Warning: Error while sending QUERY packet. PID=262370 in /home/shantyst/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1879

Allah Sang Maha Pemaaf, kalau Kamu?

Sebuah Kajian Asmaul Husna bersama KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Mesjid Agung Trans Studio Bandung pada Kamis, 13 Oktober 2016 membuat saya menjadi tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai sifat Allah sebagai Sang Maha Pemaaf. Sebuah buku yang mulai berdebu karena lama tidak dibuka, kembali di bolak-balik sebagai bahan referensi. Ada 2 buku yang saya baca terkait hal ini, yaitu Menyikap Tabir Ilahi, Asmaul al Husna dalam perspektif Al Quran karangan Quraish Shihab (Lentera Hati, 1998) dan ESQ Emotional Spiritual Quotient-nya Ari Ginanjar Agustian (Arga, 2001).

Dari 99 Asmaul Husna, saya melihat ada 4 sifat Allah yang memiliki hubungan dengan sifat memberi maaf.

  • Al Ghaffar – Yang Maha Pengampun (The Forgiver)
  • Al Ghafur – Yang Maha Pengampun (The All-Forgiving)
  • Al Afuw – Yang Maha Pemaaf (The Pardoner)
  • At Tawwab – Yang Maha Penerima Tobat (Acceptor of Repentance)

Sepertinya bedanya tipis-tipis ya dalam bahasa Indonesia. Tapi dalam bahasa Arab dan Inggris yang lebih kaya, perbedaan itu menjadi lebih terasa. Mari kita bahas satu per satu.

Al Ghaffar dan Al Ghafur, Yang Maha Pengampun

Al Ghaffar dan Al Ghafur memiliki akar kata yang sama ghafara yang berarti menutupi. Quraish Shihab mengemukakan pendapat Ibnu Al Arabi tentang perbedaan kedua kata ini. Al Ghaffar menutup aib kesalahan di dunia, sedangkan Al Ghafur menutup aib kesalahan di akhirat. Al Ghaffar kandungan maknanya lebih dalam dan lebih kuat di banding Al Ghafur.

Terdapat 5 kata Al Ghaffar dalam Al Quran, diantaranya:

Mohon ampunan pada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. (QS Nuh 71:10)

Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. (QS Thaha 20:82)

 

Terdapat 91 kali kata Al Ghafur dalam Al Quran, diantaranya:

Mereka mengajak ke neraka. Sedang mereka mengajak ke surga dan ampunan dengan ijinnya. (QS Al Baqarah 2:221)

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapat surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imran 3: 133)

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Az Zumar 39:53)

 

Al Afuw, Yang Maha Pemaaf

Jika Al Ghaffar dan Al Ghafur memiliki akar kata yang berarti menutupi, Al Afuw memiliki akar kata yang berarti menghapus, mencabut akar, membinasakan.  Disini terlihat bedanya, menutupi pada hakekatnya masih ada. Sedangkan menghapus, atau mencabut akar memiliki makna sudah tidak ada lagi, walau bekasnya masih ada. Sebenarnya ada tingkat yang lebih tinggi lagi yang disebut As Shafeh atau membuka lembaran baru yang putih bersih tanpa noda. Bukan bekas sesuatu yang sudah dihapus.

Dalam Al Quran kata afuw ditemukan sebanyak 35 kali dalam berbagai bentuk dan makna. Diantaranya:

Sungguh Allah Maha Pemaaf (Al Afuw) lagi Maha Pengampun (Al Ghafur). (QS An Nisa 4: 43)

Jika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin, sehingga jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur. Atau Dia akan menghancurkan kapal-kapal itu karena perbuatan dosa mereka, dan Dia memaafkan (ya’fu) banyak dari mereka. (QS Asy Syura 42: 33-34)

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertempuran antara dua pasukan itu, sesungguhnya merekea digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan dosa yang telah mereka perbuat pada masa lampau, tetapi Allah benar-benar telah memaafkan (a fa) mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun (ghafuru), Maha Penyantun (halimu). (QS Ali Imran 3: 155)

Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sungguh Allah Maha Pemaaf (a fuw wa), Maha Kuasa. (QS An Nisa 4: 149)

 

Al Tawwab, Yang Maha Penerima Tobat

Al Tawwab memiliki akar kata yang berarti kembali pada keadaan awal.

Dalam Al Quran kata ini ditemukan sebanyak 11 kali dan semuanya mengacu kepada Allah.

Dan sungguh, Aku Maha Pengampun (ghafaru) bagi yang bertobat (taaba), beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. (QS Thaha 20:82)

Sungguh, Allah telah menerima tobat (taaba) Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling kemudian Allah menerima tobat (taaba) mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.

Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah pula terasa sempit bagi mereka serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksaan Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat (tawwabu), Maha Penyayang. (QS At Taubah 9: 117 – 118)

Allah sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Dikisahkan seorang musafir ditengah padang pasir kehilangan unta dan bekalnya. Setelah letih mencari, ia tertidur di bawah pohon. Ketika ia terbangun, ia melihat unta dan bekalnya telah ada dihadapannya. Saking senangnya ia tanpa sadar berucap, “Wahai Tuhan, Engkau hambaku dan aku Tuhan-Mu.” Kegembiraan Allah menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan sang musafir ini. (Riwayat Muslim)

Menerima tobat hamba-Nya adalah hak prerogatif Allah. Suatu riwayat menyebutkan ketika Rasulullah sangat terpukul melihat sikap kaum musrikin dalam perang Uhud. Saat itu paman nabi mati syahid dengan cara begitu memilukan, dan nabi pun luka berlumuran darah. Nabi bergumam, “Bagaimana mungkin satu kaum memperoleh kejayaan, padahal mereka telah membuat wajah Nabi mereka berlumuran darah, padahal dia mengajak mereka ke jalan Allah?” Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, menegur beliau dalam QS Ali Imran 3: 128.

“Itu bukan menjadi urusanmu Muhammad, apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang zalim.”

Menurut HR Muslim, Rasulullah saja beristigfar 100 kali setiap hari. Permohonan taubat adalah dengan menyadari kesalahan yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak mengulanginya serta memohon ampunan-Nya (jika dosa itu berkaitan dengan Allah) dan memohon pula kerelaan manusia yang dilukai hatinya (jika dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak manusia).

Dalam salah satu hadis Qudsi Allah berfirman: “Apabila manusia mendekat kepada-Ku sejengkal, aku akan mendekat kepada-Nya sehasta. Apabila ia datang kepada-Ku berjalan perlahan, Aku datang kepadanya dengan berlari. (HR Bukhari, Attirmizy dan Ibnu Majah)

Dosa yang tidak diampuni

Walau Allah Maha Pengampun atas segala dosa hamba-Nya, namun ada dosa yang tidak bisa diampuni Allah. Syirik atau menyekutukan Allah adalah dosa besar yang tidak bisa diampuni. Hal itu disebutkan dalam kedua surat berikut:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena menyekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa menyekutukan Allah. Maka sunggguh dia telah berbuat dosa yang besar. (QS An Nisa 4:48)

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka sungguh dia telah sesat jauh sekali. (QS An Nisa 4: 116)

Apa saja yang termasuk Syirik?

Menurut Wikipedia, syirik itu ada 2 jenis, yaitu syirik besar yang membuat pelakunya keluar dari Islam dan kekal di neraka, dan syirik kecil yang mengurangi tauhid walau tidak keluar dari Islam. Dan syirik kecil ini juga bisa menjadi perantara ke arah syirik besar.

Yang termasuk syirik besar adalah beribadah kepada selain Allah. Bentuknya bisa syirik dalam doa (berdoa kepada selain Allah), syirik dalam niat (niat ibadah kepada selain Allah), syirik dalam ketaatan (taat kepada selain Allah dalam hal maksiat), dan syirik dalam kecintaan (menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan).

Beberapa perbuatan syirik yang sering kita temui dalam masyarakat seperti mengkultuskan orang tertentu dengan menganggapnya sebagai Tuhan, mempercayai dan mendatangi dukun, menjadikan sesuatu selain Allah sebagai perantara doa, hingga riya (ingin di puji orang) dan sum’ah (ingin di dengar orang).

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Dia menjawab, “Yaitu riya.” (HR Ahmad)

 

Tidak ada ayat minta maaf dalam Al Quran

Dalam penelitiannya, Quraish Shihab menyebutkan bahwa ia tidak menemukan ayat Al Quran mengenai perintah meminta maaf kepada manusia lain. Yang ada adalah perintah untuk memberikan maaf.

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS Al A’raf 7: 199)

Walau tidak ada perintah minta maaf, menurut Quraish Shihab orang yang bersalah tetap wajib meminta maaf. Tapi yang lebih perlu adalah tuntunan manusia berbudi luhur adalah memaafkan dan tidak menunggu orang yang bersalah meminta maaf. Kalau tidak bisa berbuat baik untuk memaafkan setidaknya janganlah menutup pintu maaf dengan mengucapkan kata-kata klasik: “Tidak ada maaf bagimu.”

Hal ini juga mengandung makna bahwa meminta maaf harus tulus dari lubuk hati yang paling dalam, bukan karena perintah dari pihak luar. Sudah siap untuk memberi maaf teman-teman? Semoga Allah pun memberikan maaf dan menutupi dosa-dosa kita. Amin ya Rabbal Alamin.

 

*Oleh-oleh dari acara Kajian Asmaul Husna bersama Aa Gym di Mesjid Agung Trans Studio Bandung dituliskan dalam postingan terpisah.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: