Menunda

Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang-bincang dengan Ketua Kompleks kami mengenai penarikan sampah di lingkungan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mang Ujang, si penarik sampah bertugas mengangkat sampah dari setiap rumah 2 hari sekali. Tapi kenyataannya sampah diangkut sekitar 3 hari sekali. Akibatnya terjadi penumpukan di setiap rumah warga.

Mengapa harus terjadi seperti itu?

Menurut pengamatan saya, itu karena gerobak sampah yang terlalu penuh. Mang Ujang seperti sangat kesulitan mengangkut sampah dari 100 rumah seorang diri dalam waktu 2 hari sekali. Ia perlu waktu lebih banyak untuk bisa menarik seluruh sampah, sehingga jatuhnya setiap rumah kebagian jatah 3 hari sekali.

Sedangkan menurut Ketua Kompleks, gerobak menjadi terlalu penuh karena Mang Ujang tidak konsisten mengangkut sampah 2 hari sekali sesuai perjanjian. Volume sampah 3 hari tentu lebih banyak daripada volume sampah 2 hari. Ini yang menjadi penyebab gerobak sampah terlalu penuh dan Mang Ujang tampak kepayahan. Andai Mang Ujang bisa konsisten mengumpulkan sampah 2 hari sekali, semestinya tugas Mang Ujang menjadi lebih ringan.

Ehm… pendapat Bapak Ketua Kompleks ada benarnya.

Ketika pekerjaan 2 hari dibuat menjadi pekerjaan 3 harian, maka akan terasa lebih berat. Entah kenapa ini terasa familiar dengan masalah ini. Tumpukan setrikaan 1 minggu adalah buah dari pekerjaan harian yang ditunda. Tumpukan piring di bak cuci piring adalah buah dari pekrjaan yang semestinya segera dikerjakan setiap selesai masak atau makan. Setumpuk ide di kepala yang bikin stress adalah buah dari tidak rutin menulis setiap hari. Badan yang kurus kering ini buah tidak mau rutin olahraga dan makan sehat yang teratur setiap hari.

Kenapa saya menunda?

Malas. Tapi jangan keras-keras bilangnya. Malu…

Saya malas karena pekerjaan itu terasa begitu berat. Melihat tumpukan pekerjaan itu sangat menjengkelkan dan menguras emosi.

Lelah itu bukan disebabkan oleh pekerjaan yang kita kerjakan, melainkan oleh pekerjaan yang TIDAK kita kerjakan.

 

Menunda karena Sosmed

Daripada mencicil setrika, cuci piring, atau menulis, jauh lebih ringan berselancar di sosmed dan menikmati keriuhan di sana. Bisa ketawa-ketawa melihat meme yang lucu-lucu, mengisi kepala dengan ilmu-ilmu baru, atau sekedar ngulik cara berpikir seseorang. Sosmed menjadi pelarian jiwa-jiwa yang gampang tertekan dengan tuntutan pekerjaan yang terasa membosankan. Tanpa terasa sosmed menjadi candu. Eh kok sosmed jadi mirip dengan rokok, alkohol atau drugs ya? Sama-sama pelarian banyak orang yang membuat kecanduan.

Menurut data yang dirilis We are Social berjudul Digital, Social, and Mobile in 2015 disebutkan bahwa rata-rata netizen menghabiskan waktu 4,5 jam per hari untuk berselancar di dunia maya. Orang Indonesia 5 jam per hari. Tidak separah orang-orang Filipina yang mencapai 6 jam per hari. Bagaimana dengan teman-teman sendiri? Apa dari bangun sampai tidur lagi selalu pegang HP?

Ketika kita tahu bahwa akar masalah menunda adalah karena kecanduan sosmed untuk menghindari tekanan pekerjaan, biasanya akan lebih mudah mengatasi masalahnya. Tinggal dicabut saja akarnya, dan masalahnya pun beres. Lebih mudah bukan berarti benaran mudah ya. Tergantung sebesar apa akarnya.

Jadi mulailah dengan mematikan sosmed dan mencicil pekerjaan yang tertunda. Sesederhana itu! Jika dikerjakan semua pasti selesai juga. Jika tidak sanggup, segera delegasikan. Just do it dan tidak pakai mikir lama.

Menurut Nicola Cook dalam buku Aku Berubah Maka Aku Sukses, pergunakan waktu 70% untuk pekerjaan yang benar-benar kita sukai dan menunjukkan keunikan kita. Sisakan 25% untuk kewajiban rumah tangga, dan hanya sisakan 5% untuk pekerjaan yang menguras energi dan tidak kita sukai.

Kita memang perlu belajar lagi mengenai mengiklaskan dan melepaskan beban yang terlalu banyak. Pilih hanya yang benar-benar perlu saja. Semakin sedikit semakin baik. Melihat daftar to do yang penuh ceklist setiap hari memang sangat indah. Walau itu sekedar langkah-langkah kecil.

Awalnya pasti berat, tapi memang tidak ada jalan lain untuk bisa berubah. Tidak ada pilihan untuk menunda lagi.

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: