Ilmu berdebat dari Dale Carnegie

Menertawakan orang yang salah itu memang enak banget. Apalagi kalau mereka orang yang tidak terlalu kita sukai. Seperti saat saya menertawakan penulisan Fitsa Hats yang salah di BAP. Makin tergelak-gelak ketika muncul bantahan bahwa Fitsa Hats itu dari Itali dan bukan Amerika. Rasanya sudah kaya nonton stand up comedy saja. Saya ketawa karena itu jelas-jelas salah. Saya benar dan dia salah. Entah kenapa rasanya penting sekali buat saya untuk memberitahu dunia betapa tololnya kesalahan itu.

Kasus seperti saya ini ternyata pernah juga di alami penulis buku terkenal Dale Carnegie. Dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain (How to Win Friends and Influence People), penulis menceritakan suatu kejadian saat ia diundang menghadiri pesta oleh seorang yang sangat terkenal. Dalam sebuah pembicaraan tuan rumah menyampaikan sebuah kutipan dan mengatakan sumbernya dari Kitab Suci. Menurut Dale itu jelas-jelas salah dan tidak ada keraguan mengenai itu. Dale pun mengoreksi si tuan rumah. Namun si Tuan Rumah ngeyel dan keukeuh bahwa pendapatnya benar.

Dale pun meminta pendapat teman lain ditempat itu yang ia tahu benar ahli dalam bidang tersebut untuk membantu mengoreksi si Tuan Rumah. Temannya hanya mengatakan: “Dale Anda salah, kutipan itu benar dari Kitab Suci.”

Dalam perjalanan pulang, Dale masih dongkol dan menanyakan kenapa temannya tidak membelanya dan mengatakan yang sebenarnya.

“Kau benar Dale. Tapi kita adalah tamu di pesta itu. Mengapa harus membuktikan bahwa pada seseorang bahwa dia salah? Apakah hal itu akan membuatnya jadi menyukaimu? Mengapa tidak membiarkannya menyelamatkan muka? Dia tidak minta pendapatmu. Dia tidak mengingkan itu. Mengapa berdebat dengannya? Hindari sudut yang tidak enak.”

Di sini Dale baru sadar, bahwa ia telah membuat si Tuan Rumah merasa tidak enak. Dan parahnya, ia bahkan menempatkan temannya pada situasi yang memalukan.

Menurut Dale Carnegie, 9 dari 10 kemungkinan, sebuah argumen akan berakhir dengan masing-masing kontestan malah menjadi lebih kokoh dengan pendapat mereka bahwa merekalah yang mutlak benar. Kita tidak mungkin menang dalam sebuah debat. Kalau pun kita menang dalam sebuah debat hakikatnya kita akan melukai harga diri orang tersebut. Lawan debat kita akan membenci kemenangan kita dan semakin berusaha semakin kukuh mempertahankan pendapatnya sendiri.

Ada kisah lain yang menarik dalam buku Dale Carnegie, yaitu mengenai seorang penjual yang pemarah dan suka berdebat jika mendengar calon pelanggannya memuji pesaingnya. Setelah mendapat pelatihan untuk bisa menahan diri, penjual ini karirnya meningkat pesat. Kok bisa? Jadi ketika pelanggannya memuji pesaing, alih-alih mendebat dan memamerkan jualannya, ia memilih untuk membahas produk yang disampaikan pelanggan. Ia memilih berada pada sisi yang sama dengan pelanggan dan tidak membuka ruang debat. Setelah memenangkan hati pelanggan, baru ia masuk dan menjual produknya.

Tips Menghindari Perdebatan

Berikut beberapa saran untuk menghindari perdebatan dalam buku How to Win Friends and Influence People:

#1 Sambut baik rasa tidak setuju.

Terima dulu hal yang berbeda dan tidak perlu reaktif untuk membantah. Bisa jadi ini merupakan kesempatan untuk mengoreksi diri sebelum membuat kesalahan yang lebih serius.

 

#2 Dengar dulu dan beri kesempatan orang lain bicara hingga selesai.

Jangan menolak, mempertahankan diri, atau berdebat. Berusahalah membangun jembatan pengertian. Jangan malah membangun tembok penghalang yang lebih tinggi dari kesalahpahaman. Jangan ikuti naluri untuk reaktif dan defensif.

 

#3 Cari persamaan dari kedua pendapat.

 

#4 Jujurlah untuk mengakui kesalahan.

Hal ini akan membantu lawan menurunkan senjatanya dan mengurangi sifat defensifnya.

 

#5 Berjanjilah untuk memikirkan ide-ide lawan dan pelajari ide itu dengan seksama.

 

#6 Berterimakasihlah pada lawan dengan tulus untuk minat-minat mereka.

Siapa pun mau meluangkan waktu untuk menyatakan tidak setuju dengan kita berarti dai berminat dalam hal yang sama dengan kita. Bukan tidak mungkin mereka bisa menjadi teman yang kita perlukan.

 

#7 Tundalah bereaksi, untuk memberikan waktu kepada kedua belah pihak untuk berpikir. Kendalikan amarah.

Ajukan pertanyaan berikut pada diri sendiri:

Mungkinkah lawan saya ada benarnya?

Apakah reaksi saya akan menyelesaikan masalahnya atau hanya menghasilkan frustasi?

Apakah reaksi saya akan membuat mereka semakin menjauh, atau bisa menarik mereka lebih dekat dengan saya?

Sekarang saya mulai mengerti mengapa banyak selebriti tidak terlalu mengomentari komentar para haters di akun mereka. Tidak ada gunanya mengomentari pendapat orang lain yang berbeda. Apalagi dengan tujuan menyalahkan dan mempermalukan orang tersebut. Di sini bedanya menyampaikan perbedaan pendapat dalam diskusi yang sehat dengan berdebat. Diskusi yang sehat sangat diperlukan untuk bisa mendapatkan solusi terbaik dari sebuah masalah.

Kita tidak akan pernah memenangkan sebuah perdebatan. Jadi inga inga ya kata Om Dale…

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: