Kulwap ke-6 #ODOPfor99days bersama Langit Amaravati

Sebenarnya sudah lama kami di grup #ODOPfor99days kepo dengan mahmud 2 anak berumur 12 dan 2 tahun ini. Bagaimana tidak kepo coba, nama Langit Amaravati seringkali seliweran sebagai pemenang lomba blog yang hadiahnya bikin ngeces banyak orang atau membuat postingan-postingan viral yang begitu mengguncang jagad perbloggeran.

Ternyata Langit yang biasa dipanggil eL atau Uchan, termasuk penulis yang baik hati dan tidak sombong. Buktinya, beliau mau saja di todong dengan seabrek pertanyaan selama kulwap 1 jam di grup #ODOPfor99days pada Jumat, 2 September 2016 pk 13.00 – 14.00 WIB lalu.

Sebelumnya, mari kita bergosip sedikit tentang perempuan kelahiran 1983 ini. Langit lulusan SMKN 1 Bandung jurusan Adminitrasi Perkantoran. Alih-alih jadi sekretaris cantik di balik meja pak Direktur, ia memilih memperdalam bidang menulis dan desain secara otodidak.

Hasil belajar otodidaknya tidak tanggung tanggung. Sapardi Djoko Damono dan Dewi Lestari sebagai Dewan Kurator UWFR (Ubud Writers & Readers Festival) 2013 memilih tulisan Skylashtar Maryam – nama pena lain Langit Amaravati – untuk ikut dalam ajang bergengsi ini. Hingga saat ini Langit telah mengeluarkan 3 buku: Kumpulan 27 cerpen Payudara, Ada Setan di Kepalaku yang berisi kumpulan cerpennya yang pernah beredar di media, dan kumpulan puisi Vaginoplasty, sajak-sajak kelamin.

Selain sebagai penulis, Langit juga jago banget bikin desain keren untuk buku-buku terbitan Grasindo. Kemampuan desain graphisnya ini juga yang memberikan nilai plus pada setiap lomba-lomba blog yang diikutinya.

Biar kata kita sudah kasak-kusuk ngintip rahasia suksesnya di blog www.langitamaravati.com, tetap saja masih banyak pertanyaan yang ingin diajukan. Berikut resume hasil jarahan ilmu dari Langit:

Materi Pembuka

Hallo, selamat siang, salam kenal. Terima kasih lho sudah mengundang saya ke grup ketjeh ini, sebuah kehormatan bagi saya bisa ngobrol dengan teman-teman semua.

Karena sekarang kita akan ngobrol tentang kepenulisan, jadi apa sih menulis itu?

Tidak ada pengertian lain dari kata “menulis” selain menulis. Jadi, penulis adalah ia yang menulis.
Kenapa harus menulis? Tidak ada keharusan sebetulnya, toh setiap orang bebas memilih perannya masing-masing di dalam kehidupan. Tapi jika Anda memilih jalan ini, pastikan ini bidang yang Anda minati, bukan karena ikut trend, bukan karena eksistensi, atau alasan-alasan seperti itu.

Siapa saja yang bisa menulis? Setiap orang?

Sayangnya tidak semua. “Semua orang bisa menulis” kerap disampaikan di dalam komunitas-komunitas, tujuannya mungkin baik, untuk memotivasi atau membesarkan hati. Tapi secara bersamaan, jargon ini melahirkan para penulis karbitan yang lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas.

Penulis yang baik adalah ia yang menggabungkan isi dada dan isi kepala.

Adalah ia yang selalu bertanya apakah tulisannya bermanfaat bagi pembaca atau tidak. Dan yang lebih penting, penulis yang baik adalah ia yang terus-menerus belajar dan berlatih untuk meningkatkan kualitas tulisannya.

Salam.

Pertanyaan dan Diskusi

#1 Pertanyaan Monika Pury Oktora – Gronigen

a. Teh Uchan kan aktif nulis cerpen (dan sering dimuat di koran besar), aktif ngeblog, dan aktif mengikuti berbagai macam lomba blog juga. Mana yang lebih teh Uchan suka dan lebih prioritaskan?

Jawaban:

Saya sih lebih suka nulis cerpen, tapi sayang honornya kecil. #eh
Sekarang lebih memprioritaskan kegiatan yang mendatangkan penghasilan. Saya harus realistis, sebab penulis yang “lapar” adalah penulis yang tidak bisa produktif. Untungnya, semua kegiatan itu (entah itu nulis cerpen, ngeblog, atau mendesain) semuanya saya sukai, jadi bebas aja mau ngerjain yang mana.

 

b. Bagaimana cara mengatur supaya semuanya bisa dijalani dengan baik. Plus juga teh Uchan harus kerja sebagai graphic designer dan ngurus Aksa.

Jawaban:

Aksa dititipkan ke pengasuh dari pukul 8 pagi sampai 5 sore (Minggu libur), jadi semua kegiatan dilakukan siang hari dan diteruskan jika Aksa sudah tidur. Saya punya semacam editorial calendar berisi jadwal ngeblog, mendesain, dan nulis untuk Dewaweb. Misal: pukul 8-10 nulis untuk Dewaweb, pukul 10-12 desain, dst. Kalau lagi sama Aksa, semua kegiatan dihentikan.

 

c. Saya nih misalkan suka nulis.. tapi saya sebenernya belum tahu spesialisasi tulisan saya dimana, karena saya suka bikin artikel ringan, suka ngeblog (tapi kebanyakan curhat dan menceritakan pengalaman sehari-hari), suka cerpen anak, cerpen remaja, dan dewasa. Rasanya pengen aja semua dijajal.. tapi malah jadi bingung.. mana ya yang lebih saya suka dan mampu.

Bagaimana caranya biar menemukan “bentuk dan gaya tulisan” yang pas untuk menampung hobi menulis saya ini? Untuk difokuskan ke satu bentuk karya.

Jawaban:

Tidak ada penulis yang bisa ahli dalam semua bidang. Misalnya, blogger yang pandai menulis bidang perbankan belum tentu bisa membahas tentang kecantikan. Cara untuk menemukan jenis tulisan yang akan kita jadikan jadikan keahlian utama:

Jenis tulisan mana yang membuat kita paling bahagia dan tidak memiliki beban ketika menuliskannya? Contoh: kita bisa menulis cerpen tapi kok rasanya stres aja, tidak smooth, berbeda ketika membahas tentang anak-anak di blog. Jadi, agar tidak frustrasi, lebih baik fokus kepada tulisan parenting di blog.

Perhatikan feedback atau apresiasi dari pembaca. Tulisan seperti apa yang paling disukai oleh mereka? Misalnya, ketika kita menulis cerpen remaja, tanggapan pembaca kok biasa aja. Tapi ketika disuguhi cerpen dewasa, banyak apresiasi positif. So, bisa dipertimbangkan untuk fokus ke menulis cerpen dewasa.

Bagaimana caranya?

Jawabannya klise: latihan. Untuk menemukan bentuk dan jenis tulisan, bisa melakukan cara yang saya sebutkan di jawaban sebelumnya. Untuk menemukan GAYA PENULISAN, satu-satunya cara adalah dengan berlatih. Semakin lama kita menulis, kita akan menemukan gaya tersendiri.

 

#2 Pertanyaan Marina Yudhitia Permata – Bandung

a. Siapa penulis/cerpenis favorit yang kurang lebih memberi influence dalam cara penulisan cerpen-cerpen teh Langit?

Jawaban:

– John Grisham & Dee Lestari: memengaruhi gaya bertutur saya.
– Ahmad Tohari: saya belajar mengemas tema-tema sosial ke dalam bentuk yang enak dibaca, juga membantu memilih tema-tema cerpen seperti apa yang sekiranya relevan dari masa ke masa. 
– Djenar: belajar menyampaikan sesuatu dengan jujur, meski saya menghindari gaya pengungkapannya yang terlalu vulgar.
– Teguh Winarsho: Bisa dibilang cerpen-cerpen saya dibentuk dengan kerangka cerpen-cerpennya Teguh Winarsho. Saya belajar membuat kalimat ber-rima yang enak dibaca, belajar membuat ending, dll.
– Michael Crichton: Penulis science fiction terbaik abad ini kalau menurut saya mah. Dari novel-novelnya saya belajar bahwa untuk menulis fiksi pun, riset itu penting. 

 

b. Menurut teh Langit, apa sih keunggulan cerpen dibanding fiksi lain misal novel? Dan apakah tips-tips atau trik-trik untuk menulis cerpen yang ‘greget’?

Jawaban:

Cerpen lebih menantang karena penulis dituntut untuk menulis sebuah kisah dalam maksimal 1200 kata. Dari sisi pembaca, cerpen lebih mudah dinikmati karena lebih pendek. Tapi, tergantung selera pembaca juga sih, ada yang lebih suka membaca novel daripada cerpen.

Tip menulis cerpen greget: gaya bahasa dan sudut pandang. Semua tema di dunia ini sudah pernah dituliskan, yang membedakan satu cerpen dengan lainnya adalah gaya penyampaian si penulis dan dari sudut pandang mana sebuah cerita dituliskan.

 

c. Teh Langit lebih menikmati mana, nge-blog yang notabene nonfiksi atau nulis cerpen? Apakah ada sensasinya tersendiri masing-masing?

Jawaban:

Saya menikmati keduanya.

Cerpen adalah wadah untuk menyampaikan idealisme pribadi saya, meneriakkan hal-hal yang tidak bisa saya sampaikan melalui tulisan nonfiksi. Karena sifatnya fiksi, cerpen lebih mudah menginfeksi pembaca. Misalnya, isu-isu kekerasan terhadap perempuan akan lebih mudah disampaikan melalui cerita daripada esai atau tulisan di blog.
Blog yang lebih banyak tulisan nonfiksi adalah tanggung jawab sosial saya. Itu sebabnya mengapa akhir-akhir ini lebih banyak menulis tentang topik-topik yang sekiranya berguna untuk pembaca. Meski yaaa … ujung-ujungnya kebanyakan curhat juga.

Karakteristik pembaca cerpen dan blog juga berbeda-beda, masing-masing memiliki keasyikan tersendiri.

 

#3 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin – Bandung

a. Mau tahu dong cerita bagaimana bisa menembus acara bergengsi seperti UWRF? Usaha lebih apa yang dilakukan biar bisa lolos seleksi?
Bagaimana pengalaman selama di sana?
Apa kesan yang paling mendalam dari ikut kegiatan seperti UWRF?

Jawaban:

Saya menyiapkan naskah untuk UWRF selama 2 tahun. Kumpulan cerpen Payudara memang sengaja dibuat untuk dikirimkan ke UWRF. Waktu itu saya membuat penerbitan indie sendiri. Usaha lainnya:

– Karena salah satu penilaian adalah konsisten berkarya yang parameternya dilihat dari pemuatan karya di media, maka selama 1 tahun sebelum mengirimkan aplikasi, saya “membantai” media dengan cerpen-cerpen saya.

– Aktif di komunitas penulisan meski sebetulnya tidak berguna banyak. #eh

– Menyiapkan CV yang outstanding.

PENGALAMAN SELAMA DI SANA:

Bali panas, woi. Hahaha. It was an amazing experience. Baru kali itulah seorang penulis betul-betul diperlakukan istimewa. Kami diberi kamar sendiri (kamar hotel di Ubud itu udah kayak kamar bulan madu), diberi intrepeteur sendiri, pokoknya asyik.

KESAN MENDALAM:

Yang paling berkesan dari UWRF adalah bertemu dengan para penulis lain dari seluruh Indoensia yang selama ini hanya bertegur sapa di medsos. Terus terang, saya lebih suka acara ngopi bareng dan haha-hihinya daripada diskusi panelnya.

 

b. Saya juga mau tahu lebih banyak behind the scene pekerjaan sebagai penata isi buku. Khususnya untuk bukunya Monica Anggen, Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh…! Berapa lama proses pengerjaan grafis untuk buku seperti itu? Itu bukunya sudah jadi seluruhnya baru diberikan ke penata isi untuk dibuatkan grafisnya atau sudah ada usulan dari penulisnya? Biasanya untuk layout buku dan grafis seperti itu bikinnya pakai program software apa?

Jawaban:

BEHIND THE SCENE:

– Naskah dikirim dalam bentuk tulisan, tanpa gambar, tanpa grafik, tanpa ilustrasi. Beberapa buku berisi foto biasanya disediakan oleh penulis dan dikirim beserta naskah.

– Editor akan memberikan beberapa poin seperti segmentasi pembaca, konsep dasar, dan poin-poin lain. 

– Saya membuat konsep, setor dulu ke editor untuk di-approve. Kalau sudah ada approval baru jalan.

– Konsep dasar bukunya Mbak Monic adalah bagaimana membuat buku nonfiksi yang menyenangkan untuk dibaca, jadi saya sengaja membuat grafik yang membuat pembaca merasa seperti sedang melihat gambar, padahal aslinya sih sedang membaca buku.

– Proses pengerjaan: saya lupa, kalau nggak salah sekitar 2 minggu.

– Sudah jadi atau belum: iya, semua naskah yang diberikan adalah naskah yang sudah jadi dan lengkap, juga sudah melalui proses editing.

– Grafisnya ide sendiri atau usulan dari penulis: Mbak Monic orangnya terorganisasi, dalam beberapa bagian dia memberikan contoh grafis yang dia inginkan. Selebihnya, saya yang membuat konsepnya.

– Software: Adobe Indesign, Photoshop, dan Illustrator.

 

c. Kalau lihat postingan Uchan di blog semuanya begitu padat bergizi. Mau tau dong, berapa lama rata-rata buat satu postingan montok dan sehat seperti itu? Sehari-hari rata-rata menulis berapa jam Chan? Apa punya strategi khusus biar bisa menulis bermutu seperti itu?

Jawaban:

– Berapa lama: tergantung tingkat kesulitan artikel. Antara 2 jam sampai 3 hari.

– Sehari menulis berapa jam: dari bangun tidur sampai tidur lagi. Hahaha. Minimal 8 jam sehari.

– Strategi khusus: riset. Baca buku, website, apa pun sumber yang sekiranya bisa dijadikan bahan referensi.

 

#4 Pertanyaan Lendy – Bandung

a. Sejauh mana penulis melibatkan kehidupan pribadi dengan konten tulisan? Karena saya suka merasa malu kalau membuka masa lalu saya untuk sebuah tulisan. Jadi kepikiran “Jangan-jangan nanti dia berpikir begini…dan begitu…dan lain-lain.”

Jawaban:

Penulis itu seperti alchemist, kita hanya mengambil secabik pengalaman pribadi dan mencampurkannya dengan pengetahuan atau tema yang sedang kita bahas. Sejauh mana? Sepanjang pengalaman pribadi itu relevan. Kitalah yang menentukan batasannya.

Kita tidak bisa menyetir persepsi semua pembaca karena setiap orang memiliki wawasan dan pengalaman yang berbeda. Deal with it. Kalau kita tidak siap dengan itu, jauh-jauh dari membahas topik pribadi. Oh iya, ini juga berhubungan dengan cara kita menyampaikan. 
Ini sepertinya topik yang menarik untuk dibahas di blogspot, boleh saya jadikan ide untuk blogpost?

 

b. Atas pertimbangan apa teteh menerima sebagai content writer teh? Apa karena passion juga? Suka dapat ide dari mana siih, teh? *karena sekarang uda resmi jadi content writer dewaweb kan yaa, teh?

Jawaban:

Saya baru di bidang ini. Menjadi content writer tetap di bidang yang saya minati merupakan salah satu jalan untuk mengasah keahlian menulis.

Dapat ide dari mana?
Bacaan. Biasanya kami juga melakukan semacam brainstorming tentang artikel apa saja yang sekiranya diminati pembaca.

 

c. Untuk rencana ke depannya, pingin bikin apalagi teh…dalam hal menulis?
*nambah buku kah?

Jawaban:

Pengen beresin novel walau entah kapan jadinya .

 

Selanjutnya diskusi bebas yang dirangkum sebagai berikut:

#5 Diskusi Shanty
Sepertinya rahasianya ada di bisa menitipkan anak pk 8 – 5 sore dan punya jam menulis 8 jam sehari ya Chan?

Tanggapan:

Saya kan single parent, jadi berfungsi ganda antara ibu dan bapak. Menitipkan adalah jalan tengah agar yaaa … masih bisa kerja di rumah dan mudah mengawasi Aksa (jarak rumah pengasuhnya dan kosan cuma beda RT) dan masih bisa bekerja.

Saya justru salut sama mamah-mamah muda yang masih bisa ngemong anak sambil bisa ngeblog dan lain-lain.

Oh iya, satu tip lagi: cucian ke laundry aja coba.

 

#6 Pertanyaan Dessy Nathalia – Bandung

a. Ada target baca buku nggak selama sebulan? Minimal berapa buku gitu?

Jawaban:

Target baca: minimal 1 buku per minggu. 
Target setahun: baca buku nikah. #eh

 

b. Gimana cara menambah kekayaan bahasa untuk tulisan kita? Kalau baca tulisan teh langit itu, bahasanya “langka” gitu teh, sok nggak kepikiran sama saya.

Jawaban:

CARA MENAMBAH KOSAKATA:
Baca, rajin-rajin buka kamus.

KOSAKATA: 
Kemampuan untuk merangkai kata menjadi kalimat yang asyik juga didapat dari (klise): latihan.

 

#7 Pertanyaan Shanty
Tapi ada yang saya penasaran banget. Kenapa Uchan kok nggak malu share cerita yang mungkin buat sebagian orang ingin banget hal itu ditutup-tutupi?

Jawaban:

Saya aktivis di banyak isu sosial tentang perempuan dan menempatkan diri sebagai cermin. Tujuan saya adalah mengajak pembaca untuk tidak melakukan kesalahan atau ketololan yang saya lakukan. Personal branding saya tidak terletak di apakah saya tampak baik atau alim di mata pembaca, tapi apakah kisah hidup itu menjadikan saya seperti apa.

 

#8 pertanyaan Astarina – Bandung

Pernah tidak teteh merasa wktu buat tulisan khususnya cerpen merasa ada yang kurang atau gagal? Penilaian kurang ato gagalnya berdasarkan apa? Jadi hubunganya sama standar penulisan cerpen ala teh uchan gt 🙂

Jawaban:

CERPEN:
– Merasa membuat cerpen gagal: Sering. 
– Penilaian: unsur-unsur intrinsik dan kenikmatan membaca. Setiap kali menulis saya selalu membaca tulisan itu keras-keras agar saya tahu apakah tulisan saya enak dibaca atau tidak.
– Standar penulisan: memenuhi unsur-unsur intrinsik (ini yang utama), selanjutnya adalah selera.

Pesan penutup

Sebelum cipika cipiki pamit dari grup, Langit juga tidak lupa menyampaikan pesan penutup.

Masalah paling krusial yang menjadi hambatan para penulis adalah malas baca.

Karena seperti bak berisi air, kita tidak akan bisa mengalirkan air jika baknya tidak diisi. Baca apa saja? Semua. Cerpen, novel, nonfiksi, koran, bahkan kemasan pembungkus makanan.

Jangan cepat puas. Menulis itu seperti berlari di lintasan tanpa tepi. Hari ini tulisan kita diapresiasi banyak orang, besok belum tentu. Selalu eksplorasi teknik menulis dan menulis berbagai tema untuk latihan, untuk menemukan tema seperti apa yang akan kita kuasai.

Langit Amaravati
Oleh-oleh buat Langit Amaravati dari teman-teman #ODOPfor99days

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: