Keberpihakan

Aih pilihan katanya ribet-ribet amat. Maklum kata-kata ini mengiang-ngiang di kepala seharian. Keberpihakan ini sebenarnya familiar banget sama urusan emak-emak. Ketika dua anak berantem rebutan mainan, Mamanya harus memilih memihak si Kakak atau si Adik. Biar gampang, biasanya si Kakak yang dianggap lebih bisa menahan diri yang diminta mengalah terhadap Adik yang lebih rewel. Namun sering kali solusi gampang ini membuat kekesalan si Kakak jadi menumpuk, dan bisa meledak setiap saat karena merasa diperlakukan tidak adil.

Perlukah memihak?

Untuk memihak memang diperlukan rasa adil. Adil bagi si Kakak dan adil bagi si Adik. Adil itu sulit pakai banget loh. Ada kalanya adil bagi si Kakak ternyata belum tentu dirasa adil bagi si Adik.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Dan jangan lah kebencianmu terhadap suatu kamu mendorong kamu untuk berlaku adil. Berlaku adillah. Karenan adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al maidah 5:8)

Untuk bisa adil kita perlu tahu semua fakta-faktanya. Seberapa besar kebutuhan si Kakak atau si Adik terhadap mainan tersebut? Sudah berapa lama masing-masing mereka memainkannya? Adakah kegiatan lain yang bisa menggantikan bermain dengan mainan itu? Siapa yang selama ini selalu mendapatkan keinginannya dan siapa yang selalu mengalah? Apakah sang Mama bisa mentolerir senjata tangisan si Adik? Semua ini menjadi faktor yang akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil sang Mama.

Hari ini saya juga belajar mengenai keberpihakan dari sebuah pertanyaan yang dilayangkan warga kepada Walikota Bandung, Kang Emil di akun Facebooknya. Ia menanyakan keberpihakan Kang Emil dalam kasus dugaan penistaan agama yang  dilakukan Pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Jawaban Kang Emil sepertinya sangat ditunggu warganya dengan melihat respon ribuan like pada jawaban tersebut. Kepada siapa Kang Emil memihak? Benar Pak Ahok menistakan agama atau tidak?

Menurut saya jawaban Kang Emil sangat bagus sekali sebagai kepala daerah yang harus memberikan contoh kepada warganya. “Al Quran wajib dibela lahir batin, hanya pembuktian salah benarnya harus menunggu keputusan pengadilan.” Buat saya itu jawaban yang adil. Kang Emil setuju Al Quran perlu dibela, seperti yang dikehendaki oleh satu pihak. Sekaligus mendukung untuk menunggu pembuktiannya melalui fakta pengadilan, seperti yang dikehendaki pihak yang lain. Sangat proporsional sesuai fungsinya sebagai aparatur negara yang taat hukum. Apakah dalam hati Kang Emil sudah punya preferensi tertentu mengenai kasus tersebut, tidak lah menjadi masalah yang penting lagi. Karena walaupun hasilnya benar terjadi penistaan ataupun tidak, keputusan pengadilan akan dihormati.

Untuk kasus yang lain yang lagi ramai di Bandung mengenai pembubaran acara KKR di Sabuga, Walikota memperlihatkan keberpihakan yang jelas. Ada aturan yang harus ditaati dan telah disepakati bersama oleh banyak pihak yang berkepentingan. Pihak yang satu diminta untuk meminta maaf kepada pihak yang lain.

Dalam sejumlah kasus keberpihakan pada peraturan dan kesepakatan menjadi solusi ditegakkannya sebuah keadilan.

Apakah keberpihakan ditentukan oleh suara mayoritas?

Ini menjadi sangat menarik setelah demo 212 yang lalu. Apakah sebuah keberpihakan boleh ditentukan dengan mengikuti tekanan mayoritas? Apakah mayoritas pasti selalu benar? Si kuat pasti selalu benar? Yang sanggup bayar akan selalu menang?

Mari kita lihat beberapa contoh.

Ada sejumlah kasus di Amerika dimana orang minoritas dituduh melakukan kejahatan. Saya sering menonton film yang menceritakan tentang hal ini. Salah satu yang paling fenomenal tentunya sebuah karya pemenang Pulitzer To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Kisahnya bercerita mengenai pengacara Atticus Finch yang mendapat tugas membela seorang Negro bernama Tom Robinson. Tom Robinson dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih. Pada setting tahun 1930-an, isu seperti ini sangat hangat di Amerika. Mayoritas masyarakat menuduh Tom melakukan kejahatan itu, padahal si korban yang berbohong. Bukti-bukti yang menguatkan sudah diberikan oleh sang pengacara, namun juri yang terdiri dari orang kulit putih tidak mau mempercayainya. Kisah ini berakhir tragis dengan kekalahan Tom dan ia dibunuh ketika hendak melarikan diri dari penjara.

Kasus yang lain adalah keberpihakan Walikota New York Michael Bloomberg yang fenomenal. Pak Bloomberg ini  adalah orang yang pasang badan ketika mayoritas masyarakat Amerika menolak didirikannya Pusat Budaya Islam dan Mesjid di dekat Ground Zero.

Kalau orang Amerika untuk mengetahui seberapa banyak orang mendukung sesuatu, tidak pakai cara demo pengerahan massa, namun melakukan pooling. Dari pooling yang dilakukan CNN, 70% responden menolak didirikan bangunan itu karena dianggap ‘menistakan’ ribuan korban yang tewas pada peristiwa 9/11 di WTC.

Namun Pak Bloomberg selaku walikota mendukung kaum Muslim minoritas untuk mendirikan mesjid sebagai bentuk toleransi beragama di kotanya. Sebagai Yahudi totok, ia tidak ingin ada perlakuan diskriminatif seperti yang sebelumnya terjadi di kota itu. Akhirnya dengan dukungan tersebut, Komisi Tata Kota New York menyetujui pembangunan mesjid 100 juta dollar Amerika ini.

Dari dua kasus ini, kita bisa melihat, bahwa keberpihakan tidak bisa ditentukan oleh jumlah dukungan. Kebenaran bisa jadi berada pada kelompok minoritas. Pada akhirnya keberpihakan menunjukkan kualitas dan cara berpikir seseorang.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: