Adab Berbagi di Era Sosial Media

Disclaimer: ini adab versi saya pribadi yang tidak berlaku umum pada semua orang.

Kalau ada kata-kata yang paling tidak saya sukai dibawah status Facebook saya adalah: ijin share!

Asli, buat saya ini ganggu banget. Sesuatu yang sudah ditayangkan di media sosial, terutama dengan settingan public, itu tujuannya jelas untuk bisa dilihat sebanyak mungkin orang. Bahkan saya mengartikan public setting = bantuin share dong. Dan setiap share itu sama saja dengan pujian bahwa tulisanmu bagus, saya suka. Sebuah pujian tidak tertulis, tapi terasa.

Banyak pihak bahkan perlu memasang tanda dengan jelas: sharing is caring, thanks for sharing, atau please share if you care.

Kalau yang ijin share masih puluhan orang, masih bisa senyum bacanya. Tapi sekarang ini, kita sering melihat artikel yang di share orang puluhan ribu kali. Rasanya nggak mungkin jika kita berharap semua orang harus ijin share satu-satu dan menunggu diijinkan dulu baru kemudian men-share sesuatu. Bukan apa-apa, kasihan si penulisnya. Apa dia punya waktu khusus seharian untuk menjawab komen seperti ini?

Permintaan ijin seperti ini sudah kurang sesuai lagi di era sosial media yang sangat cepat seperti sekarang. Dalam sehari, sebuah berita bisa viral dengan cepatnya. Baru beberapa jam tayang, berita sudah di share ribuan kali.

Ketika kita men-share sebuah berita biasanya utuh dari sumbernya. Ini yang membuat sebuah berita viral bisa dilacak ujungnya. Makanya kita harus mikir dua kali kalau men-share berita hoax. Karena itu bisa dengan mudah sekali terlacak. Salah-salah kita bisa terjerat UU ITE. Yang melanggar UU ITE itu setahu saya lebih ke kontennya. Bukan soal prosedural permohonan ijin share.

Yang tidak boleh adalah ketika kita mencuplik sebagian dari karya orang lain dan mengakui hal itu sebagai karya kita. Selama kita menyebutkan sumber dan link aslinya, hal tersebut menjadi tidak masalah.

Say no to Plagiator

Beberapa waktu lalu admin Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sempat marah dengan orang-orang yang sering mengambil slide-slide mereka secara serampangan. Ini sangat masuk akal. YKBH sering membagikan serangkaian slide-slide bagus secara berurutan. Rapi diberi nomor, deskripsi yang informatif, dan lengkap dengan informasi YKBH serta memberi ijin untuk di share.

Namun ada pihak-pihak yang tega menutup informasi bahwa itu adalah buatan YKBH, mengambil slide sepotong-sepotong dan mengakuinya sebagai karya mereka. Parahnya, hal tersebut bisa merusak rangkaian informasi yang ingin disampaikan. Ini baru namanya kejahatan!

Stupidity to the max!

Saya yang bukan yang buat slidenya saja kesal, apalagi para pembuatnya.

Atau ada kasus lain mengenai seorang mahasiswa sastra yang mengambil karya orang lain, kemudian menayangkannya atas namanya sendiri. Ditampilkan di media massa daerah bahkan memenangkan lomba. Mending kalau sekali atau dua kali. Bisa kita bilang dia khilaf. Ini berkali-kali! Wajar kalau akhirnya jadi di bully orang se-Indonesia Raya.

Tulisan saya di blog sering juga saya temui di copas di banyak blog. Tidak ada yang minta ijin. Tapi tidak pernah saya permasalahkan karena saya lihat pada ujungnya selalu ada link ke blog aslinya. Kalau sempat, saya selalu berusaha mengucapkan terima kasih banyak untuk mereka yang mau repot-repot men-share tulisan saya. Padahal sebenarnya banyak tulisan orang lain yang jauh lebih bermutu.

Tidak ada masalah, selama sumbernya dicantumkan atau diberi link ke tulisan aslinya. Saya malah bersyukur tidak disuruh bayar karena mereka mau memberi backlink ke blog saya. Dalam dunia perbloggeran backlink itu harganya bisa mahal.

Ada juga satu tulisan saya yang sempat beredar luas. Ini adalah salah satu oleh-oleh pertama saya sebelum memberanikan diri menulis di blog. Saya hanya menulis resume sebuah acara dalam bentuk pesan WhatsApp. Disebar ke beberapa teman di grup WhatsApp tanpa nama. Hingga suatu hari suami saya bilang, ia menemukan tulisan itu di share di grupnya oleh orang lain. Serius ya, saya bangga sekali ketika tulisan seperti itu bisa berputar kemana-mana dan kembali ke saya lagi. Tidak masalah tidak ada namanya juga.

Apalagi saya lihat tulisan itu banyak di share di grup-grup Facebook dan dibuat seolah-olah itu tulisan mereka. Kenapa saya sangat yakin itu tulisan saya? Karena itu sebuah tulisan panjang yang ada kata-kata yang sangat khas dan saya ingat sekali menuliskan kata-kata itu.

Saya sama sekali tidak pernah merasa orang-orang yang men-share tulisan ini sebagai orang yang tidak beradab. Saya yang salah karena tidak mencantumkan nama saya dibawah tulisan tersebut saat men-sharenya. Dan saya sangat berterimakasih kepada siapa pun yang kemudian membaginya pada banyak orang. Karena buat saya yang terpenting tetaplah bagaimana tulisan saya bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Seperti meme atau quotes yang kemudian viral, seringkali mereka tidak mencantumkan nama pembuatnya. Entah lupa atau sengaja. Juga pada foto, banyak sekali sekarang foto-foto yang luar biasa bagus bisa di download dengan bebas dan legal. Tidak perlu ijin share atau lainnya. Itu sebabnya saya masih malu untuk memberikan watermark pada foto-foto saya yang kualitasnya jauh dibawah standar photografi. Foto orang yang bagus-bagus aja di share bebas tanpa watermark sehingga bisa bermanfaat bagi banyak orang, apalah arti foto butek saya?

Zero Moment of Truth

Selanjutnya mengenai sharing materi dari sebuah acara. Bolehkah kita membagikannya?

Saya mau ajak teman-teman untuk mengenal istilah ZMOT – Zero Moment of Truth. Sebuah istilah yang dipopulerkan berdasarkan sebuah penelitian oleh Google.

Biar paham, saya jelaskan sedikit latar belakangnya. Ketika kita di toko dan membeli sebuah barang, itu disebut sebagai First Moment of Truth, yaitu saat pertama kali kita mengenal produk tertentu. Ketika kita memakainya, kita mengalami yang namanya Second Moment of Truth.

Selanjutnya kita bisa puas atau tidak. Kemudian kita menuliskannya, memvideokannya, menggrafiskannya di media sosial. Hal ini menjadi Zero Moment of Truth bagi orang lain. Mereka jadi bisa mendapat rekomendasi yang lebih akurat sebelum memutuskan membeli sesuatu.

Di dunia sosial media sekarang ini, 84% pengguna jasa adalah orang-orang yang mengalami ZMOT ini. Mereka adalah orang-orang yang telah membaca pengalaman dari para pengguna jasa yang telah memakai jasa tersebut.

Contohnya begini. Ketika kita memutuskan membeli smartphone tertentu atau menghadiri sebuah seminar tertentu, itu setelah membaca pengalaman orang lain yang mengalaminya. Kita menjadi lebih percaya pada apa rekomendasi orang lain daripada iklan berbusa-busa dari pemilik produk atau penyelenggara acara.

Hal seperti ini yang akhirnya membuat profesi blogger menjadi begitu seksi. Blogger banyak dicari untuk mau membagi informasi. Bahkan banyak blogger papan atas  yang pasang tarif jika ingin mereka menuliskan tentang sebuah materi. Mereka itu punya ilmunya membuat sebuah materi menjadi viral. Jadi nggak usah banyak tanya kalau mau memakai jasa mereka, udah bayar aja!

Sebagai blogger pemula, saya pernah diundang ke sebuah seminar yang cukup mahal. Gratis! Syaratnya mau menuliskan tentang seminar tersebut dan membaginya di media sosial.

Mungkin ada yang berpikir, apa mereka tidak takut kalau materi mereka disebar dan tidak ada lagi yang akan ikut seminar selanjutnya?

Kenyataannya, setelah sejumlah blogger menulis tentang acara tersebut, ternyata banyak sekali permintaan untuk diadakan acara yang sama. Banyak orang menjadi tertarik untuk mendapatkan pengalaman yang sama dengan yang dialami para peserta sebelumnya. Dari yang tidak tahu, jadi tahu. Dan tentu saja, penyelenggara harus menyediakan budget ekstra untuk hal seperti ini.

Kalau teman-teman bergabung dengan komunitas blogger, undangan sejenis ini cukup bertaburan. Di level ini, bukan peserta yang minta ijin untuk mewartakan sebuah materi, tapi penyelenggara yang meminta. Bahkan bila perlu dengan budget khusus.

Seperti pernah ditulis blogger papan atas Langit Amaravati dalam sebuah post berjudul Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader. Peserta yang mengikuti acara itu datang dengan ongkos, menginvestasikan waktunya untuk mendengarkan materi, kemudian menuliskannya. Bisa saja karena malas, ia hanya menyimpannya dilaci. Tapi mereka mau membaginya di sosial media untuk menceritakan acara Anda. Itu ada harganya!

Sebenarnya menurut hemat saya, publikasi sebuah acara sebaiknya dipegang oleh tim khusus. Sekarang ini begitu mudah kita temui rekaman acara seminar dalam bentuk video YouTube. Yang bagus-bagus saya perhatikan, jika dibuat sendiri oleh penyelenggara acara. Kamera bisa ditempatkan pada posisi terbaik, diedit dengan rapi, dan di share dalam channel YouTube. Saya sendiri sangat suka lihat video-video seminar TED. Sayang tidak semua penyelenggara memiliki waktu dan dana untuk membuat dokumentasi seperti itu. Padahal dokumentasi seperti ini akan sangat membantu syiar lembaga atau komunitas yang bersangkutan.

Sebenarnya penyelenggara perlu sangat berterimakasih jika ada peserta yang mau bersusah payah menghabiskan waktu dan kuotanya untuk mau membagikan acaranya. Kalau penyelenggara acara punya waktu dan energi, tirulah orang-orang yang berbagi sejumlah materi keren mereka dalam portal publik seperti YouTube untuk Video, Slideshare untuk materi presentasi, Soundcloud untuk rekaman suara, e-book dan lainnya.

Baru-baru ini saya menghadiri Seminar Ippho Santosa. Dalam seminarnya Ippho meminta peserta untuk googling tentang acara seminar dirinya. Disana kita bisa melihat banyak sekali tulisan dan video seminar Ippho Santosa di berbagai kota yang diupload sejumlah orang. Bukan hanya seminar, bahkan bukunya pun bisa di baca gratis. Apa orang jadi merasa tidak perlu datang lagi ke seminar Ippho Santosa? Ternyata nggak tuh, ribuan orang tetap mengantri untuk menghadiri seminarnya dan bukunya semakin laris.

Saran saya, bagi pihak-pihak yang memiliki kebijakan tidak mengijinkan untuk men-share sebuah acara dengan pertimbangan tertentu, bisa disampaikan dan diumumkan pada awal acara. Apakah sebuah materi boleh di rekam dan disebarluaskan. Sehingga menghindari kesalahan persepsi. Pada akhir acara biasanya panitia dan pembicara masih sibuk, serta peserta sudah lelah. Mereka tidak akan sempat untuk meminta ijin atau lainnya. Karena menurut saya, kurang bijak juga setelah acara seharian, sebagai peserta kita masih perlu mengejar-ngejar panitia dan pembicara untuk sekedar menanyakan ijin share. Dan jawabnya ternyata tidak boleh. Akan lebih efisien jika ijin ini disampaikan di awal oleh pemberi materi, walau memang belum tentu ada orang yang berminat untuk membagi acara tersebut.

Kalau saya pribadi, yang saya lakukan adalah berusaha menghubungi panitia untuk meminta konfirmasi dari materi yang saya tulis. Caranya bisa dengan menghubungi akun media sosial mereka. Apakah ada yang salah atau bagaimana.  Jika ada yang salah atau perlu ditambahkan, bisa segera di revisi.

Buat teman-teman yang punya hobi mendokumentasikan acara, juga perlu berhati-hati. Ternyata tidak semua orang suka acaranya di share. Jadi ada baiknya untuk menyempatkan diri menanyakan hal itu kepada pemateri atau panitia. Tapi amannya mungkin sebaiknya tidak perlu kalau memang tidak penting-penting amat untuk di share. Kan lumayan bisa hemat kuota internet dan waktu tentunya.

Yang ingin saya katakan, kita sekarang di era yang sangat cepat. Berpikirnya harus cepat dan sesuai kemajuan jaman.

Mengutip kata Bu Septi Peni Wulandani – penggagas Institut Ibu Professional (IIP) “Kalau saya pribadi, semua ilmu saya itu copy left, bukan copy right. Artinya boleh dibagi kemanapun.

Jadi sudah jelas kan? Tolong jangan tulis permintaan ijin share lagi di bawah tulisan saya yang sudah open for public.

Sekedar mengingatkan: ini adab versi saya pribadi yang tidak berlaku umum pada semua orang!

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Adab Berbagi di Era Sosial Media

  • October 6, 2016 at 11:08 pm
    Permalink

    lupa mencantumkan sumber. masalahnya itu yg sering dan menyebalkan -_-

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: