Belajar dari Anak untuk Menjadi Bagian dari Solusi

Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak usia 6 dan 9 tahun memang sering berprofesi sebagai pengacara – Pengangguran banyak acara. Urusan rumah lah, urusan hobi lah, urusan komunitas lah, sampai notifikasi sosmed yang menggoda minta dilirik. Rasanya selalu ada setumpuk pekerjaan yang harus dikerjakan. Ketika lagi khusyu bekerja, kalau mendengar rengekan anak-anak yang minta dilayani ini itu, rasanya kesal sekali. Konsentrasi yang sudah susah payah dilakukan, jadi buyar seketika karena harus mengantarkan anak ke kamar mandi atau membuatkan susu dulu. Ketika sudah beres, susah lagi mau kembali bekerja.

Saat anak-anak masih kecil dan suka merengek-rengek (sekarang juga kadang-kadang masih), biasanya saya sering marah kalau diganggu. “Nanti dong, Mama lagi sibuk!” Anak-anak menanggapi dengan makin rewel, saya juga makin kesal. Anak-anak kena marah atau nangis dipojokan, kerjaan saya nggak beres juga. Dua-duanya rugi.

Seiring waktu, terutama setelah masuk Sekolah Dasar, Raka mulai pengertian kalau melihat Mamanya asyik main laptop. Nggak main maksa lagi dan lebih toleran. “Mama lagi sibuk ya? Bisa bantu aku nggak Ma?” atau “Kalau Mama sudah selesai kerjaannya, tolong buatkan ini dong.” Kalau lapar anak-anak sudah bisa menyiapkan makan sendiri seperti goreng telur, buat roti bakar, buat mie, masak makaroni, rebus sayuran, dan makanan ringan favorit mereka sendiri. Bahkan sudah bisa sekalian dimintai tolong buatkan untuk Mama juga. Mamanya kadang memang suka ngelunjak.

Paling kalau kesal akan keluar kata-kata: “Mama kok sibuk melulu sih?” Nah itu artinya alarm berbunyi sebagai tanda Mama kerjaannya terlalu lama dan perlu refreshing dengan peluk-peluk anak-anak.

Dengan sikap anak-anak yang lebih manis ini dibanding waktu mereka kecil yang hobinya nangis dan memaksa, pekerjaan saya lebih cepat selesai. Saya merasa terbantu dengan kondisi mereka yang penuh pengertian. Pekerjaan saya cepat tuntas, anak-anak pun senang bisa segera terpenuhi kebutuhannya.

Saya jadi berpikir dan belajar dari anak-anak ini. Mereka tidak mengeluh, tidak rewel tapi berusaha menjadi bagian dari solusi dengan membantu menyiapkan makanan sendiri jika lapar, mencari kesibukan untuk menunggu waktu, sampai berusaha keras memecahkan masalah mereka sendiri sambil menunggu. Terkadang saking serunya kegiatan mereka, saya malah tergoda untuk berhenti bekerja dan ikut bergabung dulu. Ujung-ujungnya, urusan Mama cepat beres, tuntutan anak-anak bisa segera terpenuhi. Dua-duanya untung.

Belajar dari anak-anak, sekarang saya jadi malu juga kalau menjadi orang yang selalu menuntut, mengomel atau mengeluh dengan kinerja orang lain. Apakah itu suami, pengurus kompleks, guru anak-anak di sekolah, teman-teman komunitas, atau bahkan pemerintah. Ternyata omelan dan keluhan saya, bahkan caci maki, sama sekali tidak membantu saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Didengar saja mungkin tidak, malah mungkin dijauhi oleh banyak orang. Siapa sih yang suka dekat-dekat dengan orang yang hobi mengomel dan mengeluh?

Dan yang paling penting, apa manfaatnya buat kita? Emang puas gitu kalau habis mengeluh atau marah-marah? Kalau saya sih nggak ya. Kalau habis marah-marah ke anak, kok ya ada rasa menyesal. Rasanya nggak enak.

Jadi kenapa saya tidak mencontoh anak-anak yang memilih untuk membantu memberikan suasana yang mendukung sehingga tuntutan saya bisa terpenuhi. Apa yang bisa dibantu, ya dibantu. Bukan sekedar mengomel dan mengeluh. Kesal sama suami yang bawa uang dari kantor sedikit, ya bantulah dengan jangan terlalu boros atau mencari penghasilan tambahan. Nggak suka sama pengurus kompleks yang pekerjaannya tidak memuaskan, ya bantulah dengan menjadi bagian pengurus. Tidak puas dengan kinerja guru dalam mendidik anak-anak, ya didiklah anak-anak sesuai standar kita dan berdiskusilah dengan para guru untuk mencari solusi terbaik. Gondok dengan komunitas yang membosankan, ya pindah saja cari yang lain. “Gitu aja kok repot,” kata Gus Dur.

Tidak perlu menjadi duri dalam daging buat orang lain. Ada bedanya menyampaikan kritik dengan sekedar nyinyir.

Kritik itu tujuannya mencari solusi.

Memberikan masukan dan pendapat lain yang harapannya bisa memberikan pandangan lain terhadap suatu masalah. Belum tentu benar dan tidak perlu memaksakan diri bahwa itu satu-satunya solusi yang harus kudu pasti wajib dilaksanakan. Jadi tidak lantas kalau tidak diikuti, maka orang lain dianggap salah.

Sedangkan nyinyir, adalah sekedar tidak suka saja. Pokoknya pendapat saya harus benar dan harus diikuti. Kalau nggak saya akan tetap marah sampai lebaran kuda. Model seperti ini biasanya jarang bisa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan. Kalau pun ia dapat, biasanya dikasihnya dengan terpaksa sekedar kesal saja dengan rengekannya. Sekedar supaya diam sementara.

Tapi apa kita tidak boleh mengeluh dan menyampaikan uneg-uneg tanpa di judge apa-apa? Sekedar di dengar keluhannya sehingga hati bisa jernih dan membantu mencari solusi masalah? Menurut saya itu boleh-boleh saja. Bahkan perlu. Hidup ini harus diakui merupakan kumpulan masalah. Setiap orang diberikan porsi masalahnya masing-masing agar hidupnya terasa lebih punya arti dan bermanfaatnya.

Seperti saya ini yang punya masalah berat badan yang tidak nambah-nambah atau nggak bisa masak. Ngeluh kemana-mana soal itu. Eneg juga mungkin yang dengarnya. Solusinya ada di saya berhenti mengeluh dan mulai makan sehat atau belajar masak. Tapi Masya Allah malasnya, lebih mudah untuk mengeluh. Tapi harus berapa orang yang mendengarkan keluhan saya yang membosankan? Emangnya orang lain kurang kerjaan mendengarkan keluhan saya yang solusinya sudah jelas. Sebenarnya saya mulai percaya, bahwa solusi setiap masalah yang menimpa kita, itu ada di dalam diri kita sendiri. Sudah dibisikkan di sana. Kita hanya perlu mendengar ke dalam diri. Dengan cara berhenti berkeluh-kesah…

Setelah saya pelajari beberapa tahun terakhir, ternyata memang anak-anak benar. Sekedar berkeluh kesah, marah-marah, mengomel, mengajak orang untuk ikut marah-marah dengan kita, memang tidak pernah efektif untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Lu masih ngomel-ngomel, orang lain mah udah kemana… Asli rugi dan tidak ada manfaatnya.

Kalau anak-anak saja bisa berpikir untuk bisa menjadi bagian dari solusi dan bukannya malah menambah masalah, saya sebagai ibunya mestinya juga bisa!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: