Renungan 41 tahun, Semua berawal dari Fokus

Alhamdulillah – Segala puji bagi Allah, di tanggal 1 September 2016 saya masih diberikan kesempatan untuk bernapas di atas bumi Allah ini dalam keadaan aman damai sentosa. Setahun terakhir ini saya mengerjakan apa saja ya?

Rasanya banyak yang saya kerjakan. Buktinya saya merasa lelah dan  dikejar-kejar to do list yang sepertinya tidak ada habis-habisnya. Tapi apa ya? Apa prestasinya? Saya tidak sempat berpikir. Kalau saya mikirin hal ini, itu artinya menambah panjang to do list. Saya kan sibuk banget mengejar target menulis untuk #ODOPfor99days, urusan pernak pernik rumah tangga, tanggung-jawab sebagai pengurus beberapa komunitas, belum lagi target untuk mengurus badan. Dan tentu saja eksis di sosial media. Ya Allah, ini daftar pekerjaan ada 10, tapi kenyataannya saya hanya bisa mengerjakan 1. Bagaimana ini? Pekerjaan bukannya makin sedikit dari hari ke hari tapi makin menumpuk. Salahnya dimana?

A gift from Sasya
Hadiah ulang tahun dari Sasya untuk Mama, apa ya isinya???

Jadi saya memutuskan untuk mengambil waktu khusus untuk merenung dimana letak kesalahannya. Harus ada daftar pekerjaan yang di coret agar bisa menyelipkan kegiatan maha penting ini. Bosan juga euy, begini-begini saja tanpa kemajuan. Tapi pekerjaan mana yang harus di coret? Menyaingi kecap, semua pekerjaan itu rasanya prioritas nomor 1.

Urusan menulis itu tidak bisa diganggu gugat. Saya harus menulis setiap hari. Itu komitmen yang sudah saya buat di awal tahun ini yang tujuannya ingin meningkatkan kemampuan menulis. Untuk jaga-jaga dengan godaan kemalasan, saya bahkan sudah menyiapkan 1 kompi teman-teman di grup #ODOPfor99days untuk menjamin saya tidak melupakan komitmen ini. Kenapa menulis begitu penting buat saya? Karena ini satu-satunya pekerjaan yang ‘sepertinya’ bisa menunjukkan keunikan saya. Biar kata saya pemula dalam urusan menulis dan belum punya prestasi apa-apa, tapi setidaknya saya suka sekali melakukan hal ini. Saya merasa sudah pada jalur yang benar setiap kali menulis.

Urusan pekerjaan rumah tangga tentu juga nomor 1. Apa jadinya kalau saya tidak menyiapkan makanan, mencuci piring, mencuci baju, menyapu rumah sehari saja? Biar keluarga tidak protes dengan makanan yang dibeli di warung, baju rumah yang tidak perlu disetrika, tumpukan piring yang dibiarkan seharian, tapi saya yang pusing melihatnya. Rumah itu harus dirawat sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang dititipkan Allah ini.

Kenapa tidak pakai jasa ART untuk urusan ini? Berdasarkan kalkulasi terukur dan hasil wawancara dengan beberapa sumber terpercaya, urusan rumah tangga ini jika diatur dengan baik, sebenarnya tidak memerlukan jasa ART. Selain itu, alasan saya tidak menggunakan jasa ART karena ingin melatih anak-anak terbiasa mandiri untuk kebutuhan hidup yang dasar seperti makan, pakaian, dan kebersihan rumah.

Selain 2 urusan ini saya juga punya tanggung jawab sebagai pengurus di beberapa komunitas. Jika tidak dikerjakan, bisa dibilang saya menzalimi kebutuhan sejumlah orang.

Ada juga keluarga yang meminta perhatian spesial pakai telor. Tidak boleh sambil mengerjakan pekerjaan lain. “Coba Mama, taro dulu Hpnya,” kata Sasya kalau ingin menunjukkan karya-karya kreatifitasnya.

Yang paling sering terabaikan adalah kegiatan mengurus diri sendiri. Tapi efeknya fatal jika kegiatan yang satu ini tetap di nomor duakan. Karena urusan ibadah, makan, olahraga, dan istirahat sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan lain.

Akhirnya saya putuskan membuat pengumuman untuk mencoret kegiatan bersosial media selama 36 jam terhitung pk 18.00, tanggal 31 Agustus 2016 – pk 6.00, tanggal 2 September 2016. Kenapa harus buat pengumuman segala? Karena sebagai orang yang eksis di media sosial, pasti pada hari itu ada yang memerlukan saya. Entah itu mau menagih sesuatu atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Jadi saya mohon maaf kalau tidak bisa langsung membalas dengan ucapan terima kasih satu per satu kepada teman-teman yang meng-copas ucapan selamat ulang tahun yang sama. Rasanya dunia tidak akan berhenti berputar jika saya membaca ucapan itu sehari setelahnya.

Bermedia sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan para sepupunya buat saya memang seperti buah simalakama. Kalau tidak dimakan, saya kekurangan asupan informasi dan hubungan pertemanan yang murah meriah. Kalau dimakan, mereka membunuh waktu saya tanpa ampun. Dengan jaringan wifi kencang di rumah membuat saya terkoneksi dengan internet setiap saat. Perlu usaha ekstra untuk bisa melepaskan diri dari kecanduan sosial media.

Sebelum hari ini sebenarnya saya sudah sekitar 10 hari berhasil puasa sosial media selama 12 jam, dari pk 18.00  – pk 6.00 setiap hari.  Ini terinspirasi dari membaca perencanaan MasterMind seorang teman di grup WhatApp IIP Bandung. Miranti bercerita tentang pengalaman puasa gadget selama 12 jam dalam postingan di blognya Gerakan “Hibernasi Gadget 12-12”. Kalau dia bisa, mestinya saya juga bisa dong.

Untuk awal-awal cara saya adalah dengan meminta Raka menyembunyikan HP saya jauh-jauh di tempat yang tidak bisa saya temukan. Ternyata cara ini memang sukses membuat saya tidak sakaw berjauhan dengan HP. Sejujurnya saya tidak sempat sakaw karena banyak pekerjaan yang mesti saya kerjakan. Pada pk 18.00 – pk 6.00 itu saya bisa fokus menyiapkan makan malam anak-anak, makan malam dengan tenang, membaca buku menjelang tidur, menulis di pagi hari, sampai menyiapkan sarapan tanpa godaan mengklik bulatan-bulatan notifikasi. Hanya perlu 3 hari Raka menyembunyikan HP. Selanjutnya setelah Raka sempat pergi sekolah pk 6.30 tanpa sempat memberi tahu saya dimana ia menyembunyikan HP, ia pun di pecat dari tugas ini. Tapi sejak saat itu, saya memang tidak merasa terlalu tergoda untuk membuka HP. Jadi biar tu HP ada di depan mata dengan wifi yang hidup, daya tariknya sudah tidak dasyat lagi. Sssttttt perasaan lepas dari kecanduan sosmed itu luar biasa sekali loh…

Sekarang kita kembali lagi ke perenungan yang ingin saya lakukan di usia yang ke-41 tahun ini. Dimana letak kesalahannya sehingga belum bisa mengurangi daftar pekerjaan bahkan malah menambah timbunan pekerjaan? Apa saja yang sudah saya kerjakan dalam 1 tahun terakhir ini?

Untuk hal ini, harus saya akui saya sangat mengagumi Raka dan konsistensinya. Raka itu sejak akhir Ramadan lalu mulai membaca Al Quran dari awal dan berniat membaca Al Quran 1 lembar setiap hari. Menurut dia, 600 halaman Al Quran jika dibaca 1 hari 1 lembar (2 halaman) artinya akan tamat dalam 300 hari. Jadi pada awal Ramadan tahun depan, Insya Allah ia  bisa menamatkan Al Quran. Sejak saat itu hingga hari ini, tidak pernah sekalipun Raka melewatkan membaca Al Quran. Dan yang ajaibnya ini semua tanpa campur tangan sedikit pun dari saya dan Abahnya. Kami hanya terkagum-kagum saja melihat bagaimana Raka pasti bisa menyisihkan waktunya untuk mengaji selembar sehari. Dan dia sangat konsisten dengan selembar sehari. Kadang kami goda, untuk membaca 2 lembar sehari terutama kalau dia bilang bahwa besok dia akan berganti surat. “Kagok Kang, lanjutkan saja selembar lagi.” Tapi dia tetap istiqomah dengan 1 lembar sehari. Tidak tergoda untuk berlari tergesa-gesa di awal, dan ngos-ngosan di akhir seperti emaknya. Raka rutin mengambil Qurannya kalau tidak pagi, ya siang. Kalau tidak siang, ya magrib. Kalau tidak magrib, ya sebelum tidur. Pokoknya pasti membaca. Dan tanpa perlu diingatkan atau disuruh.

Wow, anak 9 tahun bisa seperti itu ya? Saya saja hingga sekarang yang baca Quran juga dengan niat 1 hari sekitar 1 lembar masih sering mengalami masa-masa kosong tidak mengaji dalam waktu yang lama. Jadi tidak aneh, kalau itu Al Quran kok ya sudah bertahun-tahun tidak tamat-tamat. Atau komitmen untuk membuat satu postingan satu hari di #ODOPfor99days masihg sering mengalami masa-masa hiatus berhari-hari. Consistent is really not my middle name.

Tapi kenapa Raka bisa? Kalau saya perhatikan, itu karena Raka tidak banyak urusan. Fokus dia tidak banyak-banyak. Hanya urusan membaca Al Quran 1 hari 1 lembar yang prioritas nomor 1. Sisanya nomor 2. Dan Raka adalah anak yang bisa total dalam mengerjakan sesuatu. Mindfulness kalau istilahnya Om Adjie Silarus dalam buku Sadar Penuh Hadir Utuh. Tidak nyambi-nyambi. Nonton ya nonton, ngaji ya ngaji, main ya main. Kalau soal pelajaran sekolah saya tidak tahu, karena itu hanya dia lakukan di sekolah. Dan Raka belum terkontaminasi Sosial Media.

Jadi sepertinya Allah memberikan Raka untuk menjawab pertanyaan saya. Kenapa daftar pekerjaan saya tidak selesai-selesai? Itu karena saya tidak fokus. Terlalu banyak yang ingin saya kejar dalam waktu yang bersamaan. Nafsu besar tenaga kurang. Saya tidak bisa realistis melihat kemampuan diri. Bisa jadi pengaruh banjir informasi yang saya dapatkan dari media sosial. Itu terlalu banyak.

Saya ingin mengutip sebuah cerita yang disampaikan Pakar Pendidikan, Pak Arief Rachman dalam bukunya Guru (Esensi, 2015). Tentang seekor citah yang terkenal sebagai binatang buas yang selalu berhasil menangkap buruannya karena larinya paling kencang. Menyadari hal itu, sekelompok kijang menyusun strategi untuk menyelamatkan kelompok mereka dari ancaman citah. Suatu saat ketika sekumpulan kijang tengah mencari makan, citah mengintai dari kejauhan. Lalu ia mengejar salah satu kijang dengan kecepatan luar biasa. Ketika hampir menangkap kijang, citah melihat ada kijang lain berlari mendekat dari arah yang berlawanan dengan kecepatan yang lebih lambat daripada kijang incarannya. Sejenak citah memperlambat larinya dan memutuskan untuk mengejar kijang kedua yang lebih lambat dan sepertinya lebih mudah untuk didapatkan. Tapi sayang, beberapa detik yang terbuang membuatnya tidak mampu mengejar kijang kedua dan kijang pertama berhasil menyelamatkan diri.

“Hati-hati, apabila kita telah menetapkan pilihan, maka fokuslah. Kebiasaan kita untuk berpaling akan menyebabkan kita kehilangan target yang sedang kita kejar dan tertinggal pula oleh target baru yang mengalihkan perhatian kita.”

Saya sibuk menyesali apa yang tertinggal di belakang. Saya panik mengejar ramainya orang-orang yang berlarian kencang menuju masa depan. Saya lupa terdiam untuk menikmati posisi saya di sini, saat ini. Andai esok saya tidak diberi napas ini lagi, setidaknya saya sempat sadar untuk menikmati momen sekarang. Menikmatinya… Mensyukurinya…

Bersyukur bahwa dalam 1 tahun terakhir saya menemukan kegiatan yang benar-benar saya suka. Menikmati kebersamaan dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama. Alhamdulillah atas umur yang masih diberikan, dalam keadaan sehat sehingga bisa memberi arti untuk orang-orang di sekitar saya. Dalam 1 tahun ini ada rasa senang, sedih, panik, bosan, dan lelah hadir bergantian.

Renungan tahun ini saya tutup dengan kembali mengutip kata-kata indah dari Pak Arief Rachman,

“Memang kita ditakdirkan punya kenangan atas peristiwa yang telah mengiringi hidup kita. Kesedihan, kegembiraan, kekalahan, juga kemenangan biar saja datang dan pergi. Kita sebagai manusia kadang-kadang tidak bisa menolaknya. Hanya prasangka baik kepada Tuhan yang membuat kita selalu bahagia dan mengambil hikmah atas apa pun yang terjadi.”

 

Gift for Mama 41th Bday
Wow, ternyata hadiah boneka cantik buatan sendiri. Terima kasih cantik….. cup cup muah muah…

ps:

Semalam saya bermimpi nyaris buka HP. Tapi ternyata saya tidak tergoda untuk mengecek sosmed. Bahkan dalam mimpi pun, saya bisa!

Dalam 32 jam puasa sosmed, ternyata saya hanya ketinggalan 500-an messages dari 24 chats, dan 2 lusin notifikasi FB saja. Tidak ada kontrak miliaran dolar yang lepas dan dunia masih tetap berputar seperti biasa.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “Renungan 41 tahun, Semua berawal dari Fokus

  • September 2, 2016 at 8:01 pm
    Permalink

    Teteh..
    Selamat milad yaa.. Barakallah.. 🙂
    Tertohok banget ih akuuu..
    Kayaknya harua puasa sosmed juga..
    Teh shanty bisa, dc juga pasti bisa ya teh?
    Nuhun yaa untuk pencerahannya 🙂

    Reply
    • September 5, 2016 at 5:34 am
      Permalink

      Nuhun dc. Pasti bisa puasa sosmed, dan memang pengalaman seru buat di coba.

      Reply
  • September 9, 2016 at 4:25 am
    Permalink

    Barakallah fii umrik teh shanty.. Hihi endingnyaah, kebayang pengusaha besar pake sistem hibernasi ini 😀 Semangat istiqomah teh shan hehe. Salam ya buat anak-anak keren, Raka dan Sasya 🙂

    Reply
    • September 9, 2016 at 4:34 am
      Permalink

      Hari ini cheat beberapa jam buat setoran #ODOPfordays yang tertunda. Nanti siang diganti. Laporan selesai Bu. ha…ha…

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: