Pengalaman Melatih Kemandirian Anak

Mendapatkan materi Melatih Kemandirian Anak di Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, membuat saya jadi ingat PR lama yang tidak beres-beres. Yaitu merekam proses kemandirian Raka dan Sasya hingga umur mereka hampir 10 dan 7 tahun saat ini. Selama ini proses itu hanya tersimpan dalam kepala atau sekedar foto-foto keseharian mereka.

 

Mengapa kemandirian anak perlu dilatih?

Saya sepakat bahwa kemandirian identik dengan rasa percaya diri. Percaya diri datang dari rasa berdaya dan tidak bergantung pada orang lain. Merasa “Saya bisa!” memiliki pengaruh besar pada perkembangan karakter anak.

Anak juga menjadi lebih mengenal diri sendiri dan mampu mengukur kemampuannya. Ia akan belajar untuk bisa melihat masalah yang dihadapinya dan berusaha untuk mengatasinya.

 

Prinsip melatih kemandirian

Saya menyimpulkan beberapa prinsip berikut dalam melatih kemandirian anak-anak selama ini:

#1 Membiarkannya menjadi kebutuhan alami anak

Saya tidak tahu apakah karena saya ini ibu yang malas atau apa, tapi saya memilih melatih kemandirian anak secara alami. Entah dapat wangsit darimana, menurut saya kemandirian anak itu akan muncul dengan sendirinya secara alami. Jika kita merekayasanya, maka energi yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Tapi ini memang sangat tergantung kasusnya.

Di sini kesabaran saya di uji. Apakah suatu masalah menjadi masalah saya, atau masalah anak? Ketika anak tidak mau merapikan mainannya kembali, apakah itu masalah saya yang akan kelelahan untuk mengaturnya kembali atau masalah anak saya yang tidak nyaman dengan ketidakrapian? Untuk masalah toilet training, apakah itu masalah saya yang tidak sanggup beli popok sekali pakai (pospak) lagi atau masalah anak yang butuh untuk membersihkan dirinya?

Saya jadi teringat sebuah kutipan dalam buku Bicara Bahasa Anak (Noura Books, 2014) yang ditulis oleh Rani Razak Noeman.

Ini bukan masalah saya, saya tidak boleh panik dan mengambil alih masalah anak. Biarkan kesadarannya muncul sendiri dan ia mencari jalan keluarnya sendiri. – Rani Razak Noeman, dalam buku Bicara Bahasa Anak

Berdasarkan pengalaman, jika tidak diintervensi dengan cara yang salah, kebutuhan alami akan muncul sesuai usia anak. Misalnya toilet training di usia 1-3 tahun, makan sendiri di usia dibawah 5 tahun, kebutuhan bersosialisasi dengan orang lain di usia 3 tahun, kebutuhan untuk bisa membaca dan menulis di usia 5-7 tahun, kebutuhan untuk belajar di usia 7 tahun, keinginan untuk beribadah di usia 7 tahun, dan lainnya.

 

#2 Menjadi teladan

Ini batasan saya dalam melatih kemandirian anak. Kalau saya saja belum bisa, biasanya saya tidak terlalu keras sama anak-anak. “Lah wong emaknya saja belum bisa, bagaimana mungkin bisa memaksa anaknya melakukan hal yang sama.” Ketika saya memaksa anak-anak mengembalikan mainan pada tempatnya, saya juga harus menjadi contoh untuk tidak meletakkan segala sesuatu secara sembarangan. Saat saya berharap anak suka belajar, saya juga harus bertanya pada diri sendiri, “Sukakah saya mempelajari hal baru?” Percayalah, ini berat.

 

Kemandirian anak

Berikut beberapa kemandirian anak yang telah kami lakukan selama ini. Rencananya akan saya bahas satu per satu dalam tulisan terpisah.

#1 Toilet Training

Berdasarkan pengalaman saya, toilet training anak perempuan lebih mudah daripada toilet training anak laki-laki. Raka baru bisa lepas pospak pada usia menjelang 4 tahun dan baru bisa berhenti mengompol setelah di sunat di usia 6 tahun. Sedangkan Sasya telah lepas pospak pada usia 2 tahun kurang 2 bulan. Dan itu dilakukan dengan mulus tanpa usaha keras. Tidak ada cerita ngompol untuk kasus Sasya.

 

#2 Makan sendiri

Yang penting buat saya untuk soal makan ini adalah kemampuan anak mengenali rasa laparnya. Saya berusaha untuk tidak memaksakan anak makan dan membuat makan menjadi saat yang menyenangkan.

Tapi soal makan ini adalah kasus intervensi yang salah. Saya memilih menyuapi anak hingga menjelang masuk sekolah dengan alasan kepraktisan. Sekitar 30 menit menyuapkan 2 anak dalam 1 piring tanpa repot harus membereskan sisa-sisa makanan yang berantakan. Saat itu anak-anak sangat aktif bergerak, maka saya memilih menyuapi mereka sambil membiarkan mereka terus beraktivitas. Andai saya mau sedikit sabar, sebenarnya saya bisa melatih anak makan sendiri dengan lebih dini.

 

#3 Mandi dan berpakaian sendiri

Raka dan Sasya sudah bisa mandi dan berpakaian sendiri di usia masuk TK. Sekitar 5 tahunan keduanya sudah tidak pernah saya mandikan lagi. Sempat Sasya kutuan atau kulit kepalanya kotor karena bisa jadi tidak bersih saat menyampo rambutnya sendiri. Tapi masalah itu bisa selesai dalam 1-2 hari. Mereka juga sudah bisa memilih sendiri pakaian yang akan mereka pakai. Saya membiarkan mereka memadu padankan atasan dan bawahan yang mereka sukai. Walau kadang terlihat aneh dan salah kostum, saya berusaha menghargai pilihan mereka.

 

#4 Merapikan mainan

Untuk urusan ini saya juga tidak terlalu kaku. Karena saya lebih butuh anak-anak yang kreatif daripada rumah yang rapi. Kalau saya perhatikan dari kedua anak saya, ada batas usia anak untuk bisa merapikan keberantakan yang ia buat saat beraktivitas. Saya lihat mereka sering kebingungan ketika melihat kamarnya jungkir balik dengan segala potongan kertas dari suatu proyek yang tengah dikerjakan. Energi mereka terkadang sudah habis untuk membuat duluan, dan tidak sanggup untuk merapikannya. Kalau dipaksakan, saya kok khawatir mereka jadi malas untuk berkreasi. Jangan-jangan malah jadi lebih memilih asyik bergadget yang tidak repot dibersihkan. Ini yang malah saya tidak suka.

Di usia menjelang 6 tahun, anak-anak mulai suka kerapian dan menghargai hasil karyanya. Raka sering sedih kalau mainan hasil karyanya hilang tersapu. Dari situ kebutuhannya untuk menyimpan kembali mainannya muncul. Kalau Sasya, mulai gampang marah kalau melihat kamarnya berantakan. Ia akan menangis minta dibantu untuk membersihkan kamarnya. Bahkan akhir-akhir ini, ia sudah mampu membersihkan kamarnya tanpa dibantu. Ia mengistilahkan “Ledakan bersih,” suatu kondisi dimana kamarnya tiba-tiba bersih kinclong tanpa bantuan Mama. Fyiuh… finally…

 

#5 Kebutuhan untuk belajar

Urusan yang satu ini, saya merasa sangat sukses. Tidak ada dalam kamus saya menyuruh anak-anak belajar. Anak-anak hanya perlu belajar jika mereka merasa butuh untuk belajar. Kalau tidak merasa perlu ya tidak usah belajar.

Saya memang tidak pernah membatasi arti belajar sebagai duduk diam sambil membaca atau menulis. Belajar itu dilakukan anak sepanjang hari. Bagaimana ia belajar berkomunikasi, belajar sambil menonton TV, belajar sambil bermain dengan teman-temannya, dan lain-lain. Belajar itu menyatu dalam keseharian.

Raka dan Sasya punya 2 cara belajar yang berbeda. Raka punya daya tangkap yang sangat luar biasa. Sekali lihat, segala sesuatu bisa menempel kuat diingatannya. Sedangkan Sasya sangat kesulitan dalam mengingat sesuatu. Saya sempat berpikir, ada kemungkinan Sasya akan mengalami keterlambatan dalam menguasai sesuatu jika dibanding Raka. Tapi ternyata anggapan itu salah. Dengan kebutuhan belajar yang sama, Sasya bisa memperbanyak durasi belajarnya sehingga ia bisa mencapai hasil yang sama dengan Raka.

Raka bisa membaca pada usia 4 tahun, dan Sasya pada usia 5 tahun. Keduanya bisa secara alami tanpa intervensi khusus dari saya. Kebutuhan Sasya untuk bisa membaca begitu kuat sehingga ia berusaha keras untuk segera bisa membaca. Padahal ia sebenarnya sangat kesulitan untuk bisa mengingat huruf demi huruf. Juga keinginannya untuk bisa menuliskan sesuatu, memaksaknya segera bisa menulis. Bahkan tulisan tangan Sasya lebih bagus daripada Raka di usia yang sama.

 

#6 Menyiapkan makanan

Bisa jadi pengaruh punya Mama yang malas memasak, kemampuan anak-anak untuk menyiapkan makanan sendiri juga muncul di usia menjelang 7 tahun. Saat ini kalau merasa lapar Raka sudah mampu membuat telur ceplok sendiri, masak nasi di rice cooker, membuat ayam tepung, merebus sayuran kesukaannya, membuat puding, membuat roti bakar, dan lainnya. Sasya juga sudah bisa membuat telur, membuat susu sendiri, membersihkan buah yang hendak di makan, mempersiapkan susu dan kokokrunch, dan lainnya. Intinya mereka sudah tidak terlalu merengek minta dilayani jika kelaparan. Bahkan bisa dimintai tolong untuk membuatkan Mama sekalian. What kind of mother am I?

 

#7 Berangkat sekolah sendiri

Inilah alasan utama mengapa kami memilih sekolah yang terdekat dari rumah. Agar anak bisa sedini mungkin berangkat dan pulang sekolah sendiri. Kebetulan sekolah anak-anak letaknya hanyalah di depan kompleks. Kira-kira jaraknya hanya 500 meter dari pagar rumah hingga ke gerbang sekolah. Namun memang terpisah oleh jalan umum yang ramai. Perlu keberanian ekstra buat mereka untuk bisa menyebrang.

Raka bisa pulang dan pergi sekolah sendiri naik sepeda saat akhir TK A di usia 5 tahun. Sasya bisa pulang sekolah sendiri saat TK B. Baru beberapa hari terakhir ini, ia juga sudah bisa pergi sekolah sendiri. Rasa bangga atas kemandiriannya itu benar-benar terasa kental sekali.

 

#8 Keinginan membantu urusan rumah tangga

Ternyata keinginan ini muncul di usia 3-5 tahun. Cuma banyak orang tua paling nggak sabar direcokin oleh anak-anak pada usia ini. Mereka bukannya membantu malah menambah pekerjaan kita. Itu yang saya rasakan. Tapi ternyata kuncinya memang di sini. Jika kita memberikan kesempatan itu di saat ini, maka mereka akan lebih terlatih.

Saya seringnya kurang sabaran dalam hal ini. Baru pada usia 6 tahunan, anak-anak saya ijinkan membantu urusan rumah tangga seperti menyiram tanaman, cuci piring, mengepel, membersihkan akuarium, dan sejenisnya. Itu pun kalau mereka mau saja.

 

#9 Menjalankan ritual ibadah (sholat, puasa, dan mengaji)

Ini memang kasus yang sangat aneh. The power of 7 years berlaku untuk kasus Raka. Saya sempat ingin memaksakan Raka sholat, puasa dan mengaji saat usianya 5 dan 6 tahun. Masya Allah berat banget. Sempat saat puasa ia nangis meraung-raung mau segera buka karena kelaparan, padahal baru pukul 10 pagi. Sasya juga begini gayanya ketika diminta puasa. Akhirnya saya menyerah dan tidak memaksakan mereka. Saya bilang sama Raka, kalau anak 7 tahun harus sudah disuruh sholat dan puasa. Ia pun janji akan sholat dan puasa saat sudah 7 tahun. Dan sim salabim, di tanggal 23 Maret 2014 saat usianya 7 tahun, Raka langsung rajin sholat 5 waktu tanpa di suruh. Dan itu berlangsung hingga saat ini. Puasa pun langsung lancar 1 bulan penuh tanpa air mata. Bahkan tanpa iming-iming apa-apa. Soal mengaji tidak perlu ditanya. Rajinan dia daripada emak bapanya. Raka punya target 1 hari 1 lembar dalam membaca Al Quran. Ia berencana menamatkan Al Quran sebelum Ramadan tahun ini.

Sasya belum 7 tahun. Kadang sholat kadang nggak. Banyakan tidaknya sih. Berdasarkan pengalaman kakaknya, saya menunggu hingga umurnya 7 tahun beberapa bulan lagi. Yang menarik adalah kesukaan Sasya berpakaian muslimah. Mungkin karena kebiasaan di sekolah, Sasya suka sekali pakai jilbab. Saat main pun ia sering pakai jilbab. Enak katanya. Kalau pergi-pergi Sasya sebenarnya lebih suka pakai baju muslim daripada baju biasa.

Demikian 9 kemandirian anak-anak yang berhasil saya ingat. Sebenarnya detilnya punya cerita yang panjang dan akan saya tulis dalam postingan-postingan selanjutnya.

Setiap anak dan keluarga pastinya memiliki keunikannya masing-masing dalam melatih kemandirian. Bagaimana dengan teman-teman?

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: