Indihome, Solusi Cerdas Emak Galau

Saya ini sempat 7 tahun nyangkut nggak bisa kemana-mana. Sejak anak pertama lahir di tahun 2007 sampai menjelang anak kedua masuk sekolah TK di tahun 2014. Bagaimana mau kemana-mana dengan 2 anak balita bergelayut manja dan nempel kaya perangko sama Mamanya. Kebetulan kami tidak punya mobil dan saya tidak punya minat buat belajar naik motor. Bukan apa-apa sih, saya terlalu malas untuk mengurus SIM motor atau harus menambah beban jalan raya dengan motor. Jadilah kalau kami bertiga kalau mau kemana-mana, harus menunggu si Abah di saat weekend atau berangkot ria.

Raka anak saya yang sulung, senang-senang saja sih kalau diajak berangkot ria. Istilahnya ‘berpetualang.’ Raka biasanya suka kalau kami berpetualang seharian, dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu angkot ke angkot lain. Sekedar jalan-jalan muter-muter Bandung. Anak senang, tapi Mamanya terkapar karena membawa 2 balita yang tidak bisa diam. Jadi ya tidak bisa sering-sering juga. Paling 1 atau 2 kali seminggu tergantung isi dompet Mama. Kalau masih tebal, bolehlah kita berpetualang, kalau sudah tipis kami cukup berpetualang dengan jalan kaki dan bekal bawa sendiri. No money required.

Dunia saya hanya sebatas keluarga. Otak rasanya beku. Teman saya hanya 3 orang rumah. Sahabat tercinta the one and only Si Abah, si ganteng Raka dan gadis cantik Mama, Sasya. Oh iya hampir lupa, ada juga Almarhumah si Bibi yang membantu 2-3 jam di saat hari kerja. Itu saja. Paling teman ngobrol di depan rumah sambil nyuapin anak-anak adalah mbak-mbak pengasuh. Wajar kalau saya pun ditanya “Ibunya pulang jam berapa?” atau “Ibunya kerja dimana?” Saya pasti dikira mbak pengasuh juga saking kucelnya. Perih Saudara-saudara….

Jika ingin ketemu teman-teman yang lain, terkendala oleh anak-anak yang nggak akan terlalu sabar untuk mengikuti acara Mamanya. Mereka maunya kalau keluar, adalah untuk acara mereka. Main mereka. Senang-senang mereka. Bukan bete menunggu Mamanya asyik nge-gosip atau bersenang-senang bareng teman-temannya.

Pasang Internet di Rumah

Sampai suatu saat Si Abah memberi hadiah indah buat menghibur istrinya ini. Bukan sesuatu yang terlalu mahal. Hanya 225 ribu rupiah. Baju baru? Tas baru? Panci baru? Bukan!

Di akhir Februari 2013, kami memutuskan memasang paket telepon rumah + Speedy dari Telkom. Walau awalnya sempat galau karena gosip bahwa pemasangan paket telepon rumah Telkom itu sulit bin mahal dan harus ada orang dalam.

Ternyata nggak tuh. Tidak lama setelah mengisi form permintaan berlangganan, telepon pun dipasang di rumah. Biaya pemasangan hanya Rp 225.000,- tanpa pungutan liar apa pun selain segelas kopi sascet untuk Mas yang masanginnya. Saat itu kami memilih paket Socialia dengan link speed 384 Kbps unlimited seharga Rp 195.000,-/bulan. Tapi karena masa promosi, kami hanya perlu membayar 50% dalam 6 bulan pertama. Mama paling suka nih kalau bagian diskon-diskon seperti ini. Karena itu artinya baju dan panci baru bisa kebeli.

Bon Pemasangan paket telepon dan Speedy Telkom tahun 2013
Bon Pemasangan paket telepon dan Speedy Telkom tahun 2013

Dan mulai saat itu, dunia menjadi lebih berwarna. Dunia tidak sebatas rumah tipe 36 meter persegi dengan 4 anggota keluarga. Mama jadi punya jendela buat melongok keluar sana. Orang-orang lagi pada ngapain sih? Ngobrolin apa sih?

Dimulai dari Sosial Media

Dengan jaringan internet yang lancar jaya, mulailah saya bergaul dengan sosial media. Dari sana informasi mengalir lancar satu demi satu. Pusing-pusing dengan masalah anak, tinggal tanya-tanya Mbah Google. Kangen kabar teman di ujung dunia, tinggal buka timeline mereka di Facebook untuk melihat kabar terbaru dan kegiatan mereka.

Ada banyak informasi menarik yang saya dapat dari internet. Seperti di penghujung tahun 2014 saya menemukan informasi mengenai Seleksi Akademi Menulis 5 Menara (AM5M), sebuah komunitas belajar menulis yang diasuh penulis trilogi 5 Menara Ahmad Fuadi. Atau dari sebuah blog, saya mengetahui mengenai sebuah Komunitas keren untuk Ibu-ibu bernama Institut Ibu Profesional (IIP) yang didirikan Bu Septi Peni Wulandani dari sebuah kota kecil Salatiga.

Sejak bergabung dengan AM5M, saya mulai menemukan passion menulis saya yang sempat terpuruk di pojokan. Saya mulai rajin menulis di blog. Setelah menghadiri acara, saya rajin berbagi ‘Oleh-oleh’ yang didapat dalam bentuk tulisan. Sekedar agar tidak lupa dan mudah mencari materi yang telah saya pelajari. Ternyata banyak teman-teman yang suka. Fans mulai muncul satu demi satu (FYI sekarang jumlahnya ada 100-an orang di page saya Shantystory).

Bersama Ibu-ibu keren di IIP Bandung, saya banyak mendapat pencerahan dari kegiatan MasterMind mingguan yang biasa kami adakan di grup WhatsApp. Setiap Jumat, kami bergiliran memamerkan Sukses apa yang telah diraih? Apa rencana ke depan? Dan hikmah apa yang dipelajari? Ini seru sekali, karena kami bisa belajar dan terinspirasi dari pengalaman teman-teman lain. Berawal dari kegiatan online di grup WhatsApp, sejumlah Rumah Belajar berdiri untuk mewadahi kegiatan offline para Ibu-ibu yang haus ilmu ini.

Karena hobi menulis, saya pun di dapuk membuat Rumah Belajar Menulis. Sejak awal 2016, kami menginisiasi program #ODOPfor99days, khusus buat ibu-ibu yang punya semangat 45 untuk menulis tapi tenaga kurang untuk mewujudkannya.

Mungkin pengaruh punya teman-teman yang memiliki semangat belajar yang sama, rekor tulisan saya per hari ini mencapai 119 tulisan. Bahkan beberapa diantaranya membuat saya terkejut karena bisa mendatangkan hampir 4000 ribu views dalam satu hari, seperti tulisan Konmaring Your Home, Konmaring Your Life. Atau ada juga resume Ulasan Novel Dilan dari Pidi Baiq yang membuat trafic blog saya akhir-akhir ini tidak kurang dari 200 views. Asli senang sekali rasanya ketika tahu tulisan kita bisa bermanfaat buat orang lain. Padahal 2 tahun lalu, tidak ada satu tulisan pun yang jadi utuh. Hanya sekedar menulis di otak saja.

Dari #ODOPfor99days pergaulan saya pun meluas ke komunitas blogger. Kalau sudah gabung di komunitas blogger susah bertahan di angka pertemanan Facebook 400-an. Dengan sudah mengurangi teman-teman yang sekedar request friend untuk menjajakan dagangan, pertemanan pun membengkak diangka 1500 orang. Padahal sudah berusaha di filter dengan teman-teman yang benar-benar dikenal saja.

Buat saya Personal Facebook hanyalah untuk teman-teman yang benar kenal dan satu komunitas saja. Sedangkan teman lainnya, cukup like di page Facebook atau follow di Twitter dan Instagram saja.

Selain urusan nge-blog, adanya jaringan internet yang nyaman dirumah juga memungkinkan saya untuk aktif dalam sejumlah komunitas. Salah satu kegiatan seru yang ikuti saat ini adalah menjadi fasilitator pada sebuah Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Kelas yang diperuntukkan bagi para ibu yang ingin belajar menjadi ibu yang lebih baik bagi keluarganya. Kelas yang diikuti ribuan peserta ini terbagi dalam 18 kelas paralel berdasarkan kota. Saya kebetulan kebagian menjadi fasilitator untuk kelas ‘sisa-sisa’. Di kelas kami tergabung 60-an peserta yang tersebar dari sejumlah kota di Indonesia, Singapura, Malaysia, Jerman, Belanda, Jepang, Arab, Swedia, Autralia, sampai Amerika. Benar-benar kelas Internasional lah.

Sebagai pengurus komunitas, ada satu nih inovasi yang saya harapkan bisa segera ada. Sebuah platform yang memungkinkan satu komunitas memiliki blog untuk berbagi materi penting, berdiskusi bersama, dan mengiklankan kegiatan kepada banyak orang. Hingga hari ini, komunitas yang saya ikuti harus memiliki website untuk berbagi materi penting, punya group Facebook, page Facebook, Instagram, Twitter, channel YouTube, dan tentu saja harus punya grup WhatsApp untuk chatting. Masing-masing akun, ada pengurusnya. Anggotanya pun ada yang bergabung di WhatApp saja atau Facebook group saja. Rasanya malah ribet. Kayanya lebih memudahkan bisa jadi satu dalam sebuah platform komunitas yang lengkap. Semoga deh bisa ada dalam waktu dekat.

Jadi kesimpulannya, kini dunia beneran pun dalam genggaman. Nggak pake boros uang dan menghabiskan banyak waktu.

Ber-Indihome ria

Setelah beberapa waktu berspeedy ria, datanglah tawaran ber-Indihome. Hanya dengan menambah 100 ribu, kami akan mendapatkan paket 3 in 1.  Gratis 1000 menit nelpon lokal dan interlokal dengan telepon rumah, wifi internet, dan Usee TV yang bisa menonton rekaman 7 hari ke belakang. Ehm, siapa yang tidak tergoda coba.

UseeTV
Tampilan UseeTV dengan fasilitas TVoD, Video on Demand, sampai Home Karaoke segala

Buat saya Interactive TV ini penting banget buat emak-emak. Kita jadi bebas bisa nonton acara favorit kapan saja kita sempat. Nggak ada cerita anak dimarahin atau pekerjaan rumah jadi terbengkalai karena urusan menonton acara favorit. Ini karena adanya fasilitas TV on Demand (TVoD) untuk rekaman 7 hari kebelakang sampai tayangan yang bisa di pause kalau anak teriak minta dibuatkan susu atau cemilan dulu.

Sebagai orang yang jarang nonton TV, fasilitas TvoD ini yang paling saya cari untuk menemani pekerjaan-pekerjaan yang paling nggak asyik. Paling top banget lah, nonton film keren di Fox Movies Premiere, sambil mendaki gunung setrikaan. Setrika 3-4 jam jadi terasa begitu menyenangkan. Itu sebabnya saya berat hati menyerahkan urusan setrika pada orang lain. Bukan apa-apa, kalau tidak sambil nyetrika kapan saya sempat nonton TV?

Jaringan internet cepat dengan kecepatan 1 Mbps, cukup nyaman buat kami serumah membuka YouTube. YouTube itu benar-benar segala ada. Mau belajar apa saja, tersedia di sana. Dari keterampilan wanita, memasak, mengaji, bahasa, motivasi, lucu-lucuan, sampai musik-musik penghangat jiwa.

1Mbps Indihome
Dengan kecepatan wifi Indihome Fiber 1Mbps, sudah cukup memuaskan untuk menonton YouTube tanpa keluhan.

 

Bijak Berinternet

Terkoneksi 24 jam dengan wifi, membuat keluarga kami tidak ada masalah dalam mengakses internet dengan kuota yang unlimited. Pulsa handphone saya cukup 50 ribu setiap bulan. Sebagai emak yang kantor resminya di rumah, saya selalu mengandalkan wifi untuk jaringan handphone. Hanya kalau keluar rumah agak lama, saya akan membeli paket internet harian sekedar untuk bisa berwhatsapp atau pamer foto selfie dalam sebuah acara.

Lantas bagaimana membatasi penggunaan internet? Saya harus akui saya memang sosmed freak (walau tidak sampai nomophobia sih #nggak_ngaku) dengan memiliki 19 grup WhatsApp. Mulai dari grup keluarga, grup teman kuliah, grup tetangga, grup sekolah anak, sampai grup komunitas.

Yang saya lakukan untuk membatasi diri adalah dengan menggunakan jam sosmed. Saya sih tidak pernah berhasil membatasi diri dengan menggunakan batas jam sosmed yang kaku. Saya bisa membatasi diri dari pegang smartphone, hanya jika sedang asyik mengerjakan sesuatu. Lagi asyik menulis, lagi asyik main sama anak, lagi asyik nonton a.k.a setrika, lagi asyik ngobrol dengan tetangga, maka saya akan lupa dengan sosial media. Kalau tidak ada pekerjaan yang mengasyikkan yang tengah saya lakukan, maka susah untuk berkomitmen membatasi jam sosmed.

Salah satu kesuksesan terlama puasa smartphone adalah saat momen ulang tahun ke-41 September lalu. Saya sukses 32 nggak ketemu sosial media dengan mengerjakan pekerjaan rumah dan melakukan perenungan.

Menurut data Digital, Social & Mobile 2015  disebutkan bahwa rata-rata pengguna internet menghabiskan waktu 4,5 jam perhari berselancar di dunia maya. Untuk Indonesia 5 jam per hari. Tidak jauh berbeda dengan orang-orang di Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Walau memang tidak separah orang Filipina yang rata-rata penduduknya bisa menghabiskan waktu 6 jam per hari. Kalau teman-teman berapa jam sehari?

Sepertinya benar apa yang dikatakan Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh (TransMedia Pustaka, 2015) untuk memisahkan aktifitas mengkonsumsi informasi, berkomunikasi dan mencipta. Kita perlu internet untuk mencari informasi penting dengan browsing bersama Mbah Google untuk menambah wawasan. Kegiatan ini tidak bisa di gabungkan dengan kegiatan haha hihi di grup chat WhatsApp. Apalagi saat berkarya atau menulis. Repot urusannya kalau disatukan dengan kegiatan membalas komentar yang masuk. Menulis yang mestinya beres dalam waktu 2 jam, bisa melar jadi 5 jam karena komentar ini itu sampai tergoda browsing hal-hal lain. Ilmu ini saya dapat dari sejumlah penulis senior seperti Dewi Lestari, Monica Anggen, Dian Kristiani, sampai ke blogger Carolina Ratri.

Kalau nulis ya nulis, jangan tambah bumbu sosmed.

Dan mereka ini bukanlah penulis yang anti sosmed juga. Mereka sangat populer di sosmed dengan aktif berinteraksi dengan para fansnya. Sosial Media menjadi alat mereka untuk meraih suatu tujuan, bukan sekedar menghabiskan waktu luang. Mereka bijak berinternet.

Nah, jadi temukanlah kegiatan yang benar-benar teman-teman sukai, dan jadikan media sosial sekedar sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan-tujuanmu. Kalau Ridwan Kamil bisa jadi walikota karena kepopulerannya di sosmed, masa kita hari gini masih tetap jadi Emak Galau yang hanya berkacamata kuda?

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

13 thoughts on “Indihome, Solusi Cerdas Emak Galau

  • October 30, 2016 at 6:42 am
    Permalink

    Bermanfaat bgt buat sy yg lg nyari info ttg indie home.. Keren smoga slalu menginspirasi {}

    Reply
  • October 30, 2016 at 6:54 am
    Permalink

    Kereenn! Posisi istri saya sekarang begini nih teh, dua anak dan she can’t do anything.. hehe.. inspiratif banget.. thanks

    Reply
  • October 30, 2016 at 7:15 am
    Permalink

    Serru niih…pake IndiHome.
    Speednya oke buat streaming drama Korea.

    *mulai ajukan proposal ke suami aah…biar ga jadi emak galau..^^

    Reply
  • October 30, 2016 at 7:42 am
    Permalink

    Keren mbak Shan! Sangat menginspirasi, ibu itu ternyataaaaaa…. Paling ngena, mendaki gunung seterika sambil nonton

    Reply
  • October 30, 2016 at 8:22 am
    Permalink

    Kereeeeen
    Baca tulisan mbak Shanty, kayak ngaca diri sendiri lho mbak

    Bagian tentang TvoD itu sayapun sepakat, sangat bermanfaat banget, saat lagi ga bisa liat berita atau acara yang kita mau, bisa diputer ulang, yang penting ingatnya belum 7 hari dari masa tayangnya ya mbak hehe

    Keep inspiring mbak Shanty! ^^

    Reply
  • October 30, 2016 at 8:33 am
    Permalink

    Aku daerah padasuka caheum, 2 hari pasang udah K.O. teh.. huhu..
    Ga bisa nyambung internet sm tvnya. Walhasil sekarang hot spot k hp klo mau ol via lp..

    Reply
  • October 30, 2016 at 10:28 am
    Permalink

    Untuk manajemen komplennya bagus via Twitter @Telkomcare. Tapi kalau lewat 147 kok lama ya?

    Reply
  • October 30, 2016 at 2:12 pm
    Permalink

    Wah jadi tergoda pakai indihome. Kebetulan jaringannya sudah ada di planet bekasi pinggir nih :p

    Reply
  • October 30, 2016 at 2:28 pm
    Permalink

    wah baca tulisan ini alhamdulillah jd ‘kenyang’;
    Ibarat makanan, sajiannya lengkap, dari mulai makanan pembuka, makanan berat sampai pencuci mulut, lengkap tersaji.
    suka suka suka !!
    semoga selalu istiqomah dan terus menginspirasi 😉

    Reply
  • October 31, 2016 at 5:57 am
    Permalink

    Setuju sama statement ini! “Sosial media menjadi alat untuk meraih tujuan, bukan sekedar menghabiskan waktu luang” Btw, thanks info lengkap produk telkomnya, teh.. 😀

    Reply
  • October 31, 2016 at 11:41 am
    Permalink

    aduh keren banget sih TV nya, jadi bisa kontrol tontonan yang asik dan aman ya buat anak anak. thank you for sharing, jadi kebayang detail soal indihome.

    Reply
  • November 7, 2016 at 11:50 am
    Permalink

    Kalau nulis terus ditambahi sosmed, kok ya gak kelar – kelar tulisan saya ya heheh

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: