Mengapa kita membully?

Kalau kita perhatikan masyarakat saat ini sepertinya ringan sekali membully orang lain yang berbeda dengan dirinya. Coba baca sedikit saja komentar orang-orang dalam status media sosial korban bullying nasional. Terlepas dari apa pun yang mereka lakukan, Masya Allah, begitu mengerikan dan sangat jahat bahasanya. Bahkan menurut saya, dosa si terbully bisa segera terhapus dan pindah kepada si pembully.

Dengan memperlihatkan betapa jari-jari ini bisa berbahasa sekeji itu pada orang lain, itu sudah memperlihatkan bahwa dirinya tidak bisa lebih baik daripada orang yang di bully. Masa sih tidak percaya bahwa apa yang kita sampaikan biasanya akan memantul lagi ke diri kita sendiri. Iiii…. serem ya.

Banyak banget sih orang yang di bully. Dari level kepala pemerintahan seperti Donald Trump atau Jokowi. Level selebritis sekelas Ahmad Dhani atau Mario Teguh. Level ustad sekelas Buya Syafii Maarif atau Aa Gym. Level anak muda seperti Awkarin atau Azka Corbuzier. Hingga level yang bukan siapa-siapa seperti mahasiswi sastra yang ketahuan beberapa kali melakukan plagiasi atau ibu pemarah hingga merobek baju polisi. Bahkan bullying juga banyak dilakukan pada teman kita sendiri yang berbeda pendapat. Wow luar biasa semangat membully orang lainnya. Saya benar-benar takjub. Sedemikian kental kah kemarahan yang ada di dalam dada para pembully itu?

Dalam sebuah acara berjudul Perang Buzzer Pasukan Cyber di program Benang Merah TV One pada 3 November 2016 lalu terungkap pengakuan seorang pelaku cyber bullying profesional. Saya juga baru tahu bahwa ternyata itu bisa menjadi mata pencaharian seseorang. Asal tahu saja, biaya memakai jasa mereka antara 2 Milyar – 15 Milyar, yang harus dibayar dimuka. Wow!!! Jadi memang, dalam kasus tertentu, bullying dilakukan demi sesuap nasi. Hebatnya lagi, mereka merasa hanya melakukan pekerjaan yang profesional, dosanya ditanggung yang membayar dan memberi perintah. Bisa begitu ya?

Tapi sekarang kita kembali dulu kepada pembully kere yang tidak dibayar. Kenapa harus membully dan mengeluarkan kata-kata makian?

Anda tidak suka, kasih tau baik-baik kan bisa. Sampaikan saja bahwa yang ia ungkapkan itu tidak benar menurut versi kita. Apakah setelah memaki-maki hati menjadi bahagia dan lega? Apakah kalau tidak mengeluarkan makian akan keluar jerawat atau bisul gitu?

Kasihan sekali pembully itu. Penuh kemarahan yang tidak tersalurkan. Padahal sebenarnya mereka juga berhak untuk menikmati kedamaian hidup yang penuh kasih sayang. Tapi mereka memilih berperilaku yang jauh lebih buruk daripada orang yang mereka bully.

Ada yang unik, berdasarkan pengamatan saya sekilas, orang yang dibully sering kedudukannya jauh tinggi daripada orang yang membully. Orang yang dibully adalah orang yang memiliki prestasi dan bermanfaat dalam masyarakat. Tapi pembullynya biasanya orang yang tidak jelas apa prestasinya. Jangan kan menunjukkan prestasi, akunnya saja biasanya tidak memiliki nama dan kehidupan yang jelas. Jadi tidak salah dong kalau saya berkesimpulan bahwa mereka sejujurnya membully karena ada rasa iri.

Mungkin seperti kalau saya membully Jonru yang saya nilai suka menebarkan berita fitnah. Padahal level saya sama Jonru jauh banget atuh lah dari sisi follower. Jonru followernya 1,2 juta, saya 100 juga baru bisa dikumpulkan dengan susah payah dalam 8 bulan. Nggak level. Jauh dari pantas lah untuk boleh membully Nabi Jonru.

Kalau tidak suka ya tidak apa-apa. Kan tinggal bilang, “Mas Jonru, saya tidak suka dirimu karena suka menebar fitnah. Jangan begitu dong. Itu kan dosa besar. Dalam Al Quran katanya lebih kejam daripada pembunuhan loh. Mas nggak mau dianggap penista agama kan?” Setelah itu tinggalkan akun sosmednya. Urusan beres karena saya sudah menyampaikan ketidaksukaan dan tidak berminat membaca tulisannya. Mari melanjutkan hidup.

Kalau ternyata ketidaksukaan saya tidak ada artinya buat Jonru, apalagi membuatnya semakin terkenal dan banyak jamaahnya. Ya tidak apa-apa juga. Mungkin memang banyak orang yang membutuhkan fitnah-fitnah seperti itu. Ada yang merasa damai setiap membaca tulisan-tulisannya. Ya tidak masalah juga. Kenapa saya harus jadi nyinyir?

Saya mestinya fokus saja bisa menambah follower lebih hebat dari Jonru. 1,2 juta loh! Nanti kalau saya punya follower lebih banyak, barulah saya pantes membullynya. Itu juga kalau saya lagi ngangur dan kurang kerjaan.

“Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang memperolok-olokan lebih baik dari mereka yang memperolok-olokkan.

Dan jangan pula perempuan-perempuan memperolok-olokkan perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan-perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari permpuan yang mengolok-olokkan.

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, danjangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.

Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.

Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

 (QS Al Hujurat 49: 11-12)

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Mengapa kita membully?

    • December 16, 2016 at 7:58 pm
      Permalink

      Serius? Menurutku ini tulisan yang sangat nggak Red Carra. Atau kita ingin membully orang yang sama? Ha…ha…

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: