Mengenang Masa-masa Mesra dengan Angkot Bandung

Pada Kamis, 9 Maret 2017 lalu, Angkutan Kota (Angkot) Bandung mogok. Mereka memprotes Permenhub no 32/2016 yang mengatur mengenai keberadaan angkutan daring. Angkutan daring yang relatif lebih murah, cepat, dan nyaman dianggap menjadi penyebab menurunnya penghasilan para supir angkot.

“Biasanya bisa 1 hari 6 rit, sekarang hanya 3 rit,” keluh seorang supir angkot. Saya pernah baca, kalau angkot itu rit pertama biasanya untuk setoran, rit kedua untuk bensin, baru rit selanjutnya untuk penghasilan supir. Bahkan ada yang menyampaikan penghasilannya sehari bisa hanya Rp 15.000,- setelah dipotong bensin dan setoran.

Saya mengerti sih dengan kesedihan para supir angkot Bandung ini. Supir angkutan tua (angkutannya yang tua, bukan supirnya) yang tidak menarik lagi, harus bersaing dengan angkutan daring yang lebih muda, segar, dan seksi. Apalagi ketika ngambek, ketidakberadaannya disyukuri oleh banyak orang. Dan angkot pun makin ngambek. Katanya mau berlanjut untuk demo selama beberapa hari.

Marilah kita serahkan persoalan rumit ini kepada pemerintah kota untuk mencari solusi yang terbaik. Dalam tulisan ini, saya sekedar mau cerita masa-masa mesra saya dengan angkot Bandung beberapa tahun lalu. Walau angkot kini di ‘hina dina’, ia sebenarnya memiliki beberapa kelebihan.

 

Kelebihan Angkot Bandung

Berikut beberapa kelebihan yang dimiliki angkot-angkot bandung yang centil warna-warni itu:

Warna-warni Angkot Bandung
Warna-warni Angkot Bandung (Sumber: https://sokocon.files.wordpress.com)

 

#1 Naik angkot itu murah

Serius loh tarif angkot itu murah pake banget jika kita melihat panjangnya rute trayek mereka. Bayangkan saja, tarif terjauh berkisar antara Rp 5.000,- hingga Rp 7.500,- saja. Untuk jarak dekat (sekitar 5 km-an) cukup Rp 3.000,- saja. Rata-rata sih sekitar Rp 4.000,- hingga Rp 5.000, tergantung amalan masing-masing penumpang. Mengenai tarif angkot di Bandung memang agak ajaib.

Jadi untuk menuju daerah yang dilewati angkot dengan jalur yang sederhana, cukuplah berangkot ria. Terkadang saya memilih parkir kendaraan pribadi di satu tempat yang strategis, dan melanjutkan dengan angkot ke tempat-tempat lain yang tidak terlalu jauh dan parkirnya sulit.

 

#2 Naik Angkot itu santai

Kalau kita tidak diburu-buru waktu dan sekedar ingin jalan-jalan menikmati kota, naik angkot itu lebih menyenangkan daripada harus menyetir sendiri kendaraan pribadi. Ketika anak-anak masih belum sekolah, sekitar tahun 2010 – 2015, saya dan anak-anak sering jalan-jalan naik angkot. Raka selalu minta duduk di depan. Tanpa tujuan khusus, kami sekedar melihat-lihat kota saja mengikuti trayek angkot. Kalau ada tempat yang menarik, tinggal teriak “Kiri, Mang” untuk minta turun.

Karena tidak perlu konsentrasi menyetir, sepanjang perjalanan kita jadi bisa menikmati kota, ngobrol sama anak-anak, atau sekedar mengkhayalkan suatu tulisan. Biasanya sesampai di tujuan, satu bahan jadi dan siap dituangkan dalam tulisan.

 

#3 Naik Angkot itu aman dari hujan dan angin

Enaknya naik angkot daripada harus bermotor ria adalah aman dari hujan dan angin. Makanya kalau membawa anak-anak, saya lebih suka berangkot saja. Anak-anak cukup nyaman dengan angkot. Kalau mengantuk, mereka tinggal tidur di pangkuan saya.

 

#4 Naik Angkot itu bertemu banyak orang

Ini yang membuat saya kalau pergi sendiri lebih suka duduk di belakang. Seru aja melihat macam-macam tipe orang dengan berbagai gaya. Belum lagi kalau ada obrolan aneh-aneh yang ikut terdengar. Suka kepo mendengar lanjutannya, padahal harus turun.

 

#5 Naik Angkot itu tidak perlu pusing parkir

Walau tidak punya mobil sendiri, saya bisa meminjam mobil orang tua jika perlu ke suatu tempat. Tapi yang paling bikin saya malas adalah mencari parkir. Bagus kalau langsung dapat tempat parkir, tapi kalau harus disuruh berputar-putar di lantai parkir, aduh malas banget deh. Mending kalau bayar parkirnya murah, ini mahal lagi! Mending berangkot ria aja lah.

 

#6 Angkot Bandung warna-warni

Angkot Bandung itu sebenarnya menarik. Warna-warni cerah untuk menunjukkan perbedaan rutenya. Tidak seperti bis di Jakarta, yang mengharuskan kita memicingkan mata untuk melihat bis nomor berapa yang lewat. Kalau di Bandung, kita tinggal bilang angkot hijau lewat Jl. Merdeka, angkot biru lewat Jl. Riau, atau angkot hijau muda akan mengantarkan kita ke Pasar Baru. Main warna angkot ini juga menjadi salah satu cara saya mengajak anak-anak mengenal warna.

 

#7 Trayek angkot yang panjang

Jumlah angkot di Bandung menurut data Organda ada sekitar 5.500 buah dengan 20 trayek yang panjang-panjang. Bisa dibilang dari ujung kota ke ujung kota yang lain. Dari Cicaheum di timur sampai Ledeng di utara, dari Margahayu di tenggara sampai Ledeng, dari Riung Bandung sampai Dago, dari Elang di barat sampai Cicadas di timur. Luar biasa!

Salah satu trayek angkot yang saya suka adalah angkot hijau muda Gedebage – Stasiun Hall. Cukup dicegat di Jl. Soekarno Hatta, ia akan mengantar kita ke Jl. Buah Batu, Pasar Kosambi, Jl. Sunda, Jl.Belitung, Jl. Aceh, Jl. Merdeka, Viaduc, hingga Pasar Baru. Banyak teman menarik yang bisa disinggahi di sepanjang jalur ini.

Saya terkadang tidak menentukan dulu mau kemana hari itu. Ketika ada tempat yang menarik yang anak-anak suka, kami akan minta berhenti di situ. Misalnya pas lewat Taman Lalu Lintas dan Raka tiba-tiba bilang pengen main di situ, ya kami berhenti di situ. Lihat ada pameran di Gedung Manggala Siliwangi, ya teriak kiri di sana. Ini enaknya angkot Bandung. Bisa berhenti di mana saja. Bahkan di tengah jalan!

 

#8 Tidak perlu lama menunggu angkot

Bisa jadi hal ini karena jumlahnya yang mencapai 5.500 mobil untuk panjang jalan 1.200 KM (atau 1.600 KM – saya belum dapat data pastinya). Jadi wajar saja kalau kita tidak perlu menunggu lama untuk naik angkot. Berbeda dengan bis yang perlu menunggu sekitar 15 menit. Apalagi taksi, yang terkadang perlu waktu sangat lama tiba di rumah kita karena harus antri.

 

#9 Angkot untuk sarana menyebrang

Nyebrang pakai angkot? Jangan membayangkan anak muda menyebrang di jalan Bandung yang mungil-mungil itu  ya. Tapi pikirkan ibu-ibu dengan bayi dalam gendongan dan seorang anak balita yang tidak bisa diam harus menyebrang di bypass Jl. Soekarno Hatta yang terdiri dari 4 jalur yang ramai dilintasi kendaraan berkecepatan tinggi.

Pilihan lain ada jembatan penyebrangan di depan Metro Bandung. Tapi setelah mencobanya, saya kapok! Lutut kaki saya gemetar naik jembatan penyebrangan yang curam dengan railing yang besar. Saya sangat khawatir anak-anak jatuh dari railing yang orang dewasa pun bisa memasukkan badan.

Angkot keren yang sangat berjasa dalam hal ini adalah angkot biru Margahayu-Ledeng. Biayanya hanya Rp 3.000,- untuk jasa menyebrangi Jl. Soekarno Hatta bagi seorang Ibu dan 2 anak dengan aman.

 

Mengapa Angkot kini terpinggirkan

Sejak mudahnya kepemilikan motor dan adanya transportasi daring, keberadaan angkot makin tergusur. Mengapa orang-orang pada suka motor dan transportasi daring? Perlukah angkot ngambek-ngambek minta yang muda di talak? Saya kira tidak bisa juga. Sepertinya, sudah waktunya angkot untuk intropeksi diri.

Berikut beberapa kekurangan angkot yang membuat kita beralih hati ke transportasi online:

 

#1 Naik angkot itu mahal

Loh, tadi di atas bilang murah? Yang bikin berangkot ria itu mahal adalah faktor jarak untuk mencapai trayek angkot terdekat. Contohnya posisi rumah saya yang mengharuskan membayar beca atau ojek Rp 7.000,- untuk naik angkot. Padahal kalau saya naik kendaraan daring, ongkosnya cukup Rp 15.000,- dari muka pintu rumah hingga ke tujuan. Nggak pake lama.

Andai saja ada tempat penyimpanan sepeda di tempat tertentu sebelum kita naik angkot, mungkin bisa jadi solusi alternatif. Pemandangan seperti ini banyak saya lihat di Jepang. Jadi orang cukup naik sepeda dari rumahnya ke tempat transportasi umum terdekat, dan bisa aman menyimpan sepeda mereka di sana.

 

#2 Naik angkot itu lama

Karena adanya budaya ngetem, penumpang jadi kesulitan memprediksi waktu di perjalanan. Ini berbeda dengan menggunakan transportasi daring. Cukup dengan melakukan pemesanan di smartphone, kendaraan daring akan menjemput kita dari satu tempat langsung ke tempat tujuan. Tidak pake ngetem!

 

#3 Naik angkot itu tidak nyaman

Serius ya, angkot itu suka ada yang jorok. Masih ada saja orang-orang yang buang sampah di dalam angkot. Pak Supirnya sering tidak sempat melihat ke belakang untuk melihat penumpangnya yang suka buang sampah sembarangan. Ketika tidak melihat tempat sampah, maka akan seenaknya melempar sampah ke dalam atau ke luar mobil. Padahal sebenarnya, sampahnya kan bisa dimasukkan ke tas dulu. Budaya bawa plastik sampah sendiri memang belum umum di masyarakat kita.

Walau jarang terjadi lagi sekarang, penumpang angkot juga suka di ‘deudeut’ 5 – 7. Lima orang di jajaran bangku yang pendek, dan 7 orang di bangku yang panjang. Belum lagi ketika di dalam mobil ada ban serep. Waduh, makin kelipet deh kaki kita.

Angkot yang sering men’deudeut’ penumpang menurut saya adalah angkot biru Margahayu – Ledeng. Sepertinya angkot ini berhasil mempertahankan jumlahnya hanya sedikit dan melewati jalur emas dari Ledeng, Jl. Setiabudi, Jl. Cipaganti, Jl. Cihampelas, Jl. Merdeka, Jl. Riau, Jl. Supratman, Jl. Cicadas, Jl. Kiaracondong, dan By Pass. Peminatnya banyak, jumlahnya sedikit.

 

#4 Angkot itu suka berhenti seenaknya

Bisa jadi karena kagok, supir angkot biasa menyetir dengan cara yang seenaknya. Karena mudahnya penumpang teriak “Kiri” sebagai tanda minta diturunkan dan bisa menaikkan penumpang di mana saja, supir angkot biasa berakrobat di jalan raya. Dari jalur kanan, tiba-tiba masuk jalur kiri. Seringkali akhirnya penumpang diturunkan atau dinaikkan di tengah jalan.

 

#5 Angkot itu terlalu banyak

Seperti sudah dijelaskan di atas, banyaknya angkot membuat jalan di Bandung jadi terlihat padat. Maklum jumlah kendaraan pribadi meningkat dengan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Organda tahun 2013, dalam 1 hari jumlah sepeda motor bertambah 300 unit dan jumlah mobil bertambah 30 unit. Jumlah angkot yang 5.500 unit sebenarnya tidak bertambah sejak tahun 2002. Namun ketika angkot hilang dari peredaran saat demo Kamis kemarin, jalan di Bandung terasa lengang dan aman damai sentosa. Ehm, bukan nggak mungkin banyak orang berdoa semoga keadaan ini bisa terus terwujud…

 

Solusi Angkot kota Bandung

Saya lihat, pemerintah kota Bandung sudah berusaha melakukan usaha untuk memperbaiki citra angkot dan mencari solusi untuk masalah transportasi publik di kota ini. Entah apa karena Kang Emil sempat mencoba jadi supir angkot pada Angkot day 20 September 2013 lalu?

Sempat ada berita Jumat Ngangkot pada Agustus 2016 lalu. Juga rencana tukar 5 angkot dengan 1 bis yang ditolak BPK dengan alasan tidak boleh membeli barang bekas. Ada juga angkot yang dilengkapi buku dan TV hingga angkot yang didandani dengan iklan-iklan ala bis.

Yang terbaru saya dengar akan diluncurkannya Angklung atau Angkutan Kota Keliling Bandung pada 1 Maret yang lalu. Menurut berita yang bisa di baca di bandung.go.id Portal Resmi Kota Bandung, Angklung akan tersedia sebanyak 1600 mobil. Mobil akan dilengkapi dengan wifi, AC dan TV. Melayani 5-12 rute perjalanan yang bisa poin to poin (jujur saya juga belum paham). Katanya sih biayanya Rp 7.000,- hingga Rp 12.000. Mari kita tunggu saja realisasinya.

 

Mudah-mudahan supir angkot Bandung mau intropeksi dan memperbaiki diri. Sehingga lebih bisa memenuhi tuntutan jaman dan dicintai banyak orang. Berubah itu memang pahit, tapi untuk kebaikan jangka panjang, perlu untuk kita lakukan. Dan harus!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: