Warning: Error while sending QUERY packet. PID=260905 in /home/shantyst/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1879

Ilmu Mendongeng Asyik bersama Nia Kurniawati

Siapa yang suka mendongeng untuk putra-putrinya?

Saya sih nggak. Walau tahu banyak manfaat dari mendongeng bagi perkembangan anak-anak, tapi rasanya saya jarang sekali mendongeng untuk anak-anak. Bukan apa-apa sih, anak-anak saya terlalu pecicilan untuk duduk manis dibacakan cerita. Padahal waktu kecil saya sebenarnya sering didongengkan oleh Papa saya tentang cerita si kancil. Hanya satu cerita itu, Si Kancil yang mencuri ketimun. Tapi kok ya tidak bosan-bosan minta diceritakan berulang kali sekedar untuk mendapatkan ekspresi dari para tokoh-tokohnya. Saya paling suka saat tangan dan kaki Si Kancil tidak bisa lepas dari orang-orangan sawah. Bagi anak umur 4 – 5 tahun, itu rasanya lucu sekali.

Ketika sekarang saya mencoba untuk mengulang cerita tersebut untuk anak-anak, ternyata kok ya susah. Mendongeng atau yang sering dikenal sebagai storytelling ternyata tidak semudah itu. Ada ilmunya. Ilmu ini yang akan diberikan oleh teman keren kami Nia Kurniawati atau Nia Kuri pada pertemuan keempat RB Public Speaking IIP Bandung.

Bertempat di Cekeran Midun jl. Pajajaran 80E Bandung, pada Sabtu, 27 Agustus 2016, Finalis Perempuan Inspiratif Nova 2011 yang telah menjuarai sejumlah lomba mendongeng ini, bersedia berbagi ilmu storytelling yang dimilikinya.

Storytelling dalam Public Speaking memang memiliki tempat yang berbeda dengan Speech (pidato), Newsreader (pembaca berita), atau Master of Ceremony (pembawa acara). Storytelling adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada penyimak dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, maupun suara. Dalam bahasa Indonesia Storytelling dikenal dengan istilah mendongeng, bertutur, bercerita, atau berkisah.

Mengutip penjelasan Kak Andi Yudha Asfandiyar yang merupakan pendongeng yang banyak dicintai anak-anak, dongeng itu bisa di kategorikan menjadi 4. Yaitu, dongeng tradisional, dongeng pendidikan, dongeng fabel (tentang binatang), dan dongeng sejarah.

Ketika emak-emak mendongeng dengan sepenuh hati...
Ketika emak-emak mendongeng dengan sepenuh hati…

Manfaat mendongeng

Mendongeng itu penting karena dapat:

  • menumbuhkan minat baca
  • menumbuhkan rasa percaya diri
  • mengaktifkan seluruh indra penglihatan, pendengaran, gerak, dan emosi

Jika menonton TV anak hanya melihat dan mendengar. Berbeda dengan diberikan buku atau dibacakan cerita. Motorik halus dan emosinya akan turut terstimulasi.

  • menumbuhkan daya imajinasi dan kreatifitas

Berbeda dengan film yang dibatasi oleh imajinasi sang sutradara, saat membaca atau bercerita imajinasi anak bisa tumbuh lebih luas. Sama saja seperti kita yang lebih suka membaca sebuah novel namun kemudian kecewa ketika tayangannya dalam sebuah film.

  • menambah wawasan dan pengetahuan

Anak akan diperkenalkan dengan tokoh, setting, alur cerita yang akan menambah wawasan anak.

  • belajar menjadi lebih menyenangkan dengan mendongeng
  • menstimulasi otak anak terutama pada masa golden age

Nia menyampaikan anak-anaknya yang biasa mendengarkan dongeng, pada usia 2 tahun telah lancar bicara dan memiliki kosakata yang banyak. Dan ternyata membacakan cerita itu penting juga loh pada masa kehamilan. Sehingga setelah lahir mereka terbiasa mendengarkan cerita.

RB Public Speaking IIP Bandung
Absensi Pertemuan ke-4 RB Public Speaking IIP Bandung. Minus Lendy dan tuan rumah Wening.

Cara mendongeng asyik

Selanjutnya, bagaimana caranya mendongeng? Apakah sesederhana membacakan buku cerita? Bagaimana caranya bisa mendongeng hingga membuat anak-anak menyimak dan bisa mendapatkan makna dari cerita tersebut?

Rahasia yang sebenarnya tidak terlalu rahasia dibuka oleh ibu 3 anak yang telah menulis sejumlah buku ini.

  • Kuasai materi

Tangkap pesan dan inti dari cerita. Sekarang sudah banyak buku-buku yang bisa membantu kita untuk menyampaikan materi yang menarik untuk anak.

  • Perhatikan ekspresi dan gestur tubuh

Untuk memberikan pemahaman, Nia mengajak peserta menyaksikan sebuah video dari ahli story telling Inggris Michael Rosen menceritakan cerita berjudul We’re going on a bear hunt. Dalam video itu kita bisa belajar bagaimana Rosen sangat ekspresif dalam bercerita.

Anak itu identik dengan keceriaan. Jadi jika berhadapan dengan anak, usahakan untuk selalu ceria. Urusan pusing tumpukan setrikaan belum beres, coba disimpan dulu saja.

Perhatikan juga gerak tubuh. Lebih banyak pesan yang tersampaikan dengan gerak tubuh daripada sekedar kata-kata yang diucapkan.

Intonasi dan irama untuk anak juga harus lebih lambat.

  • Mulai dongeng dengan cara yang menarik perhatian anak

Bisa dengan bernyanyi atau berpantun. Anak bisa lebih mudah menghapalkan lirik lagu daripada teks atau kata-kata. Kita bisa membuat syair sendiri dengan memakai lagu yang sudah umum. Lebih hebat sih kalau bisa menciptakan lagu sendiri.

  • Gunakan alat bantu

Untuk memudahkan menyampaikan cerita, gunakan sejumlah alat bantu seperti boneka jari, boneka, gambar, atau buku. Menurut Nia, boneka jari hanya efektif untuk jumlah anak kurang dari 10 orang.

 

Para peserta juga diajak untuk melatih mengucapkan vokal dengan jelas. Jadi saat bercerita, bicara jangan seperti dikumur-kumur. Ucapkan Aaaaaa, Iiiiiii, Uuuuuu, Eeeeee, Oooooo dengan jelas.

Juga belajarlah untuk meniru sejumlah suara. Secara bergantian peserta diminta untuk mencoba menirukan suara ayam, bebek, monyet, kakek, anak-anak, ayah, ibu, gajah, kuda, tembakan, pintu, dan lain-lain. Nia juga bercerita tentang Kak Bimo, Master Dongeng Indonesia yang bisa hingga 200 suara. Kalau teman-teman bisa berapa suara?

Selain itu, coba juga untuk berlatih ekspresi menangis, tertawa, dan marah.

 

Apa bedanya anak yang mendengarkan dongeng dengan anak yang melihat video di YouTube? Mendongeng berbeda karena akan tercipta hubungan emosional antara pendongeng dengan anaknya. Anak pun bisa secara aktif berekspresi dan bertanya.

Kunci dari mendongeng yang berhasil adalah dengan memperhatikan pendengarnya.

Apakah mereka tertarik dan penasaran dengan akhir cerita? Atau mereka mulai sibuk sendiri? Nia memberikan tips untuk mengembalikan konsentrasi anak dengan bernyanyi atau bermain tebak-tebakan.

Beberapa pendongeng yang bisa dijadikan referensi buat teman-teman diantaranya kak Andi Yudha Asfandiyar, kak Awam Prakoso, kak Aio, kak Bimo, dan sebenarnya masih banyak lagi.

Sebelum menyantap lezatnya Cekeran Midun, para peserta RB Public Speaking juga diminta untuk mempraktekkan kemampuan mendongeng masing-masing selama 2 menit. Ternyata pada jago-jago bercerita deh Ibu-Ibu IIP Bandung ini. Penuh ekspresi sampai anak-anak pun pada terpesona. Ya iyalah… wong emaknya sendiri.

Saya sendiri juga agak menyesal mendapatkan ilmu mendongeng ini setelah anak-anak berumur 6 dan 9 tahun. Tapi benar juga kata Nia yang anaknya masih senang diceritakan hingga usia 11 tahun. Setelah saya mempratekkan ilmu storytelling, walau tidak bisa terlalu berekspresi atau bergestur aneh-aneh, anak-anak benar-benar suka saya bacakan cerita. Entah pengaruh intonasi atau memang bacanya pakai hati emak yang penuh cinta, Raka dan Sasya jadi suka dibacakan cerita.

Bagaimana? Siap mempratekkan ilmu storytelling untuk anak-anak kita?

Cekeran Midun
Hadiah jamuan lezat dari Cekeran Midun setelah dapat ilmu Storytelling dari Nia Kurniawati. Kurang apa coba RB Public Speaking IIP Bandung.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: