Keadilan dalam Al Quran dari Kisah Yahudi yang Dituduh Mencuri

Dalam tulisan saya sebelumnya berjudul Surat untuk Raka dan Raisya, saya menyebutkan mengenai 2 kisah penting pada masa Rasulullah berkenaan dengan menuduh dan memfitnah orang lain. Pertama kisah tentang Aisyah yang difitnah berzina dan kedua adalah mengenai kisah seorang Yahudi yang dituduh mencuri. Kedua kisah tersebut diabadikan di dalam Al Quran.

Kisah kedua ini menurut saya sangat menarik. Dalam sejumlah ayat dalam Al Quran, disebutkan mengenai Bani Israil atau orang Yahudi adalah bangsa yang paling keras permusuhannya dengan orang Islam. Tapi ternyata Allah memilih sebuah kasus untuk membela orang dari suku Yahudi untuk menunjukkan pentingnya berlaku adil.

Kisahnya memang menarik. Bermula dari seorang muslim bernama Thu’mah bin Ubairiq, melakukan pencurian sebuah baju perang di rumah Qatadah bin An Numan. Ia lalu membawa baju ini dan menitipkannya kepada seorang Yahudi bernama Zaid bin As-Samin.

Qatadah kemudian melaporkan pencurian ini kepada Rasulullah dan meminta pencurinya dihukum. Jejak baju perangnya sempat terlihat di rumah Thu’mah. Tapi Thu’mah tidak mengakuinya dan menuduh Zaid yang telah mencurinya karena barang bukti yang ditemukan dirumahnya. Thu’mah menggalang massa untuk mendukungnya dan memfitnah Zaid. Beberapa orang terdekat Thu’mah sebenarnya tahu bahwa Zaid tidak bersalah, namun mereka tetap turut mendukung Thu’mah. Posisinya sebagai suku Anshar membuat Thu’mah di atas angin, dan sebaliknya menyudutkan Zaid sebagai Yahudi minoritas – yang telah memiliki stigma buruk dalam Al Quran.

 

An Nisa 105 – 115

Kemudian turunlah QS An Nisa 4: 105 – 115 yang menjelaskan bahwa Zaid tidak bersalah dan menjadi korban fitnah. Berikut isi ayat tersebut:

  1. Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab Al Quran kepadamu Muhammad membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan janganlah engkau menjadi penentang orang yang tidak bersalah karena membela orang yang berkhianat.
  2. dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
  3. Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.
  4. mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah karena Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terahdap apa yang mereka kerjakan.
  5. Itulah kamu! Kamu berdebat untuk membela mereka dalam kehidupan dunia ini, tetapi siapa yang akan menentang Allah untuk membela mereka pada hari Kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka terhadap azab Allah?
  6. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
  7. Dan barangsiapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk kesulitan dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
  8. Dan barangsiapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata.
  9. Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu Muhammad, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan juga karena Allah telah menurunkan Kitab Al Quran dan Hikmah Sunah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.
  10. Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh orang bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang benar.
  11. Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruknya tempat kembali.

Rangkaian ayat ini mengingatkan kita untuk berlaku adil dalam melihat bukti yang disampaikan, dan tidak mudah terprovokasi oleh massa yang besar seperti yang dilakukan Thu’mah. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: