Pengalaman Melatih Kebiasaan Baru

Bisakah kita melatih kebiasaan baru? Apakah itu melatih kebiasaan baik seperti kebiasaan bangun pagi, makan sehat, minum air putih dan menulis misalnya.  Atau bisa juga menghentikan kebiasaan buruk seperti berhenti merokok, menunda, dan kebiasaan lain yang mengganggu produktivitas kita.

Kita bisa dengan mudah bertanya pada Mbah Google bagaimana caranya melatih kebiasaan baru. Seperti salah satu jawaban bagus yang saya temukan berjudul 29 Cara Membentuk Kebiasaan Baru. Ada juga cara 6 langkah melatih kebiasaan yang disampaikan Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh (TransMedia, 2016).

Tapi masalahnya bukan di tahu caranya, namun adakah cerita langsung teman-teman yang memiliki pengalaman melatih sebuah kebiasaan baru? Pernahkah ada yang berhasil? Kalau ada yang berhasil, ceritakan dong hasilnya. Ternyata sulit loh mencari orang yang mampu melatih kebiasaan baru.

Banyak orang sukses, umumnya sudah memiliki kebiasaan baik sejak lama. Bibit-bibit kebiasaan baru telah tumbuh subur dalam diri mereka sejak lama. Orang yang suka olahraga, biasanya bukan orang yang ujug-ujug suka olahraga dalam 1 atau 2 tahun terakhir, namun memang sudah suka berolahraga selama bertahun-tahun sebelumnya. Kalau ditanya kok bisa suka olahraga? Ya suka aja aja katanya. Sama sekali tidak membantu.

Demikian juga orang-orang lain yang sudah memiliki kebiasaan bagus umumnya sudah melakukannya sejak lama. Seperti salah satu tetangga saya yang walaupun berumur, namun kulitnya sangat bagus dan terawat. Katanya beliau memang sejak muda selalu disiplin merawat dan membersihkan kulitnya sebelum tidur. Lah saya, mau rajin membersihkan muka sebelum tidur, hanya bisa bertahan 1 minggu.

Saya pun curiga dengan sedikitnya cerita sukses mengenai melatih kebiasaan baru, jangan-jangan melatih kebiasaan baru itu hanya ilusi yang tidak akan pernah terjadi. Masa sih ya? Kalau benar begitu, naas banget dong nasib kita yang punya kebiasaan yang tidak produktif.

Menurut seorang dokter, kebiasaan makan sehat yang disiplin biasanya akan sukses bagi para penderita penyakit parah yang tidak punya pilihan lain jika ingin sembuh. Makan sehat atau selesai kontrak di bumi. Akhirnya mereka berhasil. Ini sedikit cerita sukses yang saya terima.

 

Melatih Kebiasaan Berhenti Merokok

Setelah berusaha keras mengingat-ingat, akhirnya saya menemukan juga cerita sukses dari orang terdekat. Entah kenapa saya bisa lupa bahwa suami saya pernah sukses menghentikan kebiasaan merokok. Sebelumnya suami saya adalah perokok satu bungkus untuk 2 hari dan sudah memiliki kebiasaan itu sejak usia SMP. Ini prestasi besar, kalau melihat banyak orang yang sepertinya begitu kesulitan mengatasi keinginan untuk berhenti merokok.

Saya pun penasaran, kenapa ia berhasil melatih sebuah kebiasaan baru? Padahal sebagai istri, saya sih tidak pernah terlalu ribut soal rokok ini. Selama tidak merokok di depan saya dan anak-anak, hal itu tidak terlalu masalah. Alhamdulillah akhirnya si Abah tiba-tiba dapat hidayah untuk berhenti merokok. Setelah secara alami, konsumsi rokok berkurang karena puasa Ramadan di tahun 2012, kesadaran hidup lebih sehat untuk diri sendiri dan keluarga pun muncul.

Saya sebagai istri memang pernah sih menyampaikan kalau berharap si Abah bisa berhenti merokok dan menjadi contoh buat anak-anak. Kebayang akan lebih repot menasehati anak untuk tidak merokok jika orangtuanya perokok. Walau ada juga saya kenal orangtua yang perokok aktif, tapi anak-anaknya sangat anti rokok.

Proses berhenti merokok itu rasanya tidak terlalu sulit bagi Abah. Selain semua penyakit yang sebelumnya tidak terasa, jadi muncul satu demi satu. Bisa jadi karena sebelumnya rasa tidak nyaman tubuh terkamuflase oleh nikmatnya nikotin. Setelah berhenti rokok, baru deh semua terasa. Godaan untuk kembali merokok di tahan dengan rasa sayang untuk menyia-nyiakan kebiasaan baik yang telah berjalan selama beberapa minggu. Kebayang bakal berat lagi kalau harus mengulang dari awal. Masa harus menunggu lebaran setahun berikutnya. Akhirnya si Abah sukses berhenti merokok hingga saat ini. Suami siapa dulu dong….

Si Abah pernah bisa melatih kebiasaan baru, saya pernah nggak ya? Saya kok lupa kebiasaan apa yang pernah atau berusaha saya latih selama ini. Jadi saya bongkar-bongkar catatan harian selama ini. Dan ketemu satu kebiasaan buruk yang baru saya sadar tidak pernah saya lakukan lagi sekarang. Saya pernah kecanduan bermain game. Bukan game yang canggih-canggih dan penuh strategi. Cuma game ece-ece seperti Zuma, Dinner Dash, Smurf Village, dan Candy Crush.

Ketika hamil Raka, saat tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, saya sanggup bermain game dari saat si Abah pergi kantor pukul 7 pagi hingga pulang kantor pukul 5 sore. Tidak bergerak dari depan laptop kecuali untuk sholat. Itu di sejadah saya sampai melihat bola-bola Zuma saking parahnya.

Bagaimana caranya bisa berhenti? Sebenarnya saya tidak pernah punya niat begitu kuat untuk berusaha berhenti main game. Karena saya tahu, saya bisa berhenti main game kapan pun saya ingin. Saya hanya perlu momen yang tepat. Dan momen yang tepat itu adalah saat Raka lahir. Kesibukan punya bayi baru jauh lebih asyik daripada main game sekelas Zuma atau Dinner Dash. Kebiasaan buruk itu pun hilang dengan sendirinya tanpa usaha berarti.

Hobi main game muncul lagi saat punya anak dua. Mungkin efek stress dan bosan saya mulai suka Smurf Village dan Candy Crush. Kedua game ini memiliki tingkat membuat pemainnya mengalami kecanduan yang parah. Tapi akhirnya saya berhenti setelah mendapatkan ilmu cheating dari game ini. Kalau sudah tahu cheatnya, terus masalahnya dimana? Itu yang membuat saya akhirnya bisa terlepas dari hipnotis game. Semua game ada cheatnya, kita tidak perlu buang-buang waktu mencari kepuasan diri dari main game. Banyak kegiatan nyata lain yang lebih menghasilkan kepuasan diri daripada sekedar main game yang tidak ada hasil nyatanya.

Mulailah saya lebih serius menghabiskan waktu untuk menulis, membaca, atau bermain dengan anak-anak. Ketika berinteraksi langsung dengan orang-orang, kepuasaan yang didapatkan terasa lebih 3D dibandingkan dengan kepuasan yang didapat dari sekedar lolos ke level lebih tinggi pada permainan komputer. Buat saya kepuasaan yang didapat di dunia maya itu 2D. Auranya tidak sampai oleh perangkat gadget kita. Sangat berbeda rasanya jika berinteraksi langsung dan melibatkan sentuhan dan pelukan anak-anak.

Hingga saat ini, urusan main game, tidak pernah lagi terlintas dalam kepala saya. Antara tidak berminat dan tidak sempat. Game itu pada satu titik akan terasa begitu membosankan. Terutama jika kita memiliki kegiatan lain yang lebih seru.

Jadi saya punya juga pengalaman merubah kebiasaan. Setelah buka-buka lembar lain dari catatan harian, saya temukan juga bahwa saya pernah sukses melatih kebiasaan olahraga teratur selama beberapa bulan. Kebiasaan itu bisa sukses karena saya memiliki teman latihan untuk saling mengingatkan. Sayang beberapa waktu terakhir ini kebiasaan baik ini sempat saya tinggalkan. Muncul alasan sibuk lah, tidak ada waktulah, pagi hujan hingga tidak bisa lari lah. Ah…klasik…

Juga saya pernah sukses melatih kebiasaan menulis satu artikel setiap hari selama 30 hari. Serius ini sukses! Tapi saya tidak merasa ini bisa berkelanjutan pada saat itu. Setelah 30 hari, kebiasaan itu bubar. Di tahun 2016 ini, rutinitas menulis saya bisa diberikan rata-rata 2 postingan per minggu. Ya sekitar 2 ribuan kata per minggu lah. Itu untuk tulisan yang levelnya layak saya tayangkan di blog. Yang bentuknya corat-coret curahan hati di kertas, status-status Facebook tidak penting, atau sekedar komentar-komentar panjang di grup WhatApp tidak masuk hitungan. Saya masih punya target bisa konsisten memiliki jam kerja menulis setiap hari nih yang belum berhasil tercapai hingga saat ini. Kecuali dalam 18 hari terakhir. Terharu…

#7 Langkah Melatih Kebiasaan Baru

Dari sejumlah pengalaman di atas, saya jadi memiliki kesimpulan sendiri mengenai bagaimana cara melatih kebiasaan baru untuk membuat hidup menjadi lebih produktif:

#1 Hanya tetapkan SATU saja dulu kebiasaan baru yang menjadi prioritas untuk dilatih. Jangan dua, tiga apalagi selusin. Jadikan kebiasaan lain menjadi prioritas nomor dua dan selanjutnya. Ada kalanya, kebiasaan lain menjadi pendukung kesuksesan menjalankan kebiasaan yang ingin kita prioritaskan untuk diubah.

Saya pernah ingin mengubah banyak kebiasaan sekaligus. Alhamdulillah gagal total semua. Dan hanya menyisakan rasa lelah dan frustasi.

#2 Sederhanakan kebiasaan sehingga terasa mudah. Misalnya untuk melatih kebiasaan menulis cukup dengan menyediakan waktu 30 menit setiap hari, atau memulai kebiasaan hidup sehat dengan mulai minum segelas air putih setiap bangun pagi. Keep it simple and do it.

#3 Cari teman sebagai pengingat dan pemacu semangat. Jangan sendiri, karena akan lebih rentan untuk tergoda pada keinginan untuk berhenti.

#4 Siasati rasa bosan. Bosan adalah salah satu ancaman terbesar dari berhentinya sebuah kebiasaan. Caranya bisa dengan mengubah cara melakukan kegiatan tersebut. Kita tidak pernah bosan untuk makan kan? Kecuali kalau makan makanan yang sama setiap hari. Jangan lupa untuk merayakan pencapaian pada waktu-waktu tertentu dengan meningkatkan tantangan sehingga tidak terasa membosankan.

#5 Ubah cara pandang. Ingat kalau kita akan lebih banyak mendapat penderitaan kalau tidak juga mau berubah. Namun jika mau berubah, penderitaannya lebih ringan loh. Ini ilmu dari Tante Nicola Cook dalam buku Aku Berubah Maka Aku Sukses, yang menyatakan bahwa pikiran manusia lebih termotivasi menghindari penderitaan daripada kemungkinan mendapatkan rasa senang.

#6 Usahakan sealami mungkin. Tidak usah ribet dengan ceklist di buku atau lainnya yang terasa membebani. Toh kebiasaan yang akan kamu latih kan cuma satu. Jadi tidak perlu dicatat rutin setiap hari. Bukan tidak mungkin, tanpa sadar kebiasaan ini akan menyatu dengan kegiatan lain dengan begitu natural.

#7 Just Do It, tidak usah terlalu banyak dipikirkan. Dinikmati saja prosesnya dan tahu-tahu kita sudah sampai pada tujuan.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melatih kebiasaan baru?

Ada yang bilang 30 hari. Tapi berdasarkan pengalaman saya itu masih jauh dari cukup. Setelah 30 hari jika tidak diteruskan, kebiasaan akan hilang tanpa bekas.

Yang lain bilang 60 hari. Suami saya pernah konsisten untuk sholat di mesjid setiap subuh dan lari pagi selama 2 bulan. Tapi sempat berhenti karena kesibukan, akhirnya sulit untuk memulai lagi. Jadi artinya 60 hari masih riskan untuk menjamin seseorang bisa dibilang sukses dengan kebiasaan barunya.

Ada juga yang bilang 90 hari lebih atau 3 bulan. Menurut saya ini lebih masuk akal. 30 hari pertama itu sekedar detoksifikasi untuk memasukkan kebiasaan baru. Perlu 30 hari lagi untuk membuatnya jadi kebiasaan yang dilakukan secara sadar. Dan 30 hari terakhir yang akan membuat kebiasaan itu menyatu secara alami ke dalam keseharian kita. Semestinyat 30 hari terakhir ini sudah tidak terlalu kita sadar atau ingat lagi bahwa kita tengah melatih sebuah kebiasaan.

Dalam tulisan yang lain ada juga yang mengatakan perlu waktu 1 tahun untuk melatih kebiasaan secara konsisten. Saya pikir ini baru afdol. Sempat ada satu cerita yang membuat saya agak patah semangat. Seorang teman mengatakan bahwa ia berhasil diet ketat selama 3 tahun dan membuat berat badannya turun sangat banyak. Tapi setelah 3 tahun, rasa bosan itu ada, dan mulai kembali sedikit demi sedikit cheating. Eh lama-lama kebablasan, dan perlahan berat badannya kembali naik.

Jadi pada dasarnya proses melatih kebiasaan baru seharusnya bisa berjalan alami sesuai kebutuhan kita untuk membuat hidup kita lebih bermakna. Selama rasa butuh itu belum muncul, maka akan sulit menjadikan sebuah aktivitas sebagai sebuah kebiasaan. Kita tidak pernah bosan untuk makan dan beribadah kan?

Akhir kata, saya hanya ingin mengatakan, bahwa melatih sebuah kebiasaan baru bukanlah ilusi atau hal yang tidak mungkin. Bisa jadi kita kesulitan mencari contoh teladan, tapi itu bukan jadi alasan untuk tidak berusaha melatih kebiasaan yang membuat hidup kita lebih produktif dan bermanfaat bagi orang lain.

Mumpung sebentar lagi kita memasuki tahun baru 2017, selamat mencanangkan kebiasaan baru teman-teman!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: