Metamorfosis Buku Menjadi Film bersama Asma Nadia dan Guntur Soeharjanto

Siapa yang tidak kenal Asma Nadia? Penulis papan atas Indonesia yang telah menuliskan 50-an buku lebih. Banyak diantaranya bestseller dan telah diangkat ke layar kaca. Bukan 1 cerita saja, tapi selusin yang telah dipinang oleh sejumlah Production House (PH) papan atas.

Asma Nadia termasuk penulis yang karyanya banyak disukai teman-teman #ODOPfor99days tahun ini. Makanya, ketika ada informasi bahwa Asma Nadia akan ke Bandung di akhir Maret, saya langsung berusaha menghubungi panitia untuk memintanya mengisi Kulwap dengan teman-teman Odopers.

Wah ternyata penulis yang berdomisili di Depok ini tidak bersedia di ajak Kulwap di WA.

Sedih?

Nggak dong, karena Mbak Asma maunya ketemu langsung saja di acara Metaforfosis Buku Menjadi Film bersama Asma Nadia dan Sutradara Guntur Soeharjanto. Di sana nanti kami boleh mengajukan pertanyaan yang banyak dan langsung dijawab oleh Mbak Asma dan Mas Guntur. That’s even better!

Flyer acara Metamorfosi Buku Menjadi Film
Flyer acara Metamorfosi Buku Menjadi Film

Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Bertepatan dengan hari ulangtahun Asma Nadia ke-45, Ahad 26 Maret 2017, 15 orang odopers sudah duduk manis di Auditorium Dada Rosada Balaikota Bandung. Sebuah acara yang diselenggarakan FLP (Forum Lingkar Pena) dalam rangka kegiatan menuju Munas ke-4 FLP bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Kota Bandung. Kerjasama dengan Dispora Kota Bandung ini memungkinkan acara ini bisa dinikmati secara gratis bagi 100 orang yang tergabung dalam sejumlah komunitas menulis di Bandung. Bagaimana nggak bahagia coba jadi orang Bandung?

 

Nonton bareng Cinta Laki-laki Biasa

Setelah asyik cipika-cipiki dan berselfie ria dengan teman-teman odopers yang banyak diantaranya baru ketemu pertama kali pagi itu, para peserta diajak nonton bareng film Cinta Laki-laki Biasa. Ruang Auditorium Dada Rosada disulap menjadi bioskop mini yang cukup nyaman untuk sekitar 120 orang yang memenuhi ruangan. Tinggal kurang popcornnya saja.

Nonton Bareng Cinta Laki-laki Biasa di bioskop mini Auditorium Dada Rosada Bandung
Nonton Bareng Cinta Laki-laki Biasa di bioskop mini Auditorium Dada Rosada Bandung

Film dengan durasi 100 menit ini diproduksi oleh PH Starvision Plus. Dibintangi oleh putri pengacara O.C. Kaligis – Velove Vexia sebagai Nania dan Deva Mahenra sebagai Rafli. Aslinya film ini tayang di bioskop pada 1 Desember 2016. Menurut data dari theteatersatu.com, jumlah penontonnya per 22 Desember 2016 mencapai 200 ribu penonton.

Setelah menikmati film dengan mata berkaca-kaca, saya merasa sangat menyesal tidak menonton film ini di bioskop. Cinta Laki-laki Biasa bercerita tentang Nania (Velove Vexia), seorang perempuan luar biasa yang berprofesi sebagai arsitek yang sukses, pintar, cantik dari keluarga kaya raya, namun memilih menikah dengan Rafli (Deva Mahenra) yang seorang laki-laki biasa, prestasi biasa, dari keluarga biasa. Walau demikian Nania mampu melihat hal yang tidak biasa dari lelaki ini. Sehingga ia memilih meninggalkan kekasihnya Tyo (Nino Hernandez) yang dinilai bibit, bobot, dan bebetnya lebih bagus oleh keluarga besarnya.

Bagaimana seorang laki-laki biasa bisa menunjukkan cintanya yang tidak biasa terhadap istrinya yang karena sebuah kecelakaan mengalami amnesia. Bagaimana Rafli dan Nania menghadapi tanggapan keluarga, benar-benar tanpa sadar membuat saya harus lap mata pake jilbab karena tidak bawa tissue. Benar-benar cerita yang dalam dan menguras emosi.

Deva Mahenra yang kita kenal sebagai Bastian Gunawan di Sinetron Net TV Tetangga Masa Gitu? berhasil tampil menawan sebagai laki-laki yang memang memikat dan mudah dicintai. Wajar saja kalau kita semakin familiar saja dengan wajah laki-laki kelahiran 19 April 1990 ini dalam film seperti Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Sabtu Bersama Bapak (2016), dan banyak lagi.

Triller film ini bisa dilihat di sini.

 

Diskusi Metamorfosi Buku jadi Film

Bagaimana cerpen 2400 kata bisa berubah menjadi film dengan durasi 100 menit itu yang kemudian dibahas bersama Asma Nadia sang penulis dan Guntur Suhardjanto sang Sutradara, dipandu oleh moderator Topik Mulyana. Pada pk 14.00 wib, acara dibuat santai dengan para pembicara menjawab sejumlah pertanyaan dari para peserta terkait kepenulisan dan film. Tentu saja para peserta yang terdiri dari anggota sejumlah komunitas menulis di Bandung ini semangat mengacungkan jari.

 

Apa Motivasi Asma Nadia menulis?

Kalau bercermin diri sendiri, menulis itu kok ya sering berat banget ya. Ada-ada aja gangguan bisa menulis. Bagaimana ya caranya agar bisa produktif menulis kaya Asma Nadia?

Asma Nadia yang pernah disangka memiliki ghost writer (orang yang membantu menuliskan) saking produktifnya, ternyata memiliki motivasi yang sangat luar biasa. Sebuah motivasi yang terus membuatnya semangat berkarya.

“Saya menulis salah satunya karena saya ingin selamanya berada di sisi anak-anak saya. Dan itu nggak mungkin karena terbatasnya usia.”

Asma berharap kalau anak-anaknya ada masalah, mereka bisa mencari buku bundanya. “Kalau Caca berantem sama suaminya bisa tinggal lihat buku Bundanya Sakinah bersamamu, Catatan Hati Seorang Istri, Catatan Hati Pengantin. Begitu juga kalau Adam ada masalah dengan pendidikan anak atau pekerjaannya. Atau saat ada masalah dengan teman, tinggal baca Jangan jadi muslimah nyebelin. Jadi anak-anak tidak perlu berandai-andai, kalau Bunda masih ada akan ngomong apa ya menghadapi masalah ini?”

Asma melanjutkan dengan pertanyaan: “Berapa banyak di ruangan ini yang merasa punya tiket ke surga? Kalau belum, maka menulislah. Kawallah dengan keikhlasan maka itu bisa jadi amal jariah yang akan mengucurkan pahala kebaikan meskipun kita sudah dalam dekapan tanah.”

Film sebagai media dakwah bagi Asma Nadia. Jual buku 200 ribu eksemplar itu sulit. Tapi begitu jadi film, 200 ribu penonton itu menjadi mudah. Bahkan bisa jutaan. Film dari adaptasi novel bahkan bisa mencapai 4 juta penonton. Ini peluang dakwah yang luar biasa. FLP bergerak dengan semangat dakwah. Kita berjuang dan pena itu adalah senjata kita.

“Saya sempat juga ditawari menulis yang ece-ece atau yang pacaran-pacaran doang karena mau difilmkan yang seperti itu. Tapi saya tidak mau. Saya percaya kita bisa mengikuti selera pasar dengan selektif.”

Menulislah yang punya pesan dan isi yang mencerahkan. – Asma Nadia

 

Bagi waktu ala Asma Nadia

Penulis yang juga adik dari Helvy Tiana Rosa dan kakak dari Aeron Tomino menyampaikan bahwa ia mulai menulis sejak awal tahun 90-an. Baru dipenghujung tahun 1999 buku pertama terbit. Saking jeleknya kemasan buku pertamanya, Asma sampai malu mengakuinya. Pada tahun 2009 Film pertama Emak Ingin Naik Haji di rilis. Bayangkan, perlu waktu hampir 20 tahun hingga karyanya bisa naik ke layar lebar! Kita saat ini hanya lihat jadinya saja ya.

“Orang gagal mencari-cari alasan untuk berhenti. Orang sukses berhenti mencari-cari alasan,” katanya mengutip isi buku No Excuse yang ditulis suaminya Isa Alamsyah. Sebuah buku yang menurutnya ia rekomendasikan bukan karena ia istrinya pak Isa, tapi karena Pak Isa adalah suaminya. Ah si Mbak bisa aja…

Asma bercerita bahwa ia memaksa diri untuk disiplin menulis saat anak-anak anteng atau tengah tidur. Ia bahkan menghukum dirinya sendiri jika target tidak selesai dengan tidak bermain dengan anak-anak. Padahal ia sebenarnya sangat suka bermain bersama anak-anaknya. Ia menginfakkan jam tidurnya untuk menulis.

Kunci penulis itu harus disiplin. Semua orang itu menghadapi tantangan. Bedanya orang biasa berhenti saat menghadapi tantangan, sedangkan orang sukses terus maju. Hanya karena belum ketemu ending yang enak, menulis jadi berhenti dan tidak selesai-selesai. #banyakalasan

Jangan mau kalah sama komputer. Mana yang lebih dulu nge-hang, kamu atau komputernya?

Mulailah dari yang mudah. Waktu, pengalaman, dan jam terbang yang akan mematangkan seorang penulis. Kenalilah kemampuan diri dengan banyak berlatih.

“Agar tidak kehilangan mood menulis, kita bisa mencoba menggunakan kerangka karangan,” kata Asma.

Bikin target yang jelas untuk menyelesaikan suatu karya. Misalnya target menyelesaikan novel 120 halaman selama 1 tahun. Artinya 1 bulan 10 halaman. 1 minggu 2,5 halaman. Dan 1 hari cukup 1/3 halaman saja. Mestinya mudah kan? Wong kita menulis status saja bisa kan?

Ah jadi malu…

 

Kelemahan penulis Indonesia

Menurut Asma Nadia, kelemahan penulis kita adalah jarang membaca. “Jadi penulis jangan pelit beli buku. Masa rok 50 ribu dibilang murah, sedangkan buku 50 ribu dibilang mahal. Bagaimana kita mencetak anak-anak yang suka membaca, sementara ibu-ibunya beli buku saja mikir.”

Dengan membaca, kita belajar banyak. – Asma Nadia

Ketika sudah punya 2-3 karya yang difilmkan, Asma masih merasa perlu belajar banyak bagaimana caranya agar karya-karya lainnya difilmkan juga. Asma kemudian membeli semua buku-buku yang difilmkan, termasuk novelnya Hanum Rais. “Saya merasa perlu membaca karya-karya ini, kalau ingin buku saya juga difilmkan seperti mereka.”

“Dari situ kita bisa belajar buku yang digemari produser, novel seperti apa yang dianggap mewakili selera penonton Indonesia. Tidak semua novel bestseller itu filmist, bisa di buat film. Cerita seperti apa yang membuat produser mau mengeluarkan budget paling sedikit 4 M. Surga yang tak dirindukan 2 budgetnya 15 M kata Pak Manoj. Mana mungkin orang mau mengeluarkan uang sebanyak itu kalau novelnya tidak bagus.”

“Baca deh buku-buku pemenang Nobel, NewYork Time bestseller, buku-buku yang mau dan sudah difilmkan sebagai rujukan.

Anggapan tidak perlu beli bukunya karena sudah nonton filmnya itu tidak tepat. Justru proses belajar kita dari buku ke film. Cinta laki-laki biasa berawal dari cerita pendek dan mengalami banyak penambahan. Sedangkan cerita dari film seperti Assalamualaikum Beijing sebaliknya mengalami pengurangan di sana sini. Pelajari apa yang ditambahkan dan dikurangi oleh sutradara, produser, dan penulis.”

Setelah filmnya keluar, permintaan terhadap buku biasanya meningkat. Asma bercerita ketika salah satu filmnya beredar, Gramedia Padang meminta hingga 1000 eksemplar buku tersebut.

 

Pilihlah buku yang ingin kamu tulis

Toko buku itu seperti medan perang kata Asma Nadia. Lulusan SMA 1 Budi Utomo Jakarta dan Fakultas Teknologi Pertanian IPB 1991 ini meminta untuk menulis sebagus mungkin yang kita bisa. Usahakan bisa masuk rak bestseller di toko buku agar umur buku kita menjadi lebih panjang. “Toko buku seperti Gramedia hanya memberi display selama 2 minggu, setelah itu bukunya diumpetin di belakang,” tambahnya. Amatilah rak bestseller. Jika anggaran untuk membeli buku terbatas, belilah buku yang ingin kamu tulis.

 

Bagaimana cara menghadapi kritik?

Guntur Soeharjanto yang pertama kali menerjemahkan novel ke film untuk Hanum Rais dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa part 1 (Maxima Pictures, 2013) dan part 2 (Maxima Pictures, 2014) menyampaikan caranya menghadapi kritik terhadap karyanya.

“Film itu sangat personal. Sangat wajar ada orang yang suka karya kita atau tidak suka. Itu menunjukkan orang perhatian dengan karya kita. Dan ini penting. Daripada kita bikin film yang sekedar numpang lewat. Itu artinya film kita tidak punya karakter. Jadi bukan sekedar bikin film bagus yang banyak di tonton orang, tapi film juga harus punya karakter. Kalau hanya pujian kita bisa tenggelam. Kritikan itu bisa diambil positifnya untuk membuat karya yang lebih baik dan bukan malah bikin down. Jangan gampang mutung atau pundung. Semakin besar karya kita, semakin banyak cobaan yang kita terima. Itu saya alami. Kita tetap berbaik sangka pada Allah sajalah bahwa ini yang terbaik buat kita,” jelas sutradara kelahiran 18 Maret 1976 ini.

Bagi Asma Nadia, kelemahan penulis kita yang lain selain kurang membaca, adalah kurang rendah hati dalam menerima kritik dan masukan. Penulis perlu mendengar dan berproses ke arah kreatifitas yang lebih baik. Kalaupun marah, jadikan itu dendam positif. “Kita lebih banyak bisa belajar dari kritik daripada pujian.”

 

Cerita seperti apa yang disukai Produser?

Menurut Guntur, novel yang suka dijadikan film dilihat dari 2 sisi. Produser akan memilih yang calon box office tentunya, yang marketable. Yang ceritanya unik dan membawa hal baru. Baik baru dalam cerita maupun setting. Bisa jadi karena ide dan judulnya menarik, walau bukan bestseller tapi memang layak diangkat. Cerita pasti akan ada pengembangan dan diskusi lagi. “Jadi jangan kecil hati dan minder dengan karya-karya penulis terkenal,” kata Guntur yang mengaku saat ini tengah mengerjakan proyek dari cerita yang bukan bestseller.

Asma Nadia menambahkan bahwa salah satu kendala film Indonesia adalah tokohnya tidak punya karakter yang kuat. Karakternya tidak jelas. Contohnya Karakter Arini dan Mei Rose dalam Surga yang tak dirindukan harus hitam dan putih. Perbedaannya harus jelas. Atau tokoh Rafly dan Tyo dalam Cinta Laki-laki biasa karakternya harus berbeda.

“Kalau mau belajar karakter dan plot bisa baca buku Asma Nadia Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2 . kalau ingin belajar bagaimana cara menyajikan pengalaman dalam novel bisa baca Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea,” lanjutnya sambil mempromosikan buku-bukunya.

Produser sekarang juga tertarik mengangkat cerita dari cerpen dan novel karena dinilai fan basenya ada. Ujung-ujungnya ya yang marketable lah.

 

Sejauh mana peran setting lokasi dalam film?

Dalam film Cinta Laki-laki Biasa, setting menunjukkan keindahan alam perkebunan teh di Ciwidey. Bagaimana sebenarnya memilih setting lokasi yang tepat untuk film? Apa sekedar karena indahnya pemandangan?

Guntur sempat menceritakan pengalamannya membuat film 99 Cahaya di Langit Eropa ke 5 negara: Austria, Prancis, Spanyol, Turki, dan Mekah. Hal yang selalu ia tekankan: “Ngapain jalan jauh-jauh kalau nggak ada isinya. Kenapa harus ke situ? Kenapa dialognya harus seperti itu di situ. Jadi bukan sekedar tempat bagus.”

 

Menghadapi adaptasi proses adaptasi novel ke film

Bagaimana menghadapi PH yang ingin mengobok-obok karya penulis?

Mengenai hal ini, Asma Nadia memberikan jawaban berdasarkan pengalamannya bekerja dengan sejumlah PH.

Baca postingan Karya Asma Nadia yang Diangkat ke Layar Kaca.

“Penulis bisa meminta hak untuk dilibatkan dalam memilih sutradara dan penulis naskah. Juga bisa meminta akses ke skenario. Cukup banyak teman penulis yang karya diadaptasi, namun kemudian malu mengakui itu sebagai karyanya karena dinilai tidak bagus.

Kalau saya tidak keberatan karya-karya saya dikembangkan atau dikurangi, selama saya dilibatkan dalam prosesnya. Kalau pengembangannya membuat cerita lebih baik, kenapa tidak. Karena kebutuhan tulisan dan visual itu berbeda. Buat buku terbaiknya begini, buat cerpen terbaiknya begini, buat film terbaiknya begini. Untuk film Cinta Laki-laki Biasa, sebelumnya berulang kali terjadi diskusi mengenai skenario berempat antara produser, sutradara, penulis skenario dan penulis novel untuk mendapatkan hasil terbaik. Bahkan dalam surga tak dirindukan 2, endingnya bisa berubah. Sejauh tidak bertentangan dengan dengan keyakinan saya, tidak apa-apa.”

Salah satu yang membuat Asma Nadia suka kerja dengan Mas Guntur dan Alim Sudio (Penulis Naskah) adalah karena sebagai penulis ia merasa pikirannya diperhatikan.”Tidak sekedar ambil naskah dan selesai. Tapi perkembangannya terus dilibatkan.” Seperti saat syuting Jilbab Traveller, Asma masih diminta untuk mempersonalisasi tokohnya dengan kata-kata yang lebih memorable. Asma Nadia dan Guntur Suhardjanto hingga saat ini telah bekerja sama dalam 3 film: Assalamualaikum Beijing (Maxima Pictures, 2014), Jilbab Traveller, Love Sparks in Korea (Rapi Film, 2016) dan Cinta Laki-laki Biasa (Starvision Plus, 2016).

“Yang menarik dalam membuat film adaptasi adalah konteks dari cerita dan bagaimana kita bisa sejalan dengan penulisnya. Ini tidak mudah karena masing-masing orang memiliki gaya masing-masing yang ingin dipertahankan. Sebagai sutradara, saya harus bisa mencari itu. Ini yang menjadi ‘chemistry’ sebuah hubungan kerjasama dalam pembuatan film,” lanjut Guntur.

Sementara Guntur menyebutkan bahwa membuat film itu berbeda dengan menulis sebuah novel. Seperti membuat bakso dan soto. Sama-sama berkuah, kecap, sambal, daging, tapi rasanya bisa berbeda. Film itu sekali nonton tidak bisa berhenti dan tidak bisa di pause. Kalau buku masih bisa dikasih pembatas dan ditinggal dulu. Bagaimana kita bisa mengembangkan apa yang ada di novel secara tepat ke layar kaca. Film merupakan kolaborasi antara produser, penulis naskah/novelnya dan sutradaranya.

 

Siapa yang menentukan pemain?

Pemain itu biasanya merupakan diskusi dari sutradara, produser, dan penulis kreatif. Banyak pemain yang bagus, tapi tidak cocok memerankan karakter tertentu. Guntur mengakui kalau pemain film Indonesia yang kualitasnya bagus masih sangat sedikit.

 

Mengapa Asma Nadia memilih bekerjasama dengan PH?

Dalam acara FLP 26 Februari 2017 di Bapusibda, Kakak Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa sempat bercerita tentang pengalamannya sebagai produser film Ketika Mas Gagah Pergi. Padahal sebenarnya banyak Production House (PH) yang melamar untuk memfilmkan cerita tersebut. Berbeda dengan dengan sang kakak yang memilih memproduseri sendiri filmnya, Asma memilih bekerja sama dengan sejumlah PH. Karena penasaran, saya menanyakan hal tersebut kepada bundanya Eva Maria Putri Salsabila (Caca) dan Adam Putra Firdaus ini.

“Apa yang membuat Asma Nadia memilih bekerja sama dengan sejumlah PH daripada memproduseri sendiri filmnya?”

Menurut Asma, membuat film itu perlu ilmu khusus. “Saya masih harus banyak belajar,” akunya. Saya banyak belajar Aditya Gumay, Manoj Punjabi di MD Entertainment, dan lain-lain. Mungkin nanti kalau ilmunya sudah cukup, baru berani membuat film sendiri. Saat ini beberapa teman memberi dukungan untuk memproduseri film sendiri, namun menurut Asma yang belajar dari pengalaman kakaknya, pertaruhannya begitu besar.

 

Dukunglah film yang baik

Dukunglah film yang baik dengan menonton di hari pertama. Film-film bagus bertahan di bioskopnya susah. Kalau tidak mau menonton, belilah tiketnya. Anggaplah sedekah. Film itu produk mahal yang bisa cepat sekali turun layarnya. Kadang hanya 3 hari sudah diturunkan untuk film yang budget promosinya lebih besar. “Untuk film-film baik, jangan lah menonton karena kamu suka. Tapi nonton untuk memperlihatkan bahwa film-film baik itu punya tempat di hati penonton dan akan lebih banyak diproduksi.” Jadi kalau benar-benar ingin lebih banyak film-film bagus diproduksi, nontonlah di bioskop di hari pertama!

Ah jadi malu, saya juga bukan bukan penonton bioskop. Bukan apa-apa sih, nonton bioskop itu kan mahal kalau untuk keluarga berempat. Kayanya mending beli buku deh. Semoga tiket bioskop makin terjangkau atau penghasilan keluarga Indonesia meningkat.

Ada pendapat bahwa muslim tidak mau ke bioskop karena bercampurnya laki-laki dan perempuan. Sebenarnya kalau tidak mau bercampur, ada solusi yang bisa dilakukan. Nontonlah bersama komunitas dan menyewa 1 bioskop. Ini mulai dilakukan banyak orang. Seperti yang dilakukan film Iqro dengan mengajak sekolah-sekolah menonton bersama. Sebelumnya Merry Riana juga membuka acara nonton bareng untuk perusahaan. Wajar kalau film Merry Riana, Mimpi sejuta dollar yang juga diproduksi MD Entertainment tembus di angka 700 ribu penonton hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan. Sebagai catatan, disaat yang sama MD Entertainment juga mengeluarkan film Assalamualaikum Beijing yang ditonton 500 ribu orang.

Dukungan terhadap film yang bagus juga bisa dilakukan dengan mengerahkan kekuatan sosial media. Bantulah dengan menjadikannya trending topik. Buat orang lain juga ingin menonton film tersebut. Kalau bagus sampaikan, kalau jelek cukup hubungi pembuat filmnya agar bisa jadi bahan masukan untuk membuat film yang lebih baik. Jangan mempengaruhi orang untuk tidak menonton. Karena belum tentu film yang dinilai buruk oleh seseorang, buruk juga untuk orang lain. Seperti yang disampaikan di atas, film itu sangat personal.

Penasaran mengenai data selusin buku Asma Nadia yang sudah diangkat di layar kaca? Baca postingannya di sini ya.

Tidak terasa waktu berlalu hingga pukul 16.00 wib. Sudah puas tanya-tanya, foto bareng, sampai menikmati kebawelan Mbak Asma dalam menjajakan selusin buku-bukunya di meja display. Terima kasih sekali Mbak Asma Nadia dan Mas Guntur yang telah banyak berbagi ilmu dan semangat kepada teman-teman di Bandung. Semoga semangat dan keistiqomahan mereka dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas bisa menular kepada banyak orang. Amin.

 

Odopers menyempatkan diri berfoto bersama Asma Nadia sebelum acara mulaiOdopers menyempatkan diri berfoto bersama Asma Nadia sebelum acara mulai
Odopers menyempatkan diri berfoto bersama Asma Nadia sebelum acara mulai

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Metamorfosis Buku Menjadi Film bersama Asma Nadia dan Guntur Soeharjanto

  • April 2, 2017 at 6:44 am
    Permalink

    Saya juga termasuk yang suka baca buku ketimbang nonton film, sebenarnya teh…
    Karena menurut saya, imajinasi membaca bisa berkembang daripada saat menonton film yang sudah disajikan dengan porsi utuh.

    Dan karya-karya mba Asma Nadia memang selalu menginspirasi.

    Namun sangat disayangkan pemeran wanita di film Cinta Laki-Laki Biasa adala seseorang yang non muslim. Apakah memang tidak ada artis muslim yang pas untuk karakter tersebut?

    Reply
  • April 2, 2017 at 4:51 pm
    Permalink

    “Jadi penulis jangan pelit beli buku. Masa rok 50 ribu dibilang murah, sedangkan buku 50 ribu dibilang mahal. Bagaimana kita mencetak anak-anak yang suka membaca, sementara ibu-ibunya beli buku saja mikir.”

    like this… sampe skrg emang lebih ngiler liat buku ketimbang baju.

    sayang ih blm bs ikutan. kondisi skrg bisanya ikut play date2an hihihi

    Reply
  • April 3, 2017 at 7:11 pm
    Permalink

    Bukunya keren, filmnya keren, salut deh buat karya2nya mbak Asma Nadia. 😀

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: