Jilbab dan Saya, Pengalaman berjilbab di tahun 90-an

Bisa jadi karena efek kebanyakan nonton kedatangan Raja Salman ke Indonesia, saya tiba-tiba ingin menulis tentang pengalaman berjilbab di awal tahun 90-an (silakan tebak sendiri dimana hubungannya). Saya pakai jilbab sejak kelas 2 SMA. Saat itu tahun 1991, sekitar 6 bulan sejak SK no.100/C/Kep/D/1991 mengenai ijin penggunaan jilbab di SMP dan SMA umum dikeluarkan. Sebenarnya saya bukan anak yang alim-alim amat. Ketika SK itu turun saya tidak terlalu memperhatikan juga. Berbeda dengan 2 teman sekelas saya – Karla dan Meli, yang langsung memakai jilbab dengan semangat.

Hingga suatu saat di dalam pelajaran Agama Islam. Guru agama mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu menohok di depan kelas, “Shan, kamu merasa melakukan dosa nggak hari ini?”

“Rasanya nggak Bu,” jawab saya singkat sambil mengingat-ngingat apa yang saya lakukan.

“Kamu tidak menutup aurat,” jelas Bu Guru di muka teman-teman sekelas.

Entah kenapa, sejak saat itu saya kok rasanya nggak tenang. Terintimidasi juga ceritanya. Tiba-tiba ada rasa malu aurat di pamer kemana-mana, padahal aturannya jelas harus menutup aurat.

 

Ayat Al Quran mengenai Jilbab

Berikut 3 ayat yang begitu terngiang-ngiang di telinga saya:

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” – QS Al A’raf 7:26

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka (mertua), atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka (anak tiri), atau saudara-saudara laki-laki mereka (kakak/adik), atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan), atau putra-putra saudara perempuan mereka (keponakan), atau para perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, waih orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” – QS An Nur 24: 31

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya (sejenis baju kurung yang lapang, yang dapat menutup kepala, wajah, dan dada) ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” –  QS Al Ahzab 33:59

 

Ketika saya sampaikan keinginan untuk berjilbab ke Mama saya, beliau langsung pusing. “Ya Allah, bagaimana anakku bisa dapat kerja kalau berjilbab,” pikirnya. Hal ini terus diulang-ulang si Mama ke semua orang. Terus terang, kalau saya entah kenapa, tidak ada kekhawatiran sedikitpun soal kerja. Mungkin karena masih SMA dan sama sekali belum terpikir soal kerja dan cari uang. Yang ada di kepala hanya soal aurat dan dosa saja. Saya khawatir ibadah saya yang lain tidak diterima hanya karena tidak menutup aurat. Alhasil saya keukeuh pakai jilbab.

Akhirnya si Mama meluluskan sambil ngomel ke semua tukang kain tempat kami harus membeli bahan untuk baju panjang dan jilbab saya. “Waduh, sedih sekali ini hati saya karena anak saya mau pakai jilbab. Siapa coba yang mau menerimanya bekerja. Mana ada bank atau kantor yang mau menerima orang berjilbab,” kata Mama saya.

Saya sih diam saja, demi si Mama mau menjahitkan beberapa potong baju buat saya. Saat itu tidak ada beli baju panjang jadi. Semua harus buat sendiri termasuk jilbabnya yang terdiri dari kain segiempat yang pinggirannya di neci. Tapi walau mengomel dan bersedih hati, baju-baju panjang pertama saya keren-keren banget. Buatan si Mama yang jahitannya terkenal sangat rapi gitu loh. Terima kasih Mama…

Teman SMA
Bersama seluruh teman perempuan di kelas 3 Fisika 2 SMA 1 Karawang tahun 1993: (berdiri) Ida, Jenab Busaidah, Melie Rahmawati, Yeni, teman sebangku tercinta Theresia Juanda, (duduk) Karla Wulaniyati, Lis Nurjanah, Shanty (jilbab coklat). Kangen masa unyu-unyu…

Menjelang lulus SMA, bertambahlah sejumlah orang yang berjilbab di SMA. Kami sempat mengalami tidak boleh menggunakan pas foto berjilbab untuk ijasah, tapi telinganya harus kelihatan. Asli itu kelihatannya aneh banget. Saya sempat juga berfoto dengan peniti jilbab yang ada di bawah dagu dibuka dan telinga dikeluarkan. Cuma ternyata untuk ijasah tetap menggunakan foto sebelum berjilbab, termasuk semua berkas pendaftaran untuk UMPTN dan kuliah.

Ketika diterima masuk di Arsitektur ITB tahun 1993, dari 80 mahasiswa di kelas hanya ada 4 siswi yang berjilbab. Ada Wulandini dari Jakarta, Andriani dari Bandung, Aniek dari Boyolali, dan saya dari Karawang. Sekampus juga memang masih belum banyak juga yang berjilbab saat itu. Waktu itu saya paling suka gaya berjilbabnya Wulan yang saya nilai sangat keren. Gamis panjang yang rapi dengan jilbab bordir yang lebar. Rapi banget. Maklum mantan Ketua OSIS.

Seiring waktu, semakin banyak orang yang berjilbab. Bahkan saat ini 23 tahun kemudian, hampir bisa dibilang 90% teman seangkatan di Arsitektur yang muslim sudah berjilbab semua. Sekarang malah tidak umum, melihat teman muslim yang belum berkerudung. Bahkan Mama dan adik-adik saya pun berkerudung dalam beberapa tahun terakhir ini.

Bersama Mama dan adik-adik.
Bersama Mama dan adik-adik.

Apakah ini sekedar trend atau ikut-ikutan saja? Maklum sekarang ini busana muslimah sangat lah booming dan begitu cantik-cantik. Sangat menggoda untuk dimiliki.

Saya sendiri sebenarnya berpikir, bahwa berjilbab itu hakekatnya menutup aurat dan kecantikan perempuan agar tidak terlalu terlihat. Jadi menurut saya, kalau makin cantik dengan berjilbab malah rasanya ada yang salah. Tujuannya bukan itu! Saya kadang punya pikiran aneh, kalau melihat laki-laki ganteng bin manis. Itu juga mestinya di jilbab, daripada bikin tangan perempuan keiris pisau.

 

Mengenai kerja

Selulus S1 dengan ijasah yang sudah boleh menggunakan foto berjilbab, ternyata ketakutan si Mama soal tidak diterima kerja itu tidak terbukti. Sama sekali tidak ada masalah yang berarti ketika melamar kerja sebagai Arsitek di sebuah biro konsultan Arsitektur. Jilbab tidak pernah menjadi issue besar di sini.

Memang Mama sempat bilang kalau anaknya jadi tidak akan bisa jadi Pramugari atau karyawan Bank. Tapi saya kan memang nggak mau jadi Pramugari atau karyawang Bank. Ternyata sekarang banyak pramugari dan karyawan Bank yang berjilbab ya. Alhamdulillah, menutup aurat bukan masalah lagi.

Itu adalah buah dari perjuangan panjang. Terharu juga membaca bagaimana Perjuangan panjang Jilbab di Indonesia. Hebat juga nih Andi Ryansyah bisa merangkumnya dalam tulisan sepanjang 3700 kata. Silakan di klik link di atas untuk mengetahui berdarah-darahnya perjuangan teman-teman muslimah kita untuk menutup aurat.

 

Fenomena artis lepas jilbab setelah bercerai

Terus terang saya agak terusik dengan fenomena ini. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Saya tidak berani menduga-duga apa yang terjadi pada mereka. Tapi pasti mereka punya alasan yang kuat. We are not in their shoes to judge them. Saya sendiri pun jadi berpikir, apakah hal yang sama bisa menimpa saya? Bisa saja. Apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini.

Di situ saya mulai kembali menanyakan alasan saya berjilbab. Apakah karena keyakinan bahwa itu sesuatu yang diperintahkan Al Quran atau yang lain? Apakah ketika ada sesuatu yang buruk menimpa saya, saya akan melepas jilbab?

Walau awalnya saya pakai jilbab karena takut dosa, kini pemahaman itu mulai bergeser. Saya pakai jilbab bukan karena takut dosa. Tapi karena merasa nyaman saja. Rasanya seperti dibatasi oleh sesuatu. Lebih terjaga. Kalau berjilbab, kan malu kalau baju mini, malu kalau terlalu nakal, malu kalau bodoh-bodoh banget, malu kalau mengumpat-ngumpat di sosmed dengan huruf kapital semua.

Saya jadi berpikir, kalau saya terbuka, batasannya jadi dimana? Tidak ada jaminan saya tidak akan kebablasan. Jilbab menjadi semacam tameng untuk melindungi dan membatasi diri. Jilbab sekaligus menjadi identitas kalau saya muslim. Tidak perlu repot-repot tanya agama saya apa.

 

Hal yang masih sulit dari berjilbab

Saya ini dalam berjilbab masih belum sempurna dan konsisten. Kalau mengacu pada QS An Nur 24: 31 di atas, wanita berjilbab itu hanya boleh membuka jilbab di depan suami, ayah, mertua, kakak/adik, anak, anak tiri, keponakan, wanita muslim lain, anak-anak, hamba sahaya dan pelayan laki-laki.

Kenyataannya saya masih belum bisa rapi berjilbab di depan ipar atau di sekitar rumah. Sepertinya saya pikir tukang sayur atau tukang roti bisa dimasukkan dalam golongan hamba sahaya. Ha…ha…

Juga soal pakai kaos kaki, ini sangat jarang saya lakukan. Terus terang saya masih kesulitan dan tidak terbiasa berkaus kaki di luar rumah. Kaus kaki malah saya pakai untuk tidur biar kaki tidak kedinginan.

Bagi saya jilbab itu seharusnya menutupi dada. Prinsipnya jangan sampai bagian dada terlalu terlihat. Makanya saya suka sekali dengan model jilbab yang memungkinkan kain berlipatan di bagian dada. Tidak terlalu nempel ke dada. Tapi terkadang saya harus memakai baju yang bagian dadanya dipenuhi payet cantik. Dan kalau pakai baju model begini, harus dipastikan kita memakai bra mahal sehingga baju bisa jatuh bagus di badan. Rasanya ada yang salah kan ya? Makanya saya suka kesal lihat baju muslim bagus yang ramai banget di bagian dadanya. Mbok ya itu kreatifitas dipindahkan ke lengan bawah, pinggang atau kaki dong. Kan sayang sekali kalau harus ditutup jilbab.

Soal terbuka aurat dengan wanita non muslim ini juga pernah saya langgar saat ber-onsen ria di Jepang. Penasaran dengan budaya orang Jepang yang satu ini, saya sempat santai saja ber-onsen dengan teman-teman saat mengikuti program IATSS di Jepang. Buat yang belum tahu, onsen itu gaya mandi berendam air panas orang Jepang dengan tanpa busana. Jujur pertamanya malu-malu. Kebetulan teman-teman sesama dari negara ASEAN yang tidak mengerti budaya Onsennya masyakarat Jepang, tidak beda jauh noraknya. Tapi setelah mengalaminya sendiri, baru tahu bahwa orang Jepang itu mandi ya mandi, mereka tidak melihat aurat orang lain. Walau semua orang terbuka di sana. Aneh bin ajaib memang. Tapi saya tidak terlalu tertarik untuk mengulanginya lagi, kecuali ada onsen privat dengan suami saja. Ha…ha…

 

Pandangan saya tentang kewajiban berjilbab

Buat saya berjilbab adalah hal yang sangat personal dan berhubungan dengan keyakinan seseorang. Ada alasan yang sangat dalam dibalik pilihan berjilbab. Menurut saya orang berjilbab tidak selalu alasannya religius. Ada yang sekedar ikut-ikutan, cari jodoh, agar terlihat lebih cantik, menutup rambut yang sulit diatur atau kulit yang kusam, dan lain-lain. Kita tidak bisa menilai atau meminta seseorang berjilbab. Ketika adik saya meminta saran saya apakah perlu berjilbab atau tidak, menurut saya sih itu bebas saja sesuai keyakinan dia.

Kalau ada yang bilang, mau memperbaiki ahlak dulu baru berjilbab atau malu berjilbab karena merasa belum pantas, ini yang bisa saya bantah. Ahlakmu tidak akan berubah-berubah! Bahkan jilbab yang akan membantumu memperbaiki akhlak.

Nah, jadi begitulah pengalaman saya berjilbab. Sudah dulu ya, saya mau nonton Raja Salman lagi. Siapa tahu bisa melihat pangeran-pangeran yang seharusnya menutup ketampanannya itu.

Me, my sistas, and mom in 2017.
Me, my sistas, and mom in 2017. Abaikan diriku yang merem, yang penting 3 lainnya Ok kan?

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Jilbab dan Saya, Pengalaman berjilbab di tahun 90-an

  • March 2, 2017 at 8:09 pm
    Permalink

    Alhamdulillah . . .

    Reply
  • July 12, 2017 at 12:21 pm
    Permalink

    Assalamu’alaikum

    Pas baca artikel ini saya baru sadar ternyata tahun 90an (saya lahir di akhir era 90an) merupakan tahun tersulit bagi muslimah yang ingin berjilbab. Bayangin aja jaman dulu kalau mau sekolah atau kerja aja ga boleh pake jilbab.

    Kalau sekarang sih alhamdulillah mau sekolah ataupun kerja aja udah boleh pake jilbab, bercadar juga. Cuma cobaan ketika berhijabnya tetap ada, yaitu disangka fanatik bahkan lebih menyedihkannya dibilang teroris oleh orang lain :'(

    Monggo mampir : coretanhatiukhti.blogspot.com

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: