Pengalaman Marshmallow Tes Raka

Marshmallow Tes adalah sebuah tes legendaris yang dilakukan oleh Psikolog Walter Mischel dari Standford University pada tahun 1960. Dalam tes tersebut anak usia 4-6 tahun dimasukkan ke dalam ruangan yang bebas gangguan. Mereka diberikan sepotong marshmallow. Dikatakan mereka boleh memakan marshmallow tersebut saat itu juga atau kalau mau menunggu 15 menit, mereka akan mendapatkan 2 marshmallow. Ada banyak video lucu yang memperlihatkan bagaimana anak-anak berusaha menahan keinginan mereka demi mendapatkan 2 marshmallow.

Dalam sebuah penelitian lanjutan, ditemukan bahwa anak-anak yang bisa menahan keinginannya cenderung mendapatkan kehidupan yang lebih baik (seperti nilai SAT, angka Body Mass Index – BMI, pendidikan, dan karir).

Sebagai tipe mama yang permisif, saya mulai tertarik untuk menerapkan Marshmallow Tes ini buat anak-anak. Melarang atau menasehati saja, biasanya kurang efektif buat anak-anak.

Prinsip dari Marshmallow Tes bukan melarang anak mendapatkan apa yang mereka inginkan, melainkan menunda keinginan untuk sesuatu yang lebih baik.

Mungkin setipe dengan saat kita perlu menunda keinginan membeli baju atau buku baru saat dompet tipis. Sebenarnya bisa saja kita dengan mudah menggesek kartu kredit. Tapi mampukah kita menunda keinginan hingga uang kita cukup atau tiba saat diskon besar? Sama juga kasusnya dengan kemampuan menunda bersosmed untuk mengerjakan hal-hal yang lebih prioritas agar kita tidak merasa selalu dikejar-kejar deadline. Bukan hal yang mudah kan?

Makanya saya pikir ini menarik untuk dipelajari anak-anak sejak dini.

Sejak pertama kali mengetahui tentang Marshmallow Tes dari National Georgraphic Channel, saya langsung semangat menceritakan hal ini pada Raka yang saat itu usianya sekitar 7 tahun. Saya sampaikan kalau anak yang bisa menahan keinginannya akan menjadi orang yang berhasil dan sukses ketika dewasa. Raka sih mangut-mangut saja. Entah mengerti, entah enggak.

Salah satu praktek Marshmallow Tes yang pernah kami kerjakan adalah ketika Raka sangat ingin punya tenda untuk camping di halaman rumah. Ia memaksa untuk segera membeli tenda sesegera mungkin. Sudah disampaikan, sebaiknya kita menunda dan menunggu sampai menemukan tenda yang benar-benar bagus sebelum membeli. Tapi karena tidak sabar, diputuskan tenda segera dibeli melalui toko online.

Karena barang sempat nyasar ke Bali, tenda baru diterima setelah hampir 1 bulan. Dan yang lebih menyesalkan barangnya berbeda dari yang diiklankan. Raka kecewa berat. Dari situ dia mulai belajar untuk tidak grabak-grubuk. Tenang saja, sambil mencari sejumlah kemungkinan yang lebih baik.

Kejadian ini lumayan bikin Raka belajar lebih sabar. Raka itu tipe anak ‘pemaksa’ tingkat tinggi. Kalau punya keinginan, harus segera dilaksanakan. “Hati aku tidak tenang, kalau belum berhasil,” katanya sambil guling-gulingan gelisah.  Ketika masih kecil, senjatanya adalah air mata. Semakin besar kemampuan persuasifnya meningkat.

Yang saya suka, untuk mendapatkan keinginannya Raka menjadi lebih kreatif dan pantang menyerah. Ini modal penting buat hidupnya di masa depan. Seperti ketika ia suka sekali ayam tepung dan kesulitan memaksa Mamanya yang pemalas ini memasakkan ayam tepung buatnya. Raka akhirnya belajar cara membuat ayam tepung sendiri. Bahkan kini ayam tepung buatannya bisa lebih bagus dari ayam tepung buatan Mama. Dia menemukan sendiri teknik menggunakan air dingin pada tepung basah dan tahu jenis tepung terbaik untuk ayam tepung yang sesuai keinginannya. Mama jadi belajar dari Raka. What kind of a mother am I?

Dengan prinsip Marshmallow Tes, Raka jadi belajar lebih sabar untuk mendapatkan mainan-mainan yang ia inginkan. Sebagai fans Starwars yang hapal luar kepala detil dari film Starwars 1-7, Raka sangat menginginkan memiliki pedang lightsaber Starwars.

Menurutnya ia pernah lihat di salah satu toko beberapa waktu sebelumnya.  Setengah memaksa, ia minta diantarkan ke toko itu. “Mama, aku deg degan kepengen punya lightsaber,” katanya. Sebagai anak yang punya uang saku Rp 160.000,-/bulan, Raka sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan mainan apapun yang ia inginkan. Cuma urusan lightsaber ini agak susah mewujudkannya. Terus terang kami tidak punya waktu ke toko tersebut hanya sekedar untuk beli lightsaber.

Pernah kami mencarinya di toko mainan terdekat yang menurut Raka pernah ia lihat menjual lightsaber. Ternyata setelah kami ke sana – setelah ditunda berminggu-minggu, barangnya sudah tidak ada lagi.

Raka sudah membandingkan sejumlah lightsaber milik teman-temannya. Ia tahu yang menurutnya terbaik dan tidak cepat rusak, lengkap dengan tempat membeli dan harganya. Ada yang dibeli di toko online ada yang bisa didapatkan di sebuah toko perlengkapan anak yang jauh dari rumah. Saya meminta Raka untuk bersabar dan tidak memaksakan diri untuk segera membeli. “Nanti juga kalau pas kita jalan-jalan dan ketemu yang bagus baru kita beli. Tidak perlu khusus ke sana.”

Tidak kehabisan ide, ia membuat lightsaber dari gulungan koran. Selama berhari-hari, ia bisa asyik bermain lightsaber koran bersama Sasya dan teman-temannya. Ya Allah, emak mana sih yang nggak terharu. Akhirnya saya ijinkan ia beli online saja, walau dengan resiko barang yang datang tidak benar-benar sesuai seperti kasus tenda sebelumnya.

Lightsaber koran buatan Raka
Lightsaber koran buatan Raka

Raka mulai mencari-cari lightsaber impian di sejumlah online shop. Sebenarnya ada 2 yang paling mendekati keinginannya. Yang satu harganya Rp 50.000,- dan yang lain Rp 65.000,-. Setelah mengamati spesifikasi setiap barang, ia jadi ragu dan tidak bisa memutuskan mau beli yang mana. Ia pun memilih sabar menunggu ada yang mau mengantarkannya ke toko lightsaber yang jauh dari rumah itu.

Kira-kira siapa ya yang mau berbaik hati mengantarkan Raka khusus ke toko nan jauh itu sekedar untuk membeli 2 lightsaber yang belum tentu ada di sana? Raka mencoba menelpon Hababanya yang bisa diandalkan untuk mengantarkan. “Hababa, kira-kira bisa tidak mengantarkan aku ke toko untuk beli lightsaber?” Alhamdulillah Hababanya mau. Apa sih yang nggak untuk cucu tercinta.

Keinginan punya lightsaber ini sudah sejak bulan Agustus. Artinya sudah 5 bulan keinginan ini berhasil ditahan Raka. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa untuk anak umur 9 tahun. Dan tinggal selangkah lagi, Raka akan mendapatkan lightsaber impiannya. Tinggal dilihat apakah barang itu ada di toko tersebut atau sudah habis seperti toko terdekat lain yang pernah kami coba sebelumnya.

Pada hari minggu kemarin, Raka dan Hababa akhirnya pergi ke toko mainan yang konon menjual lightsaber. Kemacetan yang dikhawatirkan terjadi saat long weekend  ternyata tidak mereka temui. Mungkin itu rejeki anak sholeh. Bahkan di toko tersebut Raka akhirnya menemukan 4 jenis lightsaber yang bisa dipilih. Setelah penantian selama 5 bulan, cerita pun berakhir happy ending.

“Aku bahagia sekali hari ini, Ma,” katanya sambil memainkan lightsaber baru.

lightsaber
Lightsaber impian seharga Rp 46.500,- saja.

Sesuatu yang didapat dengan penuh kesabaran, hasilnya akan terasa lebih manis. Hanya anak-anak yang lolos Marshmallow Tes yang bisa merasakannya.

#WaktunyaMamaMakanMarshmallow

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Pengalaman Marshmallow Tes Raka

  • January 9, 2017 at 5:56 pm
    Permalink

    Teh Shanty keren banget, banyak belajar dari blognya teteh. Alhamdulillah Raka dapet mainan yang dipengenin. Seneng bisa ketemu teteh kemarin. 🙂

    Reply
    • January 9, 2017 at 7:49 pm
      Permalink

      Saya juga masih perlu banyak berguru ke para mastah.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: