Warning: Error while sending QUERY packet. PID=157732 in /home/shantyst/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1879

Tips Berlatih Menulis Setiap Hari

Berapa sih penghasilan seorang penulis itu? Ketika Dee Lestari ditanya penghasilannya sebagai penulis di sebuah acara, ia menyampaikan bahwa ia setidaknya mampu membeli mobil baru dengan cash. Novel Intelegensia Embun Pagi yang harganya lebih dari Rp 100.000,- laku terjual pada masa pre order sebanyak 10.000 eksemplar. Dengan standar royalti 10%, dari pre order ini saja Dee bisa mengantongi 100 juta rupiah. Ini baru pembuka.

Masih banyak lagi penulis papan atas yang jumlah bukunya puluhan dan best seller di Indonesia ini. Tidak perlu jauh-jauh ke level penulis papan atas, blogger saja banyak yang kinclong-kinclong rejekinya.

Tapi bagaimana caranya bisa sampai ke level para mastah seperti mereka? Rasanya tidak ada cara lain selain belajar mengikuti jalan yang telah mereka lalui. Apakah cukup dengan mengikuti kelas menulis lantas ‘ujug-ujug’ kita bisa jadi seperti mereka? Coba kita lihat lebih dalam, berapa banyak penulis papan atas yang jebolan sekolah menulis? Mereka umumnya adalah orang-orang yang terbiasa menulis secara rutin sejak lama.

Jadi sekarang masalahnya, bagaimana caranya bisa menulis rutin seperti mereka? Darimana datangnya energi menulis yang berlimpah dan tidak gampang patah semangat melihat kualitas tulisan yang tidak naik-naik? Setelah 1 tahun terengah-engah berusaha berlatih menulis setiap hari bersama teman-teman #ODOPfor99days, rasanya saya mulai bisa meraba rahasianya berlatih menulis setiap hari.

 

Mitos Menulis Setiap Hari

Ada yang mengatakan melatih menulis setiap hari adalah mitos yang menyesatkan jika ingin tulisan bagus. Karena hanya akan membuat para penulis pemula kelelahan dan frustasi. Toh penulis papan atas juga tidak selalu menulis setiap hari. Itu bisa jadi ada benarnya dan bukanlah sebuah fitnah yang keji.

Sebenarnya prinsip dari menulis setiap hari adalah menimbulkan rasa kebutuhan pada aktivitas menulis. Tanpa rasa butuh, kecintaan kita pada kegiatan menulis tidak akan terpupuk. Dengan rutinitas yang sesuai dosisnya, kita akan merasakan manfaat yang luar biasa dari menulis. Kalau teman-teman sampai merasa tertekan untuk menulis, itu pasti ada yang salah.

 

#10 Tips Berlatih Menulis Rutin

Berikut #10 Tips yang bisa saya berikan agar kita bisa konsisten berlatih menulis setiap hari:

#1 Tetapkan niat dan tujuan

Misalnya saya ingin berlatih menulis setiap hari agar tulisan layak masuk media cetak yang dibaca banyak orang. Atau memasang niat untuk bisa mencurahkan isi kepala agar beban pikiran menjadi lebih ringan.

#2 Tetapkan durasi waktu dan jangka waktu latihan

Sisihkan waktu untuk menulis yang masuk akal. Dulu saya untuk menulis satu tulisan membutuhkan waktu 4-5 jam. Mulai dari menulis, mencari data, sampai bersosmed ria. Akibatnya saya kesulitan menyediakan waktu untuk menulis. Karena jarang-jarang saya punya waktu lebih 4-5 jam sehari hanya untuk menulis.

Dalam 1 bulan terakhir, saya akhirnya bisa menulis rutin setiap hari setelah saya mengurangi waktu menulis menjadi hanya 30 menit sehari. 30 menit adalah waktu yang lebih masuk akal untuk saya sisipkan dalam keseharian. Mengenai hasil tulisan 30 menitan yang tidak bagus, itu belakangan dibahasnya.

Tetapkan juga satu masa waktu latihan. Jangan terlalu sebentar. Misalnya 1 bulan sudah bosan dan berhenti. Repot kalau begitu. Milikilah komitmen minimal selama 3 bulan atau 99 hari. Saya bahkan menyarankan untuk berlatih sebuah ilmu baru selama 1 tahun secara konsisten. Setelah 1 tahun berlatih rutin, baru bisa ditentukan, apakah memang perlu untuk kita teruskan atau berpindah mempelajari hal lain.

#3 Miliki buku ide

Untuk menampung ide yang lewat di kepala, penting buat kita memiliki buku ide. Tidak perlu buku yang cantik-cantik dan mahal. Kumpulan kertas bekas yang belakangnya masih terpakai yang dirapikan dan diklip dengan rapi juga sudah cukup. Jadi begitu ide berkelebat di kepala, segera ambil alat tulis dan menuliskan kata kunci dalam buku ide. Jangan ditunda-tunda untuk menunggu buka laptop dulu. Duh kelamaan itu.

Bagusnya ide itu segera dijabarkan dalam bentuk outline yang berisi kata kunci 5W 1H. Kita perlu mengetahui apa, kenapa, siapa, kapan, dimana dan bagaimana mengenai suatu topik. Misalnya ide tulisan ini membuat tips berlatih menulis setiap hari. Saya mengajukan pertanyaan tentang kenapa perlu berlatih menulis setiap hari, apa yang dimaksud berlatih menulis setiap hari, bagaimana caranyanya, dan sejenisnya. Semakin detil semakin bagus.

#4 Mencari Referensi

Setelah memiliki ide dan outline, kita bisa lihat referensi apa yang kita butuhkan. Saat luang, kita bisa mencari referensi yang dibutuhkan. Bisa dengan membuat catatan dari membaca buku, men-save link hasil browsing di internet, mengobrol dengan tetangga, dan lain-lain. Intinya mencari referensi dilakukan terpisah dari saat waktu menulis.

#5 Mulai menulis sesuai durasi waktu yang ditentukan

Usahakan lakukan di awal hari. Jika tidak bisa pagi, lakukanlah siang. Kalau siang sibuk, lakukanlah sore. Ketika sore masih tidak bisa juga, kurangi waktu tidur demi menuntaskan komitmen hari tersebut.

Itu sebabnya, kita perlu membatasi jumlah komitmen kita dalam melakukan sesuatu. Jangan segala mau dikerjakan kata Adjie Silarus dalam bukunya Sejenak Hening dan Sadar Penuh Hadir Utuh. Belajarlah untuk ikhlas mengurangi, bukan malah menambah panjang daftar pekerjaan. Pilihlah pekerjaan yang benar-benar penting untuk kita lakukan. Saya sendiri saat ini berusaha membatasi apa saja yang perlu saya lakukan setiap hari. Dan 30 menit menulis setiap hari adalah salah satu komitmen utama saya.

Sesuai saran para mastah menulis papan atas, jauhi Sosmed saat menulis. Percayalah dunia masih akan berputar kok kalau kita memutuskan koneksi internet sekitar 30 menit – 1 jam.

#6 Cicil setiap hari, bukan ditumpuk di akhir minggu

Tidak perlu dipaksakan bahwa dalam durasi 30 menit sehari harus jadi satu tulisan yang layak dipamerkan kepada umat. Bisa saja dalam 30 menit hari pertama kita menuliskan ide dan draft kasar, 30 menit hari ke-2 kita membuat outline yang rapi, 30 menit hari ke-3 mencari referensi pendukung, 30 menit hari ke-4 dan ke-5 kita menuliskannya, 30 menit hari ke-6 kita melakukan editing dan revisi. Baru pada 30 menit hari ke-7, kita bisa mempublish tulisan tersebut dan memamerkannya ke sejumlah sosial media yang kita miliki.

Satu minggu menghasilkan 1 tulisan hasil kerja keras 30 menit setiap hari itu lebih baik daripada menulis 3 jam seminggu sekali.

#7 Jangan perfeksionis

Tulisan 30 menitan, apalagi kalau dilakukan oleh orang yang baru 1-2 tahun nge-blog angin-anginan, hasilnya kemungkinan besar hancur. Janganlah dibandingkan dengan para mastah yang sudah malang melintang bertahun-tahun di dunia penulisan dan mampu menghasilkan pundi-pundi emas hanya dengan menulis satu artikel 20 menitan. Tulisan kita pasti masih berantakan. Sabar saja, jalani prosesnya. Jangan putus asa untuk terus berlatih dengan hati. Insya Allah nanti juga sampai kok. Menulis itu jangan gampang pundungan.

#8 Lakukan terus menerus tanpa jeda

Seperti kebiasaan makan atau beribadah, jangan kasih waktu jeda untuk berhenti. Jika ingin melatih sebuah kebiasaan kita harus menjadikannya sebagai kebutuhan yang diperlukan setiap hari. Tanpa jeda. 33 hari pertama mungkin sulit sekali. 33 hari kedua mulai agak terbiasa. Dan 33 hari ketiga mulai terasa nagih dan kita tidak akan terlalu sadar lagi bahwa itu sebuah kewajiban.

#9 Pamer tulisan

Jangan malu untuk memamerkan tulisan yang masih berantakan. Share tulisanmu di media sosial dan grup-grup blogging. Biarkan orang lain membacanya. Biasanya kalau tulisan kita jelek banget, orang malas bacanya, apalagi mengomentari. Sabar saja. Jadilah penikmat tulisan kita sendiri. Baca lagi. Cek lagi kalau ada typo atau lainnya. Lakukan revisi sambil jalan. Teruslah berlatih untuk melihat seperti apa tulisan yang diminati orang lain.

#10 Cari teman

Jangan menulis sendiri kalau imanmu masih lemah pada godaan kemalasan. Carilah teman dan bergabunglah dengan komunitas menulis untuk berlatih bersama. Setidaknya kalau semangat kita lagi loyo, kita masih bisa melihat teman-teman lain di lintasan yang masih semangat. Insya Allah bisa jadi pemacu kita untuk segera bergerak kembali.

 

Bagaimana teman-teman? Sudah siap berlatih menulis setiap hari? Jangan lupa untuk menulis dengan hati dan rasa senang. Bukan rasa tertekan. Kalau perlu teman berlatih, mari bergabung di #ODOPfor99days.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: