Blessing in Disguise

Akhir tahun ini saya ditimpa musibah. Harta yang paling saya cintai hilang. Allah tahu saya tidak punya banyak uang atau perhiasan, sehingga yang diambil adalah salah satu harta yang paling saya cintai. Apa itu? Semua data tulisan selama 3 tahun terakhir di laptop hilang. Semuanya! Mulai dari file draft tulisan, dokumentasi ide-ide, rencana buku, ribuan image, hilang tanpa jejak. Dan saya tidak punya back up apa pun selain tulisan yang telah di publish di blog atau disimpan dilemarinya om Mark Zuckerberg. Sebuah kejadian maha aneh hanya karena berusaha menginstal sebuah program.

Lemes… Rasanya seperti bayi baru lahir yang putih bersih. Kosong. Melompong. Sekaligus ringan. Tapi mau bagaimana lagi. Apa gunanya marah dan menangis. Berdoa saja semoga masih ada jalan untuk mencari remah-remah file yang tersisa dan berharap ada keajaiban file yang hilang bisa muncul kembali. Kalau dalam sekejap sesuatu bisa hilang, bukan tidak mungkin ia akan kembali pula pada waktunya.

So what next? Berhenti menulis? Pundung dulu selama beberapa hari? Ya tidak bisa begitu lah. Apa juga gunanya. Saya percaya setiap kejadian pasti terjadi ada maksudnya.

Apa hikmah hilangnya pekerjaan selama 3 tahun?

Kebetulan suami saya belum lama ini beli laptop baru dan berniat untuk mengisi semua program dengan open source. Ini adalah cita-cita lama kami yang ingin bisa lepas dari software bajakan. Tahu sih dari dulu kalau menggunakan software bajakan itu sama dengan mencuri. Dosa. Tapi kan susah ya bisa lepas dari software bajakan di Indonesia ini. Bisa, tapi berat mewujudkannya. Maklum sudah terbiasa di manja dengan barang-barang bajakan.

Setelah semua file saya hilang, saya jadi terpikir untuk menggunakan open office juga. Jangan-jangan Allah tidak memberkati tulisan-tulisan saya yang ditulis dengan software bajakan. Makanya dihilangkan saja dan secara tidak langsung ditunjukkan jalan untuk menggunakan program WPS sebagai pengganti Microsoft Office yang biasa saya gunakan. Ternyata program WPS ini memang asyik banget. Ada WPS Writer sebagai pengganti Word, WPS Spreadsheets sebagai pengganti Excel, dan WPS Presentation sebagai pengganti Powerpoint. Bisa dibilang saya lebih suka WPS daripada Microsoft Word. Tampilannya lebih rapi dan enak, dan tidak terlalu berbeda dibanding Word. Kelebihan lain yang saya suka adalah kita bisa langsung menyimpan data di Cloud Dokumen. Insya Allah tidak ada cerita panik lagi kalau data hilang dari laptop.

Setelah WPS, saya jadi ketagihan cari open source lain sebagai pengganti program-program lain. Ada Gimp sebagai pengganti Photoshop, Inkscape, Photoscape, dan lainnya yang belum sempat saya ulik. Intinya kalau niat tidak mau pakai bajakan, memang ada jalannya. Dasar kemarin belum niat saja. Kehilangan ini ternyata jadi momen untuk mendapatkan pengganti yang lebih baik dan lebih halal. Semoga bisa lebih berkah jika mengerjakan sesuatu dengan software yang bukan hasil mengambil hak orang lain dengan jalan mencuri. Amin.

 

Penyimpanan File

Selain hikmah untuk berkenalan dengan program-program open source, kejadian ini juga membuat saya berpikir untuk merapikan folder penyimpanan dan back up file. Jangan sampai kejadian yang sama jadi terulang lagi.

Berikut beberapa tempat penyimpanan ide di kepala yang saya rapikan setelah kejadian kehilangan ini:

 

  • Draft buku ide tulisan tangan

Kalau teman-teman Arsitek biasa punya buku sketsa, nah sebagai penulis kami punya buku notes untuk menyimpan garis besar apa yang ingin ditulis, ide-ide yang lewat sekelebat di kepala, atau sekedar kata-kata menarik. Menurut saya, menulis tangan itu memang perlu sekali. Biar kata tulisan kita jelek dan susah terbaca, tapi entah kenapa, saat menulis dengan tangan, ide-ide bisa mengalir dengan lebih lancar. Khususnya jika perlu membuat gambar atau bagan garis besar. Beda dengan menulis langsung di laptop.

Selain menulis dengan tulisan tangan, draft ide juga bisa ditulis di notes HP. Ini bisa menjadi alternatif ketika tidak memungkinkan untuk menulis di buku notes dan tidak menemukan polpen. Jadi tidak ada alasan buat tidak bisa menulis sebenarnya.

 

  • File di laptop

Setelah punya banyak ide, mulai deh harus di eksekusi satu demi satu dengan lebih rapi. Paling pas kalau dibuatnya dengan laptop. Biar mudah dicari, folder per tema tulisan harus ditata dengan rapi dan efisien.

 

  • File penyimpanan di Cloud

Jaman sekarang ini menjadi penting. Walau memang tetap ada resiko data kita hilang atau dicuri, tapi tetap saja ini penting untuk jaga-jaga. Saya sih sebenarnya tidak terlalu khawatir soal data yang dicuri. Tulisan saya bukanlah tipe tulisan yang dilirik Julian Assange untuk dibocorkan di websitenya Wikileaks. Bukan juga tulisan berhaga jutaan dollar seperti punyanya Tante JK Rowlings. Lah, saya mau menulis apa sih, paling juga tulisan remeh temeh yang entah ada yang mau baca atau tidak.

Untuk fasilitas penyimpanan online, bisa disimpan di cloud yang disediakan oleh program yang kita pakai, Dropbox, Google Drive, dan banyak lagi. Intinya kita bisa mengakses dokumen kita dari mana saja.

 

  • File penyimpanan hard disk

Biar aman, saya pastikan juga punya back up di external hard disk dan USB. Minimal untuk yang sering dipakai.

 

  • Sosial Media

Nah buat tulisan yang cukup layak untuk di konsumsi publik, ada baiknya langsung saja ditayangkan di blog atau sosial media. Insya Allah, tidak hilang dan akan bermanfaat buat banyak orang yang membutuhkannya.

 

  • Print out

Ternyata print out itu penting juga. Saat semua hilang, saya bersyukur sekali masih memiliki sejumlah print out tulisan yang bisa dibaca.

 

Akhir kata, memang selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Its really blessing in disguise. Alhamdulillah…

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: