Tangkal Hoax dengan Literasi Digital

Turn Back Hoax saya tempelkan di foto profil Facebook karena saya benar-benar tidak suka dengan Hoax. Hoax atau menyebarkan berita bohong dan fitnah sangatlah berbahaya. Saya tidak tega menuliskan di sini betapa banyak orang yang sengsara karena terkena hoax. Begitu mudahnya sebuah berita disampaikan dengan cara tidak utuh sehingga membentuk opini yang salah dari si pembacanya.

Tadinya saya pikir hoax hanya akan menyerang orang-orang bodoh yang malas membaca. Sampai saya terserang hoax, akhirnya saya cabut pikiran itu. Saya bukan orang bodoh (walau tidak pintar juga) dan tidak malas membaca menurut saya. Namun saya pernah bisa percaya pada sebuah berita hoax flat earth. Aneh?

Mungkin aneh, tapi akhirnya saya bisa memahami (walau dengan susah payah) kenyataan bahwa ibu Marwah Daud percaya Dimas Kanjeng bisa menggandakan uang.

Begini yang ada di otak saya saat itu. Awalnya saya lihat seliweran cerita flat earth di timeline Facebook. Sebagian besar menertawakan. Saya juga ikut menertawakan, walau tidak terlalu paham. Apa maksudnya coba mengatakan dunia ini datar? Semua orang juga tahu dong kalau bumi itu bulat seperti bola. Apalagi saya yang punya globe di rumah yang bisa dipandangi sepanjang hari. Entah orang gila mana yang bilang bumi itu datar.

Sampai suatu saat saya menonton 7 film tentang flat earth. Serius ya, otak saya tercuci. Saya pun meragukan kalau bumi ini bulat, dan mulai berpikir bahwa bumi benar-benar datar. Hujan fakta yang diberikan begitu meyakinkan.

Membutuhkan waktu beberapa hari dengan bertanya ke kanan kiri, cek wikipedia sebagai sumber informasi terpercaya, sampai akhirnya ketemu bantahan valid mengenai fakta-fakta yang disampaikan dalam film tersebut. Bahkan flat earther menjadi sebuah istilah untuk orang-orang yang punya pemikiran konyol. Baru setelah beberapa hari saya bisa kembali berpikir lurus di atas bumi yang bulat ini.

Hadeuh…. ada-ada saja hoax.

Hoax di Amerika

Bukan saya sendiri saja orang pintar (boleh kalau mau lempar buku) yang kejebak hoax. Ternyata masyarakat semaju Amerika pun terkena virus hoax yang akut juga.

Dalam tulisan Waspadai Popularitas Berita-berita Palsu (Kompas, 29 November 2016) disebutkan bahwa jumlah share berita hoax lebih banyak daripada jumlah share dari berita resmi media profesional.  Yang share berita hoax 8,7 juta shares dan berita resmi 7,3 juta shares. Biasanya cukup dengan modal judul yang cetar membahana.

Dua berita hoax terpopuler adalah cerita yang mengklaim bahwa Hillary Clinton menjual senjata untuk NIIS yang dibagi 789 ribu kali dan berita Paus Franciskus mendukung Trump yang dibagi 960 ribu kali.

Ada juga berita lain seperti bocornya surat elektronik Hillary kepada NIIS (dibagi 756 ribu kali) dan berita kematian mencurigakan agen FBI yang menjadi tersangka surat elektronik Hillary (dibagi 567 ribu kali).

Ini Amerika gitu loh!  Negara yang menurut kita tingkat pendidikan dan literasi digitalnya cukup tinggi.

Literasi digital di Indonesia

Sebuah artikel berjudul Medsos Dipadati Berita Abal-abal (Kompas, 25 November 2016), Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Nizam mengatakan di abad ke-21 ini, literasi digital menjadi salah satu kompetensi yang mesti dikuasai masyarakat, selain keterampilan belajar dan inovasi, serta keterampilan hidup dan kerja.

Masalah serius lain yang harus dipecahkan adalah malasnya membaca. Berita hoax itu umumnya di share tanpa dibaca terlebih dahulu. Hanya karena judul atau foto yang bombastis dan sekedar membaca atau dilihat sepintas, dengan mudahnya orang membaginya tanpa berpikir panjang. Seperti hoax konyol yang mengira Ulin Yusron sebagai Amalia Ayunityas, atau tuduhan Kapolri dan Ahok yang tengah mabuk-mabukan Equil. Saya menduga yang terakhir di sebar sebagai iklan Equil – Teori konspirasi tingkat tinggi.

Padahal itu berita palsu yang menyesatkan dan memfitnah orang lain. Nanti setelah ketahuan palsu bin fitnah, baru minta maaf. Yang menyedihkan, permintaan maaf ini di share oleh jauh lebih sedikit orang. Nama orang yang dirugikan sudah keburu rusak. Semoga kita dilindungi dari menjadi korban hoax yang tidak bertanggung-jawab.

Menurut survey BPS 90,27% masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi, dan hanya 18,94% yang suka membaca. Index membaca bangsa Indonesia 0,001. Artinya dari 1000 orang hanya 1 yang membaca serius (UNESCO 2012). Jadi wajar kalau Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara dalam literasi (Most Literate Nation in the World 2015).

 

Gerakan Turn Back Hoax

Untung sekarang banyak pihak mulai perhatian terhadap penyebaran hoax ini. Om Mark Zuckerberg, CEO Facebook pun berkomitmen untuk menerapkan sistem baru  dalam mendeteksi berita hoax di Facebook. Facebook akan mengajak pihak ketiga untuk memverifikasi informasi yang beredar di Facebook termasuk mempersulit website abal-abal meraup keuntungan di Facebook.

Di Indonesia juga mulai banyak komunitas yang dibuat untuk mengecek kebenaran suatu berita. Ada komunitas Indonesian Hoaxes, atau teman saya Dydy Dyanita yang rajin membuat album Melawan Hoax.

Oh iya, kalau teman-teman mau punya foto profil yang ada tempelan tulisan Turn Back Hoax bisa klik di sini.

Semoga kita semua bisa semakin cerdas dalam menilai sebuah informasi dan terhindar dari cap penyebar fitnah.

Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (QS Al Baqarah 2:191 dan 217)

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: