Mengenali Media Sosial yang Gue Banget

Hari gini siapa sih yang tidak punya sosial media? Menurut data Digital, Social, and Mobile in 2015 rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 5 jam per hari untuk berselancar di dunia maya, termasuk bersosial media. Kira-kira waktu 5 jam yang kita habiskan itu efektif untuk meningkatkan produktivitas atau malah menghancurkannya?

Ada lebih dari selusin media sosial yang banyak dipakai orang. Akun-akun yang umum seperti Facebook, Twitter, Instagram, Google+, Pinterest, Blog, Path, YouTube, WhatsApp, Line, dan banyak lagi. Apa iya kita harus punya semuanya biar kekinian? Kapan sempat dibacanya?

age restrictions for social media
Sejumlah sosial media dan batasan umur untuk penggunanya.

Dalam postingan kali ini, saya ingin sharing pengalaman saya bersosial media. Sebagai orang yang memiliki jaringan wifi berlimpah di rumah, saya tidak kesulitan dalam mengakses media sosial. Hanya saja sebagai ibu rumah tangga dengan 2 anak, saya tidak punya waktu terlalu banyak juga untuk mengakses banyak media sosial.

Buat saya, media sosial adalah alat untuk berhubungan dengan orang lain dengan murah meriah. Tidak kebayang deh kalau harus menghabiskan waktu dari satu tempat ke tempat lain, sekedar untuk bertemu dengan seseorang. Dengan media sosial, banyak orang dan ilmu bisa di dapat hanya dengan dasteran di dapur. Penting banget ini buat emak-emak.

Berikut media sosial yang saya pilih:

 

#1 Blog

Karena suka menulis, blog menurut saya adalah media sosial yang penting. Saya merasa perlu punya blog karena tulisan bisa terarsip dengan rapi dengan kategori tertentu. Ada rak untuk menyimpan oleh-oleh ilmu-ilmu yang saya dapat, ilmu menulis, pengalaman, dan lainnya.

Tulisan mungkin bisa saja cukup di status Facebook atau Notes Facebook. Tapi kita akan kesulitan jika perlu mencarinya lagi. Tulisan di blog akan lebih mudah dilacak oleh browser. Bahkan bisa mendatangkan keuntungan finansial loh.

Tiap hari saya pasti datang ke blog. Sekedar untuk nyapu-nyapu dari sarang laba-laba atau tengok-tengok statistik untuk melihat berapa tamu yang datang hari ini. Sambil ngecek-ngecek, orang-orang sukanya ke kamar mana aja? Kalau perlu, ya sekedar say hello sama yang memberi komen. Idealnya saya ingin menulis setiap hari satu tulisan, tapi kenyataannya terkadang 1 minggu 1 tulisan saja. Biasanya karena saya keasyikan jalan-jalan ke blog orang lain.

 

#2 Facebook (FB)

Bergabung dengan jamaah facebokiyah saya jalani bukan sekedar karena facebook penggunanya terbanyak dibanding media sosial yang lain. Bayangkan saja, 1,3 milyar orang terhubung dengan Facebook menurut data Digital, Social, and Mobile in 2015. Rasanya hampir semua orang punya Facebook.

Dan saya ikut-ikutan? Bisa ia bisa nggak.

Memang karena banyak yang pakai, saya melihat Facebook sebagai media yang asyik untuk berhubungan dengan banyak orang. Ada teman SD saya di Dompu NTB yang terakhir saya jumpai tahun 1987, ada teman-teman SMA di Karawang di era 90-an, ada teman-teman kuliah, saudara-saudara yang tersebar se-Indonesia raya ini, teman-teman satu hobi dan komunitas yang tersebar di berbagai negara.

Facebook ini kelebihannya memang segala aya. Bisa menulis panjang, bisa menyimpan foto dengan rapi di album, bisa berbagi video, juga bisa buat grup-grup seru. Punya grup di Facebook itu penting. Karena tidak ada istilah informasi yang kelelep atau tenggelam karena tidak sengaja clear chat seperti di WhatsApp.

Banyak yang mengeluh Facebook tidak nyaman karena terlalu banyak berita pro kontra yang berseliweran. Kalau buat saya itu tidak terlalu menjadi masalah. Sebenarnya kontrol apa yang mau dilihat tetap ada di tangan kita. Buat saya media sosial untuk berita yang informatif saja, makanya saya mengunfollow semua yang tidak terlalu penting. Beberapa akun penting bahkan saya kasih tanda bintang, sebagai akun yang perlu dilihat pertama saat membuka Facebook. Tentunya akun-akun yang berhubungan dengan kepenulisan.

Saya juga berusaha membatasi pertemanan hanya dengan yang saya kenal secara personal atau berada dalam satu komunitas. Kalau perlu fans, cukup di Page Facebook saja. Alhamdulillah, dalam 1 tahun fans Page Shanty’s Story terkumpul 300 orang.

Saya sombong karena tidak mudah menerima pertemanan? Nggak juga. Lebih tepat karena saya menganggap pertemanan media sosial itu pertemanan 2 Dimensi. Kalau kita tidak benar-benar mengenal orangnya, agak repot menjalin hubungan pertemanan karena bisa bias memandang pendapat seseorang. Apalagi hari gini mudah sekali menjudge orang yang berbeda sebagai orang kafir.

 

#3 WhatsApp (WA)

Ada banyak media sosial sejenis seperti BBM, Line, atau Telegram. Tapi saya merasa cukup dengan satu WhatsApp tercinta saja. Bukan hanya karena tidak ada waktu, Smartphone saya akan jadi lemot jika kebanyakan aplikasi.

WhatsApp sudah cukup mewadahi kebutuhan untuk ngobrol santai, rapat serius, mengirim foto, video, dokumen, suara, lokasi sampai membuat sejumlah grup. Agar tidak overload informasi, saya usahakan jumlah grup WhatApp tidak lebih dari 19 grup. Baca juga postingan Tips ber-WhatsApp group dengan Nyaman.

 

#4 Instagram (IG)

Kalau ini beneran sekedar ikut-ikutan. Saya nggak bisa pakai Instagram dan jarang buka. Instagram ini untuk yang suka foto-foto sebagai media penyampaian ekspresi. Instagram ini juga tempatnya para penjual online shop berkumpul.

 

#5 Twitter (TW)

Terus terang, sebagai orang yang alergi dengan tulisan yang disingkat-singkat, saya kesulitan baca twitter. Perlu kecerdasan tingkat tinggi untuk bisa menyingkat sebuah informasi hanya dalam 140 karakter. Tapi terkadang saya perlu twitter untuk menghubungi orang atau lembaga penting. Mereka semua aktif di Twitter euy. Jadi kalau saya perlu mereka, cukup di tweet saja. Biasanya langsung nyaut.

 

#6 Path

Saya punya akun path sekedar karena blog memungkinkan sharing otomatis di path. Juga karena ada beberapa teman yang hanya suka path yang menurut mereka cukup intim. Maklum pertemanannya hanya dibatasi 500 orang saja. Jadi pasti hanya yang benar-benar kenal saja. Saya sendiri rasanya kurang cocok dengan path, karena teman saya lebih dari 500. Dan kayanya aneh saja kalau teman di Path dan FB sama saja.

 

#7 YouTube

Kalau yang ini untuk yang suka buat video. Kan lagi happening banget nih buat Vlog atau video tutorial. Saya pun buat akun YouTube dengan niat ini. Cuma apa daya diriku tidak cerdas camera. Malah anak-anak yang mensabotase akun YouTube Mamanya dengan membuat channel sendiri. Ah memang masih perlu belajar banyak dari anak-anak dulu.

 

#8 Pinterest

Di sini gudangnya ilmu-ilmu praktis dalam bentuk yang cantik untuk dilihat. Saya suka cari ide planner cantik, gerakan senam, atau tips menulis keren di Pinterest. Tapi belum pernah kepikir untuk ikutan sharing sesuatu di Pinterest. Minder…

 

#9 Linkedin

Ini akun untuk para profesional. Tempat ngumpulnya orang-orang dengan sejumlah keahlian. Di sini kita bisa lihat profil data sejumlah orang dengan detil. Segala IPK dan pelatihan yang pernah diikuti bisa diketahui.

 

Dari 9 media sosial populer di atas, saya hanya aktif di 3 yang pertama. Itu pun menghabiskan waktu cukup banyak. Saya memang masih perlu belajar banyak untuk bisa bijak bermedia sosial. Kemampuan kita memilih media sosial yang tepat dan efektif memang bisa mempengaruhi produktivitas.

Bagaimana dengan teman-teman? Apa media sosial apa yang gue banget? Share dong ceritanya di kolom komen di bawah.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: