#9 Best Quotes from Critical Eleven

Sudah baca novel Critical Elevennya Ika Natassa?

Kalau belum, segera baca review saya di postingan Bermimpi bersama Critical Elevennya Ika Natassa. Kalau sudah, apa best quotesmu? Kira-kira sama tidak dengan pilihan saya dalam postingan ini?

Yang keren dari novel keluaran GPU 2015 ini adalah karena cukup banyak informasi yang mencerahkan. Suka nih saya kalau ketemu penulis yang selalu menyodorkan hal baru yang menarik dan nggak basi. Seperti dalam potongan-potongan kutipan berikut:

 

#1 Mengenai pengelompokan ingatan

“Tentang ingatan yang dikelompokkan dalam 3 jenis: pertama ingatan implisit dan prosedural seperti cara merebus telur, menggunakan komputer, letaknya tersebar di seluruh bagian otak. Ingatan yang berkaitan dengan perasaan atau emosional disimpan di amygdala, di belakang kedua mata kita. Dan ingatan yang bersifat informasi dan pengetahuan yang kita dapat dari media atau conscious visual memories letaknya di hippocampus.

Memory is a really bad master. It fucks with your mind, memerkosa kemerdekaan memilih, tanpa ampun, dan tidak ada yang bisa kita lakukan jika kita membiarkan hidup kita dikuasai ingatan yang seharusnya kita buang jauh-jauh.” – hal 22

 

#2 Nasehat-nasehat Ayah Ale

“Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.” – hal 31

“Istri itu seperti biji kopi. Kalau kita sebagai suami yang membuat kopi – memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar.” – hal 56

 

#3 Saat-saat Anya mengingat  Aidan

“Kalau kita berbuat baik dan benar, dan bisa membahagiakan orang, kita akan mendatangkan cinta buat sekitar dan diri sendiri. Too much hate in this world already, we need people to show love.” – hal 270

“Some wish remains a wish for as long as we live. Bukan karena kita kurang berusaha, namun karena memang sudah begitulah takdirnya.” – hal 274

 

#4 Ketika Harris menanyakan soal komitmen

“Gue menunggu setahun untuk melamar dia cuma untuk memastikan gue udah melakukan segalanya untuk meyakinkan dia dan dia nggak punya pilihan selain langsung menerima lamaran gue.” – Ale, hal 186.

Jadi ya, setahun itu Ale menghubungi temannya Paul si Arsitek untuk membuat rumah impian yang menguras seluruh tabungannya, dan tetap bisa membelikan berlian 1,2 carat.

 

#5 Teori grief dan kapan finish line saat penuh duka dari seorang psikolog

“Jika kita perlu membedakan antara chronos time dan kairos time. Chronos time adalah waktu sebagaimana tercatat oleh kalender, masa lalu, masa kini, dan masa depan kita yang diukur dengan jam, hari , dan tahun. Kapan kita bisa “pulih” dari duka yang mendalam tidak bisa diukur dengan chronos time, namun seharusnya diukur degnan kairos time. Kairos time adalah proses yang ktia butuhkan untuk melanjutkan hidup kita ke tahap selanjutnya, tahap ketika aku bisa menerima bahwa rasa duka ini memang tidak akan pernah pergi, tapi tidak lagi mendominasi seluruh keberadaanku, karena hidup memang begitu dan hidup harus berlanjut. To move on. To accept and move on.” – hal 275

 

#6 Bahwa diomeli perempuan itu artinya cinta

“Ternyata Harris sama seperti gue, menikmati diomeli perempuan yang kami cintai karena itu artinya perempuan itu juga mencintai kami.” – hal 303  (kata-kata Ale, bukan suami normal saya di alam nyata).

 

#7 Teori Anya untuk mengukur kualitas seorang laki-laki

“The way people appear to use social media is similar to how we interact in our non-virtual lives. Oke, mungkin ada yang namanya pencitraan, tapi aku masih yakin sepenuhnya bahwa cara paling gampang – dan hampir selalu akurat- adalah mengenal seseroang adalah melalui Twitter behaviornya. You see, Twitter behavior is not just about how and what he tweets, tapi juga termasuk siapa yang dia follow, siapa dan apa yang sering dia retweet, seberapa sering dia nge-tweet.” – hal 70

Dan saya pikir ini berlaku untuk semua media sosial yang lain. Gaya FB-an, gaya IG-an, gaya YouTube-an, sedikit banyak menunjukkan kepribadianmu.

 

#8 Tentang ujian keimanan seorang laki-laki

“Bohong kalau gue bilang gue nggak pernah marah kepada Tuhan setelah Dia mengambil Aidan. Gue bukan nabi. Ujian keimanan seorang laki-laki itu bukan waktu dia digoda oleh uang, perempuan, atau kekuasaan seperti banyak yang dikatakan orang-orang. Ujian keimanan itu sesungguhnya adalah ketika yang paling berharga dalam hidup laki-laki itu direnggut begitu saja, tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa, kecuali bahwa itu sudah takdirnya. Tapi gue tahu gue nggak boleh kalah. Gue harus kuat. Tiap gue merasa mulai goyak dan marah kepada hidup yang juga tidak bisa gue kendalikan ini, yang gue lakukan adalah membaca surat Dhuha berulang-ulang dalam hati.” – Ale di hal 121.

 

#9 Nasehat Tara untuk Anya

“Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” – hal 252

 

Selain kutipan-kutipan serius di atas, ada juga bagian yang menurut saya bikin tersenyum. Beda memang kalau horang kaya.

 

#1 Mengenai toko buku

“Toko buku itu kayak surga kecil. I mean, apa sih yang nggak ada di toko buku? Mau baca bisa, tenang nggak berisik, bersih, mau ngopi-ngopi juga bisa. Kadang kalau lagi suntuk di kantor, aku ke toko buku cuma untuk menatap sampul buku yang lucu-lucu di rak. Itu liberating banget buat aku, Le…Eh aku aneh ya, Le?” – hal 13

Ketika Anya mengatakan suka toko buku, tapi tidak terlalu suka membaca. Sempat merasa we finally have something in common, tapi akhirnya sadar, yang dimaksud Anya pasti bukan toko buku diskon atau Gramedia kan?

 

#2 Mengenai nonton konser ke Sydney

“Aku tobat nonton konser di Jakarta. Mau menuju gedung konsernya aja udah penuh perjuangan, keluar macetnya lebih mampus lagi. Pernah tuh di Sentul, keluarnya aja tiga jam sendiri. Macetnya bikin nggak waras. I hate Jakarta.” – hal 10

Ketika Anya memilih bela-belain ke Sydney hanya untuk nonton konser Coldplay daripada harus menontonnya di Jakarta.

 

#3 Mengenai punya 100 sepatu Mothercare untuk bayi belum lahir

“Aku melipat pakaian dan merapikan sepatu ini satu per satu, ada lebih dari seratus pasang, setiap pasang punya cerita sendiri-sendiri.” – Anya, hal 66. Dan kalimat ini di ulang 2 kali dalam halaman yang sama.

Kenapa saya tahu itu brandnya? Karena di lembar lain, dijelaskan ada bagian Anya membayar kado di kasir Mothercare, toko baju anak langganannya. Lengkap dengan Ale yang mengijinkan membelikan 3 mainan untuk keponakannya di toko mainan sebelah.

Ini Best Quotesku. Mana Best Quotesmu? Kalau belum baca novelnya segera baca reviewnya di postingan sebelah ya.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “#9 Best Quotes from Critical Eleven

  • May 12, 2017 at 9:07 am
    Permalink

    Ngga salah follow bunda satu ini,,,
    Terimakasih sudah menginspirasi

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: