Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Bagaimana gaya komunikasi kita dalam keluarga? Apakah apa yang kita sampaikan efektif tersampaikan atau masih mengeluh: “Mama sudah ngomong berbusa-busa, kok masih tidak mengerti juga sih?” Saya kira banyak orang tidak terlalu memperhatikan masalah ini, bahkan mengira apa yang kita lakukan sudah baik-baik saja.

Setelah membaca teorinya dalam Kelas Bunda Sayang materi #1 Komunikasi Produktif, saya menyimpulkan bahwa kunci dari komunikasi yang produktif itu adalah Empati dan Berpikiran positif untuk fokus pada solusi. Kedua sifat ini akan tercermin dalam gaya berkomunikasi kita yang singkat, jelas, disampaikan pada waktu yang sesuai, intonasi yang terjaga, bahasa tubuh yang mendukung, memberikan pilihan dan tidak mudah men-judge orang lain namun berbagi pengalaman.

Teorinya sangat sederhana, namun prakteknya tidaklah demikian. Pada tantangan 1o hari dalam Kelas Bunda Sayang, peserta diminta membuat family forum untuk memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Peserta diminta mencatat hal menarik dan perubahan dalam mempraktekkan ilmu Komunikasi Produktif.

Berikut pengalaman saya:

 

#Hari1 (Pengamatan 25 Januari 2017) – Komunikasi keluarga

Di hari pertama ini, saya mencoba mengamati bagaimana sebenarnya komunikasi dalam keluarga kami. Buat saya komunikasi merupakan suatu cara penyampaian pesan kepada pihak lain. Jika pesan ini tidak tersampaikan dengan baik, tentunya ada rasa tidak nyaman. Bisa jadi wujudnya kekesalan kepada pasangan atau anak-anak yang menangis.

Saya sendiri menilai komunikasi dalam keluarga kami bisa dibilang berada di angka 8 dari 10. Semua uneg-uneg ya disampaikan saja. Pada dasarnya saya adalah orang yang biasa terbuka mengenai perasaan. Bahkan terlalu open book. Marah ya cemberut, sedih ya nangis, senang ya ketawa. Buat saya bukan hal yang sulit menyampaikan sesuatu dengan kata-kata. Sampaikan apa yang kamu inginkan dengan jelas, agar orang lain mengerti. Jangan menyuruh orang menebak-nebak. Its so not me lah. Saya pikir, pandangan ini lah yang membuat komunikasi di keluarga kami selalu lancar-lancar saja. Dalam 10 tahun pernikahan, bisa dibilang saya belum pernah berantem dengan suami. Paling kesal-kesal sedikit selama beberapa jam. Bukan suatu kebanggaan, biasa saja sih. Karena saya bukan orang yang tahan dengan kesal yang dipendam. Dan kami kebetulan adalah pasangan yang pemaaf dan pelupa.

 

Bagaimana dengan intensitas komunikasi keluarga?

Dengan jam kerja suami 8 pagi – 7 malam dan istri yang full time di rumah, saya rasa komunikasi dalam keluarga kami cukup lah. Walau selalu diiringi oleh televisi, smartphone, dan gadget lain. Sampai hari ini kami masih belum merasa mengalami gangguan yang berarti, walau berusaha menguranginya sebisa mungkin. Harapannya kalau intervensi gadget bisa dikurangi, kualitas komunikasi bisa lebih baik.

 

Bagaimana komunikasi dengan anak-anak? 

Dengan anak terkecil usia 6 tahun, sejauh ini semua anak cukup bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan. Mereka sudah bisa memahami perintah dan cukup empati untuk bisa memahami anggota keluarga lain. Sebenarnya saya termasuk orangtua yang cukup permisif. Saya memilih untuk menunggu anak ‘matang pohon’ daripada memaksakan mereka menuruti aturan dari saya. Buat saya ini lebih cocok di keluarga kami dan bisa membuat saya lebih santai menikmati hidup.

Saya biasa berkomunikasi bersama mereka sepanjang hari dari pulang sekolah hingga mereka tidur. Walau terkadang fisik saya asyik dengan laptop, tapi telinga saya selalu mendengar celotehan mereka sepanjang hari. Dan selalu siap untuk setiap kali diganggu dengan cerita mengenai starwars atau gambar-gambar karya mereka.

 

Dosa komunikasi #hari1

Ada satu dosa yang saya temukan dalam berkomunikasi hari ini, yaitu menunda memenuhi permintaan anak-anak. Ada kalanya anak-anak meminta ini itu saat saya tengah khusyu mengerjakan sesuatu. “Apa rasanya kalau Mama nggak bisa segera melayani Raka dan Sasya?”

“Mama emang kebiasaannya begitu. Sudah 50x,” kata Raka (9th). Ah Raka memang suka hiperbola. Aslinya sudah 100x.  Ha…ha…

“Aku jadi sedih, rasanya seperti Mama tidak sayang aku,” lanjut Raka.

Kalau Sasya (6th) nggak pakai sedih, biasanya langsung marah-marah dan terus rewel sampai permintaannya diikuti.

Ini menjadi catatan hari pertama. Mungkin saya perlu mencari solusi menyampaikan kebutuhan saya untuk sesuatu kegiatan dengan kebutuhan anak-anak untuk dilayani. Jadi tidak lagi berlindung dengan “Tunggu Mama 5 menit lagi ya”, padahal sebenarnya tidak jelas sampai kapan dan itu akan terus ditunda-tunda.

 

#Hari2 (Pengamatan 26-27 Januari 2017) – Fokus pada Solusi

Mungkin karena dapat tugas Komunikasi Produktif, saya mulai bisa menemukan sejumlah kesalahan yang biasa saya lakukan dalam berkomunikasi dengan keluarga. Seperti dalam pengamatan 2 hari terakhir ini, saya menemukan bahwa kesabaran mulai hilang ketika terjadi kesalahan berulang. Susah sekali untuk bisa tidak menghardik, ketika anak melakukan kesalahan yang sama secara berulang kali.

Misalnya mengenai meletakkan baju kotor pulang sekolah langsung ke tempat cucian dan bukan digeletak di tempat tidur. Ini kasus yang hanya berlaku pada Raka (9 tahun). Pada Sasya (6 tahun) tidak pernah ada masalah. Sasya tanpa disuruh akan selalu meletakkan baju sekolah di tempatnya tanpa di suruh.

Jadi saya mulai berpikir, mengapa anak-anak melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Apakah memang perintahnya tidak praktis dan sulit untuk dilakukan? Apakah memang tidak suka dan merasa itu belum perlu? Ini yang mungkin perlu digali dalam beberapa hari kedepan.

Kasus lain yang saya temukan adalah masalah komunikasi dengan suami mengenai pekerjaan rumah tangga. Walau sudah berumah tangga selama 10 tahun, saya masih mengganjal mengenai soal suami yang kurang mau membantu untuk urusan rumah tangga. Saya selalu heran mengapa suami bisa-bisanya santai nonton TV sementara istrinya jungkir balik. Sangat tidak empati menurut saya. Suami terkadang bisa diminta membantu, tapi tidak rutin. Saya pun sering kesal dengan hasil pekerjaan yang seadanya. Biasanya urusan ini akan selesai dengan saya yang pasang tampang cemberut, ngomel dan mengeluh. Tapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah.

Pembicaraan dibuka dengan menanyakan bagaimana caranya suami bisa menikmati nonton tv dengan tenang, tidur dengan nyaman, makan dengan enak, sementara saya saat nonton ingin cuci piring, saat tidur ingat menulis, saat makan ingat sosmed. Jarang sekali bisa fokus dan menikmati hidup seperti suami. Kalau kata suami saya, ya harus dibiasakan. Di kantor ya kerja, di rumah saat nonton TV ya nonton TV aja. Saat makan ya makan. Saat diminta jaga anak, ya sambil nonton (loh?).

Ternyata itu sebabnya suami tidak peka dengan pekerjaan rumah tangga. Menurutnya di rumah waktunya melepaskan stress urusan kantor dengan bersantai dan menonton TV. Bukan beberes rumah atau hal lain yang tidak disukai dan dikuasainya.

Sepintas memang terdengar egois. Tapi kalau saya pikir lebih dalam, rasanya tidak ada yang terlalu salah dari hal tersebut. Saya sebenarnya bisa juga melakukan hal yang sama. Batasi saja waktu untuk mengurus diri sendiri, rumah tangga, anak-anak, menulis hingga bersantai. Kenapa saya harus misuh-misuh dengan meminta suami membantu padahal saya yang tidak efisien dengan pekerjaan saya? Karena sebenarnya pekerjaan rumah tangga yang saya kerjakan toh tidak banyak juga. Buktinya saya tetap bisa menulis dan bersosmed ria dengan riang gembira.

Ini sebenarnya kasus yang sama jika suami meminta saya melakukan hal yang tidak saya sukai seperti merapikan atau membersihkan sesuatu. Kalau saya tidak suka, ada-ada saja alasan yang bisa saya buat untuk menunda dan menghindari tugas itu. Saya tidak suka, tidak bisa, dan tidak mau. Kenapa? Karena itu tidak ada manfaatnya buat saya, saya malas, atau sekedar ada hal lain yang lebih menarik. Persis alasan yang sama dengan alasan suami menghindari tugas membantu pekerjaan rumah tangga. Saya yakin pilihannya adalah lebih baik cari uang untuk bisa membayar Asisten Rumah Tangga daripada dipaksa mengerjakan hal tersebut. Dan saya bukan orang yang suka memaksa, apalagi dipaksa.

Dari pembicaraan ini saya jadi bisa melihat dari sudut pandangnya suami, dan berusaha mencari solusi permasalahan ini alih-alih terus mengomel tanpa solusi berarti.

 

#Hari3 (Pengamatan 28-29 Januari 2017) – Membantu

Pengamatan dalam 2 hari ini saya fokuskan ke mencari solusi mengenai komunikasi yang tidak nyambung dalam keluarga. Seperti sudah saya cerita sebelumnya mengenai kasus Raka yang perlu berulang kali diingatkan untuk meletakkan baju kotor pada tempatnya. Sekali dikasih tahu baik-baik. Dua kali agak naik sedikit nadanya. Tiga kali, apalagi pakai efek lapar, maka tanduk pun keluar. Kenapa harus sampai marah-marah? Tapi sampai berapa kali anak perlu dikasih tahu? Rasanya tidak mungkin kalau kita perlu jadi seperti robot dan mengulang hal yang sama hingga ribuan kali. Perlu ada strategi yang lebih jitu nih.

Saya coba dengan bertanya “Kenapa Raka tidak mau membantu Mama dengan meletakkan baju kotor di Kamar Mandi?” Jawabannya “Malas Ma, masa harus naruh baju jauh-jauh ke kamar mandi.” Ehm, bisa jadi dia capek pulang sekolah. Saya coba berempati dengan menawarkan bagaimana kalau tempat baju kotornya ditaruh di kamar. Mungkin nantinya sedikit demi sedikit, keranjang baju kotornya akan digeser ke arah kamar mandi kalau Raka sudah mulai terbiasa. Ternyata Raka suka dengan ide ini.

Keranjang baju
Ta da…. tidak ada lagi baju berantakan di tempat tidur setelah ada keranjang baju di kamar.

Dalam 2 hari ini, Raka berhasil bajunya ke keranjang baju kotor yang letaknya di kamar. Tidak lagi sembarangan melemparnya di tempat tidur dan membuat kamar terlihat berantakan. Raka pun senang karena bisa bikin Mamanya tersenyum dan tidak perlu marah-marah lagi. Mama happy, Raka happy. Semoga bisa konsisten dalam hari-hari ke depan.

Dari sini saya jadi belajar, mungkin kita perlu membantu keluarga untuk pelan-pelan menjembatani antara keinginan kita dengan kemampuan keluarga. Tidak bisa juga saya memaksakan anak untuk langsung bisa rapi menyimpan pakaian pada tempatnya atau memaksa suami untuk bisa membantu pekerjaan rumah tangga tanpa mempertimbangkan kondisinya. Ada kesulitan yang berarti dibalik sekedar alasan “malas” yang disampaikan.

Malas ini bisa menyerang siapa saja. Suami bisa malas, anak bisa malas. Dan ajaibnya ibu pun bisa saja malas. Malas olahraga, malas makan sehat, malas masak, malas ini, malas itu. Rasanya begitu berat dan susah. Bukan karena tidak tahu gunanya atau tidak mau mengerjakannya. Sepertinya akan lebih enak jika ada yang mau MEMBANTU kita untuk bisa mengatasi kemalasan atau ketidakmampuan kita mengatasi masalah tersebut. Bukan sekedar marah-marah tanpa solusi.

Maafkan Mama, Nak.

 

#Hari4 (Pengamatan 30-31 Januari 2017) – Bahasa Cinta

Walau sudah mendapatkan materi yang cukup lengkap dari Bu Septi mengenai Komunikasi Produktif, saya merasa ilmu mengenai Bahasa Cinta yang disampaikan oleh Psikolog Irma Gustiana Andriani turut mendukung terciptanya sebuah komunikasi yang produktif dalam keluarga.

Sudah hampir 1 minggu saya berusaha konsisten menerapkan Komunikasi Produktif dalam keluarga, tapi rasanya lebih banyak lupanya daripada ingatnya. Bisa jadi karena saya kurang fokus atau memang ada komunikasi bahasa cinta yang tidak nyambung antara saya dan keluarga.Maunya saya begini, ternyata keluarga mendengarnya begono.

Untuk memastikan sebenarnya apa sih yang membuat suami dan anak-anak merasa disayang? Apakah mereka sukanya rasa sayang ditunjukkan dengan sentuhan fisik, kata-kata yang mendukung, waktu kebersamaan, pemberian hadiah, atau dalam bentuk pelayanan/dilayani?

Sebelum bertanya pada keluarga, saya berusaha bertanya ke dalam diri sendiri dulu. Saya ingin disayang dengan cara apa? Apakah dibelikan tas baru itu menunjukkan rasa sayang? Ehm…nggak nolak sih. Tapi rasanya ya tidak juga. Rasanya saya merasa disayang jika diberikan waktu menyepi dan bebas dari kewajiban melayani deh. Sebagai ibu yang terbiasa melayani, ketika saya terbebas dari kewajiban tersebut karena anak-anak dan suami bisa mandiri, saya merasa tugas saya bisa dibilang berhasil. Saya merasa telah mencapai sesuatu dan dihargai. Buat saya kata-kata pujian tidak lah terlalu bermakna karena kurang memberikan rasa penghargaan.

Selanjutnya yang saya perhatikan adalah anak-anak. Ternyata Sasya merasa disayang ketika ia di peluk. Harus dipeluk dengan sentuhan fisik. Bangun tidur, pergi sekolah, pulang sekolah, saat tidur harus dipeluk. Ketika sedih karena diomelin Mama misalnya, solusinya harus dipeluk erat.

Kalau Raka ternyata lain lagi. “Aku merasa disayang kalau dibelikan Lego.” Ah Raka mah begitu, kalau ada maunya. Tapi memang sentuhan fisik tidak lah terlalu berpengaruh buat Raka. Kalau saya perhatikan, Raka akan lebih sholeh jika pendapatnya dihormati dan diakui kebenarannya.

Hal lain yang saya perhatikan dalam 2 hari ini adalah menerapkan intensitas eye contact yang cukup saat berkomunikasi. Sebelumnya, karena terbiasa bermulti tasking, masalah kontak mata ini memang luput dari perhatian. Ternyata ketika kita menyampaikan sesuatu dengan menatap mata, hasilnya akan lebih efektif dan terasa lebih dalam.

 

#Hari5 (4 Februari 2017) – Be Empati

Sempat tidak konsisten selama beberapa hari, hari ini saya akan mencoba melakukan pengamatan berkomunikasi dalam ‘family forum’ secara lebih konsisten setiap hari dan tidak lagi 2 hari sekali.

Dalam beberapa hari ini saya menemukan salah satu hambatan dalam berkomunikasi adalah masalah yang belum selesai dengan diri sendiri. Teori komunikasi yang begitu sederhana, menjadi sangat sulit ketika isi pikiran dipenuhi sejumlah tuntutan kewajiban. Tapi tuntutan kewajiban ini bukanlah sesuatu yang bisa dan perlu dielakkan. Nggak mungkin juga, kita hanya bisa manis kalau urusan sudah beres. Sebenarnya kalau urusan kita tidak bisa beres saat ini, esok atau tahun depan pun akan sama saja. Jadi, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri hari ini. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu dan menjadi bahan pelajaran. Menikmati setiap hari sebagai lembar baru dan tantangan baru. Sebuah pemikiran yang harus dilatih dari hari ke hari.

Serius ya, pemahaman ini dan berlatih menarik napas panjang untuk meningkatkan konsentrasi bisa sangat membantu. Rasanya hari ini, kesabaran saya lebih banyak stoknya sehingga intonasi suara saat bicara dengan suami dan anak-anak tidak banyak meningkat. Dan yang penting, rasanya memang lebih enak. Kesel dan marah itu memang perlu energi extra. Semoga bisa konsisten dalam hari-hari ke depan.

Hari ini saya juga belajar seni berkomunikasi dari bungsu saya Sasya, 6 tahun. Sasya sudah beberapa hari ini menginginkan sisir Frozen yang sempat ia lihat di Alfamart. Ketika ia menyampaikan keinginan itu pada saya, langsung kena veto karena Mama tidak punya jatah untuk membeli sisir seharga 30 ribu bulan ini. Ada banyak tantangan buat Sasya untuk mendapatkan keinginannya itu. Mulai dari tidak ada budget, tidak ada alasan kami perlu ke minimarket untuk membeli, dan ia baru beli mainan. Soal sisir harus ditunda bulan depan. Case closed.

Tapi ternyata Sasya tidak mudah menyerah. Ia berusaha mencari celah untuk bisa mendapatkan keinginannya, tanpa harus diomeli Mama karena dinilai suka merengek-rengek. Sore ini ia mendengar bahwa Mama harus fotokopi sekaligus membeli persediaan susu cair ke minimarket. Sasya pun mendekati dengan manis.

“Mama mau ke Alfamart ya?” tanyanya.

“Iya, tapi nggak untuk beli sisir,” jawab saya dengan nada curiga.

“Iya Ma, nggak untuk beli sisir. Mau beli susu kan? Sasya tahu Mama nggak punya uang untuk beli sisir,” jawabnya empati. Mama suka nih, kalau anak pengertian seperti ini. Nggak pake rewel-rewel dan maksa-maksa.

“Ma, harganya berapa sisir itu?”

“30 ribu.”

“Kalau ada 20 ribu, sisanya berapa Ma?”

“10 ribu.”

“Kalau 10 ribu Mama ada?”

“Ada.”

“Ini Sasya punya sisa tabungan 20 ribu sama 1 koin 500. Mama tambah 10 ribunya ya buat beli sisir. Bisa nggak?”

Dan Mama pun luluh… Bukan apa-apa sih, saya sangat tertarik dengan kemampuan Sasya bernegosiasi dan berusaha mencari celah yang tepat untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan berstrategi. Sebenarnya aslinya pembicaraan ini lebih panjang, karena ia sempat terlihat maju mundur mengajukan penawaran itu. Bukan hanya ke saya, tapi juga ke Abahnya. Setelah menunda keinginan berhari-hari, akhirnya sisir idaman dimilikinya juga.

Sebuah cara menyampaikan keinginan yang efektif berkat kesabaran dan empati dari seorang anak berusia 6 tahun. Mama masih harus belajar banyak Nak.

 

#Hari6 (5 Februari 2017) – Kontak Mata

Di weekend ini saya mencoba mengamalkan ilmu mengenai intensitas kontak mata dalam berkomunikasi. Saya baru sadar, bahwa saya bukanlah orang yang nyaman dengan kontak mata. Entah karena merasa malu, tidak nyaman, atau kebiasaan multi tasking yang membuat saya tidak fokus saat mengerjakan sesuatu. Misalnya bicara dengan anak sambil tangan main HP, bekerja di laptop atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Sebenarnya anak-anak sering protes kalau saya terlihat tidak merespon perkataan anak-anak dengan serius. “Mama coba HPnya ditaruh dulu.” Atau “Ma, makanya duduk sini dulu biar dengarnya jelas.” Itu adalah beberapa protes yang sempat disampaikan anak-anak.

Hari ini dalam beberapa kesempatan saya mencoba berbicara dengan keluarga dengan menatap mata mereka. Rasanya memang berbeda. Terasa lebih intens dan efektif. Sebuah kebiasaan yang perlu saya latih dengan lebih sering.

 

#Hari7 (6 Februari 2017) – Role Model

Menjadi role model menjadi salah satu kesulitan saya dalam berkomunikasi. Rasanya sulit untuk:

  • melarang anak main gadget, sementara saya masih sering pegang gadget
  • meminta anak rajin mengaji, sementara saya banyakan lupanya
  • meminta anak rapi, sementara saya berantakan
  • menuntut anak menghormati, sementara saya kurang empati dengan perasaan anak
  • mengharapkan anak selalu disiplin, sementara saya begitu pelupa

Tiba-tiba menjadi cerewet dan banyak ngomong menjadi tidak efektif ketika apa yang kita kerjakan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan dari orang lain. Lah kita sendiri kesulitan menjalaninya, bagaimana meminta orang lain melakukan hal yang sama?

Bukan juga berarti membiarkan ya. Tentu saja kita wajib mengingatkan anak-anak. Dan jangan salah, anak-anak punya hak mengingatkan orang tuanya. Saya banyak belajar dari anak-anak mengenai komunikasi dan strategi menyampaikan pendapat. Berusaha tidak menjadi pihak yang harus selalu diikuti perintahnya dan absolut benar dalam rumah tangga ini yang berusaha saya latih dalam keluarga.

 

#Hari8 (7 Februari 2017) – Family Forum

Bakunya saya memahami Family Forum sebagai forum rapat resmi keluarga dimana pada saat itu semua anggota keluarga duduk bersama untuk membahas sesuatu. Tentunya tanpa di ganggu smartphone atau televisi. Dalam keluarga yang terdiri-dari orang dewasa seperti dalam keluarga saya atau suami, kami beberapa kali melakukan hal ini untuk membahas sesuatu yang penting. Namun dalam keluarga kami sendiri yang masih memiliki 2 anak usia 9 dan 6 tahun, hal tersebut belum pernah kami lakukan.

Sebagai keluarga yang jam kerja Ayahnya 8 to 7 dan ibunya berada di rumah, kami merasa forum keluarga lebih cocok dalam bentuk santai dan cair. Pagi-pagi berkumpul semua, siang saat pulang sekolah Mama ada di rumah untuk mendengar celotehan anak yang baru pulang sekolah – walau dengan mata sambil asyik mengetik, malam semua bersantai sambil menonton siaran TV favorit secara bergantian.

Namun saya mengakui kualitasnya masih kurang optimal dan bisa ditingkatkan dengan lebih baik. Misalnya dengan quality time yang terbentuk saat makan bersama di meja makan saat sarapan atau makan malam. Atau quality time saat mendengar cerita anak-anak ketika pulang sekolah dan pelukan sebelum tidur. Terasa sekali bahwa quality time itu memang tidak perlu banyak, namun dilakukan dengan fokus dan pakai hati.

Walau saya sadari juga, tidak ada waktu yang berkualitas tanpa kuantitas yang cukup. Anak-anak itu tidak bisa ditebak kapan moodnya baik atau lagi butuh perhatian. Saya tidak bisa memaksakan mereka untuk makan bersama dengan rapi dan curhat, padahal mereka lagi asyik bermain. Atau saya sibuk mengejar deadline, sementara mereka lagi butuh minta diperhatikan. Menghadapi anak-anak yang masih usia 10 tahun ke bawah memang masih perlu banyak stok waktu yang fleksibel untuk bisa berkomunikasi optimal dengan mereka.

 

#Hari9 (8 Februari 2017) – Family Forum

Hari ini saya mendapatkan pelajaran mengenai komunikasi produktif dari sosial media. Saya menemukan ilmu menarik yang bisa diterapkan dalam keluarga.

Kalau diperhatikan, ada dua kubu yang selalu meramaikan jagad dunia sosmed. Setiap kubu menyampaikan pendapatnya dengan argumentasi, menyindir, atau bahkan membully kubu lain yang berbeda. Tujuannya jelas untuk meyakinkan kubu lain akan kebenaran pendapatnya.

Apa hasilnya?

Ternyata jarang sekali orang mengubah kubunya. Setidaknya di timeline FB saya, kubu bubur diaduk dan bubur tidak diaduk akan tetap terpisah bagai minyak dan air.

Kenapa?

Karena bentuk komunikasi seperti sindiran, tidak mau melihat sisi lain, menghakimi, membuat orang lain tersudut dan hancur harga dirinya, tidak akan pernah efektif dalam sebuah komunikasi.

No body change their mind that way.

Belajar dari sana, pola yang sama saya usahakan jangan sampai diulangi dalam berkomunikasi dengan anak-anak atau suami. Suami tetap tidak bergerak ketika disudutkan “Sayang nggak sih sama istri? Kok tega-teganya nonton TV sementara istri jungkir balik?” Atau Raka akan tetap ngeyel kalau saya memaksakan pendapat tanpa membuka ruang untuk mencari solusi kebutuhannya, “Pokoknya nurut saja kata Mama! Kalau Mama sudah bilang tidak boleh ya tidak boleh.” Bahkan Sasya akan memilih pundung dipojokan kalau saya menghakiminya dengan “Jangan bikin Mama repot dong. Yang bisa dikerjakan, ya kerjakan sendiri. Sasya kan bukan anak kecil lagi.”

Membuat mereka merasa bersalah, tidak berarti, bingung, tidak puas, tidak adil, tidak akan pernah menjadi sebuah bentuk komunikasi yang produktif. Tidak efektif!

Sebagai gantinya saya mencoba untuk membantu mereka memenuhi harapan saya. Dan cara yang paling efektif ya memang harus mau mendengarkan dulu pendapat mereka. Kenapa Abah malas membantu Mama? Kenapa Raka memaksa perlu beli Lego? Kenapa Sasya merengek minta kamarnya dibersihkan?

Sebuah jawaban mengantarkan kepada sebuah diskusi untuk bisa mencari solusi. Itu baru namanya win-win solution. Memaksakan kehendak tanpa pernah mau mendengar orang lain memang tidak akan pernah efektif. Dalam sosmed maupun keluarga.

 

#Hari10 (9-10 Februari 2017) – Negosiasi

Dalam 2 hari terakhir di tantangan 10 hari ini, saya belajar bernegosiasi dengan Raka.

Awalnya dimulai dari kesukaannya membuat animasi untuk di share ke YouTube dengan menggunakan channel YouTube si Mama. Tapi kok lama-lama isi channel Mama kok Raka punya semua? Akhirnya karena mudah,  saya pisahkan channel punya anak-anak dan punya saya. Raka di usianya yang menjelang 10 tahun bulan depan lagi sekarang lagi senang-senangnya dengan yang namanya YouTubers seperti Edho Zell, Kevin Anggara, Rio Ardillah, dan lain-lain. Hadeuh, si Mama jadi ikutan hapal begini. 

Setelah diijinkan punya channel YouTube sendiri, sekarang Raka minta diijinkan men-klonning akun Instagram juga. Terus terang saya belum ikhlas benar membiarkan Raka memiliki akun sosmed. Menurut aturannya akun YouTube baru boleh untuk usia 18 tahun dan Instagram 13 tahun. Untuk YouTube saya merasa tidak masalah karena itu merupakan akun saya, hanya channelnya yang berbeda. Apalagi setiap video yang tayang akan melalui persetujuan saya. Tapi kok kalau sama Instagram saya kok masih belum ikhlas. Masih ada rasa takut aja.

Kami berdua sempat keukeuh-keukeuhan dan bersitegang.

Sampai saya melihat sebuah peluang menegosiasikan masalah ini. Sejujurnya, saya selalu mengapresiasi kemauan belajar anak. Ketertarikannya pada YouTube, mengoperasikan kamera yang saya saja nggak bisa-bisa, mengkompres file dan menguploadnya, hingga bisa tampil luwes di depan kamera cukup mengagumkan saya. Dia benar-benar lagi berminat. Dan belum tentu ini bisa bertahan lama. Apa salahnya diwadahi saja dulu, karena ia bisa belajar banyak dari hal ini.

Tapi kenapa harus ditambah Instagram? Ternyata katanya karena ia ingin upload foto-foto hasil karyanya. Kalau Facebook Raka kurang suka. Terlalu rumit melihat tampilannya katanya.

Akhirnya kami membuat perjanjian. Raka boleh punya Instagram bareng akun Mama, kalau bisa menulis rapi. Raka itu walau sudah kelas 4 SD, tulisannya seperti anak kelas 1. Caranya menarik garis huruf benar-benar tidak sesuai aturan. Akibatnya tulisannya jadi tidak rapi. Susah sekali mengajarkan Raka soal yang satu ini. Sekalinya dia mau pegang pensil saat punya hobi buat komik. Tapi tetap saja tulisannya susah terbaca.

Raka Menulis
Belum pernah melihat tulisan Raka sebagus ini. Hanya demi Instagram…

Menegosiasikan Raka untuk memiliki tulisan yang rapi sebelum keinginannya punya Instagram bisa jadi salah satu jalan. Benar saja, Raka menerima tantangan itu dengan semangat. Saya bilang harus ada 3 orang yang menilai tulisannya rapi, yaitu saya dan 2 guru kelasnya. Kalau semua bilang sudah Ok, baru boleh punya Instagram.

Wah langsung dong Raka semangat menulis. Belajar lagi seperti anak TK bagaimana menulis huruf yang benar. Hanya dalam waktu beberapa jam, di atas kertas bergaris 3, tulisannya meningkat secara signifikan. Dia sendiri terpesona melihat bagusnya tulisan yang bisa dibuatnya. “Aku seperti di film Iqro katanya, ada syarat menulis bagus sebelum punya Instagram,” katanya sambil terus menulis.

Tinggal Mama bingung bagaimana caranya bikin double akun Instagram untuk menunaikan janji…

 

=== TAMAT ===

 

Badge Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif IIP
Dapat hadiah badge cantik sebagai tanda berhasil melalui tantangan 10 hari.

 

Aliran Rasa Komunikasi Produktif (18 Februari 2017)

Setelah mendapatkan materi hampir 5000 kata dan tantangan 10 hari untuk materi Komunikasi Produktif apa saya merasa ada perbaikan dari cara saya berkomunikasi?

Saya kok ya masih susah menjawabnya. Terus terang saya kesulitan jika harus menilai kemajuan diri sendiri. Sebagai orang yang masih di tahap heteronomi yang belum konsisten, saya masih perlu banyak berlatih dalam berbagai kondisi. Baik kondisi dompet penuh, belum sarapan, atau setumpuk daftar pekerjaan yang belum beres.

Masalah terberat menurut saya dalam berkomunikasi adalah di menurunkan ego dan mau mendengar orang lain. Terutama kepada anak-anak. Sebagai orang tua, rasa superior yang sok tahu ditambah rasa malas berpikir dan melihat dari sudut pandang anak, membuat masalah menjadi lebih keruh. Berusaha untuk bisa mencontohkan empati dan lebih banyak mendengarkan adalah kunci komunikasi produktif yang masih perlu banyak saya latih.

Mengapa kita suka tidak empati sama orang lain dan keukeuhan? Kalau saya coba merenung, penyebabnya bisa jadi karena contoh orang tua dan lingkungan, kurangnya wawasan mengenai alternatif pemikiran lain, atau sekedar menunjukkan keinginan ego superioritas yang tidak mau kalah. Jadi solusinya adalah dengan memperluas wawasan, bergaul dengan banyak orang untuk bisa mendapatkan beragam pengalaman dan solusi yang berbeda. Dan tentu saja dengan tujuan untuk mencari solusi, bukan memaksakan kehendak dan mengintimidasi orang lain. Karena hasilnya tidak akan pernah maksimal.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

  • January 25, 2017 at 11:56 pm
    Permalink

    Deeuh…Raka,
    Mama memang begitu yaa..

    *memihak Raka biar dapet jajanan.
    ^^

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: