Oleh-oleh Acara Ethica Fashion Blogger Gathering Bandung bersama Rimma Bawazier

Shanty? Acara Fashion? Kayanya kok nggak cocok banget ya. Kebayangnya kalau acara fashion itu diperuntukkan bagi mereka yang kinclong-kinclong dengan gaya hijabers masa kini. Lah, emak-emak kaya saya, urusan fashion bisa jadi urutan nomor kesekian. Tapi mau sampai kapan tampil kucel melulu? Pengen juga lah sekali-sekali dapat ilmu trend fashion muslim 2017.

Makanya saya semangat banget untuk hadir di acara bertema Fashion Revolution in Digital World, yang diselenggarakan brand busana muslim Ethica. Acara yang spesial diperuntukkan bagi para blogger ini, diselenggarakan di In & Out Urban Eatery Jl. Wayang no 2 Burangrang Bandung, pada 17 September 2016.  Selama 3 jam, sekitar 30-an blogger mendapat ilmu trend penjualan busana muslimah dari Marketing Manager Ethica, Teuku Ikhsan Syaban dan ilmu berbusana dari pemilik brand Kaimma Malabis, si cantik Rimma Bawazier.

Acara dibuka pada sekitar pukul 10.00 dengan sepiring kue cubit Java Bite mix flavor. Sambil ngemil kue lezat bertoping mesis dan choco chips, kami mendapat penjelasan dari pemilik Ethica, Bapak Asep Mulyadi. Menurut Pak Asep yang memulai Ethica sejak tahun 2008 sebagai sebuah industri rumahan, kini telah memiliki 124 agen di sejumlah kota di Indonesia. Kini mereka dikenal dengan 3 brand, yaitu Ethica, Kagumi untuk pakaian pesta, dan Ohya untuk gaya yang lebih casual.

Nama Ethica sendiri diambil sebagai sebuah gagasan bahwa fashion itu bukan sekedar pakaian penutup tubuh, namun juga harus memiliki nilai/etika untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebuah pesan sarat makna yang mungkin sering kita lupa.

Asep Mulyadi, Rimma Bawazier, Teuku Ikhsan Syaban
Asep Mulyadi, Rimma Bawazier, Teuku Ikhsan Syaban

 

Zero Moment Of Truth (ZMOT) oleh Teuku Ikhsan Syaban

Marketing Manager Ethica, Teuku Ikhsan Syaban melanjutkan dengan materi Fashion Revolution in Digital World. Menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), penetrasi internet di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga saat ini penduduk Indonesia yang telah melek internet mencapai 55% (139 juta jiwa). “Masih ada 45% (115 juta jiwa) yang belum terkoneksi internet karena alasan lokasi atau ekonomi,” kata laki-laki yang mengaku sempat 3 tahun tinggal di Indonesia Timur ini.

Pendekatan bisnis pun berubah mengikuti kemajuan teknologi. Dari era agraris, era industri, era informasi, era konsep, hingga kini tiba pada bisnis online dan afiliasi. Sebuah konsep diperkenalkan oleh Jim Lecinski dari Google pada tahun 2011 bernama Zero Moment of Truth atau ZMOT.

Sebelumnya perilaku konsumen setelah melihat sebuah stimulus seperti iklan di TV atau display sebuah produk di rak pajangan barulah mereka membeli. Ini diistilahkan sebagai First Moment of Truth (FMOT). Baru setelah membeli dan mencobanya di rumah mereka akan mengalami Second Moment of Truth (SMOT). Dengan kemajuan teknologi, orang-orang yang telah mengalami Second Moment of Truth menuliskan pengalaman mereka di media sosial. Dan itu menjadi Zero Moment of Truth (ZMOT) bagi orang lain.

Google melakukan penelitian terhadap 5000 pembeli dengan 12 kategori mengenai bagaimana cara mereka memutuskan untuk membeli sebuah brand. 84% merupakan orang-orang yang mendapatkan Zero Moment of Truth dengan browsing review dan rekomendasi orang lain.

Jadi sudah tidak jamannya lagi kita menghabiskan waktu ‘kurilingan’ bertanya kepada tetangga kiri kanan, hingga mencoba satu brand demi satu brand untuk bisa menemukan brand terbaik. Kita cukup searching di internet dan dalam sekejap mendapatkan rekomendasi terbaik sebelum benar-benar tiba di toko. Lihat saja lagaknya teman yang bicara tentang I Phone terbaru. Bisa tau dari A-Z, tentang produk tersebut walau belum pernah benar-benar menyentuhnya. What an era!

Zero Moment of Truth (ZMOT)
Zero Moment of Truth (ZMOT)

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang ZMOT, bisa menyaksikan video YouTube The Zero Moment of Truth.

 

Trend Fashion dari Rimma Bawazier

Rimma Bawazier sebagai guest star pada acara kali ini, membuka acara dengan berbagi cerita mengenai pengalamannya di dunia fashion muslimah. Rimma mengaku memiliki ketertarikan pada dunia fashion sejak kecil. “Sejak kecil saya suka me-mix match pakaian. Pakaian yang siap dibuang, saya padu padankan sehingga bisa seperti pakaian baru,” kata mama muda 1 putri ini.

Rimma yang telah memakai hijab sejak kelas 2 SMP mulai menjadi model pemotretan saat SMA. Saat itu ia berfoto sebagai model muslimah bersama Lulu Elhasbu dan Dian Pelangi yang ketika itu masih SMP. Ilmu modelling ia pelajari di Lembaga Pendidikan Ratih Sanggarwati. Selepas SMA, ia memutuskan untuk kuliah fashion designer InterStudi selama 1 tahun.

Rimma Bawazier
MC Deden Delicious dan Wildan Halwa tengah ngobrol bareng Rimma Bawazier

Walau sempat menjadi karyawan kantoran yang memiliki jam kerja kaku, setelah menikah Rimma memutuskan untuk kembali fokus pada dunia fashion yang ia sukai. Pada 2012 ia membangun brand fashionnya sendiri Kaimma Malabis. “Sebenarnya yang kasih nama itu adikku. Tadinya mau pakai nama Rimma, tapi ternyata sudah ada yang mempatenkan nama itu. Ya udah pakai Ka Imma aja, seperti panggilan adik di rumah. Sedangkan Malabis berarti pakaian dalam bahasa Arab.”

Dalam kesempatan dengan format ngobrol santai yang dipandu MC Deden Delicious dan Wildan Halwa diberikan pula kesempatan untuk para blogger bertanya seputar fashion.

Susanti Hara dari Blogger Bandung bertanya tentang tips mix match pakaian buat kita-kita yang awam. Ternyata satu warna semua juga bisa jadi bahan ketawaan orang.

Menurut Rimma, “Dasar mix and match baju itu kita harus kenal warna dan motif. Yang penting nggak bikin sakit mata melihatnya. Misalnya kita nggak mungkin pakai bawahan dengan garis-garis besar dan atasan polkadot. Atau kita tidak mungkin pakai warna orange dengan warna kuning. Kita bisa nabrak warna tapi seperti biru sebagai warna gelap dengan kuning sebagai warna terang seperti yang saya pakai sekarang. Jangan semuanya terang atau semuanya gelap. Biasanya warna gelap lebih aman. Seperti merah marun dengan biru dongker itu masih enak dilihat mata.”

Saya pun berkesempatan menyampaikan kekaguman saya pada penampilan wanita kelahiran 10 April 1986 ini. Terlepas dari Rimma seorang model dengan tubuh tinggi semampai dan wajah kinclong, saya jadi penasaran kenapa penampilan seorang Rimma bisa begitu enak dilihat. Seperti Dewi Hughes, yang walau bertubuh besar namun bisa selalu tampil menarik. #kokdiabisa_koksayanggak?

“Apa sih the most common mistake  yang dilakukan orang-orang sehingga penampilan mereka tidak enak dilihat? Padahal mereka sudah berusaha meniru gaya-gaya para celeb hijabers di instagram?”

Rimma menjawab cepat, “Ini baju Ethica loh.” Kita harus mengenal siapa diri kita dulu. Kenali bentuk badan kita. Misalnya pakai baju untuk yang kurus, sedikit berisi, dengan yang gemuk, atau yang gendut itu berbeda. Yang kurus itu bukan berarti gampang memilih baju. Kalau yang kurus pakai baju terlalu lebar atau memakai garis vertikal terlalu keras, membuat badan jadi kelihatan seperti sapu lidi doang.

Dan yang paling penting saat berpakaian harus percaya diri.

Bunda Intan Rosmadewi juga berkesempatan menanyakan sebuah pertanyaan serius mengenai apa yang dilakukan pemerintah untuk mendukung industri fashion Indonesia, yang rencananya ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat trend fashion muslim dunia.

“Kebetulan sekali saya ini baru pulang dari Amerika setelah lolos kurasi dari Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf). Untuk menghadiri 53rd Annual Convention ISNA (Islamic Society of North America) di Chicago,” pamer Rimma.

BeKraft mendorong tumbuhnya industri fashion dengan memberikan travel grant untuk serangkaian kegiatan internasional seperti ISNA di Amerika Serikat, Fashion Kobe di Seoul Korea Selatan, dan Arab Fashion Week di Dubai, Uni Emirat Arab. Pada pagelaran ISNA di Chicago 2-5 September 2016 lalu, ada 5 label fashion muslim yang berkesempatan memamerkan karya mereka, yaitu: L.Tru, ETU by Restu Anggraini, Kami Idea, Ria Miranda, dan Kaimma Malabis. Wow hebat sekali ya Ka Imma ini!

“Kita benar-benar didukung oleh pemerintah jika memiliki bisnis plan yang bagus. Sebenarnya ini event BeKraf tahun kedua. Mereka belajar dari kesalahan tahun pertama, yang membawa fashion designer Indonesia yang bagus-bagus, tapi belum memiliki bisnis plan yang jelas. Jadi pada saat menerima pesanan dari luar negeri, mereka belum siap memproduksi.”

Para pengunjung ISNA sangat antusias mengunjungi booth Indonesia.  Mereka menilai fashion Indonesia jelas konsep desainnya, banyak pilihan, dan sesuai minat masyarakat Amerika. Berbeda dengan designer dari negara-negara lain. Disebutkan kalau India itu No Taste, Cina itu Rubbish, Indonesia yang lebih cocok selera. Cie…cie… Aku bangga jadi orang Indonesia ceritanya…

Pertanyaan lain adalah mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan jika ingin merintis bisnis di dunia desainer fashion muslimah?

“Yang pasti harus membangun karakter terlebih dahulu. Karena biasanya desainer itu menjual gaya dia sendiri. Misalnya aku tuh nggak bisa pakai baju yang modelnya terlalu ramai. Aku sukanya yang simple-simple. Ada juga desainer-desainer yang lebih berani, seperti Dian Pelangi. Dari tampilan pribadinya ia sudah warna-warni. Jadi itu yang dia jual. Itu namanya karakter desainer.”

Jangan anggap fashion desainer lain sebagai pesaing. Kalau memang tujuan kita sama, untuk menjadi pusat fashion muslim dunia, kita ini semua teman. Contohnya Rimma dan teman-temannya bergabung membuat sebuah butik bersama bernama District 12 di FX Sudirman Jakarta. Di sana mereka tidak saling bersaing, tapi saling membantu menjual baju teman juga. “Rejeki itu tidak akan tertukar,” kata mama Shakila Syam Sony ini.

“Aku memulai dari modal nekat. PD aja dulu. Ikhtiar aja dulu. Mulailah sesuai kemampuan. Dengan satu dua juta, buat baju. Tawari di sosial media atau teman-teman dekat. Mulai mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit untuk membangun bisnis yang lebih besar.”

Pertanyaan terakhir adalah mengenai bagaimana caranya mengajak orang percaya pada lokal brand dan bisa bersaing dengan brand luar?

“Itu menjadi PR dari pengusaha fashion. Memang tidak gampang mempengaruhi orang untuk percaya pada produk kita. Disitulah peran blogger atau influencer. Ketika ada konsumen yang puas, maka muncul MLM – mulut ke mulut. Makanya berusaha untuk tidak membuat pelanggan merasa dibohongi dan kecewa.” Sederhananya, kepercayaan pelanggan adalah yang utama!

Acara hari itu ditutup dengan foto bersama Rimma Bawazier dan menikmati voucher makan siang di In & Out Urban Eatery. Sampai ketemu di acara selanjutnya yang rencananya dilaksanakan secara rutin oleh brand Ethica dengan mengundang para desainer lainnya.

Ethica Fashion Blogger Gathering
Para Blogger yang sibuk dengan HPnya masing-masing untuk live twit.

Selanjutnya tentang Ethica bisa dilihat di Facebook Ethica, IG Ethica.id, Twitter Ethica.id, dan Website Ethica.

Dan yang kepo dengan Rimma bisa membaca artikel Eksklusif Rimma Bawazier, Model yang sukses jadi Designer. Instagram Rimma Bawazier atau  melihat karya-karyanya di Instagram Kaimma Malabis.

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

14 thoughts on “Oleh-oleh Acara Ethica Fashion Blogger Gathering Bandung bersama Rimma Bawazier

  • September 18, 2016 at 8:47 pm
    Permalink

    acara kemaren memang keren, makanya aku pun ikutan di sela2 sok sebok teh.
    Menurutku tentang fashion yang penting percaya diri, sesuai kepribadian, seperti kata Mba Rimma bisa mix n match baju meski baju lama.

    Ethica, semoga sukses dan tetep menjadi busana muslim terbaik di indonesia yaaaa…

    Reply
    • September 19, 2016 at 5:59 am
      Permalink

      Aku mah dapat ilmu mix n match extra dari lihat gaya Nchie aja. Keren.

      Reply
    • September 18, 2016 at 9:29 pm
      Permalink

      Nanti sisanya tinggal dilengkapi Shona.

      Reply
  • September 18, 2016 at 9:05 pm
    Permalink

    Waah rajin sekali teteh udah nulis lagi
    Aku juga kagok nih kemarin sempet ga pede mau hadir ke Ethica, cuma di beraniin aja hihi
    dan acaranya seru banget ya ..

    Reply
    • September 18, 2016 at 9:27 pm
      Permalink

      Lumayan membuka wawasan buat yang biasa tampil kucel seperti diriku.

      Reply
  • September 18, 2016 at 10:54 pm
    Permalink

    Serruu acaranya…
    Kopdar begini jadi inget jaman SMA yg hobi nongkrong cantik (pake baju cantik pulaa).

    Ethica.
    Cantik dan elegan.

    Reply
  • September 19, 2016 at 6:37 am
    Permalink

    Salam kenal Mak, baru kali ini saya menyapa, padahal kemarin-kemarin rajin juga wara-wiri di Bandung mah. Saya justru tertarik sama ZMOTnya. Bener juga sih sekarang product knowledge masyarakat lebih banyak sebelum membeli bahkan untuk menyentuh barangnya. Semoga produsennya juga jujur, jadi nggak beli kucing dalam karung yah. ZMOT berlaku juga nggak buat nyari jodoh #eh kabur….

    Reply
    • September 19, 2016 at 6:48 am
      Permalink

      Kita tunggu efektifitas ZMOT untuk pencarian pasangan. Ha…ha…

      Reply
  • September 21, 2016 at 3:31 pm
    Permalink

    Salam kenal Teh Shanty,
    Kemarin pas gathering saya ikut juga 😀

    Gak kenal siapa-siapa sih pas dateng, tapi acaranya emang worthed, banyak sekali ilmunya :))

    Reply
  • September 23, 2016 at 1:03 pm
    Permalink

    Yes karena sibuk live twit ada beberapa moment penting terlewat dan ternyata dirangkum lengkap teh Shanty, love banget deh teteh. Semoga sering-sering ya acara gathering bertabur banyak hadiahnya

    Reply
  • September 25, 2016 at 12:29 pm
    Permalink

    Salam ;
    Teh Santi Alhamdulillah tulisan yang licin ngagolosor . . . sudah Bunda share tiga kali baik di twitter maupun di FB biarkan tulisanmu menemui nasibnya. heheheh . . . .

    Reply
    • September 27, 2016 at 8:00 am
      Permalink

      Nuhun Bunda Intan. Hati-hati kepeleset baca tulisan saya. Ha…ha…

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: