Alim, tapi kok gitu?

Terus terang saya kok belum terbiasa melihat orang alim yang identik dengan memaksakan kehendak dan melakukan kekerasan. Image saya tentang orang alim itu adalah orang seperti Rasullullah SAW, Dalai Lama, Bunda Theresa, atau Mahatma Gandhi yang mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat manusia tanpa pandang apa pun latar belakang mereka. Mereka bukan tipe orang yang mengkotak-kotakkan orang dengan warna-warna tertentu. Di kepala saya, yang namanya orang alim itu adalah orang yang jauh dari melakukan kekerasan dan merasa berhak menjadi tangan Tuhan untuk menghukum manusia lain.

Sebuah Opini bagus di Kompas, 6 Januari 2017 berjudul Kesalehan dan Kekerasan membahas tentang hal ini. Tulisan ditulis oleh F Budi Hardiman, seorang pengajar filsafat di STF Driyarkara. Penulis mempertanyakan bagaimana menjelaskan aksi terorisme yang dilakukan seseorang demi masuk surga atau aksi radikal atas nama agama yang menebarkan kebencian kepada pihak yang berbeda. Alim, tapi kok gitu?

Masalah ini ternyata pernah disampaikan Plato dalam sebuah dialog antara Socrates dan seorang ulama bernama Euthyphro. “Apakah orang saleh dikasihi dewa-dewa karena ia saleh, atau ia saleh karena ia dikasihi dewa-dewa?” Pertanyaan ini bisa diterjemahkan menjadi “Apakah sesuatu yang baik diperintahkan Tuhan karena hal itu baik, atau hal itu baik karena Tuhan memerintahkannya?”

Bagi para pengantin bom bunuh diri atau pelaku pemaksaan kehendak terhadap orang yang mereka anggap kafir atau sesat, yang mereka lakukan adalah perintah Tuhan dan niat saleh untuk membela agama. Melalui indoktrinasi dan provokasi mereka merasa nyaman dengan berkeyakinan bahwa apapun yang diperintahkan Tuhan dalam kitab suci adalah benar. Tidak perlu mempergunakan nalar untuk memahaminya dan cukup percaya saja.

Dilema seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika menggunakan penalaran yang sehat tentang Tuhan dan perintah-Nya. Akal sehat kita tentunya mengakui bahwa Tuhan adalah absolut baik dan tidak membenarkan kekerasan. Mustahil Tuhan yang Maha Kasih memerintahkan aksi bom bunuh diri karena Tuhan yang seperti itu adalah Tuhan yang sadis. Juga mustahil Tuhan yang maha berkuasa membutuhkan pembelaan kita dengan aksi massa. Karena jika perlu pembelaan manusia, itu menunjukkan Dia Tuhan yang lemah. Tapi kenapa masih banyak orang yang tidak bisa menerima nalar ini?

Menurut penulis, alasannya lebih ke psikologis-politis daripada logis. Karena kebencian pada suatu target, perintah Tuhan pun diselewengkan untuk membenarkan kepentingan politis. Kebencian yang dibalut dengan kesalehan ini membuat mereka siap menyongsong kematian. Ini yang disebut Plato sebagi perdagangan dengan Tuhan: mereka memberi kurban untuk mendapat pahala surgawi.

Kesalehan itu sebenarnya perkara privat yang tidak perlu dibawa ke ruang publik. Saya sendiri juga merasa ada yang salah dengan menunjukkan kesalahen dengan cara memaksakan kehendak atau melakukan kekerasan. Kesalahen publik itu seharusnya tidak merusak toleransi religius apabila orang bersikap moderat terhadap perbedaan. Kesalehan seharusnya dapat mengakui kemajemukan manusia sebagai bentuk kekuasaan Tuhan. Kesalehan seharusnya tidak menakutkan, mengancam, dan memaksa, tetapi membawa damai bagi orang lain. Tokoh seperti Gus Dur, Marthin Luther KIng Jr., Mahatma Gandhi, telah mempratekkan apa yang disebut sebagai kesalehan publik.

Kembali ke dialog Euthyphro, pembicaraan ini berakhir buntu. Mereka tidak tahu jawaban mengenai  hakikat orang saleh itu apa. Bisa jadi ini merupakan sindiran kepada pihak yang merasa dirinya saleh, namun terjebak dalam radikalisme dan fanatisme agama yang memakai kesalehan sebagai kedok dari ambisi berkuasa.

Sebagai kesimpulan, Budi Hardiman menyampaikan bahwa kesalehan manusia semestinya lebih merupakan pengakuan akan keterbatasannya di hadapan yang tak terbatas daripada sebuah klaim pengetahuan final tentang perintah Tuhan. Sebagai makhluk terbatas, orang saleh sadar masih mencari kebenaran.

Sebuah perenungan bagus di akhir hari…

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Alim, tapi kok gitu?

  • January 6, 2017 at 11:26 pm
    Permalink

    Merinding . . . mengingat cara berfikir dan bertindak sang pengantin khususnya

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: