Berbagi pengalaman dalam Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom

Meninggalkan pekerjaan kantoran yang membanggakan untuk full time bersama anak-anak di rumah merupakan sebuah pilihan yang sulit bagi banyak perempuan. Sebenarnya saya sendiri tidak pernah benar-benar berada posisi ini. Karena sebelum memilih benar-benar pensiun dini dari dunia profesional sebagai Arsitek yang telah dijalani selama hampir 5 tahun, saya bekerja secara part time pada sebuah konsultan arsitektur. Pekerjaan perantara yang sempat saya jalani selama 3 tahun ini, membuat saya lebih mulus mengalami masa Post Power Syndrom. Cerita pengalaman saya menjalani masa ini bisa di baca dalam postingan Stay at Home Mom vs Working Mom, Its My Story.

Setiap ibu punya ceritanya sendiri. Termasuk ibu-ibu keren yang mengikuti proyek Sehat Waras Sesarengan dengan tema Jibaku Post Power Syndrome Ibu yang Pensiun Dini. Sebuah sayembara menulis yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2016 oleh Farda Semanggi bekerja sama dengan penerbit Aryoko Indonesia.

Penguman penjaringan penulis buku antologi
Penguman penjaringan penulis buku antologi untuk proyek Sehat Waras Sesarengan di bulan Oktober 2016

9 Pengalaman mengatasi Post Power Syndrom Full Time Mom

Ada 9 pengalaman para ibu-ibu yang sebelumnya memiliki pekerjaan profesional seperti dosen dan guru, namun mengambil keputusan untuk menjadi full time mom dalam buku setebal 127 halaman ini.

Dimulai dari kisah Hepi Risenasari mengenai pilihannya menjadi tuan bagi diri sendiri dengan caranya sendiri. Bahwa perempuan tidak lah harus selalu bekerja di luar rumah hanya demi tidak menjadi benalu dalam rumah tangga seperti pemahaman ibundanya.

Dian Kusumawardani berbagi cerita mengenai kegalauannya ketika harus menghadiri reuni. Sebuah wejangan hangat dari sang suami akhirnya mampu membuka matanya bahwa ia bukan ibu rumah tangga biasa. “Dia adalah ibu rumah tangga profesional. Mampu menyinari keluarga dan masyarakat luas dengan perannya. Tidak perlu minder, walau mungkin segudang prestasi tak menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah (hal 17).

Anittaqwa Elamien yang walau sempat dituduh pembantu di rumah (I feel you Anit, mereka memang tidak tahu the power ibu-ibu berdaster kalau sudah dandan), menemukan menulis sebagai terapi penyakit jiwa yang sulit terdeteksi. “Satu tahun berlalu setelah tak lagi bekerja membuatku belajar tentang banyak hal. Bukan sekedar menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga ala kadarnya tetapi menjadi ibu rumah tangga yang all out hingga ke taraf yang lebih tinggi menjadi ibu profesional.” (hal 27)

Lupa mengurus diri bisa jadi hal yang paling lazim terjadi pada full time mom. “Badanku jadi kurus, kulit dan rambut tak terurus. Anak dan rumah kurawat sekedarnya. Aku sangat sedih dan menyesal bila mengingatnya. Aku sudah mendzolimi diriku sendiri, suamiku dan juga anakku, ampuni hamba ya Allah..,” tulis Nevita Siswanti dalam halaman 33.

Saya suka sejumlah saran konkrit Elfatrah atau Ifit Fitriyah dalam tulisan berjudul Menjadi Ibu Sehat dan Bahagia untuk melalui masa Post Power Syndrome ini. Misalnya dengan mencari komunitas seperti pengajian, menekuni hobi, menulis, memperbanyak makan sayur dan minum air putih. It works for me.

Kalau ceritanya sekretaris IIP Bandung, Mesa Dewi Puspita lain lagi. Post Power Syndrome diatasinya dengan bergabung dengan sejumlah forum belajar. Namun ternyata muncul persoalan lain yaitu banjir informasi dan manajemen gadget yang tidak terkontrol. Dalam halaman 57 Mesa menulis, “Dengan mengikuti berbagai forum belajar online, anak justru sering melihat ibunya berinteraksi dengan gadget. Hadir di sampingnya untuk menemaninya bermain, tapi mata tertuju pada layar smart phone. Pekerjaan rumah banyak yang terbengkalai dengan alasan tidak sempat. Yang lebih menyedihkan, semakin banyak ilmu yang masuk, justru tidak membuatku semakin bijak dan cerdas menjadi seorang ibu.” Mesa menemukan masalahnya adalah akibat dari tidak mengunci ilmu dengan amal dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Sedangkan ibu pimpro Farda Semanggi menulis pengalamannya belajar mengatasi masalah post power syndrome dari bapaknya yang ternyata mengalami masalah yang kurang lebih sama. “Seringkali musuh terbesar bagi ibu rumah tangga adalah pikiran dan perasaannya sendiri yang memenjarakan. Your Perception is reality. (hal 79)

Ketidaknyamanan sebagai ibu rumah tangga seperti perasaan terpuruk sendiri tanpa arti, sosialisasi mati, empati lari menjadi sensitif berlebih sensitif berlebihan sempat juga dirasakan Mifta Amalya. “Kegiatan menulis yang awalnya bisa menyalurkan hobi menjadi sesuatu yang penuh beban, tangan bergerak tanpa hati, sekedar berbagi, mencelupkan diri ke sana kemari tanpa tujuan pasti,” tulisnya di halaman 89. Namun sakit yang diderita anak-anaknya menyadarkannya betapa anak-anak membutuhkan fokus dan perhatian ibunya, lebih dari apapun.

Layout buku Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom
Layout buku Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom. Tidak selalu konsisten seperti ini sih dalam tulisan yang lain.

Menurut Desy Handayani, alasan ibu pekerja itu terbagi menjadi 4 kelompok: 1. kebutuhan materi untuk diri sendiri, 2. membantu suami, 3. aktualisasi diri, dan 4. mengisi waktu. Ada 3 fase yang akan dilalui seorang ibu yang resign. Pertama dimulai dengan fase Getaway atau membiasakan diri keluar dari rutinitas bekerja kantoran. Selanjutnya adalah fase Tuning atau penyesuaian dalam sejumlah hal seperti keuangan yang terbatas. Dan terakhir adalah fase Adopt atau penerimaan diri dan menemukan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Bagaimana? Seru kan bukunya? Jika tertarik untuk memilikinya, sementara yang saya tahu caranya adalah dengan menghubungi Farda Semanggi (FB Itsnita Husnufardani), para penulis atau penerbitnya melalui media sosial.

Lumayan lah buat bacaan selama beberapa jam. Saya kira buku yang tidak terlalu tebal ini cocok dengan selera ibu-ibu yang tidak punya banyak waktu untuk membaca. Soal terdapat sejumlah kesalahan penulisan dan kaidah bahasa Indonesia serta pengaturan paragrap yang berbeda-beda dari satu tulisan dengan tulisan lain, saya kira bisa dimaafkan. Walau memang cukup mengganggu dan menunjukkan kurangnya proofreader dalam proses penyusunan buku ini. Mudah-mudahan bisa diperbaiki dalam cetakan selanjutnya. Menyusun sebuah buku antologi memang bukan hal yang mudah.

 

Data Buku Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom

Penulis: Hepi Risenasari, dkk

Editor : Aryoko Indonesia

Penerbit : Aryoko Indonesia, Januari 2017

Halaman : xii + 127 hal; 14×19 cm

Harga: Rp 65.000,- (Harga PO Rp 55.000,-)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Berbagi pengalaman dalam Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom

Leave a Reply

%d bloggers like this: