Perang Perbedaan Pendapat

Sebagai emak-emak, mom’s war itu biasa. Banyak hal bisa jadi perang panjang yang menguras energi dan waktu. Mulai dari ibu bekerja vs ibu dirumah, ibu ASI vs ibu Sufor, ibu imunisasi vs anti imunisasi, ibu mendukung les vs ibu anti les, ibu homeschooling vs ibu sekolah biasa, ibu lahir normal vs ibu lahir ceasar, ibu popok sekali pakai vs ibu popok clodi, ibu bahagia vs ibu depresi saat melahirkan bayi. Aih segala aja diributkan. Percaya nggak, ini kalau di forum emak-emak panjang chatnya bisa nggak ketulungan.

Kalau mau baca resumenya bisa lihat di dalam Postingan di Rocking Mama: Perang Para Mama, Perang Abadi – Kapan Akan Berakhir? Apa yang Mama Dapatkan?

Jadi kalau ada perang dalam hal diluar urusan khusus di atas, emak-emak emang rada cerdas dalam mengungkapkan pendapatnya. Sepertinya sudah banyak latihan. Mau ada perang Pendukung Jokowi vs Prabowo, Pendukung Ahok vs Bun Yani, Denny Siregar vs Jonru, sampai bubur diaduk vs bubur tidak diaduk, semua bisa dijabanin sambil masak dan ngurus anak.

Sebenarnya kenapa ya kita kok hobi banget berdebat? Padahal katanya Om Dale Carnegie, hindarilah perdebatan seperti menghindari ular. Saya curiga si Om membaca hadis Rasulullah ini:

” Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud)

Ditambahkan pula oleh Umar bin Khattab:

Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda. Padahal ia tahu, seandainya ia mau ia pasti menang dalam perdebatan itu.

Kesimpulannya perdebatan tidak ada gunanya. Tidak ada yang menang dalam sebuah perdebatan. Tidak ada orang yang akan mengubah pendapatnya.

Kenapa bisa begitu?

Karena masing-masing sudah punya dasar pemikiran masing-masing plus bumbu Jebakan Ego. Apalagi saat ini sejumlah perangkat browsing kita sangat pintar mencatat preferensi kesukaan kita. Misalnya sekali dua kali kita mencari tahu tentang pendapat A, maka si Mbah Google akan memberikan lebih banyak tentang pendapat A. Sedikit tentang pendapat B yang akan kita terima. Seperti biasa, si mbah selalu sok tahu memberikan apa yang ia pikir kita suka. Maka sempurna lah kita semakin terpolarisasi ke kutub kanan atau ke kutub kiri.

Menurut saya, perbedaan pendapat itu sangat perlu untuk memperluas wawasan kita. Seperti orang berjalan, dalam hidup ini kita perlu keseimbangan. Jangan terlalu miring ke kanan, jangan terlalu miring ke kiri. Sedikit condong boleh, tapi jangan sampai terlalu ‘rebah’. Susah maju ke depan kalau kita jalan sambil terlalu ‘rebah’. Orang yang fokus jalan dengan lurus ke depan biasanya lebih cepat maju. Ia sanggup menahan diri dari tarikan ke kanan dan ke kiri. Ia fokus dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Masukan kanan dan kiri hanya akan membantunya untuk menjaga keseimbangan.

 

Status Momwar Teh Patra

Sebuah status Facebook dari the famous Teh Patra (Yuria Cleopatra) pada Oktober 2016 lalu bisa jadi bahan pemikiran kita untuk melihat dari atas sejumlah kasus mom’s war yang terjadi. Jarang-jarang ada emak yang punya pengalaman seperti ini.

Alhamdulillah..hampir 20 tahun malang melintang di dunia per-ibu-an. Bisa tersenyum manis saja melihat hebohnya ibu-ibu modern saling berdebat, berargumen, merasa benar sendiri, kadang bahkan saling menyalahkan. Seringkali berbagai perdebatan berujung pada kegalauan, kecemasan, kekhawatiran. Bukan hanya pada ibu yang disalahkan, anehnya juga pada ibu yang menyalahkan. Berbagai informasi simpang siur dengan referensi yang belum tentu jelas dan dapat dipertanggungjawabkan membuat para ibu semakin bingung.

Hampir semua kondisi yang sering diperdebatkan rasanya pernah saya alami.

Saya pernah 4 kali melahirkan sesar dan 2 kali melahirkan spontan. Pernah juga melahirkan di usia remaja, di usia ideal sampai di usia senja.

Sebagian anak saya mendapat ASI eksklusif, sebagian lainnya ditambah susu formula.

Saya pernah menjadi ibu kuliah S1, ibu bekerja, ibu kuliah S2, ibu pengusaha, dan ibu di rumah saja. Pernah jadi ibu dengan status lulusan SMA, lulusan S1, dan lulusan S2.

Saya pernah menggunakan metode ‘memaksa’ dalam mengajar sebagian anak saya. Saya juga pernah menggunakan metode ‘tidak mengajar’ pada anak yang lain. Saya pernah memasukkan anak saya ke sekolah formal, juga pernah melaksanakan Homeschooling untuk pendidikan anak-anak saya.

Sebagian anak saya memakai dot dan empeng sementara sebagian lainnya tidak. Sebagian anak saya merangkak dulu, sebagian lainnya langsung berjalan. Sebagian menggunakan baby walker sebagian tidak.

Saya pernah mengasuh anak dengan jumlah mainan yang paling minim pernah juga mengasuh anak dengan mainan berlimpah.

Saya pernah mengasuh 3 balita tanpa asisten dalam kondisi kekurangan, juga pernah mengasuh 1 balita dengan 5 asisten sekaligus.

Saya pernah mengalami anak yang sulit makan dan pernah juga mengalami anak yang sulit berhenti makan.

Apakah bayi yang lahir spontan lebih hebat dari yang lahir sesar? Apakah bayi ASI lebih cerdas dari bayi susu formula? Apakah ibu di rumah saja lebih sayang anak dari ibu bekerja? Apakah berbagai fasilitas menjamin anak tumbuh dan berkembang lebih baik? Apakah bayi yang tidak mau makan adalah akhir dari segalanya? Apakah pada kondisi yang diperdebatkan satu pihak lebih baik daripada pihak lain?

Alhamdulillah..semua pengalaman itu memberi banyak pelajaran dalam keluarga kami. Tidak ada kondisi ideal dalam pengasuhan. Juga tidak ada kondisi tidak ideal. Setiap situasi dan kondisi memiliki tantangan tersendiri, sekaligus juga menyimpan hikmah dan ibrah tersendiri. Setiap situasi dan kondisi menyimpan rahasia yang menjadi tonggak sejarah kehidupan seorang manusia. Tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Jangankan dibandingkan dengan anak orang lain, yang tidak saling kenal kecuali lintasan nama di dunia maya. Anak sendiri saja memiliki kondisi dan situasi sendiri. Memiliki rizqinya sendiri.

Jadi, nikmati saja peran kita sebagai ibu. Biarkan rahasia kehidupan membuka tabirnya untuk kita. Tak perlu bingung dan galau dengan komentar orang. Apalagi orang yang hanya ingin komentar tanpa benar-benar peduli pada kita. Tanpa mengetahui kondisi kita yang sebenarnya.

Bertanyalah pada ahlinya. Dapatkan sumber terpercaya yang memiliki wewenang ilmiah dalam suatu bidang. Lakukan yang terbaik yang kita mampu. Selebihnya serahkan semuanya pada Allah Yang Maha Mengurus MakhlukNya. Sungguh..Dia tak mungkin salah.

Ego Traps

Nah teman-teman, semoga pendapat di atas bisa membuka pikiran kita semua untuk bisa memandang sejumlah persoalan dengan jernih. Banyak persoalan tidak hitam dan putih sehingga mutlak salah atau mutlak benar.

Sebagai akhir perenungan hari ini, saya selipkan sebuah tulisan viral tentang Jebakan Ego (Ego Traps) yang dalam maknanya. Ini saya coba terjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia.

Jebakan Ego

• Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk naik sepeda untuk bekerja atau menggunakan transportasi publik, tapi kemudian menemukan diri anda menghakimi siapa pun yang mengendarai mobil, anda dalam sebuah Jebakan Ego.
• Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk berhenti menonton televisi karena akan merusak otak anda, tapi kemudian menemukan diri anda menghakimi orang-orang yang masih menonton TV, anda dalam sebuah Jebakan Ego.
• Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk menghindari membaca tabloid gosip, tabloid berita, dan majalah, tapi kemudian menemukan diri anda menghakimi orang-orang yang masih membacanya, anda dalam sebuah Jebakan Ego.
• Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk mendengarkan musik klasik dan musik-musik alam, tapi kemudian menemukan diri anda menghakimi orang-orang yang mendengarkan musik pop mainstream, anda dalam sebuah Jebakan Ego.
• Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk melakukan yoga, menjadi vegan, membeli, membeli organik kristal penyembuh, latihan reiki, meditasi, memakai hippie / thrift toko pakaian, mengunjungi ashrams, dan membaca buku spiritual, tapi kemudian anda menghakimi siapa pun siapa yang tak lakukan hal itu, anda dalam sebuah Jebakan Ego.

Selalu merasa paling unggul dan benar sendiri adalah petunjuk terbesar anda bahwa anda berada di sebuah Jebakan Ego. Ego suka menyelinap di belakang pintu.

Dimulai dari ide yang mulia, seperti memulai yoga, dan kemudian berakhir dengan membuat anda merasa lebih unggul daripada orang lain. Anda akan mulai melihat ke bawah pada orang-orang yang tidak mengikuti  jalan “Spiritual” yang sama. Merasa unggul, penghukuman dan penghakiman pun terjadi. Itulah Jebakan Ego. – Penulis tidak diketahui

[Aku akan menambahkan: Jika kau pikir itu lebih “Spiritual” untuk berperilaku dalam cara yang baik dan penuh cinta, namun kemudian menemukan diri anda menghakimi siapa pun yang bertindak penuh marah, kasar, egois yang jauh lebih tidak spiritual dari kamu, kamu masuk dalam Jebakan Ego. Itu yang paling berat!]

Ego Traps

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

2 thoughts on “Perang Perbedaan Pendapat

  • November 26, 2016 at 7:34 am
    Permalink

    Jadi ingat,
    Barusan baca tulisan tentang ideal.

    Karena sesungguhnya ideal itu tidak pernah ada selama di dunia.

    Ideal hanya bisa didapat ketika sudah ada di syurga.

    Manusia oh..manusia.

    Reply
    • November 26, 2016 at 8:09 am
      Permalink

      Tulis Len. Tulis… Sampaikan pendapatmu. No body should judge you.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: