisi seperti ini kah? Solusinya bagaimana?

Jawaban:

Kalau saya sejujurnya masalahnya bukan di mood. Mood saya nggak pernah jelek kalau soal menulis. Tapi seringnya tidak sempat menulis karena harus mengurus hal yang lain. Ada anak yang ribut minta dimasakin sesuatu, ada rumah yang harus dibereskan, dan sejenisnya.

Saya nggak bisa kasih saran menulis nggak usah menunggu mood. Karena buat saya mood itu penting buat penulis. Disini kita perlu benar-benar jujur sama diri sendiri. Seperlu apa kita sama menulis? Kalau memang sedang tidak merasa perlu menulis, ya tidak usah dipaksakan.

Saya mah orangnya lemah kemauan. Kalau malas ya malas. Cuma masalahnya saya jarang malas kalau disuruh menulis. Menulis yang mau saya tulis saja, jangan pesanan orang ya. Malas dan beneran hilang mood kalau dipaksa menulis yang saya tidak suka.

Nggak pernah nggak ada inspirasi kalau saya. Saya punya selusin lebih daftar ide yang harus ditulis. Terlalu banyak yang pengen saya tulis. Saya pikir ini karena saya kebanyakan membaca. Kalau saya nggak bisa nggak baca buku. Buat saya buku itu kaya makanan yang enak. Enak banget.

Saya kira, untuk menimbulkan kebutuhan soal baca buku ini, coba untuk membaca buku yang benar-benar kita minati. Bukan buku yang ingin kita baca karena sejuta umat membacanya. Suka masak atau kecantikan, baca buku tentang itu saja. Nggak usah maksa baca buku parenting yang membosankan. Baca dan nulis yang benar-benar kita minati saja ya.

Membaca karena kebutuhan. Menulis karena kebutuhan. Kalau belum merasa butuh, nggak usah dipaksakan. Biarkan saja ia tumbuh secara alami.

Saya itu kalau habis lihat apa saja, bawaannya pengen ditulis. Apa daya, nafsu besar dan tenaga kurang. Ini yang lagi saya pelajari tahun ini, bagaimana cara menulis dengan sistematis dan sehingga hasilnya efektif.

Intinya semua ini melalui proses yang lama dan harus dijalani dengan tabah. Semua penulis yang saya kenal, mengalami masa belajar di atas 10 tahun.

 

#4 Pertanyaan Wahyu Mardhatilah

Apa kita harus mengurangi curcol di tulisan?

Jawaban:

Kalau saya bilang nggak usah kurangi curcolnya. Karena banyak buku laris hasil curcol. Yang penting coba kenali gaya kita. Semoga dengan makin sering curcol jadi makin jago memoles curcolan.

 

#5 Pertanyaan Defi Sulistyana

Terkait ODOP, selama ini teteh setiap hari menulis 1 tulisan dan bertahan hingga 3 x 365hari?

Jawaban:

Saya menulis setiap hari ini mulai konsisten sejak 2016 bareng ODOP. Tidak berarti saya pasti bisa membuat satu postingan siap tayang setiap 1 hari sekali.

Tapi saya pernah melakukan itu dalam beberapa bulan. Seperti pada bulan Juni 2015 di blog https://99daysprojects.wordpress.com/ bersama komunitas nulisbuku.com atau menulis rutin pada bulan Desember 2016.

Kalau sekarang target saya sekedar harus menulis setiap hari. Tidak harus selalu tayang setiap hari. Karena saya perlu kualitas tertentu. Misalnya panjang tulisan. Untuk mendapatkan kualitas tertentu itu, saya harus menulis setiap hari. Walau hasilnya cuma 1 postingan 1 minggu.

Rata-rata untuk menulis 1 postingan saya yang panjang-panjang itu, bisa sampai 5-6 jam. Padahal saya hanya punya waktu menulis 1-2 jam sehari. Jadi ya dicicil.

Ditambah lagi saya suka banyak ide yang aneh-aneh yang perlu saya tulis tangan dulu. Ini semua akhirnya membuat saya menulis setiap hari. Walau belum bisa dengan kualitas siap tayang. Saya masih harus belajar banyak untuk bisa menghasilkan tulisan dengan cepat.

 

#6 Pertanyaan Ririm

Untuk menulis, apa teteh menyiapkan waktu khusus dalam satu harinya atau bagaimana?

Jawaban:

Ehm… kalau kata anak saya, saya menulis melulu. Walau hasilnya nggak kelihatan juga. Hiks…

Selama ini saya nggak ada waktu khusus sih. Saya nulis kalau sedang pengen nulis. Saya bukan orang yang terlalu disiplin. Semua kerjaan bisa saya lewatkan kalau lagi kepengen nulis. #Dont try this at home

 

#7 Pertanyaan Wahyu Mardhatilah

Biasanya punya ide, tapi waktu dan sikon tidak memungkin kan buat nulis saat itu juga.

Jawaban:

Cukup tulis poin-poinnya saja. Bahkan bila perlu tulis 1 kutipan saja yang menggambar perasaan saat itu.

Belum lama ini saya sempat lihat blognya MeiraAnastasia. Simple, sederhana tapi menarik. Cukup 1-2 paragrap, tapi jujur dan enak di baca. Cocok untuk gaya pemula. Yang penting menulis dan mencurahkan isi hati.

 

#8 Pertanyaan Widya

Saya suka baca tapi tidak suka menulis. Makin dipaksakan dipancing buat nulis, makin pening pala berbi.

Jawaban:

Ini proses. Awalnya kita suka baca. Suka banget… trus lama-lama kita kesal karena nggak ada buku yang mau sesuai dengan yang kita mau. Buku yang yang gue banget.

Nah dari situ terus muncul keinginan untuk menyampaikan isi kepala kita yang seadanya ini. Menulis itu bagian dari komunikasi.

 

#9 Pendapat Tuty

Kalau saya nulis bagian dari curhat. Misal nggak bisa keluar, ya nulis biar lega.

Tanggapan:

Ini memang ada penelitian ilmiahnya. Sebuah artikel dari Kompas yang pernah saya tulis di sini . Semoga bermanfaat. Menulis itu beneran obat stress murah meriah.

 

#10 Pertanyaan Wahyu Mardhatilah

Penulis favoritnya siapa? Buku favorit tentang apa? Kalau menulis paling mahir membahas tentang apa?

Jawaban:

Saya pembaca segala yang bikin hati hangat bacanya. Pokoknya yang positif-positif lah. Saya suka baca tulisan yang memberi hal baru yang saya nggak tau sebelumnya. Cerita-cerita unik dan pengalaman hidup orang. Dan itu yang suka saya tulis.

 

#11 Pertanyaan Noor Aini

Saya ketika edit tulisan sering terlalu bersemangat. Alhasil, tulisan nggak kelar-kelar. Bagaimana cara mengatasi hal ini?

Jawaban:

Share aja. Whatever will be will be.

Kalau diikuti ya nggak beres-beres. Nanti kalau sempat di edit lagi. Kalau nggak sempat ya biarin aja. Perbaiki untuk selanjutnya.

 

#12 Pertanyaan Hamsih

Bagaimana untuk mengurangi keambiguan tulisan? Kalau tadi teteh menyampaikan menulis adalah komunikasi. Saya sering mengalami komunikasi saya yang tidak se frekuensi dengan pembaca? Apakah ada tips dan trik khusus untuk hal ini?

Jawaban:

Kalau saya yang pemula ini, prinsipnya pembaca tulisan saya adalah saya sendiri dulu.

I’m a big fan of mine. #narsis_abis

Saya tulis untuk diri sendiri dulu. Kalau orang lain suka sama selera saya, alhamdulillah. Kalau nggak ya nggak apa-apa.

Komunikasi yang saya maksud adalah menyampaikan isi pikiran kita sebagai penulis. Nanti waktu yang akan memolesnya jadi lebih halus dan manis.

 

#13 Pertanyaan Ayung Yulia

Merubah gaya tulisan itu mungkin nggak sih? Saya dulu pernah nulis, kata orang tulisan saya berasa ‘angst’ (apa ya, mungkin ‘galau’ begitu maksudnya). Nah, saya pengen berubah biar lebih ‘ramah pembaca’ bisa nggak ya? Saya sudah mencoba baca-baca buku lain tapi nggak punya feel-nya.

Jawaban:

Boleh dong, namanya juga lagi berproses. Cari mana yang pas sama kita. Siapkan 10 tahun lah buat di level ini. Dinikmati aja prosesnya.

Makanya kudu rame-rame sama teman-teman yang lain. Ayo…yang perlu teman buat pegangan istiqomah menulis, ditunggu di grup #ODOPfor99days. (*Iklan lewat)

 

#14 Pertanyaan Rita

Bagaimana ya cara menghadapi kritikan terhadap tulisan kita? Atau lebih baik menghindari tema-tema debatable aja?

Jawaban:

Semua orang kudu siap terima kritik. Jangan pundungan jadi penulis. Selama tidak melanggar aturan Allah dan Negara ya tulis saja. Pro Kontra itu sih biasa.

 

#15 Pendapat Wahyu:

Perlu 10.000 jam terbang untuk menulis.

Tanggapan:

Nggak juga sih. Karena kita ngurus anak sudah 10rb jam tapi nggak pinter-pinter. Nulis udah bisa dari kelas 1 SD tapi nggak jago-jago. Mungkin kita bukan perlu 10rb jam. Tapi cukup 1 jam sehari yang konsisten.

Dulu saya sempat punya target menulis 3 jam sehari dalam rangka mengejar target 10 ribu jam. Alhasil saya nggak menghasilkan satu tulisan pun karena stress nggak punya waktu 3 jam sehari untuk menulis. Sampai ada teman yang mengajak untuk menulis 30 menit sehari. Nah kalau 30 menit saya baru bisa! Akhirnya sampai juga saya di titik ini.

 

Tips membuat tulisan menarik di Sosial Media

Fyiuh…tidak terasa 1,5 jam berlalu. Sudah waktunya saya pulang kampung. Sebelum pulang, saya kasih sedikit buah tangan buat teman-teman di Solo berupa beberapa tips untuk membuat tulisan menarik di sosmed. Ilmu sederhana dari saya yang masih belajar juga. Semoga bermanfaat.

 

Tips 1: Berhenti berharap membuat tulisan menarik

Beban menghasilkan tulisan yang menarik itu bikin tulisan kita makin jauh dari menarik. Percayalah. Karena saya pernah dan sering pada posisi itu. Jadi berhentinya berharap membuat tulisan yang menarik. Dan temukan alasan lain untuk menulis.

 

Tips 2: Menulis lah dengan hati senang

Kalau tidak ketemu juga alasan cakep yang bikin motivasi menulis, ya sudah menulis aja. Nggak usah pakai banyak alasan. Kalau mau menulis ya menulis aja. Menulis karena ingin menulis. Kalau tidak ingin menulis ya tulis sedang tidak ingin menulis.

 

Tips 3: Jujur

Tidak berusaha memesona dan tampil apa adanya itu menarik banget. Termasuk juga dalam menulis. Berani jujur dalam menulis itu membantu kita menemukan karakter dan gaya tulisan kita. Bukan meniru orang lain atau sibuk berdandan tebal yang menor. Untuk pemula, kejujuran kita mah biasanya tidak akan membuat kita dilirik orang. Abis biasa saja sih. Tapi proses yang akan membuat kita mengenali gaya menulis kita sendiri. Dan ini hitungannya tahun!

 

Tips 4: Sabar berlatih

Tidak ada penulis keren yang saya kagumi yang memulai menulis dalam hitungan beberapa bulan. Semuanya dalam hitungan tahun. Bahkan diatas 10 tahun! Tulisan saya pertama kali agak dilirik orang satu dua orang, setelah menulis selama 2 tahun.

Kunci biar sabar, coba cari komunitas yang sama hobinya.

 

Tips 5: Banyak membaca

Baca, Baca, Baca. Nggak mungkin bisa nulis kalau tidak suka membaca. Kita menulis untuk apa? Ya untuk dibaca kan? Jadi mulailah dengan suka membaca. Baca apa yang kita suka. Tulis apa yang kita suka baca.

 

Tips 6: Fokus

Jangan kebanyakan yang diinginkan. Mau bisa nulis, mau bisa masak, mau ini, mau itu. Please tetapkan 1 dulu untuk jangka waktu 1 tahun. Kalau kebanyakan nanti berantakan semua.

Kalau memang menulis belum bisa diprioritaskan saat ini, ya ditunda dulu. Susun prioritas yang paling membuat hati bahagia. Bukan karena ikut-ikutan. Setiap orang kan minatnya berbeda-beda.

 

Tips 7: Make it simple, jangan dibuat ribet

Menulis mah menulis aja. Nggak usah pake mikir. Nggak punya waktu lah, nggak punya laptop lah, nggak punya internet lah. Saya punya kenalan sejumlah penulis terkenal yang bisa mengatasi berbagai macam halangan. Mereka bisa tuh. Jadi bukan tidak mungkin kita juga bisa.

Menulis itu hanya butuh kertas dan pena. Ambil buku dan mulailah menulis. Kalau sempat dipindah ke hape dan di upload ke blog atau sosmed. Tidak punya satu-dua jam sehari, cukup sediakan 15 menit sehari untuk corat-coret perasaan hati hari ini.

Lets start today to write!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

3 thoughts on “Kulwap Ketiga bersama Rumbel Literasi IIP Solo Raya

  • April 13, 2017 at 7:29 pm
    Permalink

    Masya Allah Teh, kereen pisan, jadi begini ya cara nulis resume, jelas dan enak bacanya, makasih ilmunya teh,

    Reply
  • April 13, 2017 at 8:19 pm
    Permalink

    Berbobot kulwap teh Shanty.
    Serasa disuntik semangat lagi.

    Kembali ke fitrah menulis.
    Bahwa menulis adalah sebuah kebutuhan, bukan paksaan apalagi biar terlihat keren.

    Bismillah…

    Reply
    • April 16, 2017 at 6:01 pm
      Permalink

      Len, dirimu kemana sih kok nggak nyampe-nyempe di kelas. Bangkunya udah mulai bersarang laba-laba tuh. Ha…ha…

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: