Apakah Sebuah Musibah Benar-Benar Sebuah Musibah?

Kita sering begitu sedih ketika ditimpa sebuah musibah. Apakah itu sekedar kehilangan uang atau kemalangan yang besar. Kita menganggap itu sebuah musibah yang benar-benar perlu ditangisi, dirutuki, dan dihadapi dengan penuh keluh kesah. Bagus jika berpikir untuk memperbaiki diri dan mencari solusi. Namun sering kali kita malah sibuk menyalahkan orang lain diluar diri kita sendiri.

Ada 2 cerita dari tahun 2015 lalu yang membantu saya untuk berpikir ulang mengenai makna sebuah musibah. Cerita tentang pengungsi Suriah Osama Abdul Mohsen yang dijegal juru kamera saat tengah menggendong anaknya di perbatasan Hongaria-Serbia dan cerita Pelajar Ahmed Mohamed yang diborgol polisi karena diduga membuat bom di Irving Texas.

 

Cerita Osama Abdul Mohsen

Masih ingat video viral Osama Abdul Mohsen tentang kejadian pada 9 September 2015 tentang pengungsi Suriah yang dijegal kakinya hingga terjatuh ketika berusaha melarikan diri dari kejaran polisi?

Mohsen saat itu tengah menggendong anaknya yang berusia 7 tahun. Petra Laszlo, seorang juru kamera dari N1TV Hongaria entah kesambet apa, menjulurkan kakinya dengan sengaja untuk menjegal Osama. Otomatis Osama dan anaknya Zaid jatuh terjungkal. Wah video itu langsung viral dan membangkitkan kemarahan dunia.

Walau mengaku bukan rasis dan, Laszlo mendapat hukuman sosial  yang sangat parah. Ia dipecat dari pekerjaannya dan dibully umat sedunia. Hadeuh, naas banget sih.

Bagaimana dengan Mohsen yang terjungkal? Mohsen dan keluarga telah kehilangan rumahnya di Suriah timur karena perang. Istri dan 2 anaknya yang berusia 19 dan 13 tahun mengungsi ke Turki. Sementara Mohsen dan 2 anak lain yang berusia 18 dan 7 tahun berniat mengungsi ke Jerman.

Setibanya di Jerman, muncul informasi bahwa Mohsen sebenarnya mantan pelatih klub Divisi Utama Suriah, Al-Fotuwa. Mohsen lalu dicari di antara ribuan pengungsi yang berdatangan ke kota Muenchen.  Ia kemudian ditemukan sedang menonton laga Liga Champions. Sejak itulah hidupnya berubah.

Mohsen dan anaknya dijamu di Stadion Barnabeu, markasnya Real Madrid. Mimpi mereka selama di Suriah untuk bisa melihat langsung pertandingan Real Madrid terwujud. Bahkan Cristiano Ronaldo sempat berfoto bersama Zaid si bungsu. Mohsen mendapat pekerjaan sebagai pelatih di sekolah sepak bola Getafe, Spanyol. Menteri Dalam Negeri Spanyol berjanji mempercepat proses Mohsen untuk bisa mendapatkan kartu resmi pencari suaka, sehingga anak-anaknya dapat bersekolah dan hidup tenang di Spanyol. Pemerintah Spanyol juga akan membantu mengumpulkan keluarga Mohsen yang masih di Turki.

Hanya karena dijegal, nasib seorang Mohsen bisa berbeda dari sekitar setengah juta pengungsi yang telah menyebrangi Laut Tengah menuju Eropa sebelumnya.

Musibah? Atau Keberuntungan?

Cerita Ahmad Mohamed

Ahmad Mohamed pada 14 September 2015 mendapat sebuah musibah. Siswa 14 tahun di SMA MacArthur Irving Texas ini terpaksa diborgol polisi setelah menunjukkan jam digital karyanya kepada guru tekniknya.  Hanya karena alarm jam itu berbunyi, para guru mengira itu bom. Ahmed diborgol dan dibawa ke kantor polisi. Karena dianggap tidak bisa menjelaskan dengan baik maksud pembuatan jam digital itu. Setelah melalui pemeriksaan, polisi menyimpulkan bahwa Ahmed tidak bermaksud jahat dan ia memang bukan membuat bom.

Hadeuh…ada-ada saja orang Amerika ini.

Dewan Hubungan Amerika-Islam menduga guru dan polisi merespon secara berlebihan karena isu rasisme dan Islamofobia yang terjadi di Amerika Serikat. Namun polisi membantah bahwa penangkapan ini tidak berhubungan dengan etnis dan agama Ahmed. Menurut polisi penangkapan akan dilakukan kepada siapa saja yang membawa barang seperti itu ke tempat umum.

Bagaimanapun juga, kesedihan Ahmed terhapus ketika Presiden AS, Barrack Obama memuji Ahmed dalam kicauan Twitternya. Ahmed diminta ke gedung putih dan membawa jam digital buatannya tersebut. Dukungan juga datang dari bos Facebook, Mark Zuckerberg dan para ilmuwan NASA. Bahkan sebuah Yayasan Qatar memberikan beasiswa penuh hingga jenjang Sarjana untuk bersekolah di Qatar kepada siswa cerdas kelas 9 (setingkat 3 SMP) ini.

Musibah? Atau Keberuntungan?

Jadi sepertinya kita tidak bisa terlalu mudah menilai suatu peristiwa itu musibah. Bukan tidak mungkin itu malah jalan mendapatkan sebuah keberuntungan yang luar biasa besarnya.

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 2: 216)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: