Iri dan Dengki

Salah satu yang menyebabkan saya sangat menyukai Surat Al Falaq – selain karena pendek dan mudah dihapal, adalah karena mengandung permohonan perlindungan dari kejahatan orang-orang yang dengki (hasad).

Menurut KBBI, iri berarti merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain. Sedangkan dengki berarti menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Beda-beda tipis lah.

Iri dan dengki adalah penyakit hati yang begitu mudah ditiupkan ke dalam hati manusia. Ketika melihat kelebihan orang lain, wajar kalau ada rasa tertentu yang bergolak di dalam hati. Tidak harus selalu berarti negatif. Kita bisa merasa senang melihat keberuntungan orang lain, tapi bisa juga iri. Ada kalanya pujian tulus terlontar dengan penuh kekaguman dengan keberhasilan orang lain. Tapi ada kalanya juga heran mengapa dia bisa, kok saya nggak?

Secara naluri, manusia membutuhkan kompetisi untuk menjadi yang terbaik. Berlomba-lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan dalam agama. Bahkan akan lebih bagus jika bisa bersinergi untuk menghasilkan yang terbaik. Namun ada kalanya, rasa iri dan dengki ini merusak diri kita. Maksud hati mau mengalahkan, hanya karena kedengkian, kita malah kalah telak.

Baca cerita Ippho Santosa bagaimana Dengki yang dapat menutup potensi diri, menutup rejeki, merugikan kesehatan dan menghapus amal di sini.

 

Mengapa sifat iri dan dengki muncul?

Bisa jadi karena merasa tidak mampu bersaing.  Ada dua cara untuk memenangkan sebuah kompetisi: bersaing dengan prestasi atau mencari kelemahan lawan untuk bersaing secara tidak sportif. Ketika dirasa prestasi sudah tidak mampu untuk dikejar, banyak orang menggunakan cara kedua untuk mengalahkan lawan. Namun biasanya kemenangan dengan cara tidak sportif ini, sering tidak berkah.

Dalam buku Nyonya Besar karangan Thress Emir (GPU,2013), ada sebuah kisah yang menarik perhatian saya berkaitan dengan urusan iri. Salah satu dari 15 kisah yang diangkat dari kisah nyata Para Nyonya Besar Metropolitan adalah mengenai Betari (30 tahun). Seorang Nyonya Setengah Besar yang ingin menjadi Nyonya besar.

Betari ini sangat terpesona dengan tetangganya Bu Sastro (50 tahun) yang ia nilai memiliki segalanya. Bu Sastro tinggal di depan rumah Betari, sehingga ia jadi bebas mengamati setiap gerak-gerik Nyonya berusia 50 tahun itu. Mulai dari penampilannya, cara bicaranya, hingga kekayaannya membuat Betari begitu ingin menjadi seperti Bu Sastro.

Jadi apa yang Betari lakukan? Mengorek-ngorek kekurangan Bu Sastro dan berusaha menjatuhkannya? Ternyata tidak. Ia malah mendekati Bu Sastro dan mencari tahu lebih banyak tentang idolanya itu. Singkat cerita, Betari mendapatkan pekerjaan sebagai Asisten Pribadi Bu Sastro. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan berusaha belajar banyak dari Bu Sastro. Dalam 5 tahun, Betari berhasil mencapai keinginannya menjadi Nyonya Besar yang sesungguhnya.

Dari cerita ini saya jadi belajar, kalau kita iri pada keberhasilan seseorang, bukanlah langkah yang bijak untuk malah memusuhi atau menjauhinya. Apalagi menyebarkan kebencian tentang mereka. Yang perlu kita lakukan malah sebaliknya, mendekati mereka dan berusaha belajar lebih banyak dari keberhasilan mereka. Biasanya mereka adalah orang-orang yang murah hati jika didekati dengan cara yang benar. Mereka bukan musuh yang harus dikalahkan, namun teman yang telah membuka jalan terlebih dahulu. Dengan menghargai pencapaian mereka, jalan kita meraih impian bisa lebih mudah.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: