Tips ber-Internet sehat buat anak

Memiliki jaringan wifi di rumah itu memang enak. Koneksi internet yang sangat cepat selama 24 jam tanpa khawatir kehabisan kuota, membuat anak-anak santai aja bermain game online atau nonton video-video menarik di YouTube. Sebenarnya buat para Mama, menghipnotis anak dengan gadget merupakan cara instan membuat anak anteng dan rumah tetap bersih. Berbeda dengan anak yang asyik bermain dengan membuat rumah bagai kapal pecah. Tapi, sejak kapan cara instan itu baik?

Saya mulai menyadari bahayanya penetrasi internet pada anak-anak sejak mendengar penuturan seorang mantan pecandu game, Kang Mumu Kakatu (Muhammad Nur Awaludin) dalam Seminar Kiat-kiat Memahami dan Melindungi Anak dari Bahaya Dibalik Kecanduan Games. Pada Seminar di FK Universitas Padjajaran pada 14 Januari 2016 itu, Kang Mumu Kakatu dan Bunda Elly Risman membuka mata kita tentang keamanan berinternet.

Saya yang sebelumnya santai saja karena merasa memiliki anak yang menurut saya Alhamdulillah sangat cerdas, sehat, dan terkontrol dalam penggunaan internet, jadi sadar untuk menunjukkan perhatian lebih pada hal ini. Apa yang terjadi pada Mumu di masa kecilnya, sangat mungkin terjadi pada anak saya atau pada anak siapa pun juga jika orangtua tidak menunjukkan perhatian dalam pengawasan internet dalam keluarga.

Seperti disampaikan dalam acara #InternetBAIK di Park Hotel Bandung, 22 Mei 2016 lalu, bahwa anak-anak dengan internet itu seperti anak-anak yang tengah berada di pertokoan. Coba bayangkan anak-anak kita lepas di pertokoan, apakah mereka akan kita tuntun dan pegangi tangannya, atau kita lepas sendirian sementara kita asyik memilih tas diskonan? Tentunya akan kita pegangi terus dan tuntun dalam pengawasan kita kan. Pastinya kita jaga anak kita yang manis itu baik-baik dan melindunginya dari orang jahat yang berkeliaran.

Nah berinternet itu juga sama. Anak tidak bisa dilepas begitu saja. Harus diawasi dan dituntun. Setelah menghadiri sejumlah seminar terkait hal ini, saya memiliki beberapa tips yang saya terapkan untuk menjaga anak-anak dari pengaruh buruk internet dan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari sana.

 

#1 Pembatasan waktu berinternet

Ini tujuannya untuk menjaga kesehatan otak dan mata anak. Dalam satu waktu, mereka tidak boleh lebih dari 30 menit terus menerus bermain. Harus ada jedanya. Biasanya saya potong dengan mengajak mereka main yang lain, disogok cemilan sehat, atau sekedar “Mama mau pinjem laptopnya”

Bahkan menurut Psikolog Hilman Al Madani dari Yayasan Kita dan Buah Hati, anak dibawah usia 3 tahun sebaiknya tidak terpapar internet sama sekali untuk melindungi jaringan otak mereka.

#2 Mengaktifkan sistem keamanan di Youtube

Ini pengalaman buruk saya, setelah sempat melihat Sasya, anak bungsu saya menyaksikan sebuah film kartun yang tidak pantas di YouTube. Ceritanya bisa dibaca dalam postingan Ketika Anak Buka YouTube yang tidak pantas.

Sebagai orangtua kita tidak perlu parno untuk langsung memblok YouTube. Karena sebenarnya di YouTube banyak tayangan yang sangat baik untuk anak-anak. Kita cukup mengatur settingan Restricted Mode di YouTube untuk membatasi konten yang boleh dilihat anak-anak. Jadi tidak perlu menghabiskan waktu menghujat penyebar konten pornografi, kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Penyebar konten pornografi biar berurusan dengan polisi dan Tuhan saja.

Setiap konten di YouTube atau tayangan apapun memiliki kode peringatan. Apakah itu aman untuk anak-anak atau tidak. Dengan mengaktifkan Restricted Mode, konten yang tidak pantas akan di blok untuk tampil di gadget kita. Jadi jangan sampai kita jadi seperti orangtua yang dibully orang se-Indonesia Raya karena membawa anak dibawah umur nonton film Warkop yang jelas-jelas ratenya dewasa.

#3 Menjelaskan pada anak bahaya internet

Ilmu ini saya dapat juga dalam acara #InternetBAIK. Bukan hanya orangtua, tapi anak-anak diberi pemahaman mengenai konten apa yang tidak boleh mereka lihat karena akan merusak otak.

Menurut saya ini penting, karena anak-anak Generasi Z yang lahir tahun 1995 – 2010 bisa dibilang sudah terpapar internet sejak dini. Mereka sudah sangat melek internet dan mahir dalam penggunaannya. Tidak bisa kita asal melarang atau mengharamkan internet pada mereka tanpa benar-benar mereka pahami tujuannya.

Ketika saya menceritakan pengalaman Kang Mumu Kakatu yang pernah kecanduan games di masa kecilnya, Raka anak sulung saya sepertinya sangat tersentuh. Secara sadar, ia mulai membatasi waktunya bermain games. Takut juga dia ternyata.

Ada juga ilmu bagus yang disampaikan oleh Hilman Al Madani untuk mengajarkan pada anak apa yang harus dilakukan saat melihat konten yang tidak pantas. Anak diajarkan untuk menundukkan pandangan saat melihat aurat orang lain. Karena melihat hal yang tidak pantas seperti itu dapat merusak otak mereka. Ajak anak untuk menutup matanya dengan tangan dan melaporkan tayangan tersebut.

#4 Ikut mengawasi dengan bermain bersama anak.

Mengetahui apa yang tengah mereka mainkan atau tonton itu perlu. Coba deh luangkan waktu bermain game atau menonton tayangan bersama. Jujur agak membosankan menonton tayangan kesukaan anak-anak. Mending kalau sekali. Ini puluhan kali.

Saya sering juga diminta Raka untuk bermain game bersama. Salah satu game favorit Raka adalah Minecraft. Tapi apa daya, Mamanya nggak bisa-bisa membangun kota dengan Minecraft. Maklum si Mama masih generasi SimCity. Saya paling hanya bisa mengapresiasi setiap pencapaiannya di game.

 

#5 Mengekplorasi kelebihan anak yang lain

Berdasarkan pengalaman saya, anak-anak itu tidak akan tergila-gila pada internet ketika ada kegiatan lain yang lebih menarik. Anak-anak saya akan lupa main game kalau mereka lagi asyik berkreasi dengan barang bekas, membuat komik, lompat-lompat, main sama temannya di halaman, atau ngobrol sama Mama.

Memang sih rumah jadi maha berantakan ketika mereka berkreasi. Sebenarnya lebih tidak melelahkan jika mereka main game saja. Bersih dan tidak ribut. Mama pun bisa tenang bobo siang. Tapi bukan itu yang saya mau!

Dan pilihan saya, anak boleh bebas berkreasi dengan segala barang sampai membuat rumah bagai kapal pecah, asal anak tidak banyak main game. Lelahnya Mama menyapu dan membereskan rumah tidak sebanding dengan terjaganya otak anak-anak dari pengaruh buruk gadget yang tidak terkontrol.

 

#6 Apresiasi anak

“Saya merasa lebih dihargai, dibutuhkan, dan diterima di dunia game dibandingkan dalam kehidupan nyata,” kata Kang Mumu saat menyampaikan alasannya mengapa begitu suka bermain game hingga kecanduan.

Anak kita sekedar perlu dihargai, merasa dibutuhkan, dan diterima dalam keluarganya. Mereka tidak perlu mencarinya dalam games, jika keluarganya bisa memberikan itu.

Anak kita bukanlah manusia sempurna. Mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh menjadi manusia dewasa. Mereka penuh rasa ingin tahu dan belum sempurna akalnya menyikapi setiap tuntutan dari orangtua dan lingkungan, untuk menjadi anak yang rajin, sholeh, pintar, hebat, membanggakan, berprestasi, hingga layak dipamerkan.

Mereka masih bingung menentukan prioritas antara taruh tas ditempatnya dengan bermain games. Mungkin sama dengan kita yang bingung meletakkan prioritas antara beli tas baru yang lagi diskon atau bayar cicilan panci dulu.

 

#7  Last but not least, Doa.

Setelah semua sudah dilakukan, senjata pamungkas untuk menjaga anak-anak dari pengaruh buruk internet adalah doa. Mohon bantuan Yang Maha Pelindung untuk selalu melindungi anak-anak kita. Ada hal-hal yang diluar kuasa kita. Ambil hikmahnya saja untuk dijadikan pelajaran.

Buat yang sudah kecanduan games, Kang Mumu juga pernah berpesan, “There is always a hope, untuk keluar dari kecanduan games dan mulai berprestasi. Jangan pernah putus harapan.”

Where there is will, there is way, ceunah.

Demikian beberapa usaha yang saya coba terapkan dalam keluarga untuk mendapatkan manfaat maksimal dari internet dan terlindung dari pengaruh buruknya. Apakah teman-teman punya tips lain? Bagi dong pengalamannya dalam komen dibawah.

 

Sumber:

Oleh-oleh Seminar Kiat Memahami dan Melindungi Anak dari Bahaya Dibalik Kecanduan Games bersama Kang Mumu Kakatu dan Bunda Elly Risman di FK Universitas Pajajaran Bandung, 14 Januari 2016

Seminar Great Gadget Great Generation bersama Mumu Kakatu, Agus Sofyandi, dan Kak Seto di Universitas Islam Bandung, 12 Mei 2016

Prelaunching #InternetBAIK bersama Matahari Timoer, Hilman Al Madani, dan Kang Mumu di Prime Park Hotel Bandung, 22 Mei 2016

 

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Tips ber-Internet sehat buat anak

  • May 31, 2017 at 8:00 am
    Permalink

    bermanfaat sekali teh santi, saya sering blog walking di web nya teh santi….banyak yg saya ambil ilmunya…. barakallah fiik teh, salam kenal dari eka 🙂 jadi pengen belajar nulis lg….

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: