Kulwap ke-9 #ODOPfor99days bersama Farda Semanggi

Berawal dari obrolan di grup WhatsApp #ODOPfor99days tentang dunia editor dan penerbitan buku, kami pun teringat punya kakak kelas yang telah menelurkan 2 buku keren. Senang sekali ketika Itsnita Husnufardani – yang memilih menggunakan nama pena Farda Semanggi untuk kumpulan tulisan The Diary of Leaner Mommy #1 (Sinar Gamedia, 2016) dan sebuah ontologi Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom (Aryoko Indonesia, 2017) bersedia berbagi pengalaman dalam sebuah kuliah whatsApp (Kulwap).

Berikut resume Kulwap dengan Farda Semanggi yang dilaksanakan di jam bobo siang 14.00 – 15.00 wib, Jumat 17 Februari 2017.

#1 Pertanyaan Sundari Eko Wati, Tangerang
www.sundariekowati.wordpress.com

Bagaimana cara menerbitkan buku indie?
Saat ini saya sedang konsisten mewawancarai ibu-ibu muda dari berbagai background, pekerjaan dan tempat tinggal, ada keinginan untuk menyatukannya dalam sebuah buku. Sampai saat ini hasil interview/ngobrol-ngobrol saya publish di blog saja. Wawancaranya berisi kehidupan mereka sebagai istri dan ibu, impian, tantangan yang dihadapi dengan latar belakang masing-masing.

Contoh ada ibu lulusan S2 yang memilih jadi IRT, ibu muda yang menyeimbangkan waktunya dalam menempuh program doktoral di Jepang dan mengasuh anak, ibu muda asal indonesia yang menikah dengan warga Turki, dan lain-lain. Apakah buku dengan isi/metode penulisan seperti ini bisa diterbitkan?

Jawaban:

Salam kenal mbak Sundari.
Mengobservasi dan mewawancarai itu menjadi salah satu teknik metode penggalian ide dan bahan tulisan. Apapun cerita yang kita dapatkan sebenarnya bisa dibuat dalam sebuah karya buku. Tantangannya pada cara mengemas tulisan yang disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan penerbitan. Tujuan kita sebagai penulis sebenarnya ingin apa? Itu yang harus digali lebih dalam sebagai dorongan internal terkuat.

Jika orientasi profit, maka sesuaikan dengan segmen pasar, tampilan kemasan, dan strategi pemasaran.
Jika orientasi sosialis, maka galilah apa kemanfaatan dari tulisan itu? Gali dan jadikan alasan dasar berkarya.
Begitu pula dengan tujuan idealisme, sekedar hobi atau lainnya.

Tips dari saya, cari benang merah dari bahan mentah (saya menyebutnya demikian) yang sudah mbak Sundari lakukan tersebut. Dan permanis dengan bahasan atau plot yang ingin dikaryabukukan. Keep Forward!

 

#2 Pertanyaan Larasati, Bandung
www.rumahmenulislaras.com

a. Bagaimana awalnya mba Farda menjadi penulis?

Jawaban:

Saya bukan penulis mbak Laras hehe, cuma kebetulan saja suka menulis. Suka menulis apapun yang bisa ditulis, dari jadwal rutin, agenda, target, diary, dan tugas-tugas studi saya dulu berisikan  kegiatan menulis laporan anamnesa klien yang isinya laporan tulisan berlembar-lembar. Menulis status facebook pun juga suka. Ada banyak proses transformasi diri selama hidup saya yang selalu dibarengi dengan kegiatan menulis. Oleh itu sebenanrya menulis sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup agar saya jadi lebih baik.

 

b. Bagaimana mengembangkan ide yang ada, menjadi sebuah buku?

Jawaban:

Mudah mbak, gali ketertarikan diri pada suatu hal, lalu perbanyak data dengan kumpulan metode pengamatan, wawancara dan atau studi literatur lalu olah ide tersebut membuat sesuatu yang menarik di baca. Dikembangkan menjadi sebuah sudut pandang yang baru dan unik, segar sesuai zaman. Kalau kita pernah buat skripsi atau laporan tugas dinas, haa kurang lebih mirip-mirip tahapannya. Make it simple. Nanti akan 3L yang akan membedakan sensasi teknisnya, latihan..latihan..latihan.

 

#3 Pertanyaan Nur Alfia Ekawati, Bondowoso Jawa Timur
www.myizziblog.blogspot.com

a. Banyak yang menganggap buku indie memiliki kualitas di bawah buku terbitan penerbit mayor. Bagaimana menurut pendapat mbak Farda?

Jawaban:

Ada benarnya, karena kalau kita menerbitkan indie/self publish semua proses kita yang bertanggung jawab penuh. Berdasarkan pengalaman dari naskah mentah, lay out, design cover, sampai editing dan proofreader pun bisa jadi kita yang handle semua. Bahkan sampai pemasaran dan penjualannya.

Tapi dari situ kita paham bagaimana proses alur dan lika liku membuat buku. Memahami celah peluang aneka tantangan saat menerbitkan buku. Kalau di penerbit major karena sudah ada sisi pertimbangan profit dan kenamaan penerbit. Maka proses menerbitkan buku harus penuh uji dan standarisasi sesuai mau penerbit tersebut.

Logikanya seperti kalau kita mau jualan keripik tempe yang diproduksi sendiri lalu dijual ke tetangga rumah (Self Publish/indie) atau keripik tempe kita jadi partner sebuah perusahaan dengan bantuan dampingan dan polesan yang lalu dijual dengan ada branding nama mereka (Penerbit Mayor).

Ada tidak benarnya, karena banyak penulis hebat best seller yang memulai karirnya, justru dari penerbit Indie, sebut saja Dewi “dee” Lestari dan Asma Nadia. Yang selanjutnya banyak dipinang oleh penerbit mayor. Bahkan, ada beberapa yang saya kenal penulis belum pernah punya karya best seller, tapi bisa masuk penerbit mayor seperti Gramedia dan imprint nya (elex media dll) karena punya networking untuk menembus penerbit mayor tersebut. Walau saya cukup yakin, ada beberapa buku karya penulis lain yang setema tapi juga tidak kalah bagus isi karyanya.

Jadi sebenarnya tugas kita hanya menulis dan terus meningkatkan jam terbang menulis. Nanti urusan rejeki tidak akan pernah tertukar. Usaha tidak pernah mengkhianati hasilkan.

 

b. Kenapa memilih menerbitkan buku secara indie?

Jawaban:

Kemarin saya menerbitkan buku karena alasan idealisme, dikejar target pribadi hehe. Sengaja menyemplungkan diri dalam badai pembuatan buku secara otodidak (baca:bener-bener nekat).

Saya ingin menyelesaikan Project Personal saya : 365Days Writing Project. Minimal part 1 saya rampung dan jadi buku, bisa saya hadiahkan untuk ulang tahun saya sendiri ke 29 tahun.  Alhamdulillah di bulan kelahiran November kemarin buku sudah duduk manis di meja kerja saya. Ketika buku rampung (walau banyak cacat sana-sini haha). Saya merasa peer saya ada yang selesai. Ini tentang sebuah integritas diri.

 

c. Bagaimana tips memilih penerbit indie yang baik?

Jawaban:

Sebenarnya saya belum banyak pengalaman memilih penerbit indie, tapi ada beberapa hal yang saya perhatikan. Pertama, track record penerbit tersebut. Bisa kita lihat dari buku-buku yang sebelumnya sudah pernah diterbitkan. Kedua,lihat fasilitas penawaran nya misal layout, ada editingnya kah, atau tawaran promosi lainnya. Ketiga, paket penawaran sesuaikan dengan budget dan kemampuan kantong kita. 

 

d. Bagaimana strategi pemasaran buku yang mbak farda lakukan?

Jawaban:

Sejauh ini karena saya masih belajar menulis saja, belum berorientas profit. Pemasaran banyak dilakukan konvensional saja memanfaatkan sosial media dan direct marketing ke orang-orang terdekat. 

 

#4 pertanyaan Madu Retno, Tulungagung Jawa Timur
www. inspirasimadu.com

a. Kata orang menerbitkan buku secara indie berarti pemasaran buku banyak dilakukan oleh penulis sendiri. Bagaimana menurut mbak Farda?

Jawaban:

Benar, sebagian besar proses pemasaran dilakukan oleh penulis. Tapi ada juga penerbit indie yang memasarkan setiap kali ada buku baru terbit, minimal dipajang rak buku digital penerbit tersebut. Kalau penerbit indie, sebagian besar menggunakan power of figur. Sejauh apa penulis itu dikenal, memiliki lingkup lingkar pembacanya dan isi bukunya bermanfaat biasanya ledak dipasaran. Dan siap-siaplah dipinang oleh penerbit mayor.

 

b. Apa ada penerbit indie yang recomended menurut mbak farda?

Jawaban:

Masing-masing penerbit ada karakteristiknya masing-masing mbak, sama hal nya core value sebuah perusahaan. Maka tugas kita harus memastikan kita dan tulisan kita sesuai apa tidak dengan misi penerbit indie tersebut. Ada penerbit yang umum, bersifat sosialis, menyasar segmen spiritualitas, atau yang penting bisa asal terbit juga ada. Bisa googling ada banyak, Gazzamedia, leutikaprio, indi publishing, nulisbuku, pohon cahaya, indiva press, stiletto. Buku kedua saya pakai Andita Publisher punya teman kenalan.

 

#5 pertanyaan Ita Susanti, Bandar Lampung.
www.itasusantiblog.wordpress.com

a. Saya penulis pemula. Apa yang harus saya lakukan agar saya dapat lebih cepat menulis dengan baik?

Jawaban:

Tidak ada resep yang paling manjur kecuali perbanyak latihan..latihan..latihan.  Agar mendapat ide,mengolah ide dan menulis ide berjalan dengan baik.

 

b. Adakah grup yang bisa saya ikuti selain grup ODOP ini agar saya lebih cepat belajar menulis?

Jawaban:

Wah banyak mbak, bisa tanya mbak Shanty dan temen-temen blogger disini yang lebih jago dari saya. Ada komunitas Bisa, One Week One Story, Santri menulis, Pesantren menulis, Forum Lingkar Pena..waah banyak. Tapi kembali, perbanyak prakteknya ya. 

 

#6 pertanyaan Nuzulya Safitri Ilahude, Tangsel

a. Sebelum menerbitkan buku lewat penerbit indie, apakah Mbak Firda pernah mempertimbangkan utk menerbitkan buku dengan cara self-publishing? Dan apa alasannya akhirnya memilih penerbit indie?

Jawaban:

Yang saya pahami, ketika menerbitkan buku dengan sendiri itu termasuk self publishing walau juga dibantu dengan bantuan penerbit skala kecil (indie). Mohon di kroscek y. Buku pertama saya The Diary of Learner Mommy #1 sempat ditawari masuk ke Gramedia oleh salah satu guru saya yang kebetulan ada networking ke penerbit tersebut… tapi ya itu tadi tidak ada jaminan akan benar-benar terbit, dan tentu akan melalui proses yang lebih lama rata-rata  kurang lebih 6-12bulan dari pemilihan naskah, editing sampai buku benar-benar jadi.  Lha..saya dikejar deadline sendiri, maka tidak ambil pusing penerbit mana, yang penting saya segera melahirkan si jabang buku ini, sudah ga kuat ngedennya. Heee….  Sudah keburu ada banyak ide buku lainnya.

 

b. Kalau tidak keberatan untuk berbagi, berapa modal finansial yang harus dikeluarkan Mbak Firda untuk menerbitkan buku lewat penerbit indie? Sempatkah melakukan riset juga berapa biaya yg harus dikeluarkan jika ingin melakukan self-publishing?

Jawaban:

Tentunya saya survey mana penerbit indie yang paling cocok dan sesuai dengan kemauan saya. Ada paket terbit yang berskala 1-2 juta. Ada juga yang minimal cetak 50 buah buku. Modal yang dikeluarkan itu sebenarnya untuk buku beberapa guru kehidupan yang sudah memberi inspirasi dan testimoninya atas karya saya. Yang saya kirimkan setelah naik cetak. Oia, untuk cover kemarin saya cukup idealis jadi saya tidak memanfaatkan fasilitas dari penerbit namun sengaja buat sendiri lagi. Selebihnya saya pakai system Pre Order, yang pemesan buku pasti akan membeli bukunya diawal pemesanan.

 

c. Bagaimana cara Mbak Farda membagi waktu antara menulis, menjadi ibu, dengan kegiatan lainnya? Dan bagaimana cara menuangkan ide yang ada agar bisa terus terinventarisasi di tengah kegiatan yang padat?

Jawaban:

Saya masih terus belajar untuk menyeimbang semua itu. Namun, karena ketertarikan saya menulis banyak mendapatkan dari ide keseharian sebagai ibu istri. Maka semua terasa blended saja. Mendapat ide menulis seputar ketertarikan dibidang kemuslimahan, self empowerment dan menulis kreatif. Saat berkegiatan offline disitu saya mendapat banyak ide segar, bahan untuk mendapatkan data. Menulis saya selipkan 1 jam setiap hari saat si kecil sudah tidur siang atau tidur malam. Seringkali ide menulis datang tiba-tiba, maka ada papan khusus untuk menulis ide-ide yang tidak sopan datang mbrudul tersebut biar tidak lepas. Karena ide itu yang sebenarnya berharga. Bisa menjadi kesibukan seru ketika luang untuk mengembangkan ide/tulisan yang sudah ada. Alhamdulillah sudah ada 5 ide buku yang ingin saya garap ke depan.

 

#7 pertanyaan Ika Ummu Arrahma, Metro Lampung

a. Apakah ketika menulis buku fokus pada buku yang digarap atau tetep menulis di blog atau web ?

Jawaban:

Saya tidak punya web mbak, blog pun mati suri hehe. Hanya FB yang lumayan sering saya kunjungi. Karena saya memprioritaskan pekerjaan offline sebagai ibu istri, dan pekerjaan mendampingin ibu-ibu komunitas sudah begitu menyita waktu. Jadi, saya menyesuaikan skala prioritas bahwa menulis memang  untuk habit dan sarana me time saja. Bisa jadi karena saya ambivert hehe (yang ga introvert ya ga ekstrovert juga). Silakan menyesuaikan dengan keunikan diri.

 

b. Berapa eksemplar buku yang di cetak dan penjualan dengan sistem bagaimana?

Jawaban:

Berapa cetak eksemplar tergantung jumlah preorder yang diminta pembeli buku. Karena sistem PO ini sangat bergantung pemesanan awal. Sengaja memakai system PO karena saya tidak menerima resiko ready stok buku yang bisa memenuhi rumah saya yang imut :D. Tergantung orientasi niat awal dan ekspektasi kita menulis untuk apa. Saya berekspektasi awal 10 buku untuk keluarga sendiri saja, tapi ternyata kemanfaatannya meluas sampai 40kali lipat. Toh bisa jadi banyak motif membeli buku ya, bisa jadi kasihan sama saya hehe, penasaran, membandingkan, atau memang benar-benar ingin membaca ide pikiran saya.  Saya sangat meyakini, bahwa apa yang ditulis dari hati bisa sampai di hati. Banyak sedikitnya buku yang terjual, tidak terlalu penting, yang terpenting ilmu berbuah amal bagi si pembaca itu keuntungan sejati buat saya.

 

c. Harga buku sudah ditentukan oleh penerbit indie atau bagaimana mbak farda?

Jawaban:

Sama seperti jualan mbak, dari penerbit biasanya ada perjanjian kerjasama. Ada yang print on demand, ada yang membeli naksah kita selama berapa tahun, ada yang berdasarkan royalty. Saya juga belum paham terlalu jauh. Pengalaman selama ini saya seperti menitipkan cetak buku ke penerbit dengan margin keuntungan yang telah disepakati kedua belah pihak.

 

#8 pertanyaan Nur Alfia Ekawati, Bondowoso

Tiap hari berapa lama dan berapa halaman mbak farda menulis?

Jawaban:
Tidak ada ketentuan baku sih mbak, kalau mau nulis ya nulis saja hehe. tapi kelamaan saya dapat mengukur polanya. Rata-rata kalau lagi ide bergas dan hasil pengolahan yang lama bisa 4-6 halaman kurang lebih 3 jam. Kalau ide baru dan bisa langsung eksekusi biasanya 2-3 halaman 2 jaman. Kalau lagi seret ya 200-300 kata sudah oke buat olah raga otak.

 

#9 pertanyaan Shanty Dewi Arifin, Bandung

Kalau pre order ke percetakan itu minimal berapa eksemplar Farda? Apa jumlah order mempengaruhi harga?

Jawaban:
Tergantung percetakannya mbak shanty, ada yang based on minimal order, ada yang berdasarkan paket penawaran mereka. Rata-rata ya main di angka 1-2.5 juta. Karena semakin banyak buku yang dipesan memang akan semakin murah di biaya cetaknya.

 

#9 pertanyaan Metta Oktavia, Bangka

Saya sering mati ide diperjalanan. Bagaimana cara menyambungkannya lagi yah mbaa.

Jawaban:
Ini untuk menulis apa ya mbak? Kalau novel/cerpen/cerbung saya juga kebanyakan pengalaman naskah banyak yang menggantung. Hihihi. Yang penting kita tahu mau menulis hal baru apa lagi, tidak berhenti total. ide mandeg bisa jadi karena kurang membaca, kurang mengolah ide dan kurang jalan-jalan. Cari inspirasi engan jalan ke tempat baru, berkenallan denagnn orang baru. Agar sinaps di otak juga segar ada sambungan ide bergas baru. Ayoo agendakan jalan-jalan.

 

#10 pertanyaan Anisa Andayani, Bandung

Apakah ada batasan minimal berapa halaman untuk sebuah buku bisa diterbitkan?

Jawaban:
Pembaca yang membeli karya kita biasanya akan ada pertimbangan ekonomis. Istilahnya berapa lembar sih yang harus saya beli “woth it” ga ya? maka beberapa penerbit mempersyaratkan minimal antara 200-300 lembar itu cukup layak terbit untuk skala novel ya.

 

#11 pertanyaan Dwi Septiani, Bandar Lampung

Mbak Farda.. pernah ngerasa minder gak dengan teman-teman lain yang hobi menulis juga.. tapi menulis yang ‘berat-berat’.. macem politik.. analisa ekonomi.. sedangkan kita nulis hal-hal rumah tangga yg bagi banyak orang itu ‘remeh temeh”..

Jawaban:
Tentu pernah merasa demikian mbak,wajar. Tapi jika mengingat bahwa setiap orang bisa menulis maka yang membedakan adalah seberapa impact tulisa tersebut kepada diri dan pembaca. Maka saya optimis bahwa saya punya keunikan dalam menulis, maka tugas say mencari sisi unik style saya menulis. Yang tidak bisa ditiru oleh orang lain.

Setiap penulis pasti memiliki lingkar pembacanya masing-masing, walau muatan tema dan skup bahasannya sama. Tapi saya percaya, orang yang berniat tulus menulis pasti saling bersinergi pada misi kepenulisannya. Jadi pede saja.

 

#12 pertanyaan Vidyasari, Leoben Austria

Berapa lama mba Farda totalnya menulis buku ini, dari mulaii awal ditulis, sampai diterbitkan?

Jawaban:
Saya menulis mulai fokus menjadikan buku total sampai sekarang seusia anak saya, 2,5 tahun. Karena menulis menjadi self healing yang paling mungkin bagi emak rempong yang tidak bisa kemana-mana di tanah perantauan. Biar waras saja.

Kalau proses sampai penerbitan, yang lama bagian editingnya yang membuat mbunek mbunek. Bagi saya lebih enak nulis daripada ngedit.

Idealnya buku diterbitkan dengan masa inkubasi 1-2 tahun untuk 1 buku. Tapi kalau mau express 3-4 bulan bisa jadi 1 buku, dengan pola 2 bulan menulis, 1 bulan edit-finishing, 1 bulan untuk poles-poles dan marketisasi pasar.

 

#13 pertanyaan Bunda Intan Rosmadewi, Bandung

Boleh dong kasih bocoran proyek 5 bukunya jadi #kabita

Jawaban:

Kalau ada bocoran nanti tidak jadi kejutan. Idenya ga jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari kok. Jadi emak rempong.

 

Menulis dengan Cinta

Wow tidak terasa 13 pertanyaan terjawab semua dalam waktu 1 jam. Sebagai salam penutup, Farda menyampaikan pesan rekaman audio,

“Salah satu alasan mendasar dan terpentingnya mengapa kita menulis sebagai seorang ibu adalah sebagai jejak history hidup kita selama mengarungi perjalanan hidup. Berjibaku jatuh bangun berjuang menjalani peran ibu dan istri sepanjang hayat yang tak pernah sama ujiannya di tiap masa waktunya. Dan dengan menulis kita bisa mendokumentasikan peristiwa dari semua sudut pandang yang kita alami. Apa yang ingin kita sampaikan, apa yang ingin kita harapkan ke depan, dan apa yang ingin kita perbaiki dari sebuah pembelajaran kesalahan. Dan bisa menjadi wacana harta warisan bagi generasi keturunan.

Maka teruslah menulis Bunda. Apapun itu, sebagai amal jariyah kita. Sedikit tambahan pemberat ikhtiar amal kebaikan kita. Dan biarkan mereka mengenal dan mengenang dari karya kita bukan dari orang lain. Usia kita mungkin tak sepanjang usia anak kita, tapi dengan tulisan dan ilmu yang bermanfaat akan terlintas sepanjang lintas batas generasi dan meluas menyebar merata.

Maka Bunda menulis dengan penuh cinta sepenuhnya ia memenuhi hatimu. Bahwa kita menjadi ibu sebagai bukti sejarah bahwa hati kita begitu indah. Selamat menulis di peradaban. Tetap semangat!”

 

Tentang Farda Semanggi

Nama Lengkap: Itsnita Husnufardani, S. Psi.

Nama pena: Farda Semanggi  (Semanggi itu singkatan dari Semangat Tinggi, bukan daerah rumahnya Farda, kalau ada yang mau tahu)

Lahir di Jombang, 18 November 1987.

Alamat: Perum Andalusia Regency blok, Giri-Gresik-Jawa Timur

Suami: Andik Nur Achmad S.Kom, Anak: Asmanina Abrarabbani (2y5m)

Facebook: https://www.facebook.com/itsnitahusnufardani

 

Aktivitas sehari-sehari:

  • Ibu Rumah Tangga bahagia @Semanggifamily
  • Fasilitator & Home Educator @Semanggifamily
  • Author buku The Diary of Leaner Mommy #1 dan Leader Book Project “Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom”
  • Narasumber kulwap diberbagai WhatsApp dan sharing session offline bertema Kemuslimahan (Ibu Anak dan Keluarga), Self Empowerment, dan menulis kreatif.
  • Leader Koordinator Ibu Profesional Surabaya Raya
  • Leader Fasilitator Nasional Institut Ibu Profesional
  • Pengurus Grup & Fasilitator HEbAT Surabaya – Jatim 1

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Kulwap ke-9 #ODOPfor99days bersama Farda Semanggi

Leave a Reply

%d bloggers like this: