Kulwap ke-7 #ODOPfor99days bersama Dian Kristiani

Saya terus terang belum pernah kenal penulis lain yang seproduktif Dian Kristiani. Kok ya ada penulis yang bukunya bisa bertebaran begitu banyak di toko buku. Dan laris manis seperti kacang goreng. Bukunya 100 Cerita Rakyat Nusantara (BIP, 2014) bahkan telah cetak ulang hingga 4 kali dan menghasilkan penjualan lebih dari setengah M.

Jadi tidak aneh lah kalau beliau yang digandeng penerbit BIP untuk menyaksikan gemerlapnya Frankfurt Book Fair Oktober 2015 lalu. Behind the story kisah bahagia ini bisa diintip di blognya Dian Kristiani: Me? Go to Frankfurt? Ah masa sih? Eh, bener ya?

Fakta tentang Dian Kristiani

Ternyata Mbak Dian ini lulusan S1 Filsafat UGM angkatan 1992. Lahir di Semarang pada Juni 1974. Bersama suami dan 2 anaknya, kini mereka bermukim di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dian Kristiani ketika anak-anak masih kecil
Dian Kristiani ketika anak-anak masih kecil. Sumber: https://menyonyo.files.wordpress.com

Sebenarnya saya penasaran, berapa tepatnya jumlah buku Dian Kristiani. “Sudah lebih dari seratus,” tulisnya dalam buku Momwriter’s Diary (BIP, 2013). Ternyata penulisnya sendiri saja tidak hapal. Mungkin buat kita-kita yang baru menulis 1 buku, apalagi yang ditulisnya ramai-ramai, tidak terbayang seperti apa rasanya punya buku sampai ratusan seperti itu. “Dulu awal-awal rajin ngitung dan bikin list. Terus lama-lama malas karena terlalu banyak. Udah nggak ngitung lagi,” tulisnya dalam pesan whatsapp. *Sssttttt ini yang namanya humblebrag.

Ok lah, kalau jumlah buku sudah tidak terhitung, setidaknya ia bisa mengingat tulisan pertamanya. Tulisan pertama dimuat di Majalah Mombi pada tahun 2008. Sedangkan buku pertamanya Serial Edgard Loves diterbitkan BIP setahun kemudian. Untuk urusan menulis, ia mengaku tidak pernah berguru khusus. Hanya karena melihat laptop menganggur, mulai menulis, dikirimkan dan dimuat deh. Ehm…kok kayanya gampang ya…

Biar kata Mbak Dian sudah cukup sholehah dengan membagikan sejumlah ilmu dalam bukunya Momwriter’s Diary (BIP, 2013) dan di blognya Dian Kristiani, tapi kok rasanya tetap belum afdol kalau nggak di ajak ngobrol-ngobrol santai. Alhamdulillah Mamanya Edgard 13th dan Gerald 10 th ini, bersedia diajak Kulwap di grup #ODOPfor99days pada Jumat, 16 September 2016. Berikut resume dari diskusi 1 jam kami.

Pertanyaan dan Diskusi

#1 Pertanyaan Muthia Husnul Lisani – Bandung

Kasih bocoran 24jamnya  mba Dian dong. Biar kebayang managemen waktunya. Kan keren banget tuh tanpa ART dengan dua anak.

Saya disini yang keadaannya hampir sama (anak3 noART) , ko kayaknya sulit pegang laptop. Antara  ngajak main anak, ngurusin pekerjaan RT sama nulis jadwalnya masih rebutan.

Jawaban:

Keseharian saya biasa saja. Malah lebih banyak tidurnya. Dulu, saya bekerja di malam hari. Setelah anak-anak tidur, saya begadang sampai kira-kira jam 1 atau dua malam. Catatan: Saya selalu tidur siang.

Namun, sekarang saya tidak begadang lagi. Saya memilih untuk bekerja di siang hari. Pagi hari saya tidur sampai sekitar jam 9 pagi, lalu bangun dan bantu anak bikin PR dan siapkan pelajaran, masak, bersih-bersih dll. Siang setelah anak ke-2 saya berangkat sekolah, saya pun nulis sampai sore.

Untuk bisa menulis, saya bersyukur punya keluarga yang easy going. Suami dan anak-anak tidak pernah sarapan berat. Mereka hanya minum susu/kopi dan makan roti. Itu pun suami yang bikin sendiri. Suami juga membantu menyetrika, mencuci piring, dan menyapu.

Kami berdua seperti partner dalam rumah tangga. Jadi, siapa yang sempat ya dia yang kerja. Suami dan anak-anak juga tidak minta makanan yang harus saya masak sendiri. Buat mereka, yang penting ada makanan. Entah dari mana asalnya haha. Bisa dari tukang catering, dari kedai, dan dari mana saja.

Menulis, tidak harus banyak kok Mbak. Sehari satu paragraph, satu hari satu lembar, sudah cukup. Asal konsisten saja. Saya pribadi, punya target minimal adalah satu cerita anak per hari.

 

#2 Pertanyaan Novita – Tangsel

Mba dian bagi tips dong kalo dah stag nulis karena tergerus rutinitas aktivitas gimana cara cari inspirasi menulis juga saat lelah melanda.

Jawaban:

Tanyakan pada diri sendiri, betulkah passion kita adalah menulis? Jika passion itu ada, pasti ada saja caranya.

Di sela rutinitas harian kita, pasanglah radar panca indera sebaik-baiknya. Dengan panca indera, kita akan dapat banyaaak sekali ide dan inspirasi untuk menulis. Catat segera begitu ada ide melintas. Itulah sebabnya, sediakan selalu blocknote dan pulpen di dekat kita. Jangan tergantung gadget. Takutnya batere lagi low haha.

Kalau lagi bosen, saya sih biasanya bobok atau nonton TV sepuas-puasnya. Saya juga doyan makan, jadi ya pergi jajan-jajan.

 

#3 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin – Bandung

a. Sekarang ini kan buku anak begitu membanjir. Bisa kasih panduan memilih buku anak yang bagus biar kami para ortu nggak bingung kalau di toko buku?

Jawaban:

Panduan memilih buku anak yang bagus? Sebenarnya tidak ada panduan baku. Tiap keluarga memiliki batasan bagus/tidaknya sebuah buku.

Namun, yang standar adalah, pilih yang tidak menggurui, kalimat-kalimatnya pendek, gambarnya bagus, dan isi ceritanya tidak mengandung sesuatu yang membahayakan. Satu lagi, buku anak harus membuat anak bahagia.

 

b. Terus terang saya lebih mengagumi buku anak terbitan luar negri daripada buku dalam negeri. Karena buku luar umumnya pemilihan kata, cerita, kalimat dan ilustrasinya lebih kena dengan anak-anak, dibandingkan dengan buku dalam negri yang sepertinya penerbitnya hanya kejar setoran. Beberapa buku anak yang saya baca seringkali memuat kalimat yang terlalu panjang atau memuat kata yang tidak lazim buat anak-anak. Apa ini menurut perasaan saya saja yang tidak objektif? Bagaimana menurut Mbak Dian?

Jawaban:

Memang betul Mbak. Buku anak local kebanyakan memang terlalu banyak teks, dan kurang memerhatikan kemudahan bagi anak. Yang penting, jejali anak dengan ajaran-ajaran.

Di luar negeri, pembagian level buku anak sudah amat jelas. Level 1 untuk anak yang baru mengenal buku, satu halaman hanya ada 0-2 kalimat saja. Dan satu kalimat tidak lebih dari 5 kata.

Namun, di Indonesia berbeda. Orangtua merasa sudah bayar mahal untuk sebuah buku, kok cuma dapat seuprit kalimat? Mana dong ajaran-ajaran moralnya? Kan saya mau anak saya belajar membaca? Kok teksnya cuma dikit?

Begitulah keadaannya. Mau tak mau, penerbit mengikuti selera pasar.

Buku anak lokal terlalu banyak yang memaksakan diri, menjejalkan segala ide dan ajaran pada anak. Banyak penulis bacaan anak yang lupa, anak-anak itu cerdas. Mereka tak perlu dijejali, mereka sudah bisa menangkap sendiri esensi ceritanya. Jadi ya begitulah.

 

c. Saya sempat membaca beberapa cerita anak karangan Mbak Dian. Menurut saya sangat bagus. Jadi pengen tau siapa penulis cerita anak yang Mbak Dian kagumi dan suka bagian apanya?

Jawaban:

Saya tidak punya idola tertentu. Tapi di masa kecil, saya membaca karya Enid Blyton.

Selain itu, orangtua saya melimpahi anak-anaknya dengan berlangganan Sembilan judul majalah. Saat sudah jadi penulis, saya mulai baca karya Roald Dahl dan Astrid Lindgren. Untuk buku anak lokal, saya suka karya Mbak Arleen Amidjaja.

 

d. Mau dong dikasih tips menulis cerita anak yang baik. Apa sebenarnya memang ada aturan baku tentang pilihan atau jumlah kata dalam kalimat untuk cerita anak atau jumlah baris dalam satu lembar?

Jawaban:

Aturan baku sih tidak ada. Namun ada juga yang sudah menggolongkannya. Sayangnya, di Indonesia, penggolongan ini kurang berjalan. Buku-buku yang ada di pasaran, kebanyakan tidak sesuai dengan penggolongan ini.

Level 1  (utk anak yang baru dikenalkan dengan buku) : satu lembar berisi 0-2 kalimat. Satu kalimat hanya maksimal 5 kata. Ilustrasinya menguasai 80-100% halaman. Jumlah halaman hanya 8-32 halaman.

Level 2 (utk anak yang sudah mulai belajar membaca): satu lembar berisi 1-3 kalimat. Satu kalimat maksimal 8 kata. Ilustrasi menguasai 70-100% halaman.

Oya, level 1 dan 2 itu bukan berarti utk anak batita balita ya. Penggolongan ini berdasarkan kemampuan baca, bukan usia. Pada kenyataannya, di daerah terpencil banyak anak usia 10-15 tahun tapi kemamampuan bacanya masih di level 1.

Saya hanya kasih level 1 dan 2 saja ya. Sebenarnya ada 6 level, tapi kira-kira gambarannya seperti itu.  Level 6 sudah berupa teks saja, dan ilustrasi hanya sedikit (utk mendukung teks). Mungkin novel-novel Roald Dahl bisa dijadikan acuan.

 

#4 Pertanyaan Wini Nirmala Gunawan – Bandung

a. Kriteria memilih ilustrator untuk buku anak itu dipilihka n oleh penerbit atau mbak dian? Gimana briefingnya dan pernah ga dapet ilustrator yang ngga sreg. Jadi kurang ‘ngangkat’ cerita.

Jawaban:

Saya biasanya hanya diberi acuan oleh penerbit berikut fee yang harus ditawarkan ke ilustrator. Saya akan mencari ilustrator sendiri, meminta sample-sample. Lalu sample-sample itu akan saya tunjukkan ke penerbit.  Penerbit lah yang menentukan sample mana yang mau diambil.

Biasanya saya memberi briefing, kami maunya ilustrasi yang bergaya begini, yang warnanya begini. Bila perlu, kami akan menunjuk contoh satu buku pada ilustrator. Bukan untuk dicopy, ditiru, tapi hanya utk menunjukkan seperti apa style yang kami mau.

 

b. Bagaimana trend tema buku anak dari tahun ke tahun? Sama saja atau banyak perubahan. Apa mengikuti buku-buku luar negri?

Jawaban:

Tema buku anak di Indonesia biasanya tema yang ever lasting. Tema sopan santun, keberanian, kebersihan, kesehatan, dst. Selain itu ada juga cerita rakyat, yang rupanya sekarang sedang naik daun.

 

#5 Pertanyaan Farda – Surabaya

Kalau lagi nulis utek-utek begitu biasanya anak dan suami ngapain mbak? Kalau kebetulan lagi dirumah semua?

Jawaban:

Saya nggak nulis kalau suami dan anak-anak di rumah. Saya kalo nulis butuh suasana sepi.

Kalau sekarang ini, anak saya lagi bikin PR di sebelah saya, ya saya nggak nulis. Tapi melakukan hal lain seperti kulwap ini, atau check email dari penerbit, atau cek ilustrasi. Tidak menulis.

Dua atau tiga jam sehari cukuplah. Nggak usah lama-lama.

Pokoknya minimal 1 cerita, nggak muluk-muluk. Kalau bisa lebih ya alhamdulillah. Tidak harus jadi cerita yang sempurna dan indah. Tapi cukuplah jadi satu cerita saja, editnya kapan-kapan lagi.

 

#6 Diskusi Muthia Husnul Lisani – Bandung
Anak Mbak Dian sudah gede yaa, jadi sesi ‘direcokinnya’ sedikit…hihi…

Tanggapan:

Saya sudah nulis mulai anak saya bayi dan balita Mbak Muthi. Anak saya kan nggak mendadak gede begini dong ah.

Dan jangan salah, jangan dikira kalau anak semakin gede, tugas kita semakin enteng. Nggak bangeeeet. Memang bener kita ga perlu nyebokin, ga perlu nyuapin. Tapi kita malah kudu ada di samping mereka terus, takut mereka ngapa-ngapain. Belum lagi jadwal lesnya yang berjibun, saya kan tukang ojek cantik.

Waktu anak-anak masih kecil, saya begadang Mbak. Saya dulu tidur jam 1 malam. Nggak tentu, bisa jam 12, jam 1, kadang jam 2. Sekarang sih saya milih siang saja, karena siang anak-anak sekolah semua. Sepi.

Tentukan sendiri deh jam biologis ibu-ibu sekalian. Beda orang beda jam biologis kok. Kalau ada waktu dini hari, ya gunakanlah. Ada waktu siang hari, ya gunakanlah. Bada Isya, silakan. Cari waktu yang pas buat diri sendiri. Rempongnya A dan B pasti beda, juga rempongnya C dan A.

Selama anak-anak masih kecil (masih tidur siang) saya begadang. Siangnya saya tidur bareng mereka. Kalau sekarang kan udah sekolah semua, nggak ada yang tidur siang, jadi ya saya nggak tidur siang tapi kerja.

 

#7 Diskusi Muthia Husnul Lisani

Iya Bener siy mba… Kalau dipikir pikir sekarang memang sok sok sibuk siy… Nyatanya banyakan sibuk sama gadget.

Tanggapan:

Setuju.
Sebenernya, itu sih hanya alasan “nggak ada waktu.” Trus pada nyalahin anaknya kan. Padahal kitanya aja yang kurang bisa mengatur waktu. Kalau bisa nonton Uttaran, pasti bisa nulis. Kalau bisa fesbukan (ini gua banget demen fesbukan) pasti bisa nulis. Tapi tetap sisihkan waktu utk hidup bersosialisasi ya. Tetep bergaul dengan tetangga, tetap berteman dengan orang-orang di dunia nyata.

 

#8 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin

Oh iya itu juga mau tau. Gimana cara bagi waktu dengan sosmed-an. Mbak Dian kan aktif tuh di sosmed. Makanya fansnya banyak. Kok ya sempat?

Jawaban:

Sosmed an itu disambi Mbak. Ini sambil nemenin anak bikin PR, nyambi. Trus kalo lagi nulis, sembari browsing cari bahan, ya nyambi sosmed an. Karena bagi penulis, aktif di sosmed itu sudah semacam kewajiban tak tertulis.

 

#9 Pertanyaan Muthia Husnul Lisani

Wah… Ini menarik… Kenapakah mba? Apa untuk menghimpun ‘massa’? Jujurly saya sedang mengurangi sosmed (banyak sosmed yang susah di uninstall) dengan alasan banyak godaannya. Adakah tips menggunakan sosmed tapi tetap fokus?

Jawaban:

Saya pernah mendengarkan pembicaraan ahli sosmed (ada aja ya profesi orang haha). Katanya, penting buat penulis untuk aktif. Supaya orang-orang itu teringat terus padanya. Dan bikin status bukan yang galau, ngeluh, maki-maki orang apalah. Tapi bikin status yang menghibur dan mencerahkan syukur-syukur bisa memberi hikmah.

Jika orang sudah suka pada kita, maka nama kita akan terkenang terus di benaknya.

Kalau sudah gitu, pas jalan ke toko buku, akan ingat kita. Eh beli buku mbak Dian yang lutju dong. Begitu kira-kira penjelasannya Mbak.

Pesan Penutup

Pesan penutup selain “Belilah buku saya” dari Dian Kristiani dalam Kulwap ke-7 #ODOPfor99days:

Pertama-tama, pastikan dulu bahwa memang passion kita adalah menulis. Apa tujuan kita menulis?. Kalau hanya sekadar pengen kayak si A, pengen kayak si B, percayalah … nggak akan jadi.

Kalau sudah yakin ini memang passionmu, semua akan terasa mudah. Sempatkan 10 menit saja setiap hari untuk nulis. Nulis apaaaa saja yang terlintas di benak. Paling tidak, itu untuk latihan melenturkan jari jemari.

Jangan lupa rajin baca. Teko kosong tak akan mengeluarkan isi kan.

 

Terima kasih ilmunya Mbak Dian. Semoga tetap menjadi penulis produktif yang karya-karyanya dicintai anak Indonesia.

Sedikit Oleh-oleh dari Bandung untuk Dian Kristiani

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Kulwap ke-7 #ODOPfor99days bersama Dian Kristiani

  • September 18, 2016 at 2:06 am
    Permalink

    Nuhun teh shan resumenya 🙂
    Dc lagi susyah eksis di WA akhir2 ini. Hatur nuhun 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: