Bolehkan Mengajak Orang Lain Mengerjakan Kebaikan Sebelum Bisa Melaksanakannya?

Belum lama ini ada ustad yang cuitannya ramai mendapat banyak tanggapan dari netizen. Terlepas dari kesalahan penafsiran terhadap apa yang beliau sampaikan, saya menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih jauh mengenai masalah ketidaksesuaian ucapan dan perbuatan.

Sejujurnya, saya ini juga sangat malu dengan diri sendiri. Bagaimana mungkin saya mengajak teman-teman saya untuk menulis setiap hari di komunitas #ODOPfor99days. Sebuah kumpulan beberapa teman yang berusaha berlatih menulis setiap hari, One Day One Post selama 99 hari. Tujuannya untuk melatih kebiasaan menulis. Sementara saya sendiri membiarkan blog saya dihinggapi sarang laba-laba selama berhari-hari.

Kok ya bisa-bisanya saya menunda-menunda menulis di blog dengan pikiran ingin selalu memberikan tulisan terbaik. Padahal saya tahu banget tulisan terbaik tidak akan pernah ada tanpa sebuah rutinitas. Rutinitas yang setiap hari. Saya tahu itu. Saya yakin itu. Tapi entah kenapa saya tidak sanggup melakukannya.

Astagfirullahalazim. Ya Allah, ampuni hambaMu ini.

Makin seram ketika saya buka-buka Al Quran dan ketemu dengan QS Al Baqarah 2:44:

“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab? Tidakkah kamu mengerti.”

Juga QS As-Saff 61:2-3 yang menyebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Itu sangatlah di benci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Plak…Plak…Plak….

Terus bagaimana dong. Saya tidak boleh mengajak teman-teman untuk rajin menulis? Apa saya harus benar-benar rajin menulis dulu baru boleh mengajak orang? Ehm, kalau harus menunggu seperti itu, entah kapan saya bisa. Apalagi sebenarnya ide komunitas ini agar ada teman untuk belajar menulis rutin bersama. Rasanya tidak ada yang sudah rajin dari awal. Saya kalau sudah rajin dari awal dan jadi penulis terkenal juga mungkin tidak akan punya waktu untuk mengajak teman-teman. Mungkin saya sudah sibuk mengejar setoran tulisan yang diminta penerbit, talkshow kemana-mana, dan kesibukan lainnya selayaknya penulis beneran. Lah, kami menggagas kegiatan ini dalam rangka mencari teman. Nggak bolehkah? Allah benci kah?

Saya temukan ada 2 kewajiban manusia:

  1. Mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkiran
  2. Mengajak orang lain dalam kebaikan dan mencegah orang lain berbuat kemungkaran.

Nah, jangan sampai kita tidak melakukan dua-duanya. Setan itu ternyata katanya paling senang kalau kita tidak melakukan dua-duanya.

Jadi ingat petuah Luqman kepada anaknya dalam QS Luqman 31:17,

“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf, dan cegahlah mereka dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Juga kita kembali diingatkan dalam QS Al Ashr 103:1-3,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali (1) orang-orang yang beriman, dan (2) mengerjakan kebajikan, serta (3) saling menasihati untuk kebenaran, dan (4) saling menasihati untuk kesabaran.”

Jadi ternyata tidak ada salahnya untuk menyampaikan yang benar, walau kita belum benar-benar bisa sempurna mengerjakannya. Hanya saja hasilnya akan sangat kurang efektif.

Saya jadi ingat kenapa saya terkadang suka melawan nasehat yang baik. Biasanya itu karena saya tidak melihat teladan yang nyata. Dalam pikiran saya, “Kalau kamu saja tidak merasa mampu melakukannya, dan tampaknya kamu baik-baik saja, kenapa saya harus repot-repot melakukan apa yang kamu sampaikan?”

Dan ternyata ini berlaku juga di #ODOPfor99days. Ketika tidak ada lagi yang bisa mencontohkan bahwa kita memang BISA dan PERLU menulis setiap hari, maka satu demi satu keyakinan teman-teman mulai luntur. Sejujurnya saya sedih sekali dan merasa sangat bersalah.

Saya bisa saja memberikan banyak alasan untuk tidak menulis di blog. Mulai dari ingin tulisannya sempurna, padahal belum lama saya menshare tulisan Dewi Lestari di blognya berjudul Serial Surel Kutukan Menulis. Di situ Dewi menulis:

“Berharap bahwa tulisan kita akan langsung keren dan terus keren selama-lamanya adalah ilusi nomor satu yang harus dienyahkan sekarang juga. It’ll never happen. Jadi, berdamailah dengan kenyataan itu.”

Ada lagi alasan saya perlu waktu sekitar 3-5 jam untuk menulis. Hal yang sulit saya penuhi. Tapi entah kenapa kalau disuruh buka FB saya sanggup selama itu. Baiklah ini alasan konyol. Saya masih ingat teman saya Rendy di AM5M yang mengajak untuk menulis setidaknya 30 menit sehari. Kalau sekedar 30 menit sehari kayanya bisa lah. Ini lebih masuk akal. Ya sekedar sapu-sapu blog dengan 300-500 kata kayanya bisa lah. Kalau sampai nggak bisa juga, sebenarnya kebangetan juga. Bagaimana mungkin orang yang mengaku ingin jadi penulis tidak bisa menyediakan waktu minimal 30 menit sehari untuk hobi yang benar-benar ia senangi. Kalau tidak bisa juga, itu mah artinya bukan hobi. Mungkin saya perlu beralih profesi jadi pengamat FB saja. Karena sepertinya saya cukup betah ber-FB ria berjam-jam sehari. Dan mari kita kubur keinginan menjadi penulis. Tidak perlu terlalu memaksakan diri. Entah kenapa, ini kok rasanya seram sekali. Saya tidak mau!!! Saya bisa menyediakan waktu 30 menit sehari.

Tapi ada alasan lain yang lebih penting. Saya punya pekerjaan lain yang mengharuskan saya fokus. Saya ingin membangun sebuah rumah besar dan indah, saya tidak sempat sapu-sapu rumah kecil tercinta ini. Sepertinya ada yang salah. Kok rasanya seperti tidak syukur nikmat. Bisa jadi Allah malah marah ke saya. Rumah besar belum tentu jadi, rumah kecil pun tidak terawat. Betapa ruginya saya.

Saya jadi teringat Dewi Lestari ketika membuat novel Perahu Kertas. Seiring pembuatan novel itu ia membuat jurnal di blognya: Journal of a 55-Days Novel.  Terlepas dari itu novel tulis ulang dari ide lama, novel 440 halaman bisa selesai dalam waktu 55 hari. Dan Dewi juga menulis jurnal setiap hari di blognya tentang proses pengerjaannya. Intinya dia tetap bisa ngeblog rutin dengan sejumlah proyeknya. Percaya nggak, proyeknya bukan hanya menulis novel saja, tapi juga kegiatan manggungnya sebagai penyanyi. #KokDiaBisa_KokSayaNggak.

Baiklah tulisan hari ini saya cukupkan dulu disini. Jatah 30 menit sudah agak sedikit terlewat. Selamat menulis teman-teman…

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: