Bermimpi bersama Critical Elevennya Ika Natassa

Apa teman-teman mau tahu rasanya punya pasangan rupawan yang kaya raya?

Rasanya punya suami ganteng yang jagoan membuatkan kopi dan memahami kalau diomeli istri itu artinya perhatian?

Rasanya memiliki suami yang walau tidak dilayani selama 8 bulan tapi tetap setia dan gigih berusaha meminta maaf untuk satu kalimat menyakitkan yang pernah diucapkannya?

Rasanya jadi istri yang biasa membelikan hadiah ulang tahun pada suami di harga kisaran jam OmegaSeamaster Diver 300M? – bahkan saat kamu lagi ngambek. Harganya 4000 dollar, kalau kamu belum tahu.

Rasanya dilamar dengan cincin berlian Frank and Co. 1,2 carat, dapat mas kawin 100 gram emas, dan rumah mewah berteras belakang yang luas lengkap dengan kolam renang?

Bener nih mau tahu rasanya? Mau tahu sedikit atau mau tahu banget?

Segera baca buku Critical Elevennya Ika Natassa. Pasti rasa ingin tahumu akan terjawab. Sebuah buku yang pre ordernya pada 1 Juli 2015 lalu, sukses menjual 1.100 eksemplar hanya dalam 11 menit. Harus saya akui, tim marketing Gramedia Pustaka Utama memang cadas.

 

Novel Critical Eleven tentang apa?

Sebenarnya ceritanya sederhana. Tentang bagaimana pasangan suami istri Anya dan Ale yang harus menghadapi kehilangan buah hati mereka di saat seharusnya itu menjadi hari kelahiran yang begitu dinantikan. Pada sebuah kisah kehilangan, biasanya suami istri bersama-sama menghadapinya. Namun Tuhan itu adil, tidak semua kisah berjalan seindah itu. Dalam Critical Eleven, ada satu kalimat Ale yang menyinggung perasaan Anya. Sebuah ucapan lirih yang membuat dunia berhenti berputar bagi mereka berdua.

Mungkin kalau dulu kamu nggak terlalu sibuk, Aidan masih hidup, Nya. (hal 81)

Ucapan ini yang kemudian menjadi konflik dalam cerita. Lantas bagaimana mereka menjalaninya dan menyelesaikan masalah tersebut? Haruskah berpisah atau dipertahankan? Bagaimana mereka berdua harus mengatasi rasa duka yang mendalam, secara sendiri-sendiri?

Cerita dibalut dengan setting kalangan menengah atas di perkotaan. Maklum Anya adalah Konsultan Manajemen yang sempat ditugaskan 1 tahun di New York dan memiliki frequent flyer premium saking seringnya terbang kemana-mana. Sementara Ale adalah tukang minyak alias insinyur perminyakan yang bekerja di sebuah offshore oil production facilities di Teluk Meksiko. Kalau soal Ale anak jendral dan lulusan sekolah luar negeri, nggak usah terlalu dibahas lah ya.

Ika Natassa menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara kisah Anya dan Ale. Kadang-kadang menyebut diri sebagai gue, kadang-kadang saya. Alur cerita dibuat maju mundur dengan porsi campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris cukup banyak. Kalau bahasa Inggris teman-teman pas-pas an, pastikan ada kamus untuk membantu kalian memahami buku ini.

Diperlukan konsentrasi yang bagus untuk bisa menangkap setiap detil cerita yang disampaikan. Karena ada banyak penjelasan panjang lebar yang disampai untuk menambah bumbu-bumbu cerita. Kemampuan mendeskripsikan Ika Natassa saya akui luar biasa. Detil sekali dan sangat panjang lebar, sampai kita lupa dengan alur utama cerita. Kalau konsentrasi teman-teman kurang bagus, saya yakin banyak poin penting yang terlewat untuk diperhatikan. Jadi pastikan membaca novel ini saat perut kenyang dan hati tenang.

 

Karakter yang hidup di Critical Eleven

Hal keren lain yang harus diacungi jempol dalam novel ini adalah karakternya yang benar-benar hidup. Bisa jadi karena sejumlah karakter sebenarnya sudah pernah dikenal para fans setia Ika Natassa dalam novel-novel sebelumnya.

Ale, Aldebaran Risjad adalah tokoh laki-laki ideal yang diimpikan banyak wanita lajang. Ganteng, kaya, pintar, romantis, baik, alim di sapu bersih semua. Mas Boy banget nggak sih… Anak seorang jendral yang tidak memiliki hubungan terlalu baik dengan ayahnya. Hanya karena ia menolak menjadi tentara seperti ayahnya dan lebih memilih menggunakan tabungannya sendiri untuk sekolah ke Amerika. Walau ayahnya tidak mau membiayai sekolahnya, Ale berhasil mendapatkan beasiswa pada tahun kedua karena prestasinya sebagai atlet American Football di kampusnya. Jadi kebayangkan bodynya Ale. Tora Sudiro gitu kali ya.

Ale memulai karirnya sebagai insinyur perminyakan dengan bekerja di rig, yang kemudian pindah ke offshore oil production facilities di Teluk Meksiko. Pola kerjanya 5 minggu kerja, dan 5 minggu pulang kampung ke Jakarta. Hobinya hanya 5: nonton film, olahraga, membaca, koleksi Lego, dan segala yang hal tentang kopi.

Dan perempuan yang beruntung mendapatkan laki-laki yang main Twitter tapi nggak norak, diam tapi perhatian, ganteng tapi nggak sadar dia ganteng, suka kopi, adalah Tanya Laetitia Baskoro atau Anya. Sebuah pertemuan di Critical Eleven – sebuah istilah penerbangan untuk 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing – dalam penerbangan ke Sydney mempersatukan mereka menjadi suami istri setahun kemudian.

Sebenarnya saya bertanya-tanya apakah Ika Natassa telah menikah dan memiliki anak, karena ada beberapa adegan yang terasa kurang masuk akal. Tapi kalau melihat 4 lembar acknowledgement dalam novel Critical Eleven, di situ terlihat jelas bahwa Ika telah melakukan riset terhadap tokoh-tokoh nyata untuk memperkaya karakter yang ia buat. Ada teman yang petroleum engineer, ahli kopi, psikolog, teman yang mengalami kehilangan, sampai ke Dewi Lestari yang membantunya saat stuck di bab 9. Intinya, risetnya mantap, dan tidak perlu protes walau beberapa bagian agak terasa tidak masuk akal. Mari kita nikmati saja sebagai bacaan ringan.

Bagian menarik dari novel ini bisa di baca di postingan #9 Best Quotes from Critical Eleven.

 

Film Critical Eleven

poster-critical-eleven. Sumber: imgrum.net
Poster Critical Eleven. Sumber: imgrum.net

Jika buku belum bisa memuaskan impian kita tentang khayalan papan atas ini, mari kita tonton filmnya. Ale diperankan oleh Reza Rahadian. Ehm sempat mikir juga sih. Ale – mantan atlet running back american football di kampusnya hingga mendapat beasiswa – bekerja di offshore facilities – Reza Rahadian. Lumayan sulit memasukkan ke dalam imajinasi. Tapi kalau Ika Natassa personally memilih Reza Rahadian, ya saya nggak protes juga kok. Untuk orang seganteng Reza dan sudah pegang 4 Piala Citra, saya mah gampang memaafkan orangnya.

Sedangkan Anya diperankan oleh Adinia Wirasti, pemeran Karmen dalam film AADC. Sebagai sutradara adalah Monty Tiwa, yang sebelumnya telah menyutradarai film Sabtu Bersama Bapak dan Test Pack: You are my baby. Penulis skenario dipilih Jenny Jusuf, yang pernah mendapat penghargaan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik FFI 2015 untuk film Filosof Kopi. Weits, benar-benar orang-orang spesialisasi ekranisasi (proses penerjemahan novel ke film) nih.

Saya kira di film pasti penggambaran akan lebih enak dan tidak perlu penjelasan panjang lebar untuk sekedar menunjukkan gaya hidup kedua tokoh ini. Saya berharap flash back momen-momen ini ada dalam filmnya:

#1 Ale memamerkan kemahirannya membuat kopi untuk istrinya – pastinya dengan segala perangkat pembuatan kopi yang mahal dong. Buat saya ini penting, karena suami saya lagi ribut soal ingin punya perangkat pembuat kopi, padahal saya tidak suka kopi. Siapa tahu kalau lihat ini di film, saya bisa tertarik.

#2 Menyaksikan Ale merakit Lego Tecnic 9396, helikopter lengkap dengan power functions motor set yang memungkinkan baling-balingnya bisa muter beneran. Backgroundnya mestinya di ruangan yang penuh dengan koleksi Lego Ale yang lain. Raka anak saya yang berumur 9 tahun, pasti langsung hijau matanya kalau melihat adegan ini. Saya tinggal bilang, “Tu Nak, kalau sudah besar dan punya uang sendiri, boleh beli Lego harga jutaan. Tidak perlu minta ijin Mama atau Istrimu lagi.”

#3 Bulan madu di beach house di East Hamptons yang memiliki jembatan kayu yang langsung menuju ke pantai. Melihat Anya mengatakan “This is all perfect. You did good, Aldebaran Risjad. The best surprise ever. You did good,” sambil duduk di deck belakang, berpelukan sambil mendengarkan suara ombak dan menatap bintang.

#4 Makan malam saat anniversary ke-3 Anya dan Ale di Le Bernardin, a Michelin starred restarant di Manhattan. Mau tahu apa yang yang mereka obrolkan sambil makan Chef’s Tasting Menu seharga 185 dolar itu. Tapi tidak apa-apa juga kalau dikontraskan dengan kencan pertama mereka di Ketoprak Ciragil, sebuah warung sederhana tanpa AC yang legendaris. Ini semua bisa jadi settingan yang seru untuk sebuah cerita drama yang sederhana.

#5 Adegan-adegan dengan Ayah Ale. Menurut saya ini adalah tokoh pendukung yang sangat penting yang wajib ada. Sedikit nongol tapi ucapannya penuh makna. Mau lihat dong adegan Ale dan ayahnya duduk di makam Aidan sambil membaca surat Al-Ikhlas 11x, Al Qadar 7x, Al-Fatihah 3x, Al Falaq 3x, An Nas 3x, Ayat Kursi 3x, dan ditutup dengan Surat Yasin. Wah, saya jadi merasa orang yang kafir karena hanya sanggup membaca Al Fatihah 1x dan doa seadanya kalau ziarah kubur.

Entah kenapa image di kepala saya tentang jendral itu SBY dengan anaknya Mas Agus. Mungkin efek Pilkada DKI. Tapi kalau dalam di film ini jendralnya diganti Deddy Mizwar atau Indro Kasino juga nggak apa-apa. Pokoknya bapak-bapak perawakan besar begitu deh.

#6 Adegan grand gesture Harris melamar Keara. Itu serius cincin seharga uang muka rumah diselotipin dan dititipin ke OB?

#7 Oh iya, daripada kena gunting sensor adegan mesra-mesraannya dihapus saja. Biarkan cukup ada dalam imajinasi para pembaca.

Saya terbayang ini akan seperti film Catatan si Boy atau Shopaholicnya Sophie Kinsella. Sebuah film yang dibalut dengan kemewahan. Hanya bedanya, kalau di Catatan si Boy atau Shopaholic memang cerita utamanya adalah menjual kemewahan. Kita memang niatnya mau lihat Om Boy yang anak orang kaya dan sekolah di Los Angeles. Atau betapa gilanya Becky Bloomwood membeli sejumlah barang-barang. Dari awal kita memang mencari itu.

Namun dalam Critical Eleven, poin utamanya bukan di kemewahan dan jualan brand. Tapi di cerita kehilangannya. Cerita kehilangan yang sebenarnya bisa terjadi dalam strata ekonomi manapun. Namun dalam kisah ini di kemas untuk golongan urban. Ini kalau kata adik saya, seperti saat foto anak  dengan latar belakang mobil atau tas baru yang kita punya. Orang-orang bakal tahu kita sebenarnya mau pamer yang backgroundnya itu, tapi sok malu-malu. Beda dengan kita langsung foto bendanya. Jelas kita memang niat mau memperlihatkan itu.

 

Tentang Ika Natassa

Kalau teman-teman belum jadi salah satu dari 57 ribu followernya di Twitter atau 35 ribu followernya di Instagram, mungkin kita perlu kenalan dulu.

Critical Eleven adalah novel ke-7 Ika Natassa. Jadi wajar kalau bukunya sudah ditunggu para fans setia yang sebelumnya telah terpesona dengan A Very Yuppy Wedding (GPU, 2007) yang menjadi Editor’s Choice Majalah Cosmopolitan Indonesia tahun 2008. Novel selanjutnya berturut-turut Devortiare (GPU, 2008), Underground (self-published, 2010), Antologi Rasa (GPU, 2011), Trivortiare (GPU, 2012), danTrivortiare 2 (GPU, 2014). Karya terbarunya The Architecture of Love (GPU, 2016) pun cukup diminati banyak orang.

Prestasi keren Ika Natassa yang lain adalah Finalis Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan Indonesia 2004, menjadi nominasi Talented Young Writer dalam penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008, dan Women Icon The Marketeers tahun 2010.

Percaya nggak, kalau ia mengerjakan semua ini dalam statusnya sebagai Senior Relationship Manager di Bank Mandiri. Bisaan ya. Penulis sakti!

Ika Natassa lahir 25 Desember 1977, dan sempat sekolah di Stanton High School, Iowa, USA selama 1 tahun pada 1995-1996. GPAnya 3,85 loh. Melanjutkan kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Sumatra Utara dan lulus pada tahun 2002 dengan IPK 3,4. So bisa jadi ini cukup menjelaskan mengapa Ika bisa menulis dengan begitu rapi. Pastinya sangat sulit menata cerita dengan detil seperti yang biasa ia tulis dalam buku-bukunya.

 

Kritik terhadap Critical Eleven

Seriously ya, ini bukan buku buat saya. Saya bukan orang yang berada di kalangan urban people yang punya penghasilan selangit dan selalu berbahasa Inggris sepotong-sepotong. Banyak bagian dari novel ini yang tidak masuk ke dalam nalar saya yang telah menikah selama 10 tahun dan masih merasa tanggal gajian suami adalah seperti orang yang baru transfusi darah segar.

Walau banyak bagian dalam Critical Eleven terkadang terasa bertele-tele, untung bagian yang sangat krusial bisa diceritakan hanya dengan 4 kalimat.

Waktu gue tiba di rumah sakit, Anya sudah dibawa ke dalam untuk diperiksa.

Lima menit kemudian gue dipanggil masuk.

Denyut jantung jagoan kecil nggak bisa ditemukan.

Jagoan kecil gue udah nggak ada. (hal 63)

Andai bagian lain banyak yang bisa di kompres seperti ini, saya kira inti dari novel ini bisa disampaikan cukup dalam 150 halaman. Tidak perlu sampai 344 halaman. Tapi memang sayang juga kalau kita sampai tidak tahu tentang detil tempat bulan madu Ale dan Anya di Hamptons, atau acara dinner anniversary mereka di New York yang harga makanannya 185 dollar per porsi.

Mengenai timeline bikin saya agak bingung. Jadi Ale itu dianggurin 6 bulan atau 8 bulan? Fakta ini muncul beberapa kali dan tidak konsisten. Sempat bikin ribut saya sama adik saya. Seingat saya sih 8 bulan, adik saya bilang 6 bulan. Setelah dibolak-balik berulang kali, akhirnya ketemu juga fakta berikut:

I miss making love to her, it’s been eight damn months, demi Tuhan, tapi gue lebih rindu lagi merasa dicintai dia. Sekarang ini apa? Cuma dianggap laler. – Ale di halaman 84.

Gue nggak bisa menahan diri untuk nggak senyum-senyum sendiri. Enam bulan bukan sebentar, gue sudah hampir gila, tapi akhirnya, man. Akhirnya dia memaafkan gue. Akhirnya. – Ale di halaman 162.

Mungkin sekedar salah cetak saja ya. Tapi jadi yang benar mana? 8 bulan atau 6 bulan? Kalau mau diralat di cetakan selanjutnya, saya sarankan 6 bulan saja. Kalau boleh malah 3 bulan saja. 2x waktu pulang Ale di Indonesia. Nggak baik ah ngambek lama-lama. Masa masih nggak mempan disogok selusin sepatu Loubutin kesukaan Anya.

Buat saya novel ini seperti mimpi bagi para lajang yang mengharapkan seperti itulah kehidupan berumah tangga yang ideal. Bayangkan saja, 8 bulan atau 6 bulan didiamkan oleh istri, Ale masih bisa berpikir:

Jadi hanya ini yang bisa gue lakukan. Bersabar, tetap ada buat dia. Di sini, ataupun dari jauh. Gue berharap mungkin ini bisa bikin dia sadar bahwa nggak ada laki-laki normal yang sanggup diperlakukan seperti ini dan menunggu seperti ini kalau dia nggak cinta mati-matian. – Ale halaman 84.

Hanya saja buat saya yang sudah menjalani 10 tahun pernikahan, hal seperti itu terlalu lebay rasanya. Iseng saya bertanya ke suami, “Kalau istri ngambek selama 8 bulan dan tidak mau melayani, apa yang akan dilakukan sebagai suami?” Dengan ringan suami saya bilang, “Kalau sudah minta maaf dan bukan karena sakit, ya tentu cari lagi.”

Ok, fix. My husband is not Aldebaran Risjad. Dia adalah laki-laki normal di kehidupan nyata. Dan saya mencintainya karena penuh maaf setelah seharian dianggurin untuk menulis review ini.

 

Data Critical Eleven

Judul: Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Editor: Rosi L Simamora

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2015

Halaman: 344 hal, 13,5 x 20cm

Harga: Rp 129.850,-

 

Novel Critical Eleven bisa di pesan di link ini.

 

Sumber:

https://www.ikanatassa.com/

https://www.instagram.com/ikanatassa/

https://twitter.com/ikanatassa

http://hai-online.com/Feature/Movie/Wih-Setelah-Pemain-Film-Critical-Eleven-Terungkap-Ini-Kata-Ika-Natassa

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

10 thoughts on “Bermimpi bersama Critical Elevennya Ika Natassa

  • January 12, 2017 at 12:53 pm
    Permalink

    Iya juga ya Mbak Shanty.. Apa ada lelaki yang mau dianggurin selama 6 bulan kecuali dia sedang berangkat perang ke perbatasan Irak? hmm..

    Reply
    • January 12, 2017 at 2:37 pm
      Permalink

      Dan Ale adalah laki-laki beristri yang baru pulang dari offshore selama 5 minggu.

      Reply
  • January 12, 2017 at 7:59 pm
    Permalink

    Saya setuju Teh Shanty, konfilknya jadi terlalu lebay dicetuskan krn perkataan seprti itu dan Anya-nya ngambek sampai 6-8 minggu.. menurut saya kurang logis, hoho.. tapi entah mgkn perbedaan dalam mengarungi rumah tangga aja keles yaa..
    Terus memang kehidupannya terlalu jetset, sampai lelah hayati ngikutinnya, hahha.. too good to be true dah. Tapi mungkin mmg ada kehidupan yg seperti itu di Indonesia sih. Yang pasti saya ga tahu menahu atau ga berada di lingkaran kehidupan yang seperti itu.
    Walaupun memang pujian utk Ika Natasha bisa bikin novel ini menarik, orang penasaran utk namatin sampai akhir halaman.
    Resensi dari Teh Shanty sudah menjelaskan semuanyaa, jempol

    Reply
    • January 12, 2017 at 8:10 pm
      Permalink

      eh 6-8 bulan maksudnya

      Reply
    • January 13, 2017 at 10:01 am
      Permalink

      Ada yang bilang itu lebay, ada yang bilang itu impian yang seru. Itulah novel ya. Selera banget.

      Reply
  • January 13, 2017 at 4:42 am
    Permalink

    Bagi pembaca yang belum berumah tangga biasa saja kali ya. Kerennya khazanah pernovelan di Indonesia nambah . . . .

    Reply
  • January 13, 2017 at 1:48 pm
    Permalink

    Baru mau ngoleksi novelnya, ehhh intip2 blog teh shan, udah keluar aja reviewnya yang super duper ajib, sampe ngomongin.6 atau 8 bulan. Hihihi
    Salah satu alasan belum beli adalah ada TRAUMA yang nempel klo baca karya Ika Natassa, hihihi. Tokohnya kelas atas banget, cerita yg detail bs mengaburkan cerita sebenarnya kalo asal baca, agak lelah juga di bagian detil2 ttg pekerjaan si tokoh utama.
    (Saya baca yang a very yuppy wedding). Berarti emg bgitu ya ciri khasnya.

    Tapi diluar itu salut sama Ika Natassa yang bisa begitu detil di tiap moment.

    Saya mau lah teh shan merasakan dpt yg indah2 dan mahal2 itu, meski hanya dalam mimpi. Hihihi

    Nice review 🙂

    Reply
    • January 13, 2017 at 4:28 pm
      Permalink

      Selera banget sih. Suka nonton si Doel yang membumi atau Mas Boy yang jet set. Dua-duanya bisa seru. Tapi kata adik saya ini mah nggak nggak gitu atas. Ada novel lain yang lebih atas lagi stylenya. Seperti novelnya Sitta Karina. Saya sih belum pernah baca.

      Reply
  • January 13, 2017 at 5:01 pm
    Permalink

    Iyaya teh, kaya makanan gitu, sesuai selera banget ya. Tiga atau empat tahun kebelakang gramedia nerbitin ulang novel yang kayaknya setting jaman baheula. Kayaknya taun 70 atau 80an gt teh, salah satu yang asta punya judulnya Bukan Istri Pilihan penulisnya Maria A. Sardjono.
    Bahasanya, alamakkkk, ala majalah kartini kala ituh 🙂

    Kalo direndengin sama Ika Natassa jauhhh banget, nah jadi pengen baca Sitta Karina kalo novel ini terbilang kurang jetset. Hihihi.

    Tapi jadi makin warna-warni ya kehidupan per-novel-an Indonesia.

    Teh mau nanya juga dong, kalo teteh suka baca novel juga? Trus yang rasa (rasa bumi apa rasa langit :D) apa klo boleh tau?

    Reply
    • January 13, 2017 at 8:59 pm
      Permalink

      Kalau Novel saya sukanya yang punya makna dan nilai moral mendalam seperti Supernova, Alkemis, N5M, Sabtu Bersama Bapak, atau Novelnya Tere Liye. Tapi kalau kepaksa di suruh baca Dilan atau novelnya Raditya Dika, ya nggak nolak juga. Udah baca Review saya yang Dilan? Ampun dah tu novel, tapi ternyata menyumbang 20ribu views di blog ini. Selera orang-orang benar menakjubkan.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: