Walau tidak hadir di Lapangan Gasibu pada Milad Darut Tauhid ke-26 hari Senin, 12 Desember 2016 lalu, saya sempat melihat tausiah Aa Gym dari sebuah rekaman yang beredar di YouTube. Videonya bisa dilihat di sini. Ada satu penggal cerita yang menarik perhatian saya. Dalam kesempatan itu Aa Gym bercerita mengenai bagaimana ia melalui masa menghadapi cobaan berat. Pada masa itu gurunya menyampaikan mengenai Ilmu Kelapa.

Kelapa itu baru keluar saripatinya kalau dijatuhkan dari atas pohon yang sangat tinggi, dijambak sampai gundul, digetok sampai belah, dicungkil, disisit, diparut. Baru setelah itu diperas dan dihasilkanlah santan.

Masya Allah, segitu beratnya perjuangan kelapa untuk mendapatkan sarinya. Begitu juga dengan manusia yang diuji untuk naik mendapatkan esensi dari hidup. “Tapi sampai kapan kita akan diuji?” tanya Aa Gym pada gurunya.

Cobaan hanya akan terasa lebih ringan ketika hati lepas dari menuhankan harta, popularitas, pujian, kekaguman orang lain, dan penilaian orang lain. Jika bisa benar-benar sepenuh jiwa dan raga mengatakan “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Dialah tempat meminta segala sesuatu”, Insya Allah beban akan diringankan, dunia akan diberikan kembali, dan diberikan amanah yang besar.

Sepertinya mudah diucapkan di bibir, namun pengamalannya ternyata sangatlah sulit buat saya.  Saya masih begitu mudah terpancing emosi dengan status yang tidak membuat saya berkenan, masih suka dengan like-like dan pujian yang disampaikan, masih begitu lemah dengan godaan. Sebuah pelajaran dari kelapa yang perlu dilatih setiap hari.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: