Film Iqro, Petualangan Meraih Bintang di Boscha

Kangen sama film Petualangan Sherina yang booming tahun 2000 lalu? Mungkin kerinduan itu bisa terobati dengan menyaksikan film Iqro, Petualangan Meraih Bintang. Sebuah film bernuansa religi dan science yang diproduksi oleh Mesjid Salman ITB dan Salman Film Academy. Dengan setting daerah Boscha di Lembang, kita sedikit banyak akan terkenang dengan serunya film Petualangan Sherina.

Cerita film ini sebenarnya sederhana. Bagaimana seorang anak bernama Aqila (Aisha Nurra Datau) ingin meneropong Pluto di tempat opanya (Observatorium Boscha) untuk tugas sekolah, namun syaratnya ia harus bisa mengaji – padahal sebelumnya ia sangat tidak suka mengaji.

Biar punya bayangan seperti apa film yang disutradarai oleh Iqbal Alfajri ini, silakan simak official trailernya terlebih dahulu:

Cerita yang Tidak Kuat

Cerita film Iqro ini kalau menurut saya kurang kuat. Apakah tujuannya mengajak anak-anak untuk bisa semangat belajar mengaji? Atau menceritakan mengenai terancamnya keberadaan Observatorium Boscha akibat polusi cahaya? Karena cerita yang tidak fokus, banyak pertanyaan yang muncul ketika menonton film ini. Kok begini? Kok tiba-tiba jadi begitu? Loh kok tiba-tiba bisa?

Saya senang sekali membaca Kang Emil merasa begitu tersentuh dan ikut meneteskan air mata saat menonton film ini. “Bahkan ketika Cok Simbara (pemeran Profesor Wibowo, opa Aqila) menangis, saya ikut meneteskan air mata juga. Begitu terharu,” kata Kang Emil saat penayangan perdana film ini di Bandung 19 Januari lalu.

Film ini memang memuat pesan untuk para penentu kebijakan kota agar tidak mudah memberikan ijin kepada para pemilik modal. Jangan hanya karena punya uang, mereka bebas memanfaatkan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Bisa jadi film ini bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk para pemimpin kota. Biar tidak ada lagi pihak-pihak yang dirugikan karena keserakahan para pemilik modal. Sekedar info, saat ini Observatorium Boscha memang akan dipindah ke Kupang, NTT karena polusi cahaya yang terjadi di daerah Lembang. Maaf kalau informasi ini agak terasa ironis.

 

Dukungan Deretan Pemain Senior

Namun berhubung film ini adalah karya perdana dari Salman, soal cerita yang kurang tajam, saya bisa memaafkan. Apalagi dengan disuguhi oleh pemain-pemain papan atas yang bermain dengan sangat cemerlang. Ada Cok Simbara sebagai Profesor Wibowo – Opa Aqila yang bekerja sebagai astoronom di Observatorium Boscha. Hadir juga Neno Warisman sebagai Oma Aqila. Walau saya kurang nyaman dengan suara yang terlalu nenek-nenek dan nggak imbang dengan Opa Wibowo yang masih ganteng. Juga ada Tante Meriam Bellina sebagai nenek cantik yang pintar berbahasa Inggris dan membuat kerupuk, Mike Lucock sebagai Bang Codet si preman kampung, dan Adhitya Putri sebagai Kak Raudhah si guru mengaji. Semua bermain dengan sempurna dan enak untuk dinikmati. Plus sedikit bumbu-bumbu komedi yang bikin kita tersenyum.

Dan tentu saja bintangnya ada di si cantik Fa Aisha Nurra Datau yang berperan sebagai Aqila dan si ganteng Raihan Khan sebagai Faudzi – pemeran anak nakal yang pintar mengaji. Daya tarik film ini bisa jadi sangat dominan di kedua bintang muda ini. Mereka mengingatkan kita pada lucunya Sherina dan Derby Romero dalam Petualangan Sherina. Takjub juga saya lihat bagaimana segerombolan anak-anak yang menonton film ini, ikut menyerbu Aisha yang turut hadir dalam acara nonton bareng di Studio XXI TSM Bandung, 21 Januari 2017 lalu. Idola baru ABG telah tiba rupanya.

 

Siapa Aisha Nurra Datau dan Raihan Khan?

Yang mencuri perhatian, siapa nih si cantik Aqila? Ternyata gadis kelas 1 SMP kelahiran 31 Juli 2004 ini adalah putri pertama Aktris teater Ine Febriyanti dan Kameramen Yudhi Datau. Sejak kecil Aisha dan adik-adiknya sudah punya kebiasaan membaca 1 jam sehari. Jangan kaget kalau bacaannya Musashi yang tebalnya 1200 halaman euy! Aisha aktif di sanggar yang dimotori oleh ibunya untuk mengembangkan pendidikan alternatif buat anak-anak. Di sanggar ini mereka bermain dan belajar melalui tari, teater, film, fotografi, dongeng, menggambar, dan kegiatan lain untuk mengembangkan kreatifitas anak dibawah bimbingan pegiat seni. Jadi tahu lah ya rahasia tampil luwesnya Aisha di depan kamera. Apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya.

Sedangkan Raihan Khan yang kelahiran 26 April 2002 memang sudah wara-wiri di dunia perfilman Indonesia. Sejumlah film, sinetron, iklan, FTV telah dibintanginya. Pantas saja, saya rasanya seperti pernah lihat. Ternyata ia bintang iklan Lifebouy, Gerry, dan GoodTime. Di tahun 2016 Raihan memenangkan penghargaan Indonesia Movie Actor Awards untuk kategori Pemeran Anak-anak Terbaik dalam film Ada Surga di Rumahmu.

Dalam film Iqro ini, Raihan berperan sebagai anak bandel yang jail namun memiliki suara emas saat mengaji. Mudah-mudahan ini bisa menjadi daya tarik buat anak-anak. Boleh jail, tapi tetap harus pintar mengaji ya.

Saran saya kalau mau menonton film yang akan tayang serentak di bioskop 26 Januari 2017, jangan banyak mikir dan bertanya-tanya. Dinikmati saja wajah-wajah menarik dan akting bagus pemerannya. Tapi ingat ya, mengaji dulu sebelum nonton. Baru setelah itu kita meraih bintang di langit.

Bersama Aqila dan Ros di Studio XXI TSM Bandung
Bersama Aqila dan Ros di Studio XXI TSM Bandung. Tepat sebelum, kedua anak ini diserbu oleh fans cilik mereka.

 

Sumber:

http://www.film-iqro.com/home

https://id.wikipedia.org/wiki/Observatorium_Bosscha

http://www.kompasiana.com/oli3ve/tata-nurra-creative-learner-nan-inspiratif_578557b93e23bd8f0cad4a0e

https://id.wikipedia.org/wiki/Raihan_Khan

http://republika.co.id/berita/senggang/film/17/01/20/ok22tf336-ridwan-kamil-puji-film-iqro-ini-alasannya

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Film Iqro, Petualangan Meraih Bintang di Boscha

  • January 23, 2017 at 6:01 pm
    Permalink

    Aaaah aku sedih kalau Bosscha dipindahin, jauh pula. Hiks hiks. Atuhlah jangaaaan.

    Reply
    • January 23, 2017 at 6:04 pm
      Permalink

      Meni nggak kira-kira pilihannya. Kupang! Gimana nih, kita ke Boscha aja belum, Boschanya udah keburu mau pindah. Menyesal nggak dari dulu.

      Reply
  • January 23, 2017 at 6:26 pm
    Permalink

    Iqra’ benar-benar menyadarkan saya akan banyak hal.
    Ada haru, senyum lebar sampai gemeesh sama pemainnya yang masih imut-imut.

    Barakallah,
    Semoga makin banyak kisah islami yang menginspirasi.

    Reply
  • January 23, 2017 at 11:59 pm
    Permalink

    Jangan banyak nanya. Masuk Logika atau enggak. Nikmati saja pemandangan Lembangnya. Sebagai 20 tahun menyambangi Lembang. terharu sekali. Hehehe

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: