The Power of Istigfar

Di umur 40 saya baru menemukan salah satu RAHASIA untuk mengurai MASALAH yang membelit diri.

Apa itu?

Istigfar dan Intropeksi diri sendiri.

#RenunganMagrib

 

Ini adalah status Facebook saya pada 10 Desember 2015. Saya rasa tidak ada orang waras yang merasa dirinya bebas tanpa dosa. Kita semua begitu mudah tergelincir dalam dosa. Rasulullah saja menurut sejumlah riwayat, beristigfar 70-100 kali sehari.

Istigfar ini sebenarnya apa sih? Sekedar keras-keras mengucapkan permintaan ampun dan mengulangnya puluhan kali?

Ternyata lebih dalam itu.

Sebuah kesadaran atas kesalahan diri. Sebuah proses yang sangat pribadi mengakui betapa kita telah melakukan kesalahan dan sadar untuk segera memperbaikinya. Serius ya, ini sangat sulit. Tidak banyak orang yang mampu melihat kesalahan dirinya. Walau sejuta umat menunjukkan jari ke jidatnya, belum tentu orang tersebut mampu melihat kesalahannya.

Ini pernah disampaikan Dale Carnegie dalam buku legendarisnya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain (Binarupa Aksara, 1995). Dalam buku itu disebutkan bahwa sejumlah orang yang dinilai oleh masyarakat adalah orang jahat dan berdarah dingin, ternyata tidak pernah merasa diri mereka jahat. Mereka merasa diri mereka adalah orang baik dan menjadi korban dari masyarakat yang tidak mengerti diri mereka. Padahal jelas-jelas mereka melakukan kejahatan yang tidak bisa dimengerti oleh akal sehat. Kesimpulannya, kemampuan untuk melihat kesalahan diri itu tidak lah mudah.

Mental Korban

Memiliki mental korban biasanya yang paling rentan dihinggapi setiap orang. Bahwa mereka adalah korban orang lain. Beban hidup mereka adalah akibat orang lain diluar diri mereka sendiri.

Badan sakit karena salah orang lain. Hidup susah karena salah orang lain. Jalan macet karena salah orang lain. Rumah kemalingan karena salah orang lain.

Seorang ibu kelelahan karena anak-anaknya yang tidak bisa diam, suaminya yang tidak bisa membantu, bosnya yang yang tidak berperikemanusiaan, sampai ujung-ujungnya itu kesalahan presiden Jokowi. Masih ingat hastag #SemuaSalahJokowi kan?

Dalam sebuah tausiah di Mesjid Agung Trans Studio Bandung, Aa Gym menyampaikan sebuah ayat yang sangat mengena untuk semua orang yang punya mental korban ini.

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS Asy Syura 42:30)

Jadi, apa pun musibah yang menimpa diri kita, harus kita pahami adalah akibat diri kita sendiri. Dalam kesempatan itu Aa Gym juga mencontohkan kasus ketika kita kecurian dompet. Malingnya memang salah. Biarkanlah itu menjadi urusan polisi dan Allah untuk membalasnya. Urusan kita adalah istigfar dan memohon ampun.

Atau contoh lain seperti musibah diberikan pasangan yang cerewet dan menyebalkan, sehingga hidup kita jadi terasa begitu penuh beban. Apakah itu semua murni karena kesalahan pasangan kita? Atau kita punya andil di dalamnya? Bisa jadi bukan kesalahan kita saat ini, tapi sesuatu hal di masa lalu yang tidak kita sadari dan telah kita lupakan.

Coba dengan rendah hati, kita cari apa perbuatan kita yang mungkin salah dan perlu diperbaiki. Pasti ada hikmah dalam setiap musibah yang terjadi. Bukan tidak mungkin loh, hal itu memang memiliki hikmah yang luar biasa dalam hidup kita.

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah 2:216)

“Koruptor itu mestinya perlu berterima kasih kepada KPK,” kata Aa Gym. Dengan tertangkap korupsinya jadi berhenti dan diberi kesempatan untuk bertobat. Masih banyak orang yang tidak bisa berhenti dan makin menjadi korupsinya di luar sana karena masih dikasih kesempatan untuk bebas.

The Power of Istigfar

Ketika kemampuan untuk intropeksi diri ini muncul, maka ada 3 keutamaan yang di dapat menurut Aa Gym.

  1. Dilapangkan dari kesempitan hati.
  2. Diberi jalan keluar dari masalah.
  3. Diberi rejeki yang tidak terduga-duga.

Ketika seorang ibu bisa berhenti menyalahkan sesuatu diluar dirinya, dan melihat apa yang bisa diperbaiki di dalam dirinya, maka perlahan benang kusut itu bisa mulai terurai.

Masalah saya tidak pernah selesai ketika saya sibuk menyalahkan anak-anak yang tidak mau menurut, suami yang tidak mau membantu, guru sekolah anak-anak yang tidak kooperatif, tetangga yang nyebelin, sampai tukang sayur yang tidak nongol saat dibutuhkan. Semakin menyalahkan hal-hal lain diluar diri yang tidak bisa saya kontrol, semakin kusut masalah saya.

Tapi ketika saya bisa melihat kesalahannya terletak dalam diri, semua jadi terasa lebih ringan. Ternyata banyak hal yang bisa diperbaiki dari dalam diri. Sesuatu yang sebenarnya bisa saya kontrol. Semua jadi terasa lebih ringan ketika saya bisa melihat kepayahan dalam mengelola waktu, menentukan prioritas mana yang perlu dikerjakan dan mana yang tidak, kesalahan dalam memilih sudut pandang, dan lain-lain. Ada hikmah di balik semua kesulitan yang menimpa diri kita.

Inilah yang saya maksud dengan RAHASIA dari MASALAH yang membelit diri. Tidak percaya? Cobain sendiri deh.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

5 thoughts on “The Power of Istigfar

  • November 25, 2016 at 10:17 pm
    Permalink

    ini juga yang selalu saya ingat dan menenangkan kalo mengingatnya
    Dilapangkan dari kesempitan hati.
    Diberi jalan keluar dari masalah.
    Diberi rejeki yang tidak terduga-duga.

    Reply
  • November 26, 2016 at 12:37 pm
    Permalink

    terlalu larut dalam masalah lalu bersedih juga merepotkan diri sendiri ya mbak.. betul sekali yang dikatakan mbak shanty. Diluar diri kita tidak mudah untuk dikontrol sesuai keinginan kita kecuali, kita merubah diri kita dahulu:-) Salam kenal ya mbak Shanty..

    Reply
  • November 29, 2016 at 10:02 am
    Permalink

    Terima asih tulisanya, jd mengingatkan kalau manusia tempatnya salah dan lupa. TFS 🙂

    Reply
  • November 29, 2016 at 10:10 am
    Permalink

    baca tulisan ini bikin introfeksi diri. Mungkin apa yang terjadi dalam hidup aku selama ini karna perbuatan aku sendiri, mari beristigfar. Makasih sharingnya mbak 😉

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: