Kulwap ke-8 #ODOPfor99days bersama Dee Lestari

Sejak pertengahan tahun 2016 saya sebenarnya sudah merencanakan untuk mengajak penulis papan atas ini untuk Kulwap 1 jam di grup menulis kami. Sepertinya ada banyak sekali pertanyaan yang perlu diajukan kepada penulis bersuara emas kelahiran 20 Januari 1976 ini.

Cuma caranya bagaimana ya bisa mengajaknya untuk Kulwap? Sampai suatu saat saya nyasar ke sebuah artikel Dee di blognya tentang Kesantunan Bersurat. Dalam artikel itu Dee mengungkapkan kekesalannya pada cara orang menulis surat, plus lengkap dengan e-mail untuk menghubunginya. Jadi dalam rangka praktek Kesantunan Bersurat, saya beranikan diri untuk mengajaknya Kulwap. Dan…. surat santun saya dapat penilaian bagus dengan bersedianya Dee Kulwap di grup kami, pada Jumat, 2 Desember 2016.

Fakta tentang Dee Lestari

Dengan sejumlah karyanya yang spektakuler seperti Supernova (2000 – 2016), Perahu Kertas (2004), Filosofi Kopi (2006), Rectoverso (2008), dan Madre (2011), Dee bisa dianggap Dewi penulisan Indonesia. Baca: 9 tips menulis dari Dewi Lestari.

Mama dari Keenan (lahir 2004) dan Atisha (lahir 2009) serta istri dari pakar penyembuh holistik, Reza Gunawan ini adalah lulusan SMA 2 Bandung dan Fakultas Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung. Ia sudah sering menulis jauh sebelum Supernova 1: Ksatria, Putri dan Bintang jatuh terbit. Di tahun 1993, tulisannya berjudul Ekspresi untuk majalah Gadis mendapat juara 1.

Sempat ber-indie dengan bendera Truedee Books pada tahun 2000, Supernova pertama laku 12.000 eksemplar hanya dalam tempo 35 hari. Di tahun 2002, Dee menggaet Harry Aveling untuk menerjemahkan Supernova ke dalam bahasa Inggris dan menembus pasar internasional.

Lahir sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara Simangunsong yang semuanya penuh bakat luar biasa. Selain Dee yang punya bakat menyanyi dan menulis, ada juga Mbak Imelda Rosalin dan Arina Ephipania Mocca yang memiliki talenta musik mengagumkan.

 

Pertanyaan untuk Dee Lestari

Dan tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Jumat, 2 Desember 2016 pukul 11.30 – 12.30, Dee Lestari siap menjawab sejumlah pertanyaan Emak-emak #ODOPfor99days.

Salam Pembuka:

Halo semua, senang bisa bertanya-jawab di WAG ini. Mumpung saya belum masuk “gua” lagi 🙂 Akhir tahun ini sebetulnya saya sudah menutup agenda kerja, dan bersiap untuk memulai proyek kreatif berikut (rencananya akan dimulai awal tahun depan). Sekaligus saya juga menikmati masa rihat (baca: tidak menulis). Selama sepuluh bulan terakhir (setelah rilis Supernova IEP), kegiatan saya lebih banyak ke luar, yakni: talkshow, seminar, di luar dari kegiatan promo IEP juga tentunya. Biasanya, kalau sudah masuk gua, saya mengurangi drastis kegiatan saya di luar supaya bisa fokus menulis.

 

Kini mari kita masuk ke sesi tanya-jawab:

#1 Pertanyaan Thasya Sugito, Bandung

Hi teh Dee. Saya penggemar setia trio RSD dan juga Supernova, seneng banget teh Dee mau mampir di grup kami ini. Pertama kali beli Supernova edisi mahasiswa langsung jatuh cinta, lalu ikut musikalisasinya teh Dee di CCF Bandung, dan semakin jatuh cinta.

a. Boleh tahu gak, darimana teh Dee dapat ide/inspirasi menulis hingga lahir karya sekeren Supernova itu? Karena saat itu, saya belum pernah menemukan fiksi yang menggabungkan antara spiritualitas dengan sains seperti Supernova.

Jawaban:

Pada prinsipnya saya menulis apa yang ingin  saya baca. Ketertarikan saya saat itu adalah sains dan spiritualitas dan sintesis antara keduanya. Hobi saya sendiri memang menulis fiksi. Jadi, karena saya merasa perlu ada bacaan yang menggabungkan unsur-unsur itu, saya tulislah Supernova.

 

b. Berapa jam waktu yang teh Dee alokasikan dalam sehari untuk menulis?

Jawaban:

Saya hanya menulis intensif hanya ketika akan memulai sebuah karya. Target saya biasanya jumlah kata, bukan jam. Tapi, karena saya harus mengurus keluarga dan anak, saya hanya dimungkinkan untuk menulis saat anak-anak bersekolah atau berkegiatan, jadi biasanya pagi (kadang subuh) sampai siang menjelang sore.

 

c. Pernah merasa kehabisan ide gak teh? Kalau pernah, apa yang dilakukan saat teteh merasa kehabisan ide?

Jawaban:

Problem saya justru kebanyakan ide. Banyak sekali ide yang mengantre untuk dieksekusi, sementara waktu saya terbatas.

 

d. Saya belum pernah berhasil menulis fiksi. Bagi-bagi tipsnya dong teh, bagaimana caranya bisa menulis fiksi hingga terasa real banget seperti Supernova? Ataukah, memang menulis fiksi ini hanya jadi bagiannya orang-orang yang punya daya imajinasi tinggi ya? #saya kayanya ga termasuk

Jawaban:

Menulis fiksi butuh latihan, jam terbang, disiplin, dan tekad untuk selesai. Menulis bisa dilakukan semua orang tapi memang tidak semua orang punya ketabahan untuk melakukannya dengan baik, karena memang prosesnya tidak mudah.

Imajinasi adalah hal yang inferior dibandingkan keuletan untuk menyelesaikan sebuah karya.

 

#2 Pertanyaan Novita, Tangerang Selatan

Halo teh Dee, saya Novi penggemar buku buku kerennya. Terkesan banget sama filosofi kopi yang filosofis sekali. Pengen tau dong berapa lama penelitian atau survei lapangan yang dilakukan .

Trus pengalaman  mendalam apa yg melatar belakangi lahirnya buku itu. Kerasa banget mendalamnya makna buku itu sampe difilmkan…

Jawaban:

Filosofi Kopi adalah karya lama, saya tulis tahun 1996 waktu masih kuliah. Riset saya terbatas karena saat itu belum ada internet, jadi hanya mengandalkan pengetahuan seadanya dan riset pustaka (pakai Ensiklopedia). Niat saya waktu itu adalah menulis sebuah cerita tentang kopi, sebagai salah satu minuman favorit saya. Kebetulan dulu pun saya berkhayal ingin punya kedai seperti Filosofi Kopi. Jadi, senang sekali sekarang semua itu bisa terwujud.

 

#3 Pertanyaan Monika Puri Oktora, Gronigen

Teh Dee.. akhirnya bisa kulwap di sini, seneng pisann! Saya baca dan punya hampir semua novelnya Teh Dee.. Supernova (baru baca sampai Petir sih, heuheu), Rectoverso, Perahu Kertas, Filkop, Madre. Pertanyaan saya:

a. Siapa penulis fav Dee dari dalam dan luar negeri? Dan buku apa yang menjadi fav Dee, yang kira-kira sangat berkesan dan ingin bisa menulis sekelas buku tersebut.

Jawaban:

Saya tipe pembaca yang mencari informasi, jadi kesukaan saya kepada buku cenderung dari topiknya, bukan penulisnya. Hampir tidak ada penulis yang saya ikuti rutin karyanya. Namun ada beberapa buku/penulis yang menggugah saya pada masanya. Waktu kuliah saya suka Sapardi Djoko Damono, lalu thn ’98 saya terpukau dengan Ayu Utami. Saya sempat suka Dave Eggers, Ana Castillo, Rattawutt Lapcharoensap. Beberapa karya Dan Brown juga sempat saya ikuti.

 

b. Tulisan-tulisannya Dee rasanya tu selalu berbobot dan sarat informasi. Selain dari melakukan riset dan banyak membaca, bagaimana agar tulisan kita bisa sampai padat berisi?

Jawaban:

Seperti yang saya bilang tadi, karena modus saya dalam membaca adalah mencari informasi, maka itu juga yang menggerakkan saya untuk menulis fiksi, karena ada informasi menarik yang menurut saya penting untuk dibagi.

Selain itu, penting bagi kita untuk terus memelihara rasa ingin tahu. Dengan demikian, sebagai kreator kita juga tidak cepat puas dalam berkarya, selalu ada drive untuk memperbaiki dan memperkaya khazanah kita.

 

c. Perahu Kertas adalah karya Dee yang cukup berbeda dengan karya-karya lainnya. Menurut saya lebih ringan alurnya dan santai membacanya. Apakah ada perbedaan dalam menulis buku tersebut dibandingkan buku-buku lainnya?

Jawaban:

Di Perahu Kertas, niat saya memang ingin menuliskan cerita cinta. Kembali kepada prinsip menulis apa yang ingin saya baca, saya merasa tidak atau sulit menemukan fiksi dengan kisah cinta yang sesuai dengan selera saya. Saya senang dengan kisah cinta yang berproses, elegan, menyentuh, sekaligus humoris, untuk itu saya kemudian menuliskan Perahu Kertas.

Saya menulis apa yang ingin saya baca. – Dee Lestari

 

#4 Pertanyaan Wini Nirmala, Bandung

Halo mb Dee, salam kenal. Saya pernah dengar mb Dee bilang “penulis itu punya semestanya sendiri” di TV. Kalau nggak salah waktu wawancara lauching buku IEP di net.tv. Pertanyaan saya:

a. Pernahkah terlalu berlarut dalam semesta itu, sampai lupa membedakan mana realita dan imajinasi?

Jawaban:

Nggak sampai segitunya sih, kalau sudah tidak bisa membedakan mana realitas mana imajinasi itu sudah masuk ke problem klinis. Tapi, ketika sedang berproses kreatif saya memang seperti “menyimpan” semesta sendiri. Benak kita adalah rahim dari karya kreatif yang hendak kita lahirkan. Jadi, otomatis semua proses penciptaan yang terjadi mengambil tempat di dalam diri/pikiran kita.

 

b. Bagaimana mengontrolnya?

Jawaban:

Selama kita masih punya kewarasan yang cukup (tidak mengalami gangguan jiwa secara klinis), saya rasa kita akan relatif dimampukan untuk mengendalikan batasannya. Contohnya, saya menulis tokoh Bodhi, saya tahu bahwa Bodhi tidak ada. Dan saya tidak jadi berhalusinasi bahwa Bodhi betulan ada, atau saya tahu-tahu ngomong sendiri dengan Bodhi. Menurut saya itu sudah gangguan jiwa. Namun, ketika saya menuliskan Bodhi, secara internal saya bisa merasakan emosi yang ia rasakan, melihat wujudnya dalam “teater internal” saya. Tapi, ketika saya menutup laptop atau rihat menulis, saya tahu bahwa semua itu sebatas kreasi saya sendiri. Bukan kenyataan.

 

c. Ketika semesta itu begitu indah dibangun, ada detail yang dirasa tidak wajar. Tapi bukunya sudah terbit. Itu dibiarkan saja? Atau ada rasa gatal ingin revisi? Hehe..

Jawaban:

Dalam proses menulis ada yang namanya “fermentasi” dan editing. Kita tidak serta merta menyerahkan draf pertama kita ke penerbit. Draf pertama itu ibarat batu mentah yang perlu dipoles dan diperbaiki, bukan hasil akhir. “Fermentasi” di sini artinya memberi jeda waktu kepada draf pertama kita setelah rampung. Entah sebulan, dua minggu, dsb. Karena ketika kita menulis, kita pasti susah berjarak dengan karya kita. Begitu diberi waktu, jarak tersebut akan membuat kita punya objektivitas. Saya selalu merevisi/menyunting karya saya berkali-kali. Bahkan ketika sudah terbit pun biasanya kita masih akan mendeteksi typo, dsb. Tapi, kalau yang namanya merombak pasti sudah tidak mungkin.

Jadi, sebagai penulis kita juga perlu paham bahwa sebuah karya adalah cerminan kita pada saat tertentu. Ketika hari ini saya baca karya saya tahun 2001, pasti banyak yang ingin saya perbaiki. Tapi, saya harus bisa berdamai dengan “kekurangan” dan “kesalahan” saya pada saat itu dan menerimanya sebagai proses saya sebagai seorang penulis.

 

d. Bagi mb Dee, tantangan terbesar membuat buku berseri itu apa?

Jawaban:

Waktu, komitmen, menyusun logika cerita.

 

#5 Pertanyaan Farda, Surabaya

a. Apa motivasi terbesar alasan mb Dee menulis?

Jawaban:

Saya senang merangkai cerita. It’s an innate drive within me. Mungkin itu yang disebut sebagai bakat atau hasrat? Not sure. Kedua, ketika saya sudah berhasil merangkai sebuah cerita, saya pun punya dorongan untuk membaginya.

 

b. Apa yang membuat mb Dee sabar menuliskan cerita bagian-bagian fiksi dalam sebuah novel? Apalagi berseri.

Jawaban:

Pertama, karena cerita serial itu memang secara plot di desain agar memiliki ruang besar untuk berkembang. Sederhananya, serial bisa berlanjut karena ceritanya belum selesai. Kedua, karena komitmen. Bagi saya, semua karya yang belum selesai adalah utang. Sebagaimana utang membuat kita resah dan tidak tenang, saya ingin menunaikan utang-utang saya agar saya bisa merasa lega.

 

#6 Pertanyaan Anittaqwa Elamien, Surabaya:

Pernah nggak seorang Dee kursus (belajar) menulis ke orang lain?

Jawaban:

Saya baru ikut workshop menulis itu kira-kira dua tahun lalu, online lewat Udemy.com, selama ini saya belajar menulis secara otodidak, lewat berlatih, trial and error. Kadang saya juga belajar dari buku-buku panduan menulis atau buku memoir para penulis yang menuliskan pergelutannya. Dari sana saya juga banyak belajar bagaimana memahami apa yang sudah saya lakukan dan perlu saya lakukan untuk ke depannya.

 

#7 Pertanyaan Widitra Maulida, Gresik:

a. Perjalanan menulis kak Dee sejak usia berapa?

Jawaban:

Saya senang mengkhayal dan merangkai cerita dari sejak kecil. Terpengaruh buku-buku Enid Blyton, saya juga mencoba menulis waktu kecil. Pertama kali saya mencoba agak serius (menulis panjang) adalah waktu kelas 5 SD.

b. Di tahun ke berapa karya pertama dipublish?

Jawaban:

Tahun 2001

 

#8 Pertanyaan Marina Yudhitia, Bandung

a. Bener gak ya waktu dulu pertama kali bikin buku (Supernova) itu menerbitkan secara indie?

Jawaban:

Benar. Supernova pertama kali diterbitkan lewat metode self-publish.

 

b. Lalu setelah booming diterbirkan ulang oleh penerbit major?

Jawaban:

Saya baru bekerja sama dengan penerbit pada tahun 2002 (Akar) cetakan 1, dan Petir (cetakan 1-3). Baru Filosofi Kopi saya bekerja sama dengan penerbit lagi (Gagas Media). Ketika kuantitas buku yang dituntut pasar sudah sebegitu banyak (puluhan bahkan ratusan ribu kopi), sudah sulit bagi saya menerbitkan sendiri karena butuh modal dan SDM yang intensif.

 

c. Mau nanya juga untuk penulis pemula banget yang belum punya nama sama sekali dan baru pertama kali menghasilkan novel/kumcer apakah sebaiknya diterbitkan sendiri dan dijual sendiri dulu atau baiknya ajukan saja ke penerbit yang cocok walau akan makan waktu lama dan belum tentu diterima? Sementara si penulis pemula ini kan inginnya karyanya bisa segera di publish ke umum. Hatur nuhun.

Jawaban:

Sebetulnya bukan soal lebih baik/tidak. Menurut saya, self-publish maupun ikut penerbit punya konsekuensi masing-masing. Kalau self-publish tentu kita punya kendali penuh, menerbitkan kapan pun kita mau, tidak perlu menunggu lolos redaksi/tidak, memasarkannya dengan cara yang kita mau. Tapi, untuk itu kita butuh mengalokasikan waktu dan energi untuk menata perdagangan bukunya. Proses itu, jika tidak di-manage dengan baik, bisa menyita waktu bahkan energi kita yang seharusnya mungkin dialokasikan untuk membuat karya baru.

Tapi jika merasa siap, modal ada dan SDM ada, kenapa tidak? Lewat penerbit, berarti kita harus lolos dulu dari saringan redaksi, dan kita akan mengikuti jadwal, aturan, maupun cara pemasaran mereka. Saat ini banyak juga yang memulai dengan self-publish dulu, ketika basis pembaca sudah cukup kuat, biasanya menembus penerbit juga lebih gampang.

 

#9 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin, Bandung

a. Menyambung pertanyaan Marina di atas, sebelum Supernova di jual Indie dulu, apa sempat ditawarkan ke penerbit major? Atau dari awal sudah memilih untuk indie?

Jawaban:

Saya memilih indie sebetulnya bukan karena idealisme tertentu mengenai cara memasarkan/menerbitkan, dsb. Waktu kecil saya bercita-cita satu saat akan melihat buku saya dijual di toko buku. Pada tahun 2000 ketika saya merampungkan draf Supernova, saya punya feeling bahwa karya tersebut cukup layak untuk menjadi karya perdana saya yang diterbitkan ke publik, lalu saya membuat target pribadi: pada ultah saya ke-25 (tahun 2001), saya ingin menghadiahi diri sendiri dengan melihat buku Supernova dijual di toko buku. Itu saja. Jadi, kenapa saya self-publish, karena waktu saya cukup mepet (draf selesai September 2000, ultah saya Januari 2001). Saya tahu akan makan waktu kalau ke penerbit dulu, juga belum tentu lolos. Dan niatan saya cuma jadi hadiah diri sendiri doang. Nggak membayangkan best-seller lah, apalah, ya sudah, akhirnya menerbitkan sendiri.

 

b. Menurut Dee, apa kesalahan yang paling banyak dilakukan penulis wannabe sehingga membuat mereka belum berhasil menulis buku yang berkualitas?

Jawaban:

Ketika seorang penulis berhasil menamatkan karyanya, menurut saya dia sudah menyelesaikan peer besarnya. Berkualitas atau tidak, menurut saya itu bergantung pada jam terbang dan selera (yang mengklaim berkualitas/bukan siapa, selera yang menulisnya sendiri bagaimana), so it’s a grey area. Yang jelas, semakin sering kita berlatih, kualitas maupun proses kepenulisan kita bisa lebih baik dan lebih lancar.

Wawasan membaca juga penting, karena biasanya kita akan dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang kita baca. Yang menurut saya paling harus dijaga dari penulis pemula adalah mereka sering tidak tuntas berkarya. Banyak orang yang beraspirasi menjadi penulis tapi cuma kuat setengah jalan, dan habis itu putus asa untuk melanjutkan.

 

c. Berapa banyak waktu yang Dee alokasikan buat sosmed? Sejauh mana peran sosmed mendukung karir penulisan Dee?

Jawaban:

Kehidupan medsos saya baru di mulai sekitar 8 tahun yang lalu, sementara karier saya sebagai penulis sudah hampir 16 tahun. Jadi, setengahnya saya lewatkan tanpa medsos. Kegunaan utamanya bagi saya adalah komunikasi langsung dengan pembaca. Penyebaran informasi maupun proses dapur karya kreatif saya juga jadi lebih terbuka karena saya bisa share beberapa hal tentang buku saya bahkan sebelum diterbitkan. Para pembaca juga bisa lebih mengenal saya tanpa saringan media (karena saya bisa berkomunikasi secara direct). Jadi, dibilang penting, ya penting. Tapi, lebih ke aspek eksternal (promo, komunikasi). Sementara secara internal saya merasa dalam proses kreatif saya lebih membutuhkan kesendirian.

 

d. Buat Dee seberapa besar peran suami dan anak-anak dalam mendukung karir menulis seorang ibu?

Jawaban:

Suami dan anak-anak adalah pilar sekaligus fondasi saya. Berkarya itu seperti bermain di awang-awang. My family keeps me grounded.

 

e. Apa tanggapan terhadap pihak yang membajak Novel-novel Dee Lestari? Saya lihat novel dee mudah di download bebas di Internet.

Jawaban:

Pembajakan lebih ke masalah sistemik, yang untuk diusut secara hukum harus melibatkan banyak pihak. Kalau dari saya pribadi ya paling lebih ke cara persuasif, dengan mengedukasi maupun mengajak pembaca saya untuk tidak membeli bajakan karena itu artinya mereka hanya menguntungkan pembajak dan merugikan semua pihak lain, termasuk penulisnya sendiri. Ketika booksigning saya juga mewanti-wanti kepada pembaca bahwa saya hanya akan menandatangani buku asli, bukan yang bajakan.

 

#10 Pertanyaan Dessy Nathalia, Bandung

Salam, Teh Dee. Senang sekali bisa kedatangan tamu istimewa di #ODOPfor99days ini. Pertanyaan dari saya:

a. Apakah boleh penulis memiliki lebih dari satu gaya kepenulisan? Karena biasanya saat menulis curhatan di blog saya cenderung santai, sedangkan jika sedang menyikapi suatu topik yang agak serius, gaya penulisan saya pun terbawa serius, agak susah membawakan dalam gaya santai seperti biasa, hehe.

Jawaban:

Tentu saja bisa. Setiap penulis akan punya preferensinya masing-masing, dan ketika semakin dilatih dan diasah, penulis akan lebih memahami style-nya sendiri.

 

b. Menurut Teteh, apakah penulis itu wajib membaca? Dan apakah bacaan itu harus selalu bergantung pada apa yang akan kita tulis?

Jawaban:

Jika seorang penulis ingin berkembang, ia pasti harus membaca. Karena membaca seperti melengkapi proses feedback loop bagi seorang penulis, memberikannya referensi dan wawasan. Tidak selalu bacaan kita harus berhubungan dengan apa yang kita tulis. Tapi dengan membaca kita bisa mengidentifikasi jenis tulisan seperti apa yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Kedua hal tsb cukup penting untuk membentuk karakter kita sebagai seorang penulis.

 

c. Teh, bagaimana ya mengatur waktu untuk menulis di tengah aktivitas yang padat sambil membersamai anak & keluarga? Hatur nuhun teh -Ibu Jerapah-

Jawaban:

Saya rasa nggak ada rumusnya untuk membagi waktu selain mengusahakan agar setiap “departemen” kebagian perhatian, seperti main juggling. Dan kita harus memahami skala prioritas masing-masing. Harus tetap realistis. Jangan kepengin dijalankan semua kalau memang tidak sanggup atau tidak memungkinkan. Misalnya, ketika saya sudah berkomitmen untuk menulis buku, otomatis saya menolak hampir semua tawaran wawancara, talkshow, dsb, karena kalau saya ladeni semua, waktu saya akan habis, tenaga saya akan habis. Sementara keluarga masih membutuhkan saya. So, definisikan dengan baik apa yang menjadi prioritas kita.

 

Alhamdulillah 9 pertanyaan terjawab tuntas dan memuaskan. Bahan renungan dan pelajaran untuk teman-teman. Kulwap ditutup pukul 12.30 dengan rekaman suara Dee di grup WA: “Halo semua, makasih banget ya atas tanya jawabnya. Semoga jawaban saya membuat teman-teman semakin semangat berkarya. Terima kasih. Selamat siang.”

Kalau penyanyi, ngomong aja merdu… Thank you so much Dee…

Oleh-oleh buat Dee Lestari dari #ODOPfor99days
Oleh-oleh buat Dee Lestari dari #ODOPfor99days

Sumber bacaan lain:

http://deelestari.com/id/

https://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari

http://islamlib.com/gagasan/pergulataniman/dewi-dee-lestari-semua-bermula-dari-cinta/

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Kulwap ke-8 #ODOPfor99days bersama Dee Lestari

  • December 4, 2016 at 7:36 am
    Permalink

    Alhamdulillah, dapet tabungan ilmu lagi dari artikel kulwap Teh Dee.
    Thanks a lot Teh Shanty, udah menghadirkan (lagi) narasumber keren dan berbobot untuk membagi ilmunya di sini 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: